Trick or Treat? [1]

by Io

[cr image: here]

.

These drabbles are not connected to each other.

.

#1 Alone

Seorang lelaki berusia 25 tahun mengerling arloji yang melingkar di pergelangan tangan; mengerang pelan kala menyadari bahwa hari nyaris berganti. Martin Maes adalah satu-satunya orang yang belum meninggalkan gedung perusahaan tempatnya bekerja. Seharusnya ia telah berada di apartemen pukul sembilan lalu, menikmati pancuran air panas di kamar mandi kemudian merebahkan diri di kasur empuk. Namun Dewi Fortuna tak berpihak kepada Martin malam ini. Seorang diri ia harus menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh tiga rekan kerjanya karena kalah taruhan konyol beberapa hari lalu.

Kini lelaki itu tengah berada di gudang lantai tiga. Sendirian. Hanya tumpukan paket beserta deretan rak berisi potongan-potongan tubuh manekin yang menjadi teman. Menghela napas pendek, ia pun menggerakkan tangannya semakin cepat; membungkus rapi manekin dengan plastik gelembung lalu mengemasnya ke dalam kotak kayu persegi yang akan dikirim ke dua toko cabang Philipp Plein di Schuttershofstraat dan Kustlaan. Martin ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat.

Dwimanik biru menginspeksi kotak-kotak kayu yang berjejer rapi. Penerangan yang baik di ruangan memudahkan si lelaki untuk membaca alamat tertera. Jemarinya bergerak menghitung jumlah paket sebelum akhirnya mengangguk puas. Hitungannya sesuai dengan permintaan.

Lelaki itu pun mengangkat tangan tinggi-tinggi; meregangkan otot-otot yang kaku. Namun tiba-tiba saja bunyi halus tertangkap oleh indra pendengarannya.

Snap.

Seketika tangan Martin membeku di udara.

Pop.

Ia mengerjap, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri; mencari dari mana sumber bunyi itu berasal. Mengerutkan dahi, lelaki itu menatap paket di hadapan—di mana bunyi itu sepertinya berasal. Ia berdiri membatu, memasang kuping dan mendengarkan dengan cermat. Kala bunyi yang sama kembali terdengar, Martin menarik napas tajam. Wajahnya memucat.

Ia mengenali bunyi itu. Bunyi khas plastik gelembung yang menerima tekanan lalu pecah … dan itu berasal dari dalam kotak kayu yang baru saja disegelnya.

***

#2 Bad Habit

Seharusnya aku tidak menuruti ajakan Melinda untuk pergi ke pesta kemarin, gerutu Isobel muram.

Saat ini gadis berusia tujuh belas tahun itu tengah menghadap layar Mac dengan lampu kamar menyala terang. Sebagian besar dari dirinya merutuk pilihan impulsif bersenang-bersenang terlebih dahulu baru menderita kemudian. Kalau saja pengendalian dirinya lebih baik, maka Isobel tak akan terjaga sampai larut mengerjakan paper untuk kelas Biologi besok. Ia hampir mencapai paragraf terakhir, namun rasa kantuk yang hadir menghalangi untuk menyusun rangkaian kata yang tepat sebagai penutup atas tulisannya.

Isobel menarik napas panjang. Dari sudut mata ia melihat ponsel yang tergeletak di dekat tetikus. Muncul keinginan untuk mengakses Instagram; mencari video pendek cat compilation yang jelas akan membantunya terjaga karena sungguh, melihat sesuatu yang imut pasti akan membuat matamu terbuka lebar.

Ia tengah menonton video ketiga saat suara maskulin terdengar dari seberang ruangan.

“Hey, Sweetheart. Watcha doin’?”

Ia menoleh begitu cepat hingga terasa otot-otot lehernya menjerit protes. Atensinya langsung tertuju pada seorang pemuda yang saat ini tengah berada di luar jendela, nyengir sok akrab. Pemuda itu tampak seperti anak jalanan yang biasa nongkrong di depan bioskop.

Gadis itu mendelik. Umumnya ia akan menghadapi hal semacam ini dengan sabar, namun ia terlalu lelah untuk mengontrol reaksinya kali ini. Dengan langkah panjang-panjang Isobel menyeberangi ruangan dan mendekati jendelanya. Ia lalu meraih bingkai jendela lalu berkata galak,

Get fucking lost.

Si gadis menutup jendela tersebut dengan kasar kemudian menarik tirai hingga seluruh bagiannya tertutupi. Kesal, ia pun kembali menuju meja belajar dan menghempaskan pantatnya ke kursi.

What a freak,” gumamnya. Sementara ada sesuatu dalam kesadarannya yang menganggap janggal interaksi singkat itu. “Siapa sih yang malam-malam begini masih berkeliaran di—”

Isobel terdiam. Dengan kerut terpeta di dahi ia menoleh ke arah jendela berada. Kejanggalan yang dirasa semakin menguat hingga akhirnya ia menyadari apa yang aneh. Dan seketika itu juga, rasa kantuk yang mulanya masih menguasai menguar tak berbekas. Bulu kuduk Isobel berdiri.

Ia tinggal di lantai tiga.

***

#3 Cheap

Kau tahu bagaimana film-film horror biasanya dimulai?

Yeah, dengan rumah besar nan luas dijual murah kemudian ada keluarga baru yang pindah ke sana—mengabaikan bahwa jelas ada presensi abnormal atau tidak menanyakan alasan mengapa bangunan sebesar dan seluas itu dijual dengan harga miring. Hei, yang penting kau dapat tempat tinggal untuk berlindung dari apa pun itu di luar sana yang dapat mengancam keselamatan selama kau di luar.

Maka tentu saja adalah hal lumrah jika kau mengabaikan bahwa ada ruang bawah tanah yang terkunci dan tak pernah terbuka entah selama berapa puluh tahun, pintu tersembunyi di balik dinding tebal yang kemudian membawamu ke ruang rahasia, jejeran figurine yang seolah menghakimi lewat mata biru cemerlang mereka, pun semua jam di rumah yang secara misterius mati dan menunjuk ke waktu yang sama.

Itu, adalah plot dasar dari sebagian besar film horror. Dan demi kucing anggora kesayanganku, pasti tokoh utama film itu adalah kaukasian berkulit putih.

Percaya atau tidak, tapi hal yang sama terjadi denganku. Sama seperti para tokoh utama, aku dengan bodohnya mengabaikan alarm yang nyaring berbunyi di kepala saat menyewa sebuah apartemen di Los Angeles. Sekedar informasi, namaku Erin, dua puluh tahun, kaukasian berkulit putih, dan sedang menjalani kehidupan gila sebagai mahasiswi. Aku tidak punya waktu untuk berpikiran macam-macam kala disodori hunian dengan sewa murah dan fasilitas komplit. Terlebih, bulan ini aku sudah menghabiskan lebih dari tiga ribu dollar untuk buku-buku kuliah.

Kau tahu apa yang terjadi di hari pertama aku tidur di apartemen itu?

Tepat pukul satu dini hari aku terbangun oleh suara keran air mengalir. Terlintas di pikiran bahwa aku lupa menutupnya kembali atau mungkin ada yang salah dengan pipanya. Namun belum sempat bangkit dari kasur, aku melihat sosok gelap seorang wanita yang tengah berdiri mengayun-ayunkan tubuh dan memperhatikan dari depan pintu kamar mandi. Aku gelagapan. Namun detik berikutnya sosok itu menghilang. Aku pun menganggap itu sebagai halusinasi akibat kelelahan karena baru pindah apartemen.

Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya selama tiga hari berturut-turut kemudian?

Aku melihat wanita yang sama. Di waktu yang sama. Tapi kali ini jarak yang memisahkan kami semakin berkurang.

Fuck this shit! I’m outta here!

***

#4 Dinner

Mr. Vincent Gray turun dari Mercedes tepat di depan restoran megah berbintang lima. Lelaki berjas necis abu-abu itu lantas memberitahu supirnya untuk menjemput pukul sepuluh—empat jam dari sekarang. Rekan bisnisnya, Mr. Ethan Wade, sengaja mengundangnya makan malam untuk membicarakan kontrak kerja sama mereka yang akan berjalan dalam kurun waktu tiga bulan. Masih ada beberapa bagian yang harus dicermati lebih dalam sebelum kesepakatan terjalin antar kedua belah pihak. Maka akan lebih baik jika diskusi mereka ditemani wine dan sajian lezat restoran langganan Mr. Wade ini.

Mr. Gray mengangguk kala salah satu pelayan berseragam biru gelap datang menyambut. Begitu lelaki bersurai merah itu menyebut nama rekan bisnisnya, si pelayan segera mengantarnya ke meja di mana seorang lelaki jangkung berkacamata telah terlebih dahulu duduk menunggu.

“Vincent, my friend.” Mr. Wade menyambut riang. Ia lalu mengulurkan tangan; menjabat hangat tangan rekan bisnis sekaligus teman lamanya. Bibir tipis lelaki itu melengkung membentuk sebuah senyuman. “It’s good to see you. You are well, I hope?”

Mr. Gray mengambil tempat duduk. “I’m as well as I possibly can be. Just so you know, you’re paying tonight.”

“Stingy.”

Ia hanya mengangkat bahu sementara laki-laki di hadapannya memutar mata, setengah kesal setengah geli.

So, would you like French or Italian?” Mr. Wade menyapu pandang pada menu yang tersaji. “Or, perhaps, Japanese?

Mr. Gray mendengus mendengar tawaran terakhir rekan bisnisnya itu. Ia pun mengusap pelan dagunya, berkontemplasi. Dwimanik abu Mr. Gray bergulir ke arah sekelompok orang berekspresi ngeri dengan mulut tersumpal kain serta tangan dan kaki yang terikat erat—meronta putus asa dalam jeruji emas di tengah ruangan. Atensinya lantas terpaku pada seseorang di tengah-tengah gerombolan itu.

Actually, I’m craving some Latinos tonight.

***

#5 Eyes

Detroit menyambut datangnya musim gugur dengan lengan terbuka. Angin berembus kencang diiringi oleh gugurnya dedaunan cokelat, merah, dan kuning yang menghiasi ruas-ruas jalan kota. Nyala kuning barisan lampu memberikan ilusi kehangatan bagi beberapa pejalan kaki yang masih berkeliaran kendati jarum jam nyaris menunjuk ke arah angka dua belas.

Di sebuah rumah yang berdiri jauh dari pusat kota, seorang lelaki dengan kisaran usia tiga puluh tahun tampak berdiri di halaman belakang, tepat di depan kobaran api yang tengah melahap segala yang berada dalam cengkeramannya. Raut wajah si lelaki keruh.

Mengeratkan jaket, ia pun menunduk; memandang foto seorang wanita dengan helai-helai merah membingkai wajah berbentuk hati yang tersenyum kepada kamera. Mulutnya meliuk membentuk cibiran. Wanita itu adalah istrinya—well, mantan istrinya. Ia tak tahu bagaimana awal mula semua ini terjadi, hanya saja tiba-tiba surat gugatan cerai dilayangkan oleh wanita itu suatu pagi dan baru kemarin telah resmi status berpisah mereka. Usut punya usut, ternyata si mantan istri sudah lama bermain di belakang dan ingin menikahi pria selingkuhannya. Selain perceraian, ia juga tak segan meninggalkan anak perempuan mereka dalam tanggungannya—sama sekali tak peduli akan eksistensi hak asuh yang sempat dibahas oleh sang hakim.

Kini lelaki itu melenyapkan segala pengingat atas presensi si istri yang saat ini pasti tengah tertidur lelap di rumah laki-laki lain. Baju, perhiasan, foto, apa pun itu yang menorehkan kenangan pahit di hati.

Dasar wanita sundal, sumpah serapah si lelaki dalam hati. Ia lalu melempar foto itu ke nyala api yang perlahan bekerja melenyapkan barang-barang mantan istrinya.

Daddy?” Suara kecil di ambang pintu mengalihkan atensinya. “What are you doing?”

Ia memutar tubuh, berhadapan dengan anak perempuannya yang sedang memeluk erat boneka kelinci hadiah ulang tahun ketujuh minggu lalu.

Alih-alih menjawab, lelaki bersurai pirang itu malah menatap lekat sang anak dengan ekspresi aneh.

“You have your mother eyes.”

***

#6 Finder Keeper

Sejak kecil, aku selalu mengidamkan hewan peliharaan. Namun dengan peraturan ketat apartemen yang melarang adanya hal semacam itu, baik ayah maupun ibu tak bisa menuruti keinginanku, seberapa keras aku menangis memohon keduanya. Karena itulah, aku bersumpah kelak akan mendapat pekerjaan tetap berpenghasilan tinggi yang nantinya bisa kupakai untuk membeli tempat tinggal. Memiliki rumah berarti kebebasan yang tak terbatas ada di tanganmu.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku pun berhasil memenuhi ambisiku: membeli sebuah rumah. Sekarang tinggal mencari hewan peliharaan yang ternyata tidak semudah dugaan.

Oh, tentu saja kau bisa menemukannya di tempat adopsi, tapi sejujurnya aku lebih tertarik dengan hewan liar. Not for a particular reason, I assure you. Hanya saja kupikir mereka yang bertahan tanpa tergantung oleh tangan-tangan manusia memiliki kesempatan hidup jauh lebih baik—di mana ini akan mengurangi beban untuk mencari yang baru jika yang lama telah meninggal kendati hanya untuk jangka tiga atau empat tahun lebih panjang.

Dan di sinilah aku sekarang, memburu hewan liar di jalan. Tapi ya harus aku akui, sebagian dari mereka ternyata sudah punya pemilik—but eh, finder keeper, am I right? Jadi kuabaikan isak tangis yang memanggil-manggil ‘Ayah’ dan ‘Ibu’ dengan lirih saat kuseret mereka ke ruang bawah tanah. Jangan khawatir, aku akan memilih yang terbaik untuk menjadi peliharaanku.

Bagaimana dengan yang lain? Well, peliharaan pasti butuh makan, bukan? So it is a win-win situation, don’t you think so?

***

#7 Glitch in the Universe

“Nutrition bars … crackers … and then ….” 

Jordan menyipitkan mata; berusaha membaca tulisan cakar ayam teman sekamarnya yang nyaris tak dapat dieja. Ia mencermati deretan huruf di kertas yang dipegang. Satu momen mematung di depan rak berisi makanan ringan sebelum pemuda itu berseru pelan.

Fucking low lactose milk. Gods, Stev, you and your horrible writing.

Menggerutu, ia pun melangkahkan kaki menuju rak sebelah yang dipenuhi oleh barisan botol dan karton susu segala jenis. Alisnya berjingkat tinggi kala menemukan brand susu favorit Steven yang jarang tersedia di minimarket seperti ini. Mengangkat bahu, ia pun meraih dua karton minuman itu lalu menghampiri kasir. Ia beranjak keluar dari bangunan sembari bersiul pelan.

I’m back.” Jordan memutar kunci pintu apartemen. “Stev, I got your things.”

“Took you long enough.” Teman sekamarnya menyahut dari kamar mandi disusul oleh bunyi flush. Tak lama seorang pemuda lain keluar dari kamar mandi, menghampiri Jordan yang tengah menikmati sekaleng soda di dapur.

“Huh, where did you go to get this one?”

Jordan mendongak, melihat teman sekamarnya tengah memegang karton susu pesanan. Pasti memeriksa tanggal kedaluwarsa.

“Minimarket di sebelah studio balet. Kita belanja di sana terus saja mulai sekarang,” katanya, menegak habis minuman berkarbonasi itu.

“Ngomong apa sih kau?” timpal Steven, heran. “Tidak ada minimarket di area yang kau sebutkan tadi. Yang ada hanya tanah kosong.”

Jordan mendongak. Ia lalu berkata lamat-lamat,

“Studio balet di California Ave. South Gate.”

“Aku tahu, J.” Lawan bicaranya melempar pandang datar. “Hanya ada satu studio balet di sini. Dan tidak ada minimarket atau semacamnya di sebelah bangunan itu.”

“Jangan bercanda. Tentu saja ada minimarket di sana. 932 California Ave. Kalau tidak, kau sebut apa belanjaan ini? Ilusi?”

“Kau pasti salah ingat.” Steven lalu menyodorkan ponselnya ke depan muka Jordan—Google Map aktif dan tengah menunjukkan peta daerah mereka. “See there? There is no 932 California Ave in South Gate.”

***

Trick or Treat? [1] – completed

 

Notes:

  1. these are supposed to be ghost-centred drabbles but my hands betrayed me 😦
  2. thank you for reading!
Advertisements

15 thoughts on “Trick or Treat? [1]

  1. Titan mah githuuu. Tsadeeees 😭😭😭 untung bacanya ga tengah malam, ga pas lg makan bcos baca yg dinner sudah cukup bikin perut mual 😂 aku suka drabble pertama huhuhuhu tp yg lain tsadis.
    Yang terakhir malam lucu kalau dipikir2. Hantunya lebih canggih dr manusianya krn ngejual susu brand minoritas 😂

    Ayeaye kutunggu ketsadesan titan yang lain 😗

    Like

    1. haiiiii kafatiiim 😀

      heuheu padahal lebih seru kak kalo baca pas tengah malem, bisa menghayati(??) hahah. dan iya, dinner itu kalo pas sial baca sambil makan pasti langsung bikin mual :”)

      yang terakhir biar lucu juga kayae titan gamau kalo itu kejadian beneran. titan teh penakut :”)

      thank you kafatiim laf laf ❤ ❤

      Like

  2. Satu, mau ngamuk bikos FInya nyebelin.
    Dua, CERITA NOMER EMPAT ITU APA APAAN KUKIRA MAU MAMAM SUSHI EH EH EH EDAN
    Tiga, NGAMOK AKU FIX NGAMOK BACA TENGAH MALEM TOLONGIN INI GEMETERAN NGETIK KOMEN HAH TANGGUNG JAWAB U TRAITORRRRRRR 😦

    Like

    1. yaqinla ako berusaha menemukan gambar yang more appropriate tapi cuma nemu itu jadi yasudala dipake aja :”)

      wqwq Mr. Gray dan Mr. Wade makan sushi kok… human sushi ((digeplak)). isokey kapang baca tengah malem ga nirfaedah kok. biar lebih menghayati gitu baca sebelahan sama yang ga kasat mata 🙂

      laf laf kapang ❤ ❤

      Liked by 1 person

  3. pARAAAHHH!!!! Emang sih masih siang yatapi aku merinding:(((((( kaktitan tuh ya emang ya 😦 Nomor 2 sama nomor 5 sukses banget bikin aku yang penakut jadi deg-degan. SEGITU KRIPINYA!!!! Eterus eterus yang Mr Gray itu juga bikin……. huhu pokoknya sukses sukses sukses. I like the idea of reading drabbles kayak gini dan terutama pemilihan posternya JAGOOOO!

    Like

    1. hasil dari seharian gabut ya makanya nulis kripi-kripi gini hahah XD ((terus ditendang))

      dan udala Mr. Gray itu something sekali emang. tipe-tipe gorok orang sambil senyum tuh dia ehe semoga dia ngga muncul lagi ya bc stok ide psiko uda run out :”)

      thank youu laf laf dhilu ❤ ❤

      Liked by 1 person

  4. KAK EDYAN AKU LIAT FEATURED IMAGE-NYA UDAH KAGET DULUAN
    Overall semuanya serem, terutama yang dinner, eyes, sama finder keeper tuh hawanya psycho banget gak sih huw… Sisanya juga serem soalnya amat sangat relatable dan dekat dengan kehidupan sehari-hari jadi mau dibilang mustahil terjadi juga percaya gak percaya hal-hal kaya itu udah sering happened around us. I really like the whole concept of this drabbles! Dibawain dengan ringan tapi tetep serem dan setiap kali aku selesai baca satu drabble, pasti aku lirik kanan-kiri depan-belakang atau ngeliat cermin ya kali aja tiba-tiba udah ada yang “nemenin” HE NGOMONG APA SIH AKU XD Keep writing, Kak Titan! Ditunggu karya selanjutnya ❤ ❤ ❤

    Like

    1. rani yaqinla ako juga sempat kaget pas pertama nemu gambar itu, apalagi pas nge-save jadi selayar gambarnya :”)

      dinner sama eyes itu yang paling bikin mules pas nulis drabble-nya bc twisted banget tapi ya terabas aja deh daripada nanti idenya malah gangguin titan ((insert ‘bapak haha’ line)). dan yes, mau skeptis juga masih berpikir dua kali bc nyatanya rl emang sengeri itu :”)

      hehe thank you rani uuu laf laf ❤ ❤

      Liked by 1 person

  5. Setelah sekian lama ngga pernah baca apapun, pas ada notif di email dan entah kenapa penasaran pengen baca ternyataaaa kereen ceritanya hihi

    Like

  6. KAK TITAN ASDFGHJKL dari featured image aja udah creepy h3lp. kalau nanti malem aku ga berani tidur sendiri, kak titan tanggung jawab ya huhu :((((

    1 SUMPAH DEH manekin itu literally hal ter-creepy sepanjang segala masa 😦 apalagi kalau ditarohnya digudang terus belum disatuin, jadi kayak badan-badan dipotong gitu omg 😦 dan ini… si manekin… mejet-mejetin bubble wrap. mungkin dia stres dan klaustrophobic kali ya jadinya buat stress relieving gitu hahaha 😦

    2 dan 3 WQWQWQWQWQ LANTAI 3 DAN RUMAH SEREM WQWQWQWQWQWGWGWGWG ini mengingatkan aku sama: https://www.youtube.com/watch?v=IzFOm6sPH60 atau yang part 1 gitu HAHAHAHAH waktu itu aku dikerjain temenku suruh nonton 😦 terus sekarang ga berani ceki-ceki lg yang mana yang betul. intinya ada hantu cilukba pas mamanya ngerekam anaknya nari, terus dia ngikutin dari lt. 3 ke lt. 1 pas mama dan si anak mengungsi keluar rumah :((((((((

    4 aku gatau harus bangga atau ngeri karena dari awal sudah tahu kalau restoran yang dituju adalah restoran yang menyediakan daging manusia h3h3h3h3h3h3 :” tapi awalnya kukira si mr. gray ini yang mau jadi makanannya, eh ternyata dia penikmat juga dong 😦

    5 dek, semoga selamat. o Gosh. aku literally meringis baca yang ini, kak. huhuhu takut banget.

    6 sebentar, sebentar. itu berarti…….. kalau si aku udah bosen sama peliharaan yang lama……… bakalan dijadiin makanan buat yang baru, gitu……….. ahAHAHaahHAAHAHAHahahHAHA kak titan bisa aja :”

    7 HAYO TOKO SIAPA HAYO TOKO APA. mungkin itu kayak narnia gitu ya bisa ngilang dan muncul sendiri sesuka hati. atau room of requirements hahaha ((berusaha positif)) ((harus positif))

    cemungudh, my sis! semoga tetap bisa menulis hal-hal yang membuat hati deg-deg ser dan adrenaline hmmmmmmmmm karena aku sekarang bobok sendiri tanpa roommate, hiks. doakan aku selamat nanti malam kak! me loves u! ❤ ❤ ❤

    Like

  7. *speachless*

    GILAAAA, AKU JADI SEREM UNTUK BEBERAPA CERITA YANG KALO DITERUSIN BAKAL BERDARAH-DARAH. KALO YANG HANTU2AN AKU BIASA AJA,
    *lepas kepslok*

    *langsung meluncur ke bagian 2*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s