For The Sake of You

 

by Niswahikmah

 

Diane terbiasa dengan mulut besar ibunya. Ibu yang dipanggilnya Mommy itu selalu saja bicara tanpa menatap ekspresinya. Kadang tanpa melihat bagaimana responsnya dan berujung perdebatan sengit karena ia menjawab dengan tanda seru di akhir kalimatnya. Mulut ibunya itu pula yang selalu mengeluarkan kata-kata seakan dia paling benar. Tanpa mau menoleh pada reaksi yang ia tunjukkan. Ketika beliau menoleh, Diane ada di ujung amarahnya, maka itulah yang terekam dalam benak Mommy. Diane menentang.

Sungguh, Diane tidak berniat menyusahkan hati ibunya. Dia ingin dapat hasil terbaik untuk nilai pelajaran eksakta, tapi apa daya ia kesulitan jika guru tak sesuai dengan seleranya. Dia ingin menjadi bintang kelas, tapi organisasi menyita waktunya hingga belajar pun terkadang tergesa-gesa. Dia ingin bertahan di peringkat sepuluh besar, namun teman-temannya jadi lebih giat dan ia kalah saing, harus puas ada di angka sebelas berturut-turut. Dan masih banyak keinginan lain yang jarang ia tuturkan pada Mommy.

Sialnya, ketika Mommy mengomel apa saja, Daddy selalu sependapat dengannya. Kalaupun tidak sependapat, Daddy justru memilih diam dan meminta Diane mendengarkan saja. Tanpa mengerti kalau dia tipikal orang yang ingin bereaksi ketika apa yang ia dengar tidak sesuai dengan yang benaknya pikir. Bahwa dia tipe orang yang selalu memikirkan untuk memberi yang terbaik bagi orang yang dia sayangi, namun tidak ingin melakukan apa yang tidak menjadi minatnya.

Sekarang, sialnya lagi, website itu berhasil membuatnya porak-poranda. Harusnya ia tidak membuka saja tadi. Harusnya ia lupakan harapan selangit yang ia tumpukan pada universitas negeri tempatnya ingin memakai almamater dengan bangga. Lagipula, nilainya pas-pasan. Keberuntungan macam apa yang ia harapkan muncul tiba-tiba?

“Itu bukan karena kamu tidak beruntung. Kamu tidak mencari keberuntungan itu. Mana ada hasil yang mengkhianati usaha? Itu artinya kamu tidak berusaha.”

Diane hampir saja keluar kamar dengan memakai headset. Tapi, itu disadarinya akan lebih berbahaya, bisa memicu perang dunia keseratus di rumahnya. Maka, ia tahan sesuatu yang menggumpal hendak meledak di dadanya mendengar ucapan ibunya itu.

“Mommy mau bilang itu berapa kali?” tanyanya ringan. Ia membuka kulkas dan menuang air dingin ke gelas.

“Mommy mau kamu sungguh-sungguh. Itu saja. Kamu sekolah tidak perlu memikirkan biayanya, ‘kan? Kenapa untuk masuk perguruan tinggi begini saja bisa gagal? Kalau kamu bilang itu didasarkan pada nilai rapor, Mommy tidak kurang menasihati supaya kamu tingkatkan belajarmu.”

Ibunya terdengar menghela napas. Tangannya yang sibuk mencuci sayuran berhenti.

“Mom, itu bukan rezekiku.”

“Karena kamu tidak mengusahakannya lebih baik lagi agar jadi rezekimu,” sahut ibunya tanpa menoleh.

Diane mendengus pelan, berusaha betul agar sang Ibu tidak mendengar.

“Jangan mengulang kesalahan yang sama. Belajarlah dan masuk lewat jalur tes. Bagaimana kalau kamu tidak dapat universitas karena selalu malas-malasan begitu?”

“Masih ada universitas swasta,” sahutnya asal. Diteguknya air putih setelah sebelumnya duduk.

“Lalu siapa yang mau membiayaimu? Lagipula, grade-nya jauh lebih baik di negeri.”

“Aku akan kerja,” jawabnya lagi, menahan kesal. Secara tersirat memberitahu bahwa ia sudah menyiapkan curriculum vitae semalam dengan air mata membanjir dan kelopak yang separuh terbuka. Ia akan bekerja kalau semua jalan masuk kuliah buntu.

“Kesehatanmu—”

“Aku akan baik-baik saja, Mom. Bisakah Mommy percaya padaku sekali ini saja?!” Itu jadi seruan pertama Diane siang ini, dan dia menyesal detik berikutnya.

“Sudah Mommy bilang jangan suka menyela ucapan orang tua, Clearwater.”

Diane diam. Ia meneguk habis air yang tersisa di gelasnya, lantas berlalu. Masuk kamar lagi. Menutup pintunya untuk menyembunyikan air mata yang hendak merembes lagi. Hatinya patah karena gagal masuk universitas yang diimpikannya dan tidak mempersiapkan apa pun sebagai bekal tes. Sebagian memang kesalahannya karena terlalu santai dan mengandalkan keberuntungan. Tapi, tidak bisakah ibunya menguatkan, bukannya terus-menerus menekan dan menyalahkan?

Ya Tuhan.

“Clearwater, Mommy dengar ada buku panduan soal-soal untuk masuk lewat jalur tes. Kamu sudah membelinya, ‘kan? Kalau belum, jangan lupa beli atau pinjam sama tetangga. Nanti Mommy tanyakan ke Nyonya Frost atau Nyonya Gideon. Anak-anak mereka sudah—” ia dengar ketika ucapan ibunya terputus dan berganti dengan teriakan.

“Clearwater, Mommy sedang bicara! Demi Tuhan ….”

Diane ingin menangis lagi. Rasanya ini lebih sakit ketimbang hantaman benda yang dilempar ibunya dan melesat ke kepala, atau sekadar interogasi tak berujung saat ia pulang terlambat. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, mendongakkan kepalanya, menahan bulir bening keluar dari sana. Menghalau rasa sakit yang terasa dengan terus merapal nama Tuhannya.

Setelah agak kuat, ia membuka lemari. Tangannya mengeluarkan buku kumpulan soal yang sudah dibeli sebulan yang lalu. Dibukanya untuk melihat beberapa coretan di bagian awal yang terhenti pada lembar kelima. Itu coretan hasil diskusi dengan beberapa temannya sebelum persekolahan usai. Kini, ia harus berjuang sendiri.

Ia beralih melihat laptopnya yang terbuka, menampakkan laman website tempat pendaftaran ujian masuk universitas melalui jalur tes tanpa mempertimbangkan nilai rapor. Di sana tertera jurusan sekaligus kampus yang dipilihnya. Diingatnya lagi ucapan Mommynya sedari kemarin.

“Clearwater, kalau tidak berbakat di bidang itu, pilihlah yang lainnya saja. Mommy tidak lihat kamu cocok mengambil jurusan itu. Kamu tidak terlalu sering naik panggung, malah lebih sering di belakang panggung, ‘kan? Carilah jurusan yang mudah untuk mencari kerjanya. Ingat, banyak sarjana yang menganggur. Kamu harus punya kerja sebelum kuliah selesai, kalau bisa sesuai dengan jurusan yang kamu ambil.”

Pelan, Diane menekan tombol x untuk pilihan jurusannya. Ia menggantinya dengan pilihan b dan c yang abstrak di dalam pikirannya. Masa bodoh dengan impian yang ia rajut. Masa bodoh dengan angan-angan akan berjumpa dengan teman sejawat yang sevisi di prodi tersebut. Teman bisa dicari. Impian bisa diubah.

Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol verifikasi. Cuma satu detik. Namun, sanggup membuatnya menangis seharian besok.

Mommy, aku tidak mau lagi membuatmu menangis karena kebodohan yang kubuat. Aku membuat kebodohan lagi hari ini. Sesuatu yang kuanggap bodoh namun merupakan kehendakmu. Aku akan melakukan kebodohan ini dan mengubahnya menjadi kepintaran dan kesuksesan, demi dirimu. Demi pintamu, Mom.

 

—fin.

  • Akhirnya Diane saya balik. Ini based-on true story, bukan punya saya, tapi punya temen pas ambil SBM.
  • Mohon maafin judulnya yang gak kreatif, huhu.
Advertisements

15 thoughts on “For The Sake of You

  1. NISWAAAA :333 Ini kisah mewakili banyak orang di luar sana yang punya cerita miriiiiiip kayak gini. Idenya emang ‘cuma’ ttg keinginan ortu yg (lagi2) berseberangan sama anaknya. Tapi kamu mengeksekusi dengan 🎉W O W🎉

    Semangat terus ya niswaaa ^^ cheers :))

    Like

    1. Haloo, ini kak washfa ya kalo ngga salah? Eh kakak kan? Aku 99line anyway. Salam kenaal 🙂

      Iyaaaa banyak banget dan emang menyakitkan pas gabisa meyakinkan ortu sama keinginan pribadi :””))

      Makasiiih kak washfa, semangat juga yaa!

      Like

  2. Semoga yang sedang mengorbankan ambisi pribadi demi memperjuangkan mimpi orang tuanya bisa dapat masa depan yang cerah ‘-‘)9 u guys are the strong fightersssssss!

    Kece Nis keceeee! Keep writing!

    Like

  3. KAK NISWA WHY SO RELATABLE APAKAH DIANE ADALAH AKU DI LAIN SEMESTA WKWKWK
    First thing first, ini agak curhat sih tapi ya aku tahu gimana rasanya jadi Diane. Kira-kira karakterku sama Diane ini hampir sama, cuma bedanya kalo Diane tuh trying too hard only to fulfill her mom’s expectation, kalo aku emang dari kecil amat sangat ambisius dan gengsinya tinggi jadi tanpa perlu dituntut ini-itu sama orang lain pun aku udah jadi high achiever dengan sendirinya (ya aku sadar tipe orang sepertiku ini amat sangat tawur-able but it’s not like I can stop myself huhuhu).
    Hadeuh ini kenapa malah curhat panjang-lebar I am supposed to drop some comments about the story, tho. Intinya buat Diane dan semua orang yang nasibnya 11-12 dengan dia, know that you are not alone in this universe, mari kita berjuang bersama-sama karena bagaimanapun hidup cuma sekali kalau jalan hidupnya lenye ‘kan sayang, hahaha…
    Last but not least, keep writing, Kak Niswa! Ditunggu karya-karya selanjutnya! ❤ ❤ ❤

    Like

    1. Haloo Rani! Maafkan baru sempat membalas :”)

      Ehehe sebenernya banyak karakter kayak Diane gini di real life, mungkin kamu salah satunya eak. Hft high achiever ya, somehow aku juga sempet kayak gitu, dan ambisiku gaada matinya, tapi kalo ga dapet apa yg kumau, ya oke, tandanya belum waktunya buatku. Ga ada yg perlu disalahin kayak ibunya Diane nyalahin Diane di sini 😀

      Its okay Raaan curhatanmu ditampung di sini wkwk. Makasih udah mampir ya adekku uhuhu keep writing too!

      Like

  4. Walaupun sedih, tolong tetap ingat bahwa kebahagiaan itu akan datang pada akhirnya. Masuk atau tidak masuk, rezeki atau tidak rezeki, fuck it. huhu bagus nis buat dikadik dan manteman yang tengah berusaha buat masuk univ

    Like

    1. Kakdhiluuuu terima kasih sudah mampir (lagi) uhuhu berasa punya pembaca tetap tauga /gagitu.

      Ehehe iya kak ini memang didedikasikan buat mereka biar lenyap sedihnya :”) makasih once again kunjungannya kakdhiiiil ♥♥♥♥♥

      Liked by 1 person

    2. awww sama-sama, Niswa! ah enggak juga (malu) (menunjukkan gestur garuk belakang kepala) tapi kalo sempet pasti aku berkunjung! 😆😆 sek semoga pesannya bisa sampai yaa ke orang-orang yang dimaksud 😚😚😚

      Like

  5. hai, niswa!

    yup ini relatable sekali dengan berbagai macam kasus di luar sana, di mana seorang anak mengorbankan mimpinya demi menggapai “mimpi” orang tuanya, which is ironic menurutku. cukup menampar, nis, baik untuk anaknya atau mungkin kita sebagai calon orang tua yang membaca, hehehe. tapi apa yang dianggap terbaik bagi seseorang kadang berbeda dengan perspektif terbaik dari orang lain, jadi kurasa aku tida punya hak men-judge si diane atau mamanya karena duaduanya punya pandangan “terbaik” yang berbeda hehehe.

    keep writing yaa, miss writer :))

    Like

    1. Halo, Kak Eviiin! ♥

      Yup, benar sekali, rasanya udah banyak anak yang jadi korban ambisi orang tuanya, meski aku ga memungkiri nanti jadinya juga bakal baik kalo nurut sama ortu. Tapi kembali lagiii, pergolakan batinnya itu loh, greget :’)

      Makasih udah menyempatkan mampir dan komen, Kaevin! Keep writing toooo ❤

      Like

  6. Aku pernah baca cerita model begini tapi versi humor, nis. Pada intinya ibu selalu benar, the power of emak2.khkh.
    Tapi disini kamu bikin dr sisi melow, kerasa ih sedihnya diane yg ibunya keras kaya gitu.

    Like

    1. Halo, Kak Fafa. Makasih udah menyempatkan baca. Yup, kadang bener kalo kata ibu selalu benar, ada aja hikmahnya nurutin kata ibu. Tapi ada kalanya harus patah hati dulu dengerin kata ibu, kayak Diane di sini hehe. Thanks for dropping your thoughts, Dear 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s