Martabak Manis dan Problematika Aurum

credit pic here

by Cheery

.

Aurum baru saja menggali kuburannya sendiri.

.

Setiap manusia pasti memiliki problematikanya masing-masing. Mulai dari masalah sepele seperti memilih baju untuk dikenakan ke kampus, hingga peliknya hubungan asmara yang nyaris pupus. O, jangan lupakan problematika klasik para gadis yaitu, berat badan ideal.

Kalau gadis-gadis di luar sana meributkan cara menurunkan berat badan dengan instan, lain halnya dengan Aurum. Remaja tujuh belas tahun dengan tinggi 171 senti dan berat badan di bawah lima puluh kilo, tentu tidak masuk rentang ideal. Maka ia bertekad melakukan apa pun agar jarum timbangannya bergeser ke kanan.

Hari ini Aurum memilih martabak manis untuk camilan malam. Jajanan yang belakangan menjadi tren di kalangan anak muda ini langsung masuk daftar favorit si gadis ikal karena tersedia dalam berbagai macam rasa kekinian. Kedainya sudah buka sejak tiga bulan lalu, tapi Aurum masih harus mengantre minimal setengah jam untuk mendapat pesanannya. Ia sudah mencicipi berbagai varian dan menobatkan red velvet dengan krim keju bertabur oreo sebagai urutan pertama. Glek! Membayangkannya saja sudah bisa meningkatkan sekresi saliva.

Sesampainya di rumah, gadis berkaki jenjang itu masuk ke kamarnya di lantai dua untuk mengganti seragam sekolah yang basah kena hujan. Punya berat badan di bawah ideal membuatnya gampang masuk angin. Ah, andai saja ia menimbun lebih banyak lemak, mungkin ia tidak akan mudah kedinginan.

Aurum berjalan menuju ruang keluarga sambil mengucir rambut sebahunya. Tepat di anak tangga terakhir, maniknya menangkap sosok ber-hoodie abu-abu. Kotak martabak manisnya terbuka lebar, membebaskan asap tipis yang membuatnya semakin enggan untuk berbagi.

Apalagi dengan Chrys, cih.

Kalau ada yang berpikir punya saudara kembar itu seru, maka Aurum adalah orang pertama yang menentangnya. Pernah suatu hari kembaran tidak identiknya itu menyetel alarmnya pukul dua dini hari yang menyebabkan Aurum menggigil karena mandi terlalu pagi. Kejanggalannya terbukti ketika sampai di ruang keluarga, Chrys dengan rambut mirip sarang burung menyapanya, “Temani aku nonton Real Madrid, yuk!” Setelah itu, Aurum menggebuknya dengan bantal sofa dan mendiamkannya selama tiga hari.

Chrys juga tidak pernah mendukungnya. Kembaran super menyebalkannya ini setiap hari hanya mencibir Aurum dan memupuskan harapannya sambil mengunyah semua makanan untuk program dietnya. Ha! Mentang-mentang badannya sudah bagus. ‘Chrys sayang, kudoakan perut enam kotakmu itu kempes!’

Aurum sudah mengambil ancang-ancang untuk menjambak rambut kakak kembarnya dari belakang sebelum martabak manisnya sampai dalam kunyahan Chrys. Dan Aurum benar-benar melakukannya.

“SIAPA YANG MENGIZINKANMU MENCOMOT MAKANAN … ku?”

 “Aduh!”

Seingat Aurum, Chrys tidak seganteng ini.

Seingat Aurum, manik Chrys sewarna kacang hazel seperti miliknya. Bukan hitam pekat yang begitu memikat.

“Oh, maaf. Aku tidak tahu kalau ini punyamu.” Dan Aurum yakin kalau Chrys tidak akan berkata begitu padanya.

Kakak selisih delapan menitnya memang kerap membawa temannya ke rumah. Entah untuk dijadikan rival bermain game, menemaninya nonton bola, atau hanya sekedar mampir sambil mengobrolkan hal-hal yang menurutnya berguna.

Hari ini pun seperti itu. Saudara semata wayangnya kali ini mengajak Lucas, senior sekaligus ketua klub futsal sekolah mampir ke rumahnya seusai latihan rutin. Cuaca yang tiba-tiba buruk menyebabkan mereka terguyur hujan saat perjalanan pulang. Jadi, Chrys meminjamkan bajunya dan menyuruh kawannya menunggu di ruang keluarga selagi ia mengeringkan baju di mesin pengering.

“Oi, cewek brutal! Kak Lucas mau kamu apakan?” Bingo! Ini baru suara Chrys.

Tapi apa barusan dia bilang?

“Tadi Chrys menyuruhku untuk makan saja sembari menunggu bajuku kering dan aku merasa agak lapar, jadi—”

“Astaga! Aku benar-benar minta maaf! Silakan dinikmati martabak manisnya.” Aurum sontak melepaskan cengkeramannya pada hoodie Lucas (hoodie Chrys yang dipinjam Lucas, lebih tepatnya) lalu kembali ke kamar sambil mengutuk dirinya sendiri.

Apa sebaiknya setelah ini aku menenggelamkan diri di bak mandi saja?’

.

FIN

Advertisements

6 thoughts on “Martabak Manis dan Problematika Aurum

  1. lah unyuk
    jarang2 ada cewek yg mau naikin berat badan, kok aku merasa tersundul ya lihat lemak di perut kyk gini (?)
    ga ding haha. ceritanya manis kayak martabaknya
    keep writing!

    Like

    1. Halooo kakliii
      ini sebenernya komennya udah kubaca tapi mau bales lupa terus /ampuni aku/
      Lemak di perut yha bagaimana cara mengikisnya…
      Makasi kak sudah mampir, keep writing juga! Anw, ceritanya manis kayak aku juga ga? /slapped/

      Like

  2. HAHAHA KAK INI RELATABLE BANGET KENAPA SIH XD

    Seems like girl’s problems all around the world are the same ya jadi dari awal sampe akhir semuanya tuh amat sangat relatable dan enjoyable buat dibaca 😀 First, aku mau bilang kalo featured image-nya bikin salah fokus d e m n kapan terakhir kali aku makan martabak manis aku jadi pengen :”)

    Kalo aku pribadi sih kebalikan dari Aurum ya, dia kutilang a.k.a tinggi kurus langsing meanwhile aku sebenernya berat badanku termasuk mendekati ideal tapi karena aku pendek (i am only 153 cm tall and there is only 0,0001% possibility of me growing a few centimeters more -_-) dan lemakku numpuk di paha (dan, ehm, pantat) jadi kesannya gemuk. Ya terus aku malah curhat gini maunya apa sih aku ini.

    As I’ve said even sampe ke ending tuh cerita ini masih relatable, hahaha… Secuek-cueknya cewek pasti akan tiba saatnya dia langsung salting dan kicep ngeliat cowok ganteng, maka sesalah-salahnya kelakuan cowok tersebut akan tetap keluar kata-kata sakti: “untung dia ganteng”.

    Overall, aku suka ide ceritanya! Walaupun idenya terbilang klise, tapi bisa dibawakan dengan seru jadi nggak kerasa membosankan buat dibaca. Last but not least, keep writing, Kak! Ditunggu karya selanjutnya 🙂

    Like

    1. Raneee so sorry for this super late reply🙏🙏

      INI KOMEN KAMU JUGA RELATABLE BANGET KE AKU GIMANA DONG

      Kamu tidak sendiri ran, tinggiku udah seret dari jaman smp mungkin ya dan akhirnya mandek di angka 154 cm. Mari kita pundung di pojokan. Dan yes, lemak di paha tuh… aku termasuk underweight tapi lemakku numpuk di paha jadi susah kalo beli celana ㅠㅠ oke curhatnya sampe sini.

      Memang orang ganteng tuh 50% masalah hidupnya sudah teratasi :”)

      Makasiii rani udah mampir, ditunggu juga tulisan2 kamu selanjutnya!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s