Tickling Dragon Under the Illuminated Dawn: Crinus Muto

Tickling Dragon Under the Illuminated Dawn © Fantasy Giver
Harry Potter © J.K. Rowling

Ambiance Sounds

Anyway, it’s a nightmare of a year, the fifth.

Hoseok dan Namjoon begitu senewen bahkan ketika mereka meninggalkan Toko Sihir Sakti Weasley dengan sejumlah barang termasuk Pena Bulu Tak Perlu Dicelup serta stok Kudapan Kabur untuk satu tahun ke depan. Jimin, yang membaca bahwa dua sahabatnya bisa meledak kapan saja dan di mana saja, mengusulkan untuk segera mengungsi di Kedai Kopi Tuan Widlleburgh; sebuah tempat yang baru dibangun dua tahun yang lalu pada pertokoan bagian tenggara.

Dan berakhirlah mereka di bawah salah satu meja berpayung warna cokelat. Namjoon menenggelamkan kepalanya dalam telapak tangan bak orang yang sedang mengalami degradasi mental akut, sementara Hoseok bahkan sudah melepas kacamata hitamnya dan duduk melender lemas, memandangi langit-langit dengan tatapan pasrah. Jimin sih kelihatan khawatir meski dia susah-payah berusaha tidak masuk pikiran keduanya, selagi Taehyung terlalu sibuk menyedot cokelat kopi dengan banyak krim kocok pesanannya lewat sedotan.

Iya, kestresan hari itu tak lain tak bukan disebabkan oleh hasil OWL yang datang tadi pagi. Namjoon langsung ber-floo ria ke rumah Hoseok dan keduanya mengirim burung hantu pada Yoongi, Jimin dan Taehyung (karena Seokjin tengah berada di New York mengikuti pelatihan penyembuh bersama anak-anak Ilvermony, sementara Jungkook pulang ke Busan) untuk mengadakan pertemuan mendadak seperti tahun lalu, saat hasil OWL kedua anggota tertua kelompok pertemanan mereka turun. Lagi pula ada sesuatu yang dipertaruhkan di sini—Taehyung sih santai-santai saja lantaran ia percaya si Kapten Quidditch Hufflepuff dan si Prefek Ravenclaw bakal kalah.

Jimin, yang tak tahan melihat keadaan tersebut, kembali menghela napas panjang-panjang dan mendekatkan kopi karamelnya ke bibir. “Sudahlah,” ujar pemuda itu jengah, menyugar rambut hitamnya yang langsung jatuh ke kening. “Tenang sedikit, kuyakin kalian bisa mendapat paling tidak masing-masing lima OWL.”

Respons dua seniornya hanya berupa dengusan sinis.

Yeah, rasakan sendiri betapa indah-nya tahun kelima dan ujian level OWL baru deh kau mengerti.”

“Dan beruntunglah kalian tidak dibebani tanggung jawab prefek—”

“—atau Kapten Quidditch Asrama—”

“—sehingga bisa memaksimalkan belajar atau apalah.”

“—o, demi Dumbledore, sumpah mati aku menyesal menyia-nyiakan waktuku yang berharga.”

Oke, pernyataan-pernyataan tadi mengerikan dan sangat di luar karakter.

Taehyung dan Jimin sontak saling tatap dan mulai memikirkan nasib mereka satu tahun ke depan. Kalau OWL bisa membuat Namjoon segila ini—padahal biasanya dia super santai dalam setiap mata pelajaran karena tahu bakal lulus dengan nilai luar biasa—maka berarti tahun kelima memang seperti desas-desus para senior.

Terputar dalam memori mereka ketegangan masa ujian OWL tahun-tahun yang lalu. Pada era Seokjin dan Yoongi, keduanya selalu disambut suasana hati buruk, gerutuan, berbagai istilah yang belum diketahui, serta kantong mata sebesar pantat Erumpent setiap sarapan. Sedangkan pengalaman Hoseok dan Namjoon bisa diceritakan lebih detil, sebab setelah bertahan di perpustakaan sampai diusir Madam Pince, mereka akan beralih ke ruang rekreasi Hufflepuff; ditemukan pagi-pagi buta terlentang di depan perapian dengan mulut terbuka dan dengkur keras. Ketika dibangunkan, Hoseok sering berteriak kecewa, berkata kalau ia habis memimpikan Hogwarts diboikot dan OWL ditiadakan, lalu Namjoon nyaris membuat plot untuk membuat hal radikal itu terwujud.

Iya, tahun kelima adalah masa penuh cucuran air mata, darah dan keringat. Semua murid Hogwarts pasti akan merasakan dan mengalaminya. Hanya saja, tak ada yang pernah siap.

Setidaknya Taehyung sudah punya bayangan mau jadi apa, nah Jimin? Ha. Dia akan mengajukan diri sebagai pencuci kuali dan piala kotor Leaky Cauldron dalam konsultasi karier nanti.

Serius, menenggelamkan diri di danau bersama cumi-cumi raksasa terdengar lebih asyik ketimbang memikirkan OWL sekarang. Sial.

“Yah, yang pasti, sih, aku mengacaukan Sejarah Sihir dan Astronomi.” Hoseok mulai bergerak lagi setelah entah berapa lama ia membatu seperti sebuah gargoyle penjaga gerbang. Pemuda enam belas tahun itu melepas jaket kulit yang melapisi kaos putih bertuliskan we all got magic inside us—ditemukannya di salah satu pusat perbelanjaan London muggle saat berjalan-jalan dengan Yoongi dan Jimin—lalu menggantungnya di sandaran. “Won’t be surprised if I get a Troll.”

“Sejarah Sihir! Crap!” Namjoon mengumpat. Tinjunya jatuh di meja. “Siapa sangka yang banyak keluar malah konvensi sihir internasional, pemberontakan goblin dan perburuan penyihir. Padahal kita mati-matian belajar perang raksasa sampai pagi! Ingat, Seok, kau sampai harus mampir ke Madam Pomfrey sore harinya?”

Yeah.” Hoseok terlihat merana sekali. “Demam tinggi sehabis ujian, padahal masih ada transfigurasi. Seperti mimpi buruk rasanya. Untung bisa disembuhkan sekali jentikan.”

Taehyung langsung tersedak. “Jenggot Merlin, separah itu?” Matanya membelalak sekarang dan wajahnya memucat—meski bagaimanapun tetap tidak dapat menutupi ketampanan yang diturunkan dari ibu setengah veela-nya. “Bukankah yang Namjoon sebutkan merupakan materi kelas dua sampai empat? Maksudku—siapa juga yang ingat?! Apalagi ini Sejarah Sihir!”

Jawaban Hoseok dan Namjoon berupa kekehan lepas setengah sinting.

(Dan menurut pengamatan Jimin, bisa sinting betulan kalau dianggurkan lebih lama sedikit.)

Sialnya, sisa anggota mereka, Yoongi, tak kunjung datang hingga lima belas menit kemudian, kala Namjoon kelepasan membeli gelas Kopi Hitam Murni keduanya dan Hoseok mulai meletakkan kepala di meja yang lengket. Melihat betapa runyam keadaan, sinyal-sinyal Jimin dan prasangka ah-ya-lebih-baik-segera-ditolong-sebelum-mengalami-depresi-berkelanjutan, Taehyung bersedia mengorbankan diri untuk mencari si bungsu Min. Tentu tawaran itu disetujui penuh “semangat” oleh Namjoon (Hoseok tak membalas karena terlalu lemas), kemudian direalisasikan dengan aksi yang bersangkutan menyeret Jimin pergi. Tetapi tepat saat mereka menghilang di belokan, tiba-tiba saja sang buronan muncul dari arah Gringotts. Tangannya menjinjing beberapa bungkus buku serta sebuah kuali tembaga anyar.

“Berengsek.” Namjoon kembali mengumpat saat Yoongi telah tiba di depan mereka, meletakkan belanjaannya hati-hati dan menjatuhkan pantatnya di bangku bekas Taehyung. “Kau masih sempat belanja dulu, Yoon?”

Tapi Yoongi adalah Yoongi. Dan itu adalah pembelaan aktualnya saat dia hanya mengajukan respons berupa kedikan bahu dan seringai tipis. “Ya, kualiku sudah berkarat dan aku butuh buku untuk tahun ketujuh. Sedang ada diskon di Potage—kau tidak tahu?” jawabnya ringan nan kalem. “Santai, Joon. Di mana kesenangannya kalau kau tidak belajar bersabar sedikit, hm? Dan di Hufflepuff—” pemuda itu ganti melirik Hoseok puas, “—sikap toleran sangat diagungkan, ‘kan?”

Yang ditatap membalas dengan dua jari yang punggung tangannya ditujukan pada Yoongi dan Namjoon terlihat seperti ingin memantrai pria itu dengan salah satu Kutukan Tak Termaafkan. Kontras dengan perlakuan dua juniornya, Yoongi terkekeh. O, ya, dia memang puas sekali melihat Namjoon dan Hoseok pusing tujuh keliling. Dua tahun lalu, ketika pemuda itu sedang berada dalam keadaan kritis, mereka yang menertawai rasa frustasinya. Rasakan sekarang. Yang namanya karma dan pembalasan memang selalu manis.

Where is Taehyung and Jimin?” Yoongi sengaja melambatkan nada bicaranya untuk mengulur waktu. Sedetik, dua detik pun berharga selama itu berarti siksaan.

Looking for you, Dickhead.” Hoseok menjawab asal. Dia mulai duduk tegak sekarang, menyesap teh apel dingin pilihannya sambil cemberut. Bibirnya tertarik ke bawah sebagai gestur khas bila sedang marah. “Sana cari mereka lagi sampai ketemu. Bawa ke sini secepatnya.”

Yoongi menggeleng pelan, berucap, “Tak perlu repot-repot,” lalu mengeluarkan tongkatnya dengan malas. Sekali kibas, ia mampu memproduksi sebuah proyeksi silver berbentuk seekor angsa hitam; meluncur gemulai di udara selama sepersekian sekon, sebelum melesat pergi dan menyampaikan pesan pada sepasang junior mereka. Hoseok dan Namjoon kembali bertukar pandang kesal.

“Berhasil lulus tes Apparition-mu kalau begitu?” tanya Namjoon, menyesap kopi yang sekarang makin terasa sepahit hidupnya. Dulu Yoongi berjanji tidak menggunakan sihir di luar Hogwarts meski telah akil baligh sebelum mendapat sertifikat apparition dari kementrian.

Pemuda paling mungil dalam lingkaran tersebut mengangguk bangga.

Tiga menit kemudian, Taehyung dan Jimin berlari dari arah yang berlawanan dengan kedatangan Yoongi. Wajah mereka dihiasi keterkejutan, namun penuh semangat; mempercepat ritme langkah begitu si Slytherin kelahiran muggle telah masuk pandangan. Jimin kembali duduk di tempatnya, sementara Taehyung harus meminta bangku tambahan dengan sopan pada sekumpulan gadis yang duduk di meja sebelah—hal yang mudah sebab semuanya mengiakan dengan mata berbinar-binar dan wajah kemerahan.

“Aku baru tahu patronusmu angsa!” Taehyung memulai, setelah menyuruh Jimin bergeser sehingga tempat duduknya bisa masuk. “It suits you, Yoon.”

“Angsa hitam, sebenarnya, and thank you,” jawab Yoongi sambil berkumut lagi. Dia melirik dua temannya yang benar-benar kelihatan akan meledakkan tempat ini dalam beberapa detik jika sang tertua tak kunjung membuka acara inti mereka. “Tapi ada baiknya kita mulai acara taruhannya sebelum Namjoon atau Hoseok membunuhku.”

“Pilihan bijaksana,” sahut Namjoon pendek.

Jimin mengulas sebuah senyum simpul, menunjukkan giginya setelah seluruh likuid dalam gelasnya berpindah ke perut. “Mereka sudah seperti orang gila saking khawatirnya, Yoon, asal kautahu saja. Mengeluh dan menggerutu sepanjang waktu.”

“Normal. Kau juga bakal merasakannya nanti,” jawab Yoongi, namun kali ini penuh pengertian. “O, ya, berapa OWL taruhannya, omong-omong? Aku lupa.”

“Delapan Namjoon, ya? Empat Hoseok.” Taehyung nyengir kuda, terkenang kejadian hari pertama ujian OWL selesai dan dua temannya mengucapkan sendiri sumpah mereka. Tahun lalunya, Yoongi dan Seokjin sama-sama menargetkan lima—yang mana sukses mereka lampaui dan membuat keduanya harus menjalani hukuman selama setahun.

Yoongi mengisyaratkan Namjoon dan Hoseok untuk membuka amplop hasil. Selama beberapa menit kemudian, ada keheningan yang teregang seolah keributan di sekitar mereka berhasil diredam Silencio. Setelah kertas diluruskan dan diangkat, Jimin tak bisa menahan tawanya selagi Taehyung memukul-mukul meja seperti drum.

Hoseok Jung menjadi yang pertama berteriak nyaring, mengagetkan semua orang termasuk beberapa pengunjung di sekitar mereka. Tak peduli, dia melempar tinjunya ke udara.

“Prediksiku benar!” Dia membolehkan Jimin menarik perkamen hasil miliknya untuk dilihat. “Aku tidak lulus astronomi dan sejarah sihir—tapi, yah, tujuh OWL sudah cukup bagus, ‘kan? Lagi pula ada tiga Oustanding, termasuk Mantra, jadi sepertinya orangtua dan kakakku bisa cukup berbangga. Tapi aku tidak bisa melanjutkan Ramuan, nih.”

“OWL doesn’t determine you future, Jung.” Yoongi mengulang motto hidupnya yang selama ini selalu dibanggakan. “Lagi pula, memangnya pemain Quidditch butuh Ramuan apa, sih? Kau masih bisa melanjutkan hidup tanpa ramuan.”

Dan Hoseok, yang telah kembali pada mode Hoseok-si-Mentari, meninggalkan kegalauan serta awan-awan hitam di balik punggungnya secepat Firebolt Prime, mengangguk. Dia cukup gembira dan berpuas diri dengan apa pun hasil dalam perkamennya. Paling tidak, huruf-huruf yang tercetak adalah buah dari usaha dan kerja kerasnya sendiri.

Namjoon di sisi lain masih menekuni miliknya sebelum dia meletakkan si hasil di meja dalam keadaan terbalik dan mengambil napas panjang-panjang. Kelegaan yang luar biasa mengaliri wajahnya dan dia tersenyum-senyum sendiri. Kalau orang asing melihat pemuda itu duduk sendirian di sini sambil memasang ekspresi demikian, Namjoon pasti dikira pasien lepas St. Mungo.

So …?” Jimin menjinjing sebelah alisnya.

Ten.”

“Dan semuanya Outstanding?!” Taehyung segera menyambar milik Namjoon dan memeriksa isinya; dilirik Jimin yang memiringkan tubuh supaya bisa ikut melihat. “Ha, dua Exceeds Expectation—tapi tetap saja. Dia bahkan tidak punya Acceptable. Kurasa semua pekerjaan bisa menerimamu bekerja sekarang, Joon.”

“Kau harus memberi kami privat tahun ini—aku tak peduli.” Jimin mengembalikan posisi duduknya yang semula. “Kami tidak mungkin bisa bertahan tanpamu.”

Yoongi di sisi lain tertawa skeptis. “Itu kalau dia bisa bertahan sendiri karena kelas enam akan jauh lebih sibuk. Kau mungkin mengambil sedikit pelajaran, tapi PR dan kesulitan materinya—o, celana dalam Dumbledore.” Dia menggeleng-gelengkan kepala. Ekpresinya begitu traumatis dan sangat meyakinkan. “Alchemy membuatku nyaris lompat dari menara astronomi tahun kemarin, belum lagi transfigurasi yang hukum-hukum elemennya makin rumit. Kalian juga diharapkan cakap menggunakan mantra non-verbal.”

Hoseok menyemprotkan tehnya ke tanah, terlihat seperti baru saja menelan Kacang Segala-Rasa Bertie Botts rasa kol busuk, namun Namjoon lebih tenang dengan mengiakan permintaan Jimin dan Taehyung, yang meskipun baru akan merasakan setahun lagi, sama terpukulnya. Si Prefek Ravenclaw berjanji akan membantu mereka semua dan tetap menutori Hoseok selepas tugas akademik miliknya sendiri selesai. Pemuda itu mengangkat kedua alis; membentuk kerutan-kerutan samar di bagian kening saat menoleh pada Yoongi. “Kau sendiri ujian NEWT ‘kan tahun ini?”

“Ya, aku dan Seokjin bakal digantung mati akhir tahun ini, positive.”

Ada hening yang menjeda sebelum Hoseok berhasil menenangkan diri—dengan berpikir kalaupun dia gagal di bidang akademik, dia masih punya Quidditch. Ia mencoba memberi suport dengan sebuah tepukan di pundak Yoongi. “Don’t worry. You did great on OWL. I’m sure you will ace your NEWT.”

I know I will,” sahut Yoong berusaha bernada biasa.

Lantas, merasa bahasan akademik pantasnya dicukupkan saja untuk sebuah siang yang cerah di musim panas, Yoongi mencoba membelotkan topik kembali ke agenda utama mereka. “Omong-omong, kurasa sudah saatnya kalian berganti warna rambut untuk setahun ke depan.”

O, ya. Namjoon dan Hoseok sampai lupa taruhannya.

Tradisi taruhan ini muncul tanpa sengaja. Dua tahun yang lalu, ketika Yoongi dan Seokjin sedang risau-risaunya masalah persiapan OWL, Hoseok membuat sebuah taruhan kecil: mereka bebas menentukan berapa OWL yang mungkin di dapat, namun bila melebihi target, harus mengganti warna rambut sesuai yang diingini teman-temannya selama setahun. Awalnya sih hanya untuk lucu-lucuan; seperti nazar; eh, malah diseriuskan. Alhasil, karena kalah, Namjoon mengganti surai raven Yoongi menjadi pirang platinum yang masih dipakainya hingga detik ini, sementara Hoseok mengatur spektrum pirang lumpur orisinil Seokjin menjadi pirang stroberi.

“Kami baru mengganti rambut kalian di Hogwarts Express!” Namjon memprotes—yang tentu, tidak didengarkan oleh ketiga eksekutornya. “Masa’ kau tega membiarkanku dan Hoseok berkeliaran sepanjang musim panas dengan warna rambut aneh? Dan masih ada Piala Dunia Quidditch bulan depan!”

“Nah, tahun lalu ‘kan karena belum ada yang legal di antara kita, makanya semua sihir harus dilakukan di sekolah.” Yoongi menyeringai seram. Tongkat hornbeam-nya berputar-putar mengancam dalam genggaman. “Sekarang ada aku, jadi—” dia mengedipkan sebelah mata pada Taehyung dan Jimin. Hoseok dan Namjoon meneguk ludah tak percaya.

“Kurasa kuning bakal serasi dengan seragam Quidditch-mu, Kapten.” Jimin menumpukan dagunya di atas telapak tangan, mengamati Hoseok dari atas ke bawah. “Atau oranye? Yah, oranye juga bagus supaya warnanya tidak terlalu menabrak.”

“Berengsek kau, Park.” Haha. Boleh saja mengumpat, namun Hoseok yang sedang senang adalah Hoseok yang bisa menerima apa saja. Dia bahkan tak keberatan bila rambutnya berubah menjadi sewarna neon. Lagi pula ini adil—dia yang mengeluarkan janji, maka dia yang akan menepatinya.

“Aku setuju oranye.” Taehyung menambahkan sambil tertawa kecil.

Seriously, Tae?”

“Sirius Black yang Sirius, Seok.”

Hoseok tak sempat menawar atau menarik dua kerah pakaian teman satu asrama, satu tim dan satu lain-lainnya yang ternyata titisan Peter Pettigrew—iya, penghianat—lantaran Yoongi sudah mengangkat tongkatnya dan tanpa memverbal mantra, mengubah rambut hitam Hoseok menjadi oranye lembut. Iya; Yoongi masih berbaik hati dengan tidak membuat sahabatnya kelihatan seperti maniak Chudley Cannons, mengingat klub kesukaan pemuda itu adalah Puddlemere United.

Tentu, bisa ditebak. Hal yang berikutnya terjadi adalah simfoni vokal Hoseok jilid kedua featuring tawa terbahak-bahak trio Yoongi, Jimin dan Taehyung sementara Namjoon masih termenung memikirkan nasib rambutnya yang malang.

Inginnya Hoseok, sih, pura-pura marah. Kenyataannya gagal total karena tawa yang timbul tenggelam. Pada detik-detik terakhir, ia mendapatkan kerah pakaian Taehyung dan Jimin, mengguncang dua bocah tersebut keras-keras. “AKU MEMBERI SEOKJIN WARNA PIRANG! DEMI MERLIN, PIRANG! HANYA SEDIKIT BERBEDA DENGAN WARNA RAMBUTNYA YANG ASLI! DAN KAU MEMBERIKU WARNA ORANYE?! AKU BERSUMPAH AKAN MENGUBAH RAMBUT KALIAN MENJADI MERAH JAMBU ELEKTRIK TAHUN DEPAN, BERSIAPLAH!”

“O, itu juga kalau kami melebihi target, ‘kan, Seok. Tidak ada yang tahu.” Jimin tak sengaja menyikut meja saking gelinya. Taehyung di sebelahnya malah sampai tak bisa bicara; harus menunduk dan memegangi perutnya yang sakit. “Tapi serius, aku tak menyangka kau cocok menggunakan oranye. Berkacalah! Sumpah, kau tambah tampan! Aku jamin proses pendekatanmu dengan—”

“DIAM KAU!”

Beras telah menjadi bubur gandum dan dia tidak bisa menggunakan kutukan apa pun selama belum menginjakkan kaki di Hogwarts, jadi Hoseok cuma bisa menerima dan menoleh pada kaca gelap di kedai.

O, Merlin, Yoongi benar-benar melakukannya. Pemuda Hufflepuff itu punya rambut oranye sekarang. Seperti kata Jimin, sebetulnya dia tidak terlihat buruk-buruk amat, tapi tetap saja ganjil. Diam-diam Hoseok bersumpah akan menjegal Jimin di koridor karena telah mengusulkan warna seterang ini. Bibirnya membentuk cebikan palsu, lalu menoleh pada Namjoon yang masih bungkam seribu bahasa.

I vote rainbow for Namjoon.”

Dan yang disebut segera menolehkan kepalanya secepat kilat hingga seseorang bisa mengira sendi-sendinya copot semua. “Apa salahku padamu, Jung? Aku tidak berkata apa-apa untuk rambutmu dan sekarang kau mau membalaskan dendammu padaku? Setelah semua yang kulakukan untukmu? Kau akan mempermalukanku dengan rambut sewarna pelangi? Begitu maumu?” dan dia masih melanjutkan omelannya bagai penyihir wanita tua yang kehilangan kneazle-nya.

“O, okay, okay. Sorry, sorry.” Hoseok, mengenali kebiasaan marah Namjoon merespons lewat kekehan, mengangkat dua tangan tanda menyerah. “Cokelat, kalau begitu.”

That’s better.”

“Mm … aku memikirkan warna-warna dingin karena Hoseok sudah punya yang hangat di sini.” Kernyih distingtif Yoongi muncul lagi. Namjoon berusaha, namun tak mampu mencuri tongkat sihir si tertua—malah menumpahkan sisa minuman Hoseok hingga sang Kapten Quidditch harus mundur dan melempar tatapan mencela sebelum terpaksa membersihkan kekacauannya tanpa sihir. Yoongi melanjutkan, “Atau toska? Hijau tentara?”

“Ungu?” Taehyung yang kali ini mengeluarkan ide, diikuti oleh Jimin yang melakukan tugas pokok seorang sahabat: mendukung.

Purple seems nice.”

Dan tersisalah Namjoon yang hanya bisa memohon-mohon pengampunan pada Yoongi. “Yoon, kau menyukai warna rambut yang kupilihkan—kau bahkan masih memakainya sekarang saat kau bisa mengubahnya kapan saja. Please, please save me from all the embarrassment I’ll get by not following those two stupid, daft flobberworms—”

Tapi Yoongi bukan Slytherin tanpa alasan. Dia punya determinasi dan ambisi, juga kecerdikan. Jadi meskipun dia mengangguk anteng, rambut cokelat keabuan milik Namjoon kini berubah menjadi sewarna permen karet rasa anggur. Tanggapan? Berbeda dengan Hoseok, ketika melihat pandangan di kaca, Namjoon cuma mengatupkan mulutnya, lalu kembali duduk dengan patuh.

Jimin dan Taehyung, yang tawanya belum sepenuhnya reda, kembali terbahak-bahak hingga saling memukul satu sama lain bak sepasang troll bodoh yang sedang bertengkar. Bayangkan; kini ada dua orang berambut aneh yang duduk di hadapan mereka seperti alien di film-film sci-fi yang menjadi tontonan Jimin semasa kecil. Terlalu ajaib, bahkan melebihi kekreatifan Peeves membuat kekacauan.

Sorry, Mate, rules are rules, you know how it is.”

Rules my arse.” Hoseok mencibir pelan sambil menelengkan kepala. “Seperti kau tidak pernah kena detensi Filch karena ketahuan membuang bom kotoran di koridor.”

“Iya, tapi aku masih belum mengerti arti hidup saat itu. Aku masih tiga belas tahun. Bahkan aku masih membenci asramaku. Semua orang bisa berubah, ‘kan?” Yoongi berdengung puas, mengedikkan bahunya lalu menggelengkan kepala dengan air wajah arogan—kial khasnya bila sedang merasa benar. “O, ya, omong-omong Mum mengundang kalian untuk makan malam di rumah kalau tidak keberatan. You in?”

“Tentu saja!” Jimin mengiakan paling pertama. Pemuda itu selalu menyukai keluarga Min; ada sesuatu di sana yang terasa familier. Beberapa kali ia tak sengaja masuk ke pikiran ayah Yoongi—perlu digarisbawahi tak sengaja. Jimin tahu terkadang kemampuannya terkesan tidak sopan—dan menemukan kebanggaan sejati terhadap dua putranya. Lagi pula, jarang rasanya bisa main ke rumah temanmu yang memiliki orangtua sama-sama muggle. Pun ayah dan ibu Yoongi memiliki pandangan spesial terhadap Jimin karena latar belakang identik; fakta bahwa Jimin menjadi tempat bersandar anak mereka bila ia kesulitan.

Taehyung menjawab setelah melirik arloji mahal di pergelangan tangannya; satu yang sekalian dia beli ketika mencari hadiah ulang tahun untuk Jimin tahun lalu. “Aku ikut, tapi hanya bisa sampai tengah malam karena ada janji dengan Violetta.” Dia mengedipkan sebelah mata. “Dia akan kehilanganku selama sebulan, kalau kautahu maksudku.”

“Iya, Tae, iya. Kami tahu.”

“Hoseok? Namjoon?”

Si Ravenclaw masih repot mengamati refleksinya dari sendok, jadi dia hanya menanggapi dengan anggukan sederhana. Hoseok baru merespons setelah tepat lima detik.

“Kau membawa mobil muggle-mu?” tanyanya ke Yoongi.

“Ya.”

“Di mana?”

“Kuparkir di depan Leaky Cauldron.”

“Boleh aku yang menyetir?”

Tentu, ekspresi Hoseok benar-benar memancarkan rona matahari sekaligus asramanya saat Yoongi memberi izin. Dia mulai berdiri, mengenakan kembali jaket dan kacamata hitamnya, mengumpulkan barang-barang si Slytherin, berbaik hati membawakan mereka dan berjalan paling depan sambil berteriak, “Chip chop! Let’s go!

Yoongi memberikan lirikan pada Jimin sebagai isyarat restu pemuda itu menulusup kepalanya. Jimin memberikan respons berupa anggukan dan tawa pelan.

Iya, Yoongi dan Jimin sama-sama setuju; jika Hoseok Jung dilahirkan sebagai muggle, maka kemungkinan besar pria itu akan berprofesi sebagai pembalap atas dasar kesukaannya menekan pedal gas dan memacu speedometer di jalanan-jalanan besar kota London.

Mari berharap mereka tidak sampai kena tilang polisi hari ini sehingga Yoongi tak perlu susah-susah mereparasi ingatan seseorang untuk kedua kalinya selama musim panas.

A/N:

  1. Foreword’s is actual quote of George Weasley about fifth year.
  2. Hai Guys HAHAHA ini semacam series HP!AU yang kalau saya post, berarti sesuai setting waktunya. Contoh: nilai OWL keluar betul-betul sebulan setelah ujian, yang mana berarti bulan Juli. Nah, ditebak-tebak aja nanti saya post kapan sesuai timeline :))
  3. Ini tahun 2010 Wizarding World dan mungkin nanti bawa-bawa Harry atau salah satu tokoh soalnya saya berusaha untuk selalu make canon non non non non bcs I love canon (Crinus Muto, to be example, is an original spell to change someone’s hair color).
  4. Cheatsheet and insiders to understand this universe more.
  5. Thank you for reading ❤ ❤
Advertisements

7 thoughts on “Tickling Dragon Under the Illuminated Dawn: Crinus Muto

  1. Bloody hell, bts diversiin harpot!! Jimin disini jadi sentris ya?? Bbrp kali klo nemu cerita pure bts trus jiminnya jadi sentris tuh seringnya keren, dan ini aku suka pake banget. *agak sedih mas jin kaga ikut terlibat percakapan taruhan mereka*

    Sebagai orang yg prnah freak sm harpot, kesetressan di taun kelima emang bikin parno sndri. Dan apapula si hoseok jadi kapten quiddith, aakkk, kan jadi ngebayangin akunya dia trbang muter2 di prtandingan quiddith *seketika bayangan oliver wood brrubah jd hoseok*

    Agk kaget jg si yoongi trnyata muggle, trus masuk slytherin. Scr kepribadian serta omongannya yg pedes cocok sih klo dy msuk sana, cuma fakta klo dy muggle jd shock sdkit. And yeah, taehyung emng ga manusiawi gantengnya, keturunan veela sih, ga heran. Hhe
    Like wow, jimin tuh pnya kelebihan baca pikiran orang ya?? Baru ngeh pas baca di akhir2, soalnya kukira itu kemampuan yg dia latih dr salah satu pelajaran di hogwarts.

    Jjang lah,,
    Aku menanti sequel serta penambahan karakter canon yg kmu bicarain itu. wkwkwk

    Like

    1. halo, fafa! firstly first, makasih loh udah baca dan komentar. salam kenal aku evin :))

      HAHA, fa, ini aku iseng aja bikin hp!bts habisnya udah lama sih kepingin bikin au harry potter yang tokohnya bukan karakter hp. e terjerembab terlalu dalam di liang yang isinya 7 bocah yang kelebihan kerjaan, tapi keliatan kayak kurang kerjaan ini. ini sebenernya ga ada sentrisnya buat chapter ini, fa. sampai chapter 2 ga ada, terus nanti baru sentrisnya ganti-gantian hehehe. iya nih seokjin lagi sibuk magang jadinya ga bisa dateng.

      hoseok lanjutannya cedric kali ya bcs kan cedric kapten hufflepuff juga HAHAHAHA nanti ada kok cerita tentang per-quidditch-annya si hoseok. ditunggu ya! dan yoongi muggleborn dan tae veelaborn juga aku sengaja sih. dan betul sekali jimin legillemens! itu bisa kemampuan natural bisa belajar, fa. hehe.

      makasih banyak yaaa sekali lagi! have a nice day! 🙂

      Like

    1. VIN VIN VIN AKU BALIIIIKKKKKKKKKKK

      WAIT YA WAIT THIS CAPSLOCK IS GONNA BE LONGLAST LYKE A WATER RESISTANCE MASCARA
      .
      .
      .
      JADI TUH PAS SPOILER KUMENGIRA “AAAH FENFIK HERIPOTER ASIQUE”
      TRUS
      TAPI
      KOK
      PAS
      DIBUKA
      APA INI
      APA NAMJOON
      APA TAEHYUNG
      APA INI KOK PADA KELUAR DARI SARANG PENYAMUN WEASLEY
      APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA VIN APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
      KATAKAN NIAT DAN TUJUANMU APA INI AKU BELOM SELESAI SKRIPSI SUDAH NGISAP OKSIGEN SEPARO-SEPARO :((((( #EVINTEGHA
      .
      .
      .
      HUWWWWWWWWWW BEDA GRADE TUH TRUS MEREKANYA KEK KALO KITA MENYEBAR HOAX KE ADEK KELAS: UN TUH SUSAH LOOOH GABISA TIDUR SAKING TAKUTNYA LUPA RUMUS. KALO BISA TIDUR NTAR MIMPI BURUKKK.
      WHY
      SO
      GEMAS
      WHY???????????
      .
      .
      .
      CRINUS MUTO SIHIR MENGUBAH WARNA RAMBUT AAAAAAAAAAAAAAAAAAA MAUMAUMAUMAU GAPAPA OWL JONGKOK ATO LEBIH DARI EXPEKTASI KUMAU DISIHIR RAMBUTNYA SAMA OPPA #SLAPS

      TRUS ITU TOLOOOOONG YA TOLONG YOONGI IS IN DA SLYTHERINE QAQA QAQA NOTICE ME SENPAYYY!!! DAN KELAHIRAN MUGGLE! W-WAAAAAAIT WUUUUUUOOOATTTT?! EVIN AWAS DI CYDUK SALAZAR VIN 😀 TAPI GAPAPA PENTING YOONGI MASUK #EVINTEGHATAPIGAPAPA

      CHEATSHEETNYA GOLDEN SEKALI EVIIIIIIINNN KUMAU KIRIM PELUK RASA OPPA FEAT RASA ARAGOG (DELAPAN PELUKAN IN ONE TIME) ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

      LUVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVVITZ SO MUCH DAN AKU BUTA TIMELINE SO AKU PASRAH DIKASI KEJUTAN APA AJA ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

      SUKSESSSSSS VIIIIIN!!! KEEP WRITING!

      Like

    2. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKHHHHH KAK FILZ ❤ ❤

      TAU GA SIH KOMEN KAK FILZ SUDAH MEMBUATKU TERTAWA SEDARI MEMBUKA MATA WGWGWGWGWG DARI AWAL AJA AKU UDAH KETAWA GEGARA MASKARA TERUS SARANG PENYAMUN WEASLEY ❤ YEOKSHI KAK FILZ URI HOPE, URI ANGEL HEEEEEEE,,,,,,,,, tenang kak filz, tarik napas dalam-dalam. kalau masih kurang berefek, kunjungi madam pomfrey. nanti siang aku bakal jenguk kak filz yaaaa ❤

      dan iya spoiler-an kakak kelas kadang berguna, tapi kadang menakutkan gimana ya gimana. jadi kakak kelas yang hoax ke adek kelas seru, tapi kadang merasa bersalah. jadi ya begitulah. meski ada jasanya yaitu memberikan penguata mental sebelum terlambat seperti memberitahu bahwa sbmptn itu susah sekali :"

      mau diubah warnanya jadi apa, kak? xD HAHAHA. Dan yaaaaaaaashhhhh nanti kak filz bisa ngobrol-ngobrol sama kangmas yoons di common room slytherin, di bawah lentera-lentera hijau yang adem-adem asoy itu. boleh juga minta ajarin alchemy soalnya dia diem-diem jago, kak. hahahaha. ((bentar. dicyduk salazar. cyduklah aku, pak, asal bisa masuk hogwarts mah.)) PELUK BALIK RASA WHOOPING WILLOW SUPAYA BERSEMANGAT (apa) yay! MAKASIH BANYAK KAK FILZKUUUUUH! ❤ ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. Aku mau histeris pas tau Yoongi masuk slytherin lengkap rambut pirangnya itu yalord 😍😍😍

    Dan cocok bgt! Yoongi cocok bgt disitu. Terkesan dingin tp sebenarnya care. Cuek tapi benernya observant. Dan yg paling aku suka dari Slytherin adalah mereka itu adalah yg paling rasional diantara 4 asrama wkwkwk *belain asrama sendiri* lol

    Karena asramaku juga Slytherin so ya aku baper kayaknya gpp HAHAHAHAHAHA

    Dan tetep ya idup Jin itu beda level. Ganteng, pinter, baek hati, intinya teridolakan secara paripurna. Sedangkan duo vimin terlihat jelata bgt lol untung sayang wkwkwk

    Ah sayang2 Yoongi~~❤

    Like

    1. KAK IPEH aku ke-skip komen kakak yang ini ya ampuuuuun maafkan baru kubalessss.

      iyaaa emang yoongi+pirang agust d adalah sebuah definisi sejati vibes slytherin ya ga sih HAHAHAHA dan emang dia cuek-cuek observant yg kalo dari luar keliatan serem tp kalo udah kenal, tau kok doi gesrek juga huehuehue

      dan HAHAHAHA hidup seokjin beda level HAHAHAHAHA wait aku ketawa malem-malem nih kaaaak. nanti ada kok dia jadi centric bulan desember (spoiler, spoiler) jadi ditunggu saja yaaaaa si sesama gryffindor-ku ((mempromosikan asrama sendiri)) DAN HAHAHAHA KENAPA VMIN JELATA KAK GAGAHAHA

      kalo kak ipeh sayang yoongi, aku sayang kak ipeeeeh! makasih banyak yaaa, kaaaak!!💕💕💕🌺🌺🌺

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s