Amour Éternel: Jacqueline Vaughan

©Lt. VON 2017

*

Sometimes losing everything is the only way to begin.

—T. K. Kiser, The Firebrand Legacy (The Manakor Chronicles, #1)

*

#6 Tell me why the sky is red

tell_me_why_the_sky_is_red_by_aquasixio-d61g6m1

Jika sebagian besar anak balita perempuan sibuk bermain ‘minum teh bersama tuan dan nyonya beruang’, maka Jacqueline yang menginjak empat tahun sedang menghabiskan hari-hari bermainnya dengan serangkaian latihan berjalan tegap, berkuda, dan berdansa Waltz. Tidak begitu banyak waktu luang yang tersisa untuk bersantai di halaman belakang sambil menikmati kubah senja sewarna kulit jeruk dan apel. Ia ingat pernah mendapat satu kali kesempatan langka untuk menikmati senja yang sayangnya, tidak ingin ia ulang sama sekali.

Tepatnya saat sang ayah merayakan hari ulang tahun kelimanya dengan mengeluarkan isi lemari pakaian dan boneka-boneka khas anak perempuan yang tidak pernah dimainkan Jacqueline, lalu menumpuknya di halaman belakang mansion mereka. Ditambah beberapa mayat pelayan yang masih mengucurkan darah segar, maka lengkaplah sudah sebuah api unggun yang membaur dengan latar belakang langit sore.

Hari itu matahari beranjak kembali tidur dengan tergesa, seolah enggan menjadi saksi atas kobaran api yang menandai perubahan takdir di bawah sana.

“Semua barang bukti dan saksi mata sudah dimusnahkan. Maka ingatlah baik-baik, Nak, mulai hari ini Kendreague dan Kathleen Rowan tidak pernah memiliki putri bernama Jacqueline, melainkan seorang anak laki-laki bernama Jack Rowan.”

***

#7 Us 

us_by_aquasixio-d9t66x6

Kali pertama James Vaughan dan putra keduanya yang berusia lima tahun bertandang ke mansion Count Rowan adalah pertengahan musim semi yang hangat. Kolega dari Jerman tersebut terikat dalam bisnis dan memiliki bahan diskusi super penting yang perlu dibicarakan, sehingga kedua anak laki-laki mereka dibebaskan bermain di halaman belakang.

Bocah bernama Jerome Vaughan memiliki rambut cokelat terang yang disisir rapi dan manik karamel yang berbinar sejak pertama kali milik Jack yang sebiru langit menangkap presensinya. Dan siapa pun dapat dengan mudah menebak kepribadian murah senyum Jerome akan dengan mudah membuat orang di sekitarnya luluh.

Termasuk seorang anak perempuan dalam pakaian laki-laki yang sedang menyodorkan mainan tank kepadanya—Jacqueline ‘Jack’ Rowan.

***

#8 The Hope 

the_hope_by_aquasixio-d675jno

Jika seluruh harapan Jacqueline diibaratkan sebatang lilin raksasa dan nyala api yang tak pernah padam sebagai perwujudan usaha sia-sia, maka saat ini lelehannya dapat dipastikan telah menutupi seluruh jalanan London.

Terlalu banyak harapan-harapan mustahil yang disimpan dalam kepala gadis berusia lima belas tersebut. Seperti harapannya untuk dapat mengikat kaki adik perempuan yang menari di hadapannya dalam balutan gaun berenda, juga menyumpalkan tiga gulung kaus kaki bau untuk membungkam Jerome Vaughan yang gemar menceritakan keistimewaan gadis-gadis yang ia kencani setiap kali mereka bertemu untuk minum teh.

Seolah tidak cukup menyiksa, si anak laki-laki kerap menawarkan kencan buta untuk Jack Rowan yang senantiasa berkelit lewat penolakan halus. Entah sampai kapan alasan-alasannya akan diterima, karena tentu akan aneh jika remaja laki-laki populer gadungan sepertinya belum juga memiliki seorang gadis untuk digandeng dalam acara prom minggu depan.

Dan untuk pertama kalinya Jacqueline berharap ia turut dibakar dalam api unggun raksasa sepuluh tahun lalu, daripada disiksa pelan-pelan semacam ini.

***

#9 According to my jealousy

according_to_my_jealousy_by_aquasixio-d5q1cqt

Tidak ada seorang pun di muka bumi tahu bahwa Jacqueline mahir memainkan berbagai alat musik, salah satu di antaranya akordeon. Semata karena namanya terlampau sering disandingkan dengan kemampuan berkuda dan menembak yang membuat anak laki-laki dari keluarga lain membuang wajah karena malu.

Tapi ia tidak tahan untuk tetap duduk diam di tempat, ketika seorang gadis penghibur yang diundang dalam pesta bujangan untuk melepas masa lajang putra sulung perdana menteri Canning, jelas-jelas sedang merayu Jerome lewat permainan akordeonnya yang sumbang. Entah seluruh anak laki-laki sudah keburu mabuk berat hingga tidak memedulikan permainan buruk di tengah ruangan, yang jelas Jacqueline tak tahan lagi.

Ia tidak ingat perlu berapa menit untuk membuat wajah gadis oriental itu merah padam dan rambut hitam jelaga sepinggangnya melambai-lambai seiring langkah terburunya keluar ruangan.

Karena ia hanya ingat manik karamel Jerome akhirnya terfokus padanya—pada permainan akordeonnya. Meski ia yakin besok pagi kekaguman dan perhatian yang ia dapatkan akan dilupakan bersama alkohol yang menguap, sungguh, hanya tepuk tangan meriah dari anak laki-laki bermarga Vaughan itulah yang dibutuhkannya sebagai apresiasi.

***

#10 I miss you 

i_miss_you_by_aquasixio-daayb4h

Bohong jika Jacqueline sepenuhnya merutuki selera humor takdir yang begitu rendahan hingga mempertemukannya dengan seorang Jerman dalam salah satu rangkaian pelariannya ke Paris.

Sudah satu dekade berlalu sejak malam di mana kedua orang tua Jacqueline terkapar bersimbah darah akibat peluru menembus leher keduanya. Kasus yang dianggap lalu begitu saja tanpa penjelasan lebih lanjut selain motif perampokan atas satu set perhiasan berlian Countess Rowan. Sebuah deduksi dangkal yang terlalu sederhana dan dibuat-buat, karena demi Tuhan, ada lebih banyak benda-benda berharga yang bisa dicuri selain perhiasan—seperti puluhan senapan buatan Eropa milik ayahnya dan dokumen-dokumen penting yang tersimpan tepat di ruangan tempat kedua orang tuanya dihabisi.

Berlagak tuli dan buta akan tragedi yang menimpa kolega bisnis mereka, keluarga Vaughan memilih cepat-cepat pergi dari tanah Inggris setelah berita tewasnya Count dan Countess Rowan tersebar luas. Mau tak mau benih-benih kecurigaan tumbuh dalam benak Jacqueline, terlebih setelah pamannya—Keith Flynn—mengungkapkan kebenaran pahit bahwa sang ayah telah mengikat diri dalam satu bisnis terlarang dengan Jerome Vaughan yang seorang pemain inti dari salah satu jaringan mafia distributor senjata impor ilegal buatan Jerman. Dan tidak ada yang lebih masuk akal, saat itu, selain mencurigai sang mantan partner bisnis sebagai dalang dari kasus pembunuhan kedua orang tuanya, dengan motif memutus hubungan kerja sama ketika dirasa tak lagi menguntungkan.

Untuk itu si pewaris tunggal tidak banyak menuntut saat sang paman berdalih akan menjaga rahasia bisnis terselubung sang ayah dengan cara merenggut kepemilikan aset sebagai jaminan tutup mulut, sekaligus menjaga nama baik keluarga Rowan.

Dengan dasar serangkaian kemalangan di atas, maka sudah sepantasnya lengan kanan Jacqueline bergerak menikam lelaki Jerman di seberang jalan, bukannya membalas lambaian yang di arahkan kepadanya. Dan saat ia tersadar, semuanya sudah terlambat.

Ia seharusnya tidak membalas lambaian tangan itu. Tidak ketika rambut pirangnya yang kini sebahu tergerai bebas dan ia tengah mengenakan gaun musim panas selutut dengan corak warna-warni bunga chamomile, bukannya kostum peran anak laki-laki bernama Jack Rowan. Karena gerakan sekecil lambaian balasan sudah lebih dari cukup sebagai aksi membuka kedoknya sendiri dengan suka rela dihadapan seorang Jerome Vaughan.

Lututnya gemetar saat ia menangkap gerak bibir tipis lelaki yang kini tengah tersenyum lebar sebagai wujud pengibaran bendera kemenangan tak kasat mata,

Gotcha!

***

Tbc.

VON’s Notes:

  1. Please welcome Mrs. Vaughan’s childhood to 20-ish journey through this writing as the second part of Amour Éternel!
  2. Amour Éternel adalah series yang berpusat seputar kehidupan keluarga Vaughan dengan karakter utama yang berbeda di setiap minggunya. Dengan rilisnya edisi Jacqueline, artinya akan ada dua postan lagi untuk dua minggu mendatang~ Semoga kalian kuat gaes ❤
  3. Prompt yang saya gunakan juga masih berdasar gambar-gambar karya dari Aquasixio yang bisa kalian temukan di Devianart.
  4. Jika ada kesalahan atau informasi yang kurang tepat, koreksi dan saran kalian akan sangat membantu, terima kasih. 😀
  5. Feature image credit picture here.
Advertisements

6 thoughts on “Amour Éternel: Jacqueline Vaughan

  1. JACQUELINE OMAYGAAADDDDDD!!!
    Ga kebayang sengilu apa dia liat orang tuanya dibantai terus dibakar T.T uuuhhh akoe sukak banget karakternya jacqueline! Huwaaaa teteh emesh T.T
    Etapi kak, jerome itu akhirnya jadi matikah? Terus dia melambai karena liat cewek cantiqoe sejenis jacqueline? AAAHHHH AKU GEMES BANGET GEMES GEMEEESSS

    Keep nulis kak pang :*

    Liked by 1 person

    1. Haaaaaiii imeeeelll

      Nuhun kubaru balas aku semalem melek sampe jam 2 pagi ㅠ.ㅠ mianhay

      Meeel, sepertinya ada beberapa kesalahpahaman yah:
      1. Bapak ibunya Jack (Jacqueline) tidak turut dibakar saat mereka membuat api unggun dari tumpukan pakaian dan mainan cewe milik Jack beserta mayat para pelayan mereka.
      2. Jerome ngga mati, karena Jacqueline ngga sanggup ngedor XD. Dan itu yang ketemu sama Jerome adalah Jacqueline sendiri, cuma selama ini kan Jacqueline pura-pura jadi laki-laki dan pakai pakaian laki-laki karena tuntutan orang tuanya. Meski begitu, sebenarnya acting Jacqueline ini sudah kebongkar dari full sama Jerome, itu sebabnya si Jerome ngga kaget pas ketemu Jacqueline setelah sekian lama di Paris tapi si Jacqueline bukannya pake baju laki malah pake dress yang cewe banget.

      Liked by 1 person

    2. haiii kak paangg<3
      YAAMPUN KAK PAANGGG GADANG PISAN ITU MAAHHH :" huhuhu
      oh jadi bapak ibunya ga ikut dibakar ya kak? kupikir kebakar XD yaampun miyane kak banyak kesalahtafsiranku wkwkwkk

      Liked by 1 person

  2. aaaaaaaaaaaa mama vaughan!

    jadi selama ini, mama vaughan yang super mengerikan itu bisa juga berfluffy-fluffy ria sama papa vaughan, meskipun tetep yha backstory-nya dark dan ironic. dan HUHU ternyata dulu mama vaughan harus nyamar jadi cowok:”””( tapi masa aku suka sekali ending-nya yang ketemu, terus si jerome-nya yang kayak “HAHAHA SELAMA INI BETUL KAN KAMU CEWEK”

    sukaaaaaaaaaaaaaa! ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ semangat terus kak filzkooooh!

    Liked by 1 person

    1. kekejian yang hqq buibuk vaughan berakar dari masa lalu yang pedih 😥

      TERIMA KASIH BANYAK VIN SUDAH BACA DAN KOMEN ❤ LUV U FROM MARS TO PLUTO TRUS BALIKNYA MUTER LEWATIN MATAHARI

      EVIN JUGA MANGATZ GARAP SERIES HARPOT-BITIES-FEAT-KOKOROKU-TIDA-BAEBAESAJA

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s