Washed in Red

by Io

[cr image: here]

.

“The art of our necessities is strange
That can make vile things precious.”

― William Shakespeare

.

Gregory Gudfrid adalah seorang lelaki dengan rambut pirang disisir rapi ke belakang dan mata berwarna biru porselen pucat. Setelan hitam necis yang menempel di tubuh jangkung itu seolah didesain dan dijahit hanya untuknya. Lelaki itu adalah bagian dari orang-orang berkerah putih di London yang sanggup menikmati gemerlap kehidupan malam kapan pun dan di mana pun tanpa mengkhawatirkan deretan angka nol yang tersisa di rekening. Ia adalah eksekutif sukses di sebuah perusahaan besar yang benar-benar menikmati hidup pada usianya yang mencapai kepala tiga.

Saat ini Gregory Gudfrid tengah menghabiskan waktu di kasino yang dibangun megah untuk memuaskan hasrat para pengunjung yang sebagian besar adalah CEO, model, artis terkenal, dan orang-orang multitalenta berpenghasilan lebih dari lima ratus ribu poundsterling per tahun. Ingar bingar di ruangan dengan mudah ia abaikan untuk seorang perempuan yang mana dengan kemewahan melingkupi presensinya, tampak anggun hanya dengan blus satin merah dan flared skirt hitam.

Ia dan si perempuan duduk saling berhadapan di salah satu meja hitam berkaca bening dengan kursi berlengan empuk. Lampu kristal di atas mereka cukup kiranya untuk menunjukkan figur ramping berkulit pucat si perempuan dan memeta wajah cerahnya yang berbentuk hati, terbingkai oleh rambut platinum yang menyapu bahu. Mau tak mau, terbesit pengakuan dari benak Mr. Gudfrid bahwa lawan bermainnya malam ini adalah sosok yang atraktif.

Selain fasilitas yang jelas berbeda dari para pemain poker di sekeliling, sama sekali tak ada kepingan-kepingan kartu poker bertumpuk layaknya menara di meja mereka. Yang menunjukkan kesan familier hanyalah dealer profesional berseragam di antara keduanya, pun lima kartu yang masing-masing berada dalam genggaman. Lima kartu penentu untuk seberapa signifikan informasi yang akan melayang malam ini.

“Mr. Gudfrid.” Suara jernih mencapai rungu si lelaki. “Kau ingat perjanjiannya, ‘kan?”

Atensi Mr. Gudfrid beralih pada sepasang manik abu merkuri. “Tentu saja, Miss Corvin. Satu putaran permainan ini untuk satu pertanyaan dariku.”

Sebuah anggukan. “Benar. Kau tidak mengajukan tawaran padaku?”

Lelaki itu mendengus. “Yeah? Lalu terjerat dalam permainan sinting kalian? Tidak, terima kasih.” Bibirnya membentuk garis tipis. “Kalau aku bisa, aku tidak akan melakukan negosiasi ini.”

Estelle Corvin tertawa renyah. “Astaga, tidak ada yang sinting dari berutang, Mr. Gudfrid. Kami hanya menyediakan layanan dan memang harus ada bayaran sebagai penggantinya.”

Si lelaki menggerutu, memilih untuk tidak merespon. Ia lantas melirik kartu di tangan untuk yang terakhir, Straight Flush. “Fold.

Estelle tersenyum. “Fold.”

Royal Flush.

Ada desahan yang nyaris keluar dari tenggorokan Mr. Gudfrid. Ia menelan pahit atas kenyataan dikalahkan oleh perempuan berumur belasan tahun—sembilan belas tahun, jika rumor yang didengarnya benar—dan tentu saja, bukan sembarang perempuan. Gelarnya sebagai lawan tangguh selama sepuluh puluh tahun terakhir dalam permainan poker kini tampak seperti tak lebih dari sebuah lelucon.

“Permainan yang bagus sekali. Aku cukup terhibur malam ini,” kata Estelle kemudian, memecahkan monolog si lelaki. Dari cara bicaranya, ia menyadari si perempuan tahu akan kecurangan yang berlangsung selama permainan. Maka pada saat itu juga, perasaan seperti baru saja menelan air cucian dirasakan oleh Mr. Gudfrid atas fakta bahwa bayaran sesungguhnya dari negoisasi ini adalah bagaimana Estelle Corvin menikmati pertunjukan dimana dirinya berusaha dan gagal mengontrol permainan.

(“The Corvins are an odd bunch. Unpredictable, that they are.” Rekan kerjanya bercerita saat mereka minum bersama di suatu bar borjuis di Barcelona. “You never knew what will be the price for the very thing that you asked them to do.”)

Estelle menyandarkan punggung pada bantalan empuk kursi, lalu memangku kedua tangannya di atas kaki yang bersilang. Ia menunggu dealer mengemasi kartu mereka dengan cermat dan berlalu pergi, baru akhirnya melanjutkan. “Jadi, apa yang ingin kau ketahui, Mr. Gudfrid?”

“Aku ingin tahu nama orang yang memata-matai bisnisku di Vietnam.”

“Itu tidak senilai dengan pembayaranmu,” kata Estelle kalem. “Yah, kecuali kalau kau mau mempertimbangkan apa yang kita diskusikan tadi.…”

Wajah Mr. Gudfrid memasam. Yang benar saja. Baru beberapa saat lalu jelas ia mengatakan bahwa berutang hanya akan menimbulkan masalah lain baginya.

“Kalau begitu, apa yang bisa kau beritahu tentang mata-mata ini?”

Ada setitik kekecewaan yang sejenak melintas di mata Estelle atas penolakan tak langsung si lelaki, namun sedetik kemudian ia tersenyum simpul. Ia menyisipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga.

“Dia laki-laki.”

Mr. Gudfrid membuka mulut, lalu segera menutupnya kembali. Lebih dari ini, maka ia akan memiliki utang pada perempuan itu. Ia pun mengungkapkan apa yang berputar dalam pikirannya sejak pertama ia mendapati kehadiran perempuan itu di kasino.

“Kuharap aku tidak pernah berurusan lagi denganmu, Miss Corvin.”

Gelak tawa menyambut ucapan Mr. Gudfrid—dan bukan, itu bukanlah suatu ejekan. Itu adalah tawa yang biasanya lepas kala kau baru saja mengungkapkan hal menggelikan.

We shall see, Mr. Gudfrid.

Karena sungguh, orang-orang semacam Mr. Gudfrid tahu jika mereka menghendaki informasi akurat dan terpercaya, yang perlu mereka lakukan hanyalah menghubungi Keluarga Corvin dan mereka akan mendapatkan apa yang diinginkan—setelah memenuhi ketentuan yang diajukan, tentu saja.

Tiga kilometer dari tempat sang adik berada sekarang, Elliot Corvin tengah menyusuri Knightsbridge dengan langkah kaki yang teredam oleh selimut putih salju di trotoar. Lelaki berambut platinum itu melewati deretan toko berjendela kaca dan tirai tertutup rapat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan toko yang pintu masuknya diapit etalase kaca menjulang hingga ke atap—yang di dalamnya terdapat manekin-manekin berpose dengan tongkat elegan. Sebuah tanda bertuliskan ‘tutup’ terpasang di depan pintu kayu dengan cetakan merah.

Tangan si lelaki yang terbungkus oleh sarung tangan kulit hitam terangkat, bergerak ke arah sebuah tombol kecil terbuat dari tembaga yang terletak di sebelah pintu. Tak lama setelah menekan bel, terdengar bunyi gerendel yang digeser dan kunci yang diputar.

Pintu mengayun terbuka. Seorang lelaki paruh baya berambut cokelat yang mulai memutih dan berpakaian rapi menyambut dengan sapaan halus dan dijawab oleh anggukan oleh Elliot. Ia mundur; mempersilakan tamu tengah malamnya untuk melangkah masuk.

Sebuah ruangan dengan penerangan sempurna menyambut di dalam. Manik abu merkuri Elliot menyapu melewati deretan rak kayu yang menempel di dinding dengan kotak persegi panjang berjajar rapi di sana dan beberapa etalase bening berisi barang-barang antik. Atensinya lalu jatuh pada sebuah kotak persegi panjang yang dibungkus beludru hitam dan nyaris mendominasi meja kasir. Ia pun bergerak menghampiri kotak itu.

“Kuharap kau tidak kesulitan memenuhi pesananku kali ini,” kata Elliot membuka percakapan.

“Tentu saja tidak, Sir.” Pemilik toko menjawab dengan sentuhan nada tersinggung yang bercampur dengan aku-tak-percaya-Anda-mengatakan-itu. Ia menggerutu kala pelanggannya hanya tertawa kecil.

Perlahan Elliot mengangkat tutup kotak; bersenandung pelan kala melihat sebuah tongkat hitam dengan leher dan kepala perak berukir di atas bantalan satin biru. Ia menimbang berat tongat itu, mengangguk puas kemudian menginspeksinya dengan cermat. Jemarinya berlari mengusap tangkai yang terbuat dari carbon fibre, lalu pada hulu yang terbuat dari aluminium. Di bagian bawah kepala itu terdapat tombol yang sejatinya tak lebih dari sebuah tonjolan halus yang jelas sulit untuk diketahui keberadaannya. Jempol si lelaki memberikan tekanan—dan bunyi ‘klik’ halus terdengar diiringi tubuh tongkat yang memisahkan diri dari leher dan kepala tongkat.

A fine cane sword.” Atensi Elliot terkunci pada mata pedang yang berkilat tajam. “You’ve done a great job, Mr. Smythe.”

Charles Smythe menelengkan kepala; memilih menikmati pengakuan itu dengan kilat kepuasan terpantul di manik hitam yang seperti kumbang. Pelanggannya yang satu ini boleh saja menyebalkan, tapi sungguh, ia telah melayani ayahnya, Edric Corvin, selama puluhan tahun. Menghadapi Elliot Corvin bukanlah perkara sulit meski terkadang ia melontarkan kalimat yang membuat darah tingginya naik.

“Saya berharap yang satu ini dapat bertahan lebih dari setengah tahun,” kata Mr. Smythe, matanya bergulir mengamati Elliot yang kembali menyembunyikan mata pedang pada sarungnya—membiarkan wujud tongkat tak berbahaya mengambil tempat. “Setiap kali Anda memesan yang baru, mau tak mau saya mempertanyakan kemampuan saya sendiri dalam membuat cane sword.

“Tak ada yang salah dengan kemampuanmu, Mr. Smythe,” kata Elliot tenang. Ujung tongkatnya mendarat ke lantai yang terbuat dari marmer cokelat dengan bunyi ‘tuk’ pelan. “Hanya aktivitasku saja yang menjadi penyebab utama kerusakan.”

Lelaki paruh baya itu menghela napas dan menggeleng. “Like father like son, huh? I feel too old for this.

Bibir Elliot meliuk membentuk senyum tipis. “We are grateful for your service to our family, Mr. Smythe. I shall take my leave now.

Mr. Smythe membungkuk. “Please send my regard to Miss Corvin.

Of course. Until next time.

Kehangatan di kasino menguar cepat seiring dengan kaki Estelle yang melangkah keluar bangunan berlantai tiga itu. Bahkan dengan mantel yang melindungi, ia masih bisa merasakan beku yang menusuk. Tarikan napas lega terdengar begitu ia berada ke dalam mobil dengan temperatur jauh lebih bersahabat daripada di luar sana. Begitu selesai mengencangkan sabuk pengaman, rungunya menangkap bunyi ‘klik’ pelan dan Bentley hitam itu pun meluncur mulus di jalanan yang sepi oleh kehidupan.

How was it?

“Terribly boring.” Perempuan itu menggosokkan kedua telapak tangannya yang sangat dingin. Astaga, seharusnya ia tidak meninggalkan sarung tangannya di flat tadi. “He didn’t even try to have a rematch or to negotiate again.”

“Pity.” Elliot menurunkan kecepatan saat lampu lalu lintas di depan berkedip kuning. “If only he took the risk, he might have realised that his brother is not as innocent as he think he is.”

Siblings rivalry.” Estelle berkomentar lalu sembari mengeluarkan ponsel dari saku mantel. Ia menyapu layarnya dan mengecek notifikasi. Ada tiga surel baru. Sapuan kedua dan sedetik layar menggelap sebelum kemudian muncul sebuah peta Canning Town dengan titik merah berkedip di tempat.

But why poker though?

Sang adik mengangkat bahu, akhirnya mengalihkan atensinya dari ponsel. “Simply out of curiousity. He has quite reputation in the casino. But mostly because he doesn’t have anything remotely useful for us.

Elliot bersenandung pelan. “Of course, and it is not because you wanted to see his face when he lost either.

Sod off, Brother.

Rude.

Tiga puluh menit berikutnya mobil memasuki Pacific Road dan terjepit di antara pembangunan sisi dermaga, Canning Town pun menampakkan diri di depan mata. Tempat itu sangat jauh dari dunia korporasi cemerlang yang sarat oleh orang bersetelan jas dan mengembuskan kemiskinan yang tak bisa disangkal. Kendaraan beroda empat itu berhenti tepat di sebelah gedung tua yang cat temboknya mengelupas, terkikis oleh waktu dan cuaca yang keras. Beberapa jendela tampak dihiasi oleh kaca pecah, sementara lantai marmer dihiasi oleh lika-liku retakan bak sarang laba-laba gelap. Dua daun pintu terbuat dari kayu di bagian bangunan terbengkalai itu tertutup bisu.

Dua daun pintu yang, anehnya, tak menimbulkan suara sama sekali kala Elliot meraih gagang pintu dan mendorongnya terbuka.

Kakak-beradik itu melangkahkan kaki masuk, dan seketika mendapati diri berada di aula luas yang keadaannya tak lebih dari sekadar menyedihkan. Cahaya bulan menyeruak masuk dari atap bangunan yang berlubang di sana-sini, memberikan bantuan penerangan tak seberapa namun lebih dari cukup. Baik Elliot maupun Estelle mengarahkan atensi mereka pada sosok lelaki yang duduk di kursi, diikat erat tanpa ada celah untuk membebaskan diri dengan mulut tersumpal dan jelas dalam keadaan tak sadar.

“Terrence hanya bisa menjamin dua jam tanpa interupsi,” kata Estelle, teringat pada surel yang diterima beberapa jam lalu. “Selebihnya kita harus ekstra berhati-hati.”

It won’t took that long.” Elliot mengangkat cane sword yang tak bersarung, mengarahkan ujung pedang pada bahu si lelaki, kemudian mendorongnya hingga ujung pedang itu melesak menembus dalam kulit—seketika membangunkan si lelaki dengan lolongan tertahan di tenggorokan. “Good to see you awake, Mr. Fords.”

Si lelaki, Mr. Fords, tampak berusaha menjauh. Namun di belakangnya hanyalah tembok tua berlumut, dan Elliot tanpa ampun melesakkan pedangnya beberapa senti; mengundang dengking kesakitan yang nyaring terdengar di tengah sepinya malam.

“Sungguh, kalau kau tak puas dengan negoisasi yang kita lakukan beberapa minggu lalu, maka yang perlu kau lakukan adalah melakukan perjanjian ulang,” kata Elliot beku, “dan bukannya mencoba membunuh salah satu dari kami.”

We listen to reasons, you know,” imbuh Estelle, menepuk lembut pipi Mr. Fords. “But it is a different matter entirely if you tried to kill us.”

Ia mendekat, mengabaikan tarikan napas penuh kepanikan lelaki di hadapannya ini, lalu menunduk dan berbisik halus,

“We love it when people try to kill us. It means we get to kill them, their families, and their friends.”

Orang-orang tertentu yang mengenal baik Keluarga Corvin pasti tahu atau setidaknya mendengar rumor tentang layanan yang disediakan oleh mereka selama puluhan tahun terakhir.  Tentu saja, apa yang dimaksud ‘orang-orang tertentu’ adalah CEO, menteri-menteri, mafia—mereka yang memiliki bisnis gelap, punya kekuasaan, atau yang bekerja di balik bayangan.

Dari pelayanan ini, mereka bisa mendapatkan informasi ataupun jasa dan karena apa yang Keluarga Corvin tawarkan tidak pernah tidak berharga, maka harganya tidak murah—dan Keluarga Corvin tidak pernah memberi layanan gratis. Harus ada tawaran setimpal yang disiapkan jika ingin bernegosiasi dengan mereka. Perjanjian yang terjalin sendiri bersifat mengikat dan absolut. Jika ada orang yang melanggar atau bahkan menipu, maka bisa dipastikan orang itu akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini.

Sayangnya, semua ini sempat terhenti kala tragedi menimpa Keluarga Corvin.

Tiga belas tahun yang lalu, Mr. dan Mrs. Corvin meregang nyawa saat api yang melahap rumah mereka menyebar dan membesar dengan cepat. Oh, betapa keduanya mencoba untuk menyelamatkan diri. Namun baik Mr. dan Mrs. Corvin mengutamakan keselamatan kedua anak mereka, Elliot dan Estelle, yang saat itu masih sangat muda. Dua bersaudara itu lolos dari maut dengan hanya menderita luka bakar di beberapa tempat, sementara orang tua mereka tak terselamatkan dalam perjalanan ke rumah sakit.

Dari data yang diperoleh, penyebab kebakaran tak lain adalah karena hubungan pendek arus listrik. Akan tetapi, Henri Corbett, sepupu Mr. Corvin, yang langsung menuju ke tempat kejadian setelah api berhasil dijinakkan untuk memeriksa seberapa parah kerusakan kediaman Corvin, menemukan kejanggalan yang langsung membuatnya mencurigai insiden itu bukanlah murni kecelakaan semata.

(Mr. Corbett menyadari betul bahwa ada orang-orang yang tak akan segan menghabisi sepupu dan keluarganya. Bagaimanapun, ia termasuk salah satu orang yang tahu dan terlibat dalam layanan macam apa yang disediakan oleh Keluarga Corvin.)

Ia lalu mendesak kepolisian untuk melakukan investigasi lagi—dan kali ini berkerja sama dengan seorang detektif partikelir terpercaya. Mr. Corbett menulikan rungu pada beberapa protes yang sempat melayang dari kepolisian karena bekerja sama dengan orang luar dan sementara menunggu hasil laporan, ia segera mengisi kekosongan pemimpin di perusahaan milik Mr. Corvin. Bukan pekerjaan mudah mengingat ia sendiri memiliki pekerjaan penting yang tak bisa diabaikan, tapi itu bukan berarti tidak mungkin dijalankan.

Belum genap lima belas hari, Mr. Corbett menerima hasil investigasi bahwa memang ada campur tangan manusia dalam kebakaran itu. Semua petunjuk yang berhasil dikumpulkan mengarahkan kecurigaan pada seorang pelayan yang telah lama bekerja pada Keluarga Corvin—pelayan yang tak diketahui keberadaannya begitu perintah penangkapan keluar seberapa keras kepolisian dan si detektif partikelir mencari. Belum lagi, ada kemungkinan besar tersangka telah lama menyusun rencana ini dengan detil luar biasa dan pertimbangan masak-masak. Sayangnya, kendati telah disebar wajah si pelayan di berbagai media cetak dan digital, keberadaannya seolah lenyap ditelan bumi—dan pencarian pun mengalami jalan buntu.

Di lain pihak, Elliot dan Estelle yang harus menginap di rumah sakit selama dua minggu harus menjalani terapi yang didasari kekhawatiran Mr. Corbett, terutama bagi Estelle yang masih berusia enam tahun. Mereka kemudian diasuh secara resmi oleh sang paman yang menjadi sumber pertama apa yang sebenarnya terjadi pada Mr. dan Mrs. Corvin.

“Jadi itu bukan kebakaran biasa,” kata Elliot datar ketika Mr. Corbett selesai memaparkan apa yang terjadi tanpa sedikit pun yang ditutupi. Di sampingnya, Estelle mendengarkan dengan mulut terkatup rapat. “I see. Thank you for letting us know, Uncle.”

Dan Mr.  Corbett melihat bagaimana sorot matanya membeku—suatu hal yang sejatinya tak wajar untuk anak yang baru akan menginjak usia dua belas tahun. Pada saat itu juga, benak Mr. Corbett menyadari bahwa keponakannya ini akan menggunakan segala cara untuk memburu pembunuh orang tuanya bahkan jika itu menghabiskan seluruh hidupnya.

Dua belas tahun kemudian, tepat di hari kematian Mr. dan Mrs. Corvin, media internasional digegerkan oleh kematian satu keluarga miliarder di Rusia yang disebabkan oleh kebakaran hebat. Sebenarnya kematian itu saja tak berharga lebih dari berita sehari-hari, namun yang menarik perhatian adalah keterangan dari tim forensik menyatakan salah satu dari lima korban kebaran menjalani operasi plastik dan DNA yang ditemukan cocok dengan buronan yang merencanakan dan membunuh Keluarga Corvin. Masyarakat bertanya-tanya apalah ini karma yang menimpa si pelaku atau hanya kebetulan semata.

Sementara jauh di pinggir kota London, di sebuah rumah berlantai dua dengan pagar besi menjulang tinggi mengelilingi, Mr. Corbett yang saat itu tengah menyesap tehnya membeku, lantas melempar pandangan tak percaya pada dua bersaudara Corvin yang berkunjung dan turut duduk di meja makan, menikmati sarapan bersama di hari Minggu sembari bercakap pelan. Keduanya menoleh bersamaan ketika merasakan sorot mata paman mereka yang penuh tanda tanya.

Suara parau yang dikeluarkan Mr. Corbett bahkan nyaris tak dikenali. Keterkejutan kiranya masih menguasai lelaki yang nyaris menginjak umur kepala lima. “How?”

“Elliot exchanged favours with the current Pakhan years ago,” kata Estelle, tanpa menanyakan kejelasan dari pertanyaan sang paman dan mengambil irisan kecil telur mata sapi di piring.

We waited for the right time,” timpal Elliot, membalik halaman surat kabar yang dipegangnya.  “It is true that our parents’ murderer was a tricky man, but we managed to track him down. The Pakhan helped us to narrow down his exact location.

Perasaan Mr. Corbett bercampur aduk antara bangga dan tidak percaya. Ia menggeleng pelan, lalu menarik napas panjang. “I see that all those training hadn’t been wasted then.”

Estelle bersenandung pelan sementara Elliot hanya menyesap tehnya.

.fin

Notes:

  1. Pakhan – head of Russian mafia
  2. debut keluarga Corvin yang telah sekian lama dipending :”)
  3. kenapa sih mereka berdua harus orang Inggris kenapa juga harus tinggal di sana dan ngga pindah gitu ke Indonesia jadi at least I won’t get one hell of headache bc of research /sobs
  4. a completely unplanned sequel of this story: Professionals
  5. some of my other stories have Elliot and Estelle as the main characters, but honestly, what happen there has no relation whatsoever to this Elliot and Estelle. it’s like sort of alternative universe i guess
  6. thank you for reading!

 

3 thoughts on “Washed in Red

  1. Lt. VON says:

    1. YASH THE CORVIIIINNNSSSS!!!!!
    2. Okay yorobun let’s get on the ride and let’s see where will Io take us!
    3. *cursing in Tagalog*
    4. *cursing in Piranha language*
    5. *cursing in alien language*
    6. May I pretend that i never ever ever ever ever eveeerrr read thhhhhhhisss?
    7. Am I even allowed to do that?
    8. I feel bad for the lost of the Parents, but really none should look down at Elliot and Estelle cz hae gaes have u ever saw a sibling ‘normally’ travel to Russia to make a super huge bonfire????????
    9. I loveeeeeeeeeeeeeee that gambling scene so much aaavsisbsvfsnscsbsvsusbsnosjs Estelle is in da haus!!!
    10. I never ever get tired of that Elliot’s cockiness. Weird. But it is as it is.

    kenapa sih mereka berdua harus orang Inggris kenapa juga harus tinggal di sana dan ngga pindah gitu ke Indonesia jadi at least I won’t get one hell of headache bc of research /sobs—well, consider it as a friendly suggestion from a normal citizen that want a peaceful life, just. Keep. Them. Where. They. Are.
    Serius w tida bisa membayangkan duo pirang pindah ke Indonesia, Elliot pesen tongkat-keris (instead of sword cane, well, maybe it’ll still look eye-catching, but don’t), trus Estelle main domino di warkop sama bapak bapak, nonononono jangan merusak harmonisasi imajinasikuh.

    ANIWAI I LUVIT. AS ALWAYS.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s