Hujan Malam Itu

by Niswahikmah

sequel to Hujan Bulan November

 

Hujan lagi. November lagi. Rasanya waktu mudah sekali berlalu sehingga meninggalkan jejak abu-abu, hitam, putih, lantas abu-abu lagi. Terkadang berwarna pula karena satu-dua hal. Dulu perlu waktu sewindu untuk bisa bertemu lagi dengan sepasang mata elang itu, nama dada itu, dan hujan deras itu. Kini hanya perlu 365 hari saja untuk menghadapi kenyataan baru di hadapannya.

Ya, masih hujan, dan masih pula bulan November. Namun, ia tidak lagi ingin berlindung di bawah kanopi seperti saat SMA, pun berlindung di bawah payung yang ditawarkan lelaki sekubikel kerjanya. Tentu saja, lelaki itu tetap membawa dua payung dan tersenyum ramah padanya. Tapi, payung satunya itu tidak akan mungkin diserahkan kepadanya.

Dua minggu yang lalu, seorang karyawan baru datang. Perempuan, ceria dan ramah. Ia suka menawarkan kue setiap beberapa hari sekali pada karyawan-karyawan. Katanya, dia punya usaha toko roti yang telah diurus oleh karyawannya. Alasan ia bekerja hanya sekadar mengisi waktu senggang. Dibanding kosong dan terbuang percuma, ia cukup lihai untuk mengetik dan mengoperasikan aplikasi hasil kuliahnya—maka dari itu ia datang melamar. Entah dia bohong atau tidak, itu urusannya.

Tapi, ia jelas tahu bahwa perempuan yang baru datang ini punya keistimewaan lain dibanding dirinya. Ia yang tegas dan independen, bukan ceria dan suka berbagi. Mungkin, karena sosok ramah bernama dada Respati itu punya kriteria selaras dengan sang perempuan yang baru tiba.

Maka, ia hanya sempat melihat saat hujan itu turun kembali, payung yang sama diberikan padanya dulu telah berpindah tangan.

“Nih, pakai aja, daripada kehujanan.”

Perempuan itu menerima dengan senyum cerah, kemudian berujar, “Makasih. Tapi, nggak janji aku balikin, ya.” Dia tertawa sejenak, kemudian melanjutkan, “Bercanda!”

Jelas tanggapan yang berbeda. Ia hanya mendengar percakapan itu dari balik kubikel saja. Ia saja yang terlalu hafal suara Respati, juga perawakan perempuan di sebelahnya saat ia mengintip sedikit tadi. Timbul lagi keinginannya mengintip. Meski detik selanjutnya ia menyesal. Bukan karena perempuan itu telah lebih dahulu pergi tanpa ia sempat melihat wajahnya, tapi karena Respati tetap berdiri di tempatnya sambil tersenyum.

Maka, setelah lembur malam itu, meski hujan masih saja deras, ia enggan mengambil payung dari dalam tasnya. Kendati ia telah rajin melihat siaran prakiraan cuaca, ia pura-pura bilang lupa saat temannya bertanya. Decakan kesal dari teman-teman yang menyayangkan sikapnya hanya ditanggapi dengan tawa hambar. Sehambar rasa hatinya.

Doa-doa itu, kan mestinya tidak perlu ia panjatkan. Sendu di tengah gulitanya tidak berdampak apa-apa. Seperti saat SMA dulu, lelaki ini memang bukan untuknya. Maka, ia memilih membiarkan dirinya basah di antara titik-titik hujan.

Ia merasa dingin namun tenang. Amarah yang mungkin sempat ia tahan tanpa ia sadari menguap hilang dibawa air. Melayang rapuh.

“Din, kenapa hujan-hujan?!”

Entahlah dia datang darimana. Atau mungkin Tuhan yang mengirimkannya. Ketika perempuan yang dipanggil menoleh, ia pun tahu perawakan siapa yang ia katakan merebut hati Respati begitu saja. Ia tahu siapa yang dipinjami payung. Orang yang selama ini tak sempat ia lihat wajahnya karena tidak satu divisi dengannya. Orang yang menerbitkan senyum di bibir Respati bahkan saat ia telah pergi menyisakan punggungnya saja.

“Duh, nggak dingin apa?”

Payung menaunginya. Ia tersenyum. Perempuan di depannya tersenyum. Sedetik berlalu. Perempuan di hadapannya terkikik kecil kemudian memeluknya.

“Nanti basah, Rin!”

“Ngga peduli, ih, kangen tauuu! Kamu divisi mana, sih?”

Ya, ternyata ia mengenal perempuan itu. Hujan di bulan November kembali mempertemukannya dengan masa lalu. Ia adalah teman masa SMA dulu, yang paling dekat dengannya. Saat itulah, ia merasa menyesal tak pernah menceritakan soal Respati pada temannya tersebut. Ada kata “seandainya” memenuhi relung pikirannya.

“Kamu nggak kangen?”

Ia hanya diam dan membalas pelukan itu. Ia rindu, namun juga sendu. Orang yang ia sukai menyukai orang lain—kacaunya, orang itu temannya sendiri. Barangkali ia harus mengubah kata-kata itu.

Orang yang dulu ia sukai menyukai orang lain: temannya sendiri.

Dan, hujan tetap turun deras di antara pelukan di bawah payung malam itu.

end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s