On My Love

by Lt. Von – Io

.

.

.

I.

Perdebatan sengit seputar universitas paling bergengsi di Inggris masih bergulir deras di antara para remaja lelaki lima belas tahunan, ketika salah satu dari mereka merasakan getaran halus pada saku jas.

Si anak laki-laki yakin sudah berulangkali memastikan mode ‘do not disturb’ telah diaktifkan sebelum ia memasuki ruangan, di mana undangan gala dinner keluarga Beaumont tengah digelar. Maka dapat dipastikan ponselnya tidak akan memberi sinyal adanya panggilan masuk, pengecualian untuk beberapa nomor penting.

Mempertimbangkan kemungkinan adanya hal mendesak, ia memutuskan segera menarik diri, Sorry, I have to take this call.”

Sure, Jake. And hurry comeback, balas seorang anak laki-laki di sisi kanannya, yang paling jangkung di antara mereka berlima, yang dibalas dengan anggukan singkat.

Sepasang kaki jenjang Jake membawanya menjauhi keramaian menuju sudut ruangan yang lebih sepi dengan ponsel menempel di telinga.

Perbincangan di telepon yang melibatkan perubahan jadwal latihan memanah dengan sang pelatih berhasil menahan si anak laki-laki selama beberapa menit. Namun ketika ia berbalik kembali menghadap lautan orang yang berkumpul di the Bloomsbury Ballroom, ia tidak lagi menemukan lingkaran kecilnya yang semula berkumpul di dekat meja hidangan pencuci mulut.

Tampaknya masing-masing dari mereka sepakat untuk menjadikan absennya Jake sebagai alasan mengakhiri sesi diskusi panas, dan memilih mencari udara segar dengan cara berpencar ke berbagai arah berbeda.

Well, sebenarnya Jake tidak keberatan sendirian di tempat ramai, kalau saja ia bisa segera melesakkan pantatnya kembali ke jok mobil yang empuk.

Kalau mau sebenarnya ia bisa membunuh waktu dengan bergabung kembali bersama kakak perempuan dan kedua orang tuanya, serta kolega mereka. Pilihan yang serupa aksi bunuh diri, karena ia yakin akan mati berdiri dalam hitungan detik jika harus terseret arus perbincangan membosankan lainnya selama satu jam kedepan, yang tak lain melibatkan topik bisnis dan politik. Jadi ia memilih menyisihkan diri sepenuhnya dari keramaian dengan menyandarkan punggung pada salah satu dinding di sisi utara ruangan, di antara salah satu French window yang terdapat pada ruangan tersebut. Ia butuh bernapas sejenak sebelum kemudian mengumpat perlahan,

“Hurry comeback my arse.”

Atau yang menurutnya pelan, karena rupanya ada seseorang yang menangkap kekesalannya dengan akurat di antara bisingnya keramaian.

“Such kind of language coming from such a handsome guy.”

Terkejut, anak laki-laki tersebut refleks menegakkan punggung kala mendapati seorang gadis bersurai platinum sudah berdiri di dekatnya. Haruskah ia minta maaf? Meskipun ia tidak bermaksud mengumpat ke arah gadis tersebut?

And did she just called him handsome?

Namun bahkan sebelum ia melontarkan respon, rupanya si gadis telah lebih dulu memutuskan untuk turut menyandarkan punggungnya pada dinding yang sama.

“Tedious party for you too, huh?”

Manik cokelat kenarinya mengerjap gugup, sebelum kemudian ia menemukan kembali suaranya,

Well, I’d prefer to spend the rest of the day at home cuddling with my buddy.” Dan ketika manik abu merkuri yang balas menatapnya melebar, ia buru-buru menambahkan,he is a German Shepherd.”

Bibir si gadis membulat membentuk huruf ‘o’ kecil yang kemudian disusul anggukan mengerti.

“Tell me more about him…?”

Butuh tiga detik sebelum Jake menangkap maksud dari nada menggantung yang diutarakan kepadanya, kemudian ia mengangsurkan tangannya, “Jake. Jake Brice Vaughan.”

Hampir segera gadis di sampingnya menjabat tangan di hadapannya, “I’m Estelle. Estelle Corvin.”

“… Dan aku sungguh ingin mendengar lebih banyak soal anjingmu, Jake,” ujar Estelle dengan senyuman mengembang kala mendapati kawan barunya mengerutkan alis bingung ke arahnya.

I like dogs. He is a German Shepherd, yes? Show me his photos!

Saat itu juga Jake berani menyimpulkan bahwa gadis di sampingnya berbakat menularkan energi positif lewat satu senyuman lebar dan nada bersemangat itu, karena pada detik berikutnya senyuman yang sama persis telah terpeta di wajah Jake.

.

.

II.

Semuanya berawal saat Estelle baru saja akan beranjak ke tempat tidur.

Gadis itu tengah sibuk menyisir rambutnya; berkontemplasi atas pesta yang ia dan Elliot hadiri tadi. Estelle tahu benar bahwa itu hanyalah formalitas dari tujuan sebenarnya pesta diselenggarakan: bisnis dan politik. Dua hal entah bagaimana dapat kakaknya dalami seperti halnya ikan berenang dalam air, sementara Estelle sendiri merasa cukup mengamati dari jauh. Pikirannya berputar pada tamu-tamu yang hadir; beberapa di antaranya adalah orang-orang yang sering berkunjung ke rumah saat ayah dan ibu masih hidup, dan beberapa sama sekali tak pernah ia temui sebelumnya.

Tepat saat si gadis selesai menyisir helai terakhir rambutnya, sebuah notifikasi dari ponselnya berdenting. Ia meraih ponsel itu, tertawa kecil saat menerima pesan Jake yang dibarengi oleh foto anjingnya, Skyler. Seulas senyum mengembang di wajah Estelle dan ia membalas dengan serangaian pujian untuk si anjing. Sungguh, bagaimana bisa ia menahan ekspresi sayang terhadap makhluk selucu Sky?

Manik abu merkuri Estelle bergulir pada Jake yang turut berada dalam foto. Jake dan mata cokelatnya yang indah. Secara tak terduga, percakapan di antara mereka berdua mengalir secara alami dan kebosanan yang sebelumnya menguasai Estelle menguap cepat.

Dan tiba-tiba saja, ia merasakan tekanan aneh ada tenggorokannya. Lalu dari mulutnya, sebuah kelopak gladioli merah jatuh perlahan di atas karpet tebal empuk.

Sejenak Estelle hanya bisa terdiam memandangi kelopak itu, sebelum ia menepuk keras pipinya dan menyembunyikan muka yang merah padam. Ia, untuk pertama kali dalam lima belas tahun hidupnya, menyukai seseorang.

(Estelle berharap perasaan suka ini cepat menguap. Ia tak sanggup membayangkan reaksi teman-temannya di sekolah andaikan mereka tahu ia mengidap penyakit Hanahaki, atau lebih parahnya, reaksi Elliot.)

.

.

III.

Kafetaria sekolah ramai oleh para murid yang tengah menikmati makan siang. Deretan meja kayu bundar di ruangan bercat hijau toska dan krem itu dikelilingi oleh dua atau tiga anak, masing-masing menikmati menu hari ini dengan diselingi oleh obrolan disela gigitan.

Jake dan Estelle sendiri menempati sebuah meja di pojok ruangan yang tepat bersebelahan dengan jendela kaca besar, memberi mereka sudut pandang bagus kebun mawar kesukaan kepala sekolah yang tengah mekar dengan cantiknya.

“Aku masih beranggapan bahwa kita tidak pernah bertemu atau berpapasan selama berada di sini adalah hal yang konyol,” kata Estelle, menyandarkan dagu pada punggung tangan. “Untunglah aku bertemu denganmu di pesta itu. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan pernah tahu kalau kau satu sekolah denganku.”

Ekspresi geli menghiasi wajah Jake. “To be fair, this school is fairly huge. And it’s not like I come to the cafeteria often.

Ia mengunyah pelan sandwichnya sembari menyapu pandang ke sekeliling. Anak laki-laki itu melihat sekumpulan gadis yang duduk tak jauh dari mereka tengah mencuri pandang beberapa kali ke arahnya dan Estelle dan, entah mengapa, mengangkat alis dengan jenaka kala ia bertemu pandang dengan mereka.

Estelle, Jake ketahui kemudian, tanpa pikir panjang memutuskan untuk duduk bersamanya begitu ia mengenali sosoknya sebagai anak yang turut menghadiri pesta di the Bloomsburry Ballroom dua minggu lalu.

I’ve got this for you.”

Estelle mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih dari dalam tasnya. Sekilas Jake tidak menemukan sedikit pun petunjuk untuk menebak apa yang mungkin tersembunyi di dalamnya. Ia mengerjap menerima kotak tersebut, keheranan.

Lalu dengan penasaran si anak laki-laki membuka tutupnya. Seketika wajahnya berseri.

A collar! ” serunya dengan mata berbinar. “Untuk Sky?”

Gadis bersurai platinum itu melempar tatapan ‘memangnya untuk anjing siapa lagi?’ ke arah Jake.

“Ada acara apa?” komentar Jake. “Hari ini bukan hari ulang tahunku ataupun anjingku.”

I- well, I saw this while walking on the downtown yesterday,” kata Estelle. Ia menyisipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga. “Kupikir ini akan sangat cocok untuk Sky … dan um, sekaligus sebagai ucapan terima kasih karena kau mau menyelamatkanku dari acara yang membosankan itu.”

Dan Jake, oh, Jake tidak mengerti akan kehangatan yang menyelimutinya kala mendengar pengakuan gadis dihadapannya ini.

.

.

IV.

Jarum detik pada jam tangan analog Jake telah menyelesaikan putaran ketujuh, terhitung sejak garis punggungnya bersandar pada salah satu ujung lorong—yang terdekat dengan pintu keluar—tempat para atlet anggar sibuk berlalu-lalang. Namun tidak satu pun dari mereka yang ia kenal, atau lebih tepatnya, yang ingin ia temui. Lalu putaran kedelapan nyaris terpenuhi kala seseorang meneriakkan namanya.

“Jake! You are here!”

Oh, percayalah Jake termasuk tipe anak laki-laki yang paling tidak suka namanya diteriakkan di depan umum, namun ia punya pengecualian khusus untuk yang satu ini.

Tersenyum, Jake membalas lambaian tangan Estelle yang berjalan mendekat. “Hows it going?”

Not too terrible. Pertandinganku baru akan dimulai satu jam lagi.” Estelle tersenyum simpul dan turut menyandarkan punggungnya tepat di samping Jake, seperti saat pertama mereka bertemu dulu. “I still can’t believe that you’re actually here.

Considered the fact that you are my friend, how could I miss your competition?Jake dapat merasakan tulang pipinya mulai nyeri karena terlalu lebar tersenyum, tapi bisa apa dia?

Here, this is for you,” sambungnya sembari menyodorkan kotak putih berukuran medium ke lengan Estelle dengan hati-hati.

Kemudian ia mengangguk mengiyakan saat gadis tersebut bertanya apakah ia boleh membuka isi kotak tersebut. Dan Jake tidak repot-repot menahan cengirannya kala mendapati ekspresi tercengang di wajah si gadis.

“Oh, manis sekali! You made them by yourself?” Estelle bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari kelimabelas cupcakes yang tertata rapi di dalam kotak, seakan tidak rela untuk mengalihkan fokus barang sedetik.

Lagi-lagi Jake mengiyakan dengan gestur.

“But, aren’t they too much?”

“Don’t worry, I had fun making these, Häschen.”

Sorry?

Häschen.” Jake mengulang sembari menggaruk tengkuknya; salah tingkah. “It is … kind of a pet name. Do you mind…?

Gadis di depannya ini menggeleng. Dan sebelum Estelle sempat menanyakan artinya, ia buru-buru menambahkan. “Just so you know, I’m going to take these cupcakes home if you lose the match.”

Temannya terkesiap, lalu berdecak kesal. Doubting me already? Some friend you are,” kata Estelle, gusar. “Just wait until I shoved my gold medal on your face, Jake.”

Gelak tawa lepas dari mulut Jake. Ia lalu tersenyum dan berkata pelan, “I can’t wait.”

Melangkahkan kaki ke dalam kamarnya, Jake menutup pintu dan merebahkan diri di atas kasur dengan tarikan napas panjang. Ia lantas memandang ke luar kaca jendela, mengingat sosok gadis yang melambai antusias ke arahnya setelah menerima medali emas. Seulas senyum menghiasi wajah Jake, yang secara bertahap perlahan-lahan terkikis kala jemari dalam saku jaketnya kembali bersentuhan dengan kelopak gladioli yang ia temukan di ruangan Estelle tepat sebelum pertandingan dimulai.

.

.

V.

Sudah lebih dari sebulan kelopak-kelopak gladioli merah jatuh dari mulutnya pada saat yang sama sekali tak terduga. Sang kakak yang sejak awal langsung tahu kondisinya memandang Estelle dengan ekspresi aneh selama beberapa saat dan menghembuskan napas panjang.

How bad it is?

Uh….” Estelle menggigit pelan bibir bawahnya. “Not too bad? I think it is just a crush. It will pass.

Elliot mengangguk, tak berkomentar apa-apa. Dan untuk itu, Estelle merasa berterima kasih.

Saat ini ia duduk di salah satu bangku kayu di Hyde Park, beristirahat sejenak setelah merasa cukup puas akan olahraga paginya hari ini. Ia tengah menyeruput air putih sembari menonton video cat compilation di YouTube saat suara baritone rendah mencapai rungunya.

Häschen.”

Takdir tengah tertawa pada Estelle hari ini.

Jake berjalan santai menghampiri Estelle, dan gadis itu terpaksa menelan beberapa kelopak bunganya untuk menghindari kemungkinan datangnya pertanyaan tak diinginkan.

.

.

VI.

I think it is just a crush. It will pass.

Itu, adalah kalimat yang Estelle utarakan pada Elliot dua tahun lalu. Dan selama dua tahun pula, perasaan yang ia pendam untuk Jake justru semakin berkembang.

Hanahaki sejatinya bukanlah komplikasi mematikan. Penyakit ini akan berhenti dengan sendirinya saat rasa suka yang kau miliki terhadap seseorang yang menjadi objek perasaanmu lenyap, atau, pada kasus-kasus yang jarang terjadi, orang itu membalas perasaanmu. Hanya saja akan sangat merepotkan jika kelopak-kelopak bunga mendadak terselip begitu saja dari bibir setiap kali kau memikirkan orang yang kau sukai. Mungkin, di satu sisi, hal itu bisa dipandang sebagai sesuatu yang elok untuk dipandang karena hei, kau dikelilingi oleh kelopak-kelopak cantik pun aroma manis bunganya. Tapi sungguh, bagi Estelle, kelopak bunganya ini agaknya memalukan karena hanahaki-nya berlangsung selama dua tahun penuh. 

Just a crush.

Right.

Kadang benak Estelle berbisik agar ia melakukan apa pun untuk membuat lelaki di sebelahnya ini jatuh cinta padanya, tapi ia terlalu takut mengambil langkah itu. Bagaimanapun juga, hubungannya dengan Jake yang sekarang tak kalah berharga dan ia akan sangat sedih jika keegoisannya malah memisahkan mereka.

(Akhir-akhir ini kelopak bunganya tampak berkurang. Mungkin ini pertanda perasaannya mulai memudar?)

Ia mengecup mulutnya dengan telapak tangan; berlagak sibuk memperhatikan sebuah foto paus biru yang lewat di beranda Instagram sementara atensi temannya terfokus pada ponsel yang dengan keras kepala berbunyi pertanda rentetan pesan masuk. Gadis itu diam-diam menyingkirkan beberapa helai kelopak bunganya dan baru mengalihkan pandang kala terdengar rintihan Jake.

Raut wajah temannya itu seperti baru meneggak air comberan.

“Jake?”

Sejenak tidak ada reaksi dari Jake sebelum manik cokelat itu terarah kepadanya. “My sister is a fucking demon.

.

.

VII

You have my thanks, Häschen.” Jake berkata; mengalihkan manik cokelatnya dari tumpukan panekuk pada sepasang manik abu di hadapannya. Ia lalu menepuk saku jaketnya, di mana sebuah lipstik pesanan Jane, kakaknya, baru terbeli dan terbungkus rapi. “Aku berhasil lolos dari hukuman gantung nanti sore.”

“That’s a relief, then.” Si gadis balas tersenyum. Ia melahap potongan terakhir french toast pesanannya perlahan dan berkata, “I think I should meet up with this sister of yours. It’s amusing how you went pale so quickly this morning.”

Ingatan tadi pagi masih terputar jelas dalam memori Jake dan hal itu membuatnya mengerang tak nyaman di tempat kendati kursi empuk restoran tempat mereka berada saat ini akan membuat siapa pun betah berlama-lama di sana. “Bisakah kita tidak membicarakan ini untuk sementara waktu? Aku masih trauma.”

Bibir tipis si gadis kembali melengkung simetris mengingat raut frustasi Jake saat harus berhadapan dengan barisan tube lipstik warna-warni setengah jam lalu.

“It’s amazing how you can tell which one is scarlet and which one is crimson, celetuk Jake kemudian. “You’ve got a doctoral degree in lipstick-matter or what?

It’s girls thing,” kata lawan bicaranya kalem. “Kau harus bisa menguasai gradasi warna saat kau membeli lipstik pertamamu agar tidak salah pilih.”

Pemuda itu mendengus. Yeah? And what about your lipstick? balas Jake sembari melipat kedua lengannya di atas meja; memandang gadis di hadapannya dari jarak yang lebih dekat. “What colour is it?”

Yang ditanya tampak geli. Ada semburat merah yang menghiasi pipi pucat itu. “Pink coral.

Jake tak menyuarakan pertanyaan apa perbedaan antara pink dan pink coral dan bagaimana gadis itu bisa tahu itu. Ia hanya memandang lekat gadis yang telah lama bersamanya. “It suits you. You look gorgeous, Häschen.

Manik abu yang balas menatapnya melebar untuk beberapa detik sebelum kemudian Estelle menangkupkan kedua telapak tangan ke mulut dan bangkit dari kursinya. “Sorry, need to go to the loo!”

Untuk sepersekon si pemuda terpekur di tempat, terkejut dengan reaksi yang diterima. Ia melayangkan pandang ke mana Estelle pergi, namun sosok gadis bersurai platinum itu telah menghilang ditelan keramaian restoran. Kuat-kuat ia menahan sol sepatunya pada lantai agar tidak berlari pergi menyusul temannya kala serebrumnya menjeritkan satu perintah.

Ia harus segera menanyakan kaitan kelopak gladioli dan Estelle.

.

.

VIII.

Jake tidak tahu berapa lama ia melamun, yang pasti ia kembali tersadar saat derit kursi di hadapannya terdengar.

“Sorry, I—”

“Everything’s good?” Jake menyela tanpa memberi si gadis bersurai platinum kesempatan untuk memberi alasan.

“Yes.”

“You sure, Häschen?”

Seolah tidak mendengar jawaban yang diberikan, kedua alis yang sedang menatapnya mengerut lebih dalam dan Estelle merasa kali ini si anak laki-laki tidak akan melepaskannya dengan mudah.

“Yes…?”

Mendapati raut kebingungan di wajah Estelle, manik kenari Jake melembut. “More gladioli I guess?”

Estelle membelalak.

“Like this one?” Jake mengeluarkan sebuah kelopak gladioli yang telah mengering dari dalam saku jaketnya, dan seketika raut wajah lawan bicaranya berubah pucat pasi.

.

.

IX.

“You hide them so well from me.” Jake meletakkan kelopak gladioli yang ia simpan selama dua tahun terakhir di atas meja. “Though, it is rather baffling why you would do something like this. Am I not your friend, Häschen?

Estelle berjengit. Ingar bingar di restoran tertelan oleh ketegangan yang meliputi keduanya dan cepat-cepat ia menyanggah, “bukan begitu, Jake. Hanya saja.…”

“Hanya saja…?”

‘Itu bukan urusanmu’ nyaris terlontar dari mulut Estelle dan sejuta alasan siap di ujung lidahnya, namun semua menguap tak berbekas kala gadis itu menangkap manik cokelat Jake yang tak menunjukkan eskpresi apapun. Lelaki itu tak pernah menyembunyikan emosinya dan dihadapkan oleh Jake yang seperti ini justru membuat Estelle panik.

“It is yours.” Kalimat selanjutnya meluncur tanpa dapat ia cegah. “The blossoms, they are for you.

Sejenak tidak ada respon dari Jake dan batin Estelle mulai berbisik bahwa mungkin berkata jujur bukanlah pilihan bagus. Seharusnya ia berbohong saja atau

“I’m glad.”

—huh?

Dan perlahan, lelaki itu meraih kedua tangannya; membungkus jemarinya dengan genggaman lembut yang membuat jantung Estelle berdentum keras sekali.

“We have a lot of things to discuss.” Jake membubuhkan kecupan lembut pada buku-buku jari Estelle. Rona merah menghiasi pipi pucatnya dan ada binar kebahagiaan yang jelas terpantul pada manik cokelat itu. “But know this Estelle, that your feeling is not left unanswered.”

“Jake?”

“Let’s go to my place,” usul Jake tenang. “It will be more comfortable for us to talk about this matter, don’t you think so?”

Dan Estelle, Estelle yang masih terpana takjub dan kehabisan kata-kata, mengangguk pelan.

.fin

 

Notes:

  1. Häschen (German) – bunny
  2. Incredible rushed is rushed because we are running out of time ((hi, uni))
  3. We chose to put White Silk Carnation in Featured Image as the symbol of Jake’s hanahaki for Estelle.
  4. This will be our last contribution to WS. Thank you so much for being with us (and the Corvins and the Vaughans) all this time! ❤
  5. And please continue to support WS through comments, likes, or feedback ❤ ((our lovely, lovely blog and writers deserve them!!))
Advertisements

6 thoughts on “On My Love

  1. LDS says:

    Tidaaaak
    Ship kesayangan ws karam sudah 😥
    Bagus ih ceritanya, kyknya aku pernah denger hanahaki dari suatu karya tapi aku lupa. Wah dibikin in a rush aja bisa kayak gini ;-; aku gak ngikutin para Vaughan dan corvin sih tapi aku suka cerita ini!
    Tetaplah berlayar di luar ws futaritomo hahaha makasih atas persembahan terakhirnya dan Keep writing!

    Liked by 1 person

    • Lt. VON says:

      KALIANAAAAAAAAAAAAAAAAAA ❤ THANKS FOR SUPPORTING USSSSSS SELAMA INIII ❤ ❤ ❤

      yap yap kak jangan sedih karena io dan corvin + von dan vaughan masih bisa ditemui di dunia masing-masing ehehehehw

      Like

  2. asanayuuki says:

    Yaampun kok sedih yak wakakak padahal masih bisa baca karya2 kak filza sama kak titan di luar ws :”)
    By the way VAUGHAN-CORVIN UDAH LAMA SAYA MAU NGESHIP KELUARGA INI DAN SEKARANG KESAMPAIAN ugh. Aku gak inget udah pernah apa belom kakak2 slaying duo (?)ini bikin jake-estelle or eliot-jane but.this.is.totally.lit. 😍😍
    Kak Filz sama kak titan tetep semangat yaaa ^^9

    Liked by 1 person

    • Lt. VON says:

      WASHFAAAAAAAAAAAAAAA!!!
      Ketika kamu ngecaps akhire bisa ngeship Vaughan-Corvin, percayalah kami juga lagi squealing akhire bisa nulis lav lav ❤
      AKHIRE IO-VON BISA NULIS ROMANCE EHEHEHEHE #kamibanggasmhw
      Yep ini sudah beberapa kali vaughan-corvin duet tapi baru ini kadar gulanya di atas rata-rata wqwq
      AAAAAAANYWAY SEE YOU AT NEVERLAND (VAUGHAN) AND DREAMLAND (CORVIN) YHA ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s