Menggapai Ilusi

by Niswahikmah

 

Ialah Ashton.

Idola itu selalu mendobrak bingkai hatinya dalam sekali tepuk. Menghiasi dinding-dinding kamarnya, memecah konsentrasinya hingga tingkatan tertinggi, meleburkan alam bawah sadar serta alam gila-warasnya menjadi satu yang dua, dua yang tiga, dan tiga yang lima.

Vie tergerus dalam alam imaji, ilusi, atau apa yang dikatakan orang-orang dalam setiap rangkaian kalimat. Ia tak pernah tahu secara pasti dan hakiki. Yang diketahuinya adalah Ashton ada, bernapas, mencinta, dan juga bercerita. Sama dengan dirinya, pun sama dengan manusia pada umumnya.

Dan, jika tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, maka Vie juga menampik kenyataan bahwa bayang-bayang itu mengikuti arus kehidupannya. Menggores relung-relung batinnya. Ketika Ashton datang di sela-sela malam panjangnya, terbingkai di depan jendelanya. Dengan ekspresi apa saja; senyum, tangis, kelakar, gundah. Ia terima dengan tangan terbuka, dengan telinga mendengar, dan hati mencari.

Tanpa ia tahu, yang abadi hanya mimpi.

Ialah Vie.

Secarik kertas diulurkan kepadanya. Tentang Ashton. Ia tuliskan semuanya, lengkap tanpa menyisakan ruang kosong. Lengkap hingga orang lain tak perlu berusaha menyempurnakannya lagi.

The Girl Who Cried Wolf, Invisible, San Fransisco, Amnesia, Broken Home, hingga Close as Strangers tidak terlewat.

Namun, ialah Vie.

Selalu ada yang terlewat ketika wanita berjas putih itu datang dan memberinya senyum.

Karena jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan padanya akan selalu sama, “Ashton ada, di sebelahku. Jangan berbohong padaku.”

Karena derap-derap waktu tak pernah berlaku untuknya yang selalu menyambar penggilas nyawa sesaat setelah Dokter berkata, “Ilusimu kembali lagi.”

Karena dalam netranya akan selalu buram ketika obat penenang itu disuntikkan. Bukan untuk mengakhiri hidupnya, tapi untuk membuatnya selalu terlahir kembali di keesokan harinya.

fin.

Advertisements

5 thoughts on “Menggapai Ilusi

  1. Fantasy Giver says:

    niswaaaaaaaaa haluuuu! ❤ ❤

    jadi ini si vie dia semacam punya penyakit kejiwaan yang bikin dia "membayangkan" ashton gitu ya, padahal asthon ga ada? atau asthon itu ada tapi dia kayak semacam artis dan si vie-nya kelewat delulu sama ashton? tapi ini bisa diitepretasikan menjadi 2 gitu ya hahaha (kalo aku), which is niceeee! ❤

    semangat terus niswa, keep writing!

    Like

    • jungsangneul says:

      Naah iya bisa dobel interpretasi kak hihihi. Tapi aku lebih ke interpretasi keduanya sih hihi. Ashton ituuu anggotanya band 5SOS, dan yg judul-judul yg dicetak miring itu lagu-lagunya hehe. Maaf gak kucantumin di situ soalnya biar bisa menikmati tanpa batas dan sekat jiahahaha. Makasih kak eviiin kunjungannya. Keep writing dan semangat jugaa! 💕💕

      Like

  2. Fafa Sasazaki says:

    Nis,,, ajarin aku nulis kayak giniiii.
    Haduh itu sudah kukira ada apa2nya sama yg namanya ashton. Dr sekian persangkaannku trnyata malah ilusinya vie yg trjadi. Aku udh ngira juga klo vie itu brkepribadian ganda lho. Wkwk

    Like

    • jungsangneul says:

      Waaah aku mah apa, ini tulisan lama kak, remah-remah kerupuk ini mah. Iya dia semacam kena skizofrenia kak, bukan kepribadian ganda hehe. Makasih sudah mampir yaaa ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s