Satu Menuju Dua Menuju Satu [1]

a ficlet-mix by LDS

Kamu ditambah dia tidak serta-merta menjadi kalian yang sekarang.

***

Dia amat pelupa, beruntung kamu ada sebagai buku memonya. Kamu mencatat setiap dia punya hajat, sehingga kamu bisa jadi pengingat kalau sesuatu terlewat. Di lembaranmu, tertulis tanggal rapat pentingnya, jatuh tempo tugas-tugas, bahkan jalan menuju rumahnya pun kamu yang petakan. Andai kamu tiada, mungkin dia akan berangkat kerja tanpa dasi, tanpa komputer jinjing, atau tanpa hidung mancungnya itu dan dia tidak akan sadar. Kamu bangga menjadi kunci ketertataan hidupnya.

Belakangan, dia belajar menghapal. Dia ingat letak wadah bubuk kopi supaya dapat menyeduh sendiri jika kamu sedang sibuk. Dia ingat cara menyeterika kemeja untuk berjaga-jaga andai kamu terlambat bangun. Yang mengejutkan, dia ingat kode brankas tempat cintanya disimpan, padahal sebelumnya selalu kamu yang membukakan.

Kamu khawatir. Peranmu perlahan terpinggirkan dari kesehariannya. Kelak, bukan mustahil kamu justru tidak termasuk hal-hal yang ia ingat ketika ia sudah mampu menyusun memo sendiri.

Satu akhir pekan, dia kesiangan, gelagapan, lantas bertanya padamu di mana boks perkakasnya. Kamu menunjuk lemari bagian atas.

“Aku habis mimpi buruk,” ujarnya tiba-tiba.

“Mimpi apa?” Kamu berlutut, mengagumi kelok urat nadinya yang jantan, juga raut penuh konsentrasi kala ia memahat sebuah huruf di atas cintanya.

“Aku bermimpi lupa.”

Kekehanmu dipantulkan dinding brankas, cepat mereda lantaran wajahnya masih tegang. Tampaknya mimpi konyol ini tidak benar-benar ‘konyol’ menurutnya.

“Apa yang kamu lupakan dalam mimpi itu?” Aneh, satu persatu alfabet namamu terukir di permukaan perasaannya. Dia tidak menjawab, barangkali ingin mendahulukan pekerjaannya ketimbang kuriositasmu. Kamu mengerti, jadi kamu ikut diam sampai dia selesai.

Embusan napas leganya menyertai titik peluh yang jatuh di ujung sederet aksara timbul. Kamu menghapus keringatnya, tetapi dia menahan lenganmu dan memintamu mengapresiasi hasil karyanya sembari tersenyum cerah.

“Kukira dengan begini, aku tidak akan melupakanmu seperti yang terjadi dalam mimpi burukku.”


Ringan dan cuek, kamu merentangkan kedua lengan, melayang sesuai tujuan yang ditentukan tiupan angin. Rencana bukan bagian dari kosakatamu karena ia tidak membawa kejutan. Aksimu berpedoman pada spontanitas belaka dan kamu tidak pernah ingin mencoba hal sebaliknya.

Satu waktu, angin kelelahan membopongmu, maka kamu mendarat padanya. Dia, tempat kaki-kaki berpijak, luas nan tak tergoyahkan. Kesan pertama? Menjemukan, andai pokok-pokok rimbun dan bunga beraneka warna tidak tumbuh di permukaannya. Kamu heran mengapa dia tahan menetap berabad-abad. Ternyata, melalui makhluk-makhluk Tuhan yang dibesarkan humusnya, dia berpetualang dalam diam. Bagaimana caranya? Dia menjelaskan bagaimana dedaunan dari ranting-ranting tinggi menyaksikan banyak kisah, juga kembang-kembang cantik yang melanglang buana bersama kupu-kupu, kesemuanya pulang untuk menyerahkan beragam cerita padanya sebagai buah tangan.

Dia tahu lebih dan kamu ingin tahu lebih. Kamu duduk, merasa nyaman dengan kelembutan pun sikap bersahabatnya. Untuk pertama kali sepanjang sejarahmu, kakimu betah menekuk lama, tidak bergerak, tidak pula gatal ingin lari. Perhatianmu berhenti berdifusi, ceceran antusiasmemu mengorbit dalam rengkuhan gravitasinya.

Tahu-tahu saja, kamu berakar padanya. Kemurahan hatinya menyuburkanmu, mendampingimu menjejaki tahap-tahap metamorfosis, dari tunas ke bunga ke buah ….

Pagi itu, kamu hendak menitipkan ribuan benang sari mungilmu kepada angin. Ia kaget menemukanmu yang kini kokoh dan statis.

“Apa saja yang terjadi sepeninggalku?”

Kamu mengangkat bahu, memandang syahdu dia yang menggenggammu.

Angin manggut-manggut, mafhum.


Kamu benci burung. Angkasa tujuan mereka terbang adalah tempat anganmu digantung, tidak tergapai hingga detik ini. Tak seperti mereka, sayapmu dikerutkan ketakutan jatuh; barangkali selamanya, jarak antaramu dan impianmu tidak akan bisa terpangkas.

Senja itu, datanglah tamu dari jenis yang kamu benci. Berdebam di kebunmu, sayapnya patah sebelah, mengerang-erang. Rasa ibamu mengobati lukanya, membangkitkan kesetiaan, menungguinya sampai bugar. Kamu terkagum mendapati sosoknya yang sungguhan: tinggi besar, gagah dan rupawan. Dia siap kembali terbang, tetapi mengapa jemarinya tertaut dengan milikmu?

“Ayo, terbang bersamaku!”

Bertolak belakang dengan nurani, kamu mengiyakan permintaannya semata agar ia berhenti merengek. Matamu terpejam rapat-rapat, ngeri dengan sensasi kosong di bawah kaki yang tak menapak. Beban berganda membuatnya oleng dan kamu semakin cemas. “Kita akan jatuh,” gumammu berulang kali, tetapi dia bersikeras menaklukkan awang-awang. Bunyi angin yang terbelah terdengar mengancam … berikutnya gelap. Kalian terjerembap, tubuh bidangnya jadi alas mendaratmu, berdarah-darah menggetarkanmu. Kamu menolongnya seraya berceramah mestinya-jangan-begini-begitu.

Dia tersenyum dungu bak anak-anak yang kebal nyeri.

“Terbang lagi, yuk!”

Lepas landas, tak tercegah, jatuh di atasnya, dan siklus berputar dari awal. Begitu seterusnya sampai kamu muak menyaksikannya terluka. Sayapmu mulai bergerak sedikit-sedikit, sehingga besar gravitasi yang menariknya ke daratan kian berkurang. Kamu bersedia tersuruk di sampingnya, cedera bersamanya. Keberanianmu diam-diam mekar menumpulkan indra dan seakan tiba-tiba, kamu terbebas dari sangkar emas, bermedali lecet-lecet kecil. Kini, kalian duduk di atas bintang-bintang yang pada masa lampau cuma jadi bunga tidurmu.

Kamu mengira dialah alasanmu sanggup menjangkau langit.

“Tapi, kamu tidak terbang dengan sayapku, Cantik. Tengoklah ke punggungmu sendiri.”


[1]

Advertisements

3 thoughts on “Satu Menuju Dua Menuju Satu [1]”

    1. Hai kak, makasih udh komen
      Kak komennya kakak masuk spam masak yg sblmnya hiks aku gak tau tapi makasih juga buat komennya yg kespam itu ya ;-;

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s