Obsecure Sorrow: Mimeomia

Mimeomia © Fantasy Finder

Everyone strives to be different.

Betul, ‘kan?

Itu sebabnya kita semua berlomba-lomba punya gaya; masyarakat menciptakan tagline “be yourself” atau “you’re unique” atau “everyone has their own specialty”; berkoar di media sosial tentang betapa pendapat mereka lebih patut didengarkan dibanding pihak lain; juga, akui saja—kau, pun aku, bakal marah jika disamakan, ya?

Bagiku, itulah esensi perbedaan. Agar kita merasa lebih baik dari yang lain. Tagline-tagline seperti yang sudah kusebut, tercipta sebagai bentuk fasad supaya kita terlihat superior—aku merasa lebih baik darimu; kau merasa lebih baik dari dia; dan dia lebih baik dari mereka.

Agar kita diingat.

(Karena manusia punya tedensi untuk ingin direkam; dipatri; diabadikan, atau malah kalau bisa, dielu-elukan dalam memori manusia yang lainnya. Entah bagaimana caranya, kodrat demikian membuat kita puas.)

Tapi coba tilik lebih dalam lagi; kurasa sehebat apa pun manusia meruam diversitas pada epidermis mereka, stereotip—atau aku lebih suka menyebutnya pola—akan selalu menempel lebih lekat ke dermis, subkutan hingga pembuluh darah. Pada dasarnya, manusia selalu memiliki hal yang simetris; secuil pemikiran yang sama; sudut pandang yang tak beda-beda amat jika dibandingkan milik orang lain.

Contoh paling sederhana, misalnya. Sepandai-pandainya hatiku mengelak, otakku tetap berkata bahwa aku merupakan hasil epitoma berbagai stereotip. Meski aku merasa aku cukup royal pada beberapa teman karib, tidak semanja stereotip wanita pada umumnya (there, aku bahkan melekatkan cap masyarakat yang belum tentu benar pada kaumku sendiri—what a hypocrite), nyaris gila lantaran media mapping dan sudah cukup sibuk hingga nyaris bertransformasi menjadi workaholic level top player, aku pun seorang mahasiswi jurusan komunikasi, yang sesuai dengan stereotipnya, irit nyaris pelit, (mulai) memerhatikan tatanan fashion, punya ketertarikan di analisis media, serta punya banyak kenalan. Kemudian, meski aku tak bersuara lembut, bermulut kotor, lebih nyaman duduk dengan kaki terbuka dan berbaring dengan tumit di dinding, aku juga orang Jawa, yang sesuai stereotipnya, cukup tradisional dan sangat menghargai orang tua. Lalu kendati aku lebih mencintai buku cetak ketimbang e-book, tidak begitu menikmati update di media sosial dan tidak mengikuti hal-hal kekinian seperti instacelebs, pernikahan Raisa dan hal tak bermutu lainnya, aku tetap generasi milenial yang digital native—konsumtif, tidak bisa hidup tanpa ponsel, dan lebih senang mencatat menggunakan laptop.

Atau, kalau ingin digeneralisasi lagi, lihat saja: berapa banyak dari aspek dalam dirimu yang masuk dengan mudah ke dalam stereotip? Kau diam, kaku, tidak punya teman? Cerewet, berisik, tidak bisa diam? Atau malah gabungan dari keduanya? Tenang saja; masyarakat sudah punya label untuk itu, entah negatif atau positif. O, dan aku yakin kau tahu di mana kau ditempatkan. Itu cara nuranimu mengamini bahwa kau bagian dari kotak tertentu, ‘kan?

Atau … masih ingin melelah?

Sebetulnya, segala yang kubicarakan di sini pun adalah suatu pola. Bahwa ketidakinginan manusia ditempatkan ke dalam suatu kotak, dinamai, diberikan istilah dan dijejalkan dalam sesuatu yang serupa, adalah suatu bentuk konformitas yang tak terbantahkan.

Tapi dibalik semua itu, yang ingin kusampaikan adalah kau tidak perlu memusingkan di mana kau ditempatkan atau pada laci mana kau akan menempatkan diri. Lihat lebih dalam lagi dan kau akan menyadari bahwa tempat kita satu. Ya, kau ingin lebih baik dari yang lain—tak jadi masalah. Kau bisa jadi orang Jawa yang suka makanan pedas. Kau bisa menjadi mahasiswa komunikasi yang tak gemar bicara. Kau bisa menjadi seorang yang filosofis, tapi menikmati banyolan di 9GAG. Kau bisa menjadi lebih baik dari yang lain dengan perbedaanmu atau persamaanmu.

Kau bisa jadi kau.

Bahkan sesungguhnya, dengan mengakui, memahami dan memaknai kesamaan di antara perbedaan yang kita miliki, dunia bisa berubah jadi lebih baik. Sebab aku yakin: di antara label jelek yang mungkin sesuai atau tidak sesuai, akan ada hal-hal baik. Begitu pula sebaliknya. Tinggal mencari strategi untuk melengkapi yang belum ada, memerbaiki yang belum tepat dan menguatkan yang sudah hadir. Tak ada gunanya sok superior atau merasa inferior, sebab dalam hidup ini, berjalan siklus alam: akan selalu ada yang lebih baik dan lebih baik.

Yes, humans are just mere creatures who have a lot of similarities, more than we want to admit.

(So, why bother?)

Mimeomia
(n.) the frustration of knowing how easily you fit into a stereotype, even if you never intended to, even if it’s unfair, even if everyone else feels the same way—each of us trick-or-treating for money and respect and attention, wearing a safe and predictable costume because we’re tired of answering the question, “What are you supposed to be?”

A/N:

  • just rambling, basically.
  • ide ini gabisa keluar dari kepala saya sejak hari minggu pas saya asyik sepedaan malem-malem. duh, random banget.
  • terima kasih sudah membaca 🙂
Advertisements

6 thoughts on “Obsecure Sorrow: Mimeomia

  1. Cake Alleb says:

    Akhir-akhir ini kayaknya evin sering kepikiran masalah superior inferior manusia yaaaa bahkan tadi pas sebelum nyampe author’s note aku udah mbatin gitu terus ternyata emang kepikiran sejak minggu wkwkwkw. Terus yang kecenderungan manusia pinginnya dibedakan aku setujuuuu! Hahahaha tos vin! Aku juga enggak update tentang raisa terus juga sedih sama stereotype yang dilabelin ke perempuan hmm karena aku sendiri sebagai perempuan kadang malah mempertanyakan diri sendiri apakah aku memang perempuan karena seringnya malah aku lebih butuh belajar buat memahami perempuan :”) ((lah lah kok malah curhat)) ((dan sepertinya ini masuk ke contoh denial atas stereotype perempuan ya HAHAHA shameless)).

    “Lebih nyaman duduk dengan kaki terbuka…” VIN HAHAHAHAHAHA KOK SAMA.

    Dan aku juga setuju sama seberapa kita menolak stereotype, gimanapun juga pasti ada yang emang sesuai sama label itu. Kayak yang budaya orang jawa; terus juga sesombong-sombongnya orang yang mikir kalau dia pendengar yg baik dan nggak butuh mengumbar masalahnya, suatu waktu dia bisa juga kepingin meledak karena butuh didengarkan tentang masalahnya juga wkwkwkw.

    VIN GIMANA INI KOMENNYA MALAH NGALOR NGIDUL. Oke pokoknya EVIN SEMANGAAAAAATTTTT!! ❤️❤️❤️

    Like

    • Fantasy Giver says:

      sebenere ini bukan dari aku kepikiran masalah superior inferior, bel, lebih ke pikiran kayak ummmm apa ya. oh, misal “aku entp tp ga merasa entp, jd kenapa aku harus dilabeli entp?” kayak gitu. waktu itu aku lagi muter-muter daerah rumahku pake sepeda malem-malem kan, terus kepikiran aja sambil gowes, kayak “kenapa sih aku selalu terganggu kalo dilabeli orang?” “kenapa sih aku ga pernah mau disamain?” “tapi mau gimana pun bukannya semua orang bakal punya kesamaan” “semua orang punya label dan disamain?” terus ga bisa keluar deh 😦 and then, aku keingetan pernah baca di obsecure sorrow ada istilah yang menggambarkan pikiran ini terus “ah kenapa ga ditulis aja?” jadi kutulis deeeeh.

      gapapa, bel, mencoba memahami wanita artinya memahami diri kita sendiri kan HEHEHEHE. kita tetep perempuan meskipun suka petantang-petenteng koook x’D dan betul itu: sekeras apa pun coba denial sama stereotip ya pasti masuk stereotip lainnya. wong aslinya kita ini sebagian dari berbagai macam stereotip, kok.

      makasih banyak yaa, bel, sudah berbagi pikiran! kamu juga semangat t t t t t t!!!

      Like

  2. Lt. VON says:

    HAI HALO A-YO EVIN!!!

    I couldn’t agree mooooaaarrr with this. Stereotype everywhere and some of us are busily fighting over this. Ada yang kalem aja distereotype-in ada yang gamau banget tapi sekali lagi ini kehidupan sosial hohoho di mana toleransi ekstra dibutuhkan.

    This one is refreshing Vin, indeed. So happppaaaayyy to be able to read your writing again Viiinnn misyaaaaaa a lotsieeee ❤ both u and ur writing ❤

    Anyway rambling emang datengnya suka random tapu kalo ga gitu kapan lagi kita rambling.

    Like

    • Fantasy Giver says:

      KAK FILZZZZZZZZZZZZZZZZZZ ❤ ❤

      iyaaaaaaash, emang stereotip tuh banyak macemnya dan mau ga mau kita bakalan di masukan ke salah satunya, suka atau engga. aku sendiri sih sebetulnya bukan orang yang suka dimasukin stereotip, termasuk orang yang kayak "ah gue bukan A, gue bukan B, gue ga suka dilabeli C" tapi ya gimana, di dunia ini mau ga mau kita adalah bagian dari stereotip yang tercipta. so…… i made this. karena kupikir, udahlah ga ada gunanya mengelak. emang juga apa salahya masuk ke dalam suatu stereotip. bukannya itu membuktikan bahwa meski kita berbeda, tetap ada yang sama, dan harusnya itu bisa menyatuhkan dong kalau "satu karena perbedaan yang saling melengkapi" terdengar bullshit. sekarang dibalik aja.

      yha begitulah, kak. a piece of mind, hehehe. makasih banyak kak filzzzzzz udah nyempetin bacaaaaa. kak filz nulis lagi dongggg, aku kangen banget nih. kemaren kak titan nulis di ig but aku ga punya ig jadi ga bisa baca dan komen 😦 i miss you too, kaaaaaak.

      once more, thank you and have a nice night! ❤

      Like

  3. outofvacancy says:

    dang this hits more than i expected.
    serius, aku jadi malu loh setelah baca ini. i am one of those people yang sama sekali gamau disamain dan anti banget kalo diomongin ‘kamu ini ternyata lebih mudah dipahamin dari yang aku kira ya’. entah itu ego aku atau kesombongan aku yang merasa bahwa aku lebih baik dari orang lain karena aku “ga sama”.

    then comes the line,
    Kau bisa jadi kau.

    tertohok banget adalah kata yang pas. makasih banget udah nyadarin aku yang egonya besar ini untuk nggak ketahan buat ikutan orang lain, ngelakuin hal yang capeknya parah. because sometimes there are some pieces of mine that wants to fit in, to actually feel that i belong to something. aku juga jadi sadar banget bahwa semakin aku mencoba buat berbeda dari orang lain, malahan aku melakukan hal yang stereotip menurut aku. karena everyone wants to be different, that makes difference become a stereotype.

    aku bisa jadi aku, mereka bisa jadi mereka. then there will be no stereotypes in society, because everyone is different by being themselves.

    uh pokoknya tulisan kamu ini bagus banget dan pantas buat dilempar ke muka orang biar sadar tentang pemahaman stereotype yang sesungguhnya, keep up the good work!

    (maaf banget kalo komennya ga jelas besok mau uts mtk fisika, sih)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s