Satu Menuju Dua Menuju Satu [3]

a ficlet-mix by LDS

Kamu ditambah dia tidak serta-merta menjadi kalian yang sekarang.

***

Meski hobi makan, ‘lezat’ adalah satu-satunya rasa yang kamu kenal. Ayam wijen, kue beras, dan sup tahu bahannya berbeda-beda, tetapi kamu cuma sanggup menamai perpaduan sempurna dari semua komponen. Indra pengecap dia lebih pintar, sehingga dengan mengunyah saja, dia bisa memilah gurihnya jamur, tajamnya lada, segarnya wortel, dan wanginya oregano.

Saat ikatan kalian terjalin, kamu menabur gula sebanyak-banyaknya karena di televisi, itulah yang pria dan wanita saling lakukan untuk menyedapkan hubungan. Sayang, dia malah kehilangan citarasa, tidak senikmat waktu lajang. Kamu kemudian bereksperimen dengan pemanis lain dan frustrasi setelahnya. Rasa mengerikan apa yang melekatinya sekarang?

Dia minta izin mandi sebentar. Selagi dia membersihkan diri, kamu membolak-balik buku resepnya hampa, mencari tahu kesalahanmu. Usai menjemur handuk, dia menyusulmu ke dapur dan terbelalak lucu menanggapi kelimpahan bahan makanan yang mendadak—hasilmu membaca buku resepnya.

“Ingin masak apa?”

Bungkam. Garuk-garuk kepala. Meringis. Menahan geli, sepasang celemek dekat kulkas disambarnya; satu dikenakannya, satu disampirkan padamu. Tanpa tergesa, dia mengajarimu meracik sambil menyisipkan pesan sponsor bahwa kelezatan bukan melulu soal gula—“seperti kamu”. Berbeda denganmu yang terbuat dari terigu premium, stroberi, keceriaan, dan tekad, dia berasal dari daging kualitas rendah yang susah dimasak, berbumbu rempah murah, ketegaran, serta sebotol bekas luka. Lantas, bagaimana dia tampak begitu menggugah selera?

Dia menyuapkan sesisi daging yang agak menghitam tersentuh api dan kamu merasakan ledakan. Kuah tuna menyusul masuk, menyelimutimu dalam kehangatan. Masakan sesederhana sosis gulung telur saja jadi meriah dengan olesan mayones. Sadarlah dirimu bahwa setiap bahan punya identitas, pesona mereka kadang tertutup ketidakmampuan mengolah atau kuncup perasa yang tidak pas.

Kunci nikmatnya ikatan kalian, menurut hematnya, adalah lidahmu yang gampang ia manjakan, juga tangannya yang handal mengolahmu. “Aku bicara soal dapur, lho,” tambahnya, mengedip genit, dan kamu mencubit pipinya malu.


Semua orang bertato adalah penjahat. Dia bertato. Apa kesimpulanmu?

Menganut pandangan hitam dan putih tanpa perantara kelabu, sebuah rajah kamu anggap bukti mutlak keburukannya. Logikamu sejalan dengan mayoritas yang merendahkan dia; tertutup telingamu untuk opini di luar stigma bangunanmu. “Mustahil kalian mengatakan sampah berbau harum,” dalihmu saat diperingatkan golongan yang berseberangan perspektif, padahal dia mendengarmu dari sudut.

Kamu sibuk bergunjing hingga tidak menyadari retakan mikro di wajah ayumu. Terhantam terik matahari dan badai. Memanjang. Tak sengaja menubruk orang. Memanjang. Ditampar temanmu yang kamu ejek karena ternyata bertato. Memanjang.

Laksana bola salju, masa bergulung dan mengembang, sebaliknya kamu tambah ciut dalam rumahmu. Kamu takut keluar; parasmu terlalu menyeramkan bagi mereka. Bahkan kamu dapat merasakan tajam tatapan mereka yang setajam tatapanmu padanya sebelum ini. Sepasang lengan yang memelukmu ya hanya milikmu, telapak yang menyusut tangismu juga cuma punyamu. Sepi, sendiri, layu menunggu mati.

Dia hadir tanpa kamu undang. Tidak banyak cincong menambal yang bolong-bolong. Mengisi rongga dengan pewarna. Terampil jemarinya menyuntik pelangi di kulitmu dan kamu merasa utuh. Apa yang menyentakmu adalah bayangan cermin, duplikat dirimu pada permukaan mengilap terjujur di dunia.

“Kamu menatoku?”

Kekecewaanmu menciptakan puluhan lubang anyar, di kepala, di dada, di kaki, di hati. Pewarnanyalah yang menutup semua ruang itu. Keseriusannya saat bekerja lama-lama terkesan magis, kamarmu yang terinfeksi diamnya menghipnotis. Tamat sudah riwayat gadis cengeng dalam jiwamu, sehingga ada spasi untuk sudut pandang baru. Ada kelabu di antara hitam putihmu, ada keindahan di tato-tatomu, dan ada bara harapan di manik cokelat gelapmu. Jangan lupakan kelegaan dalam kurva simpul yang melintangi tatonya—dan begitulah kamu berguru pada dia, teknik memanfaatkan cacat jadi berkat.


Banjir bandang. Media sosialmu diterjang promosi gaya-gaya terkini. Tagar ‘pakaian hari ini’ mendominasi dan kamu mengeluhkan lemahnya benteng penahan godaanmu. Rambutmu tidak disemir jingga! Kemejamu bukan yang model tambalan perca! Celanamu bukan khaki dan kamu tidak pakai tumit tinggi! Bagaimana ini?

Beli?

Dia bilang tidak perlu. Paletmu bukan tabrakan beragam semesta. Kenakanlah yang berwarna cerah namun tetap senada, barang-barang yang cantik asal jangan menyakiti. Hah, mana boleh kerenmu menentang definisi? Tidak! Kamu maunya membaur dan mencocokkan diri.

Bunglon?

Dia tertawa, kamu cemberut. Kamu bukan sejenis reptil yang pandai berkamuflase. Membuang bahu, dia berpendapat wanita saat ini kebanyakan meniru; apa kamu hendak menjadi salah satu dari mereka? Terang saja kamu menolak, jadi telunjuknya mengisyaratkanmu bergerak ke lemari. Ambil semua bajumu, bariskan semua celana dan rokmu, buang tren yang kamu agung-agungkan itu, kemudian pilihlah, mana pakaian yang kamu suka, mana yang paling membuatmu nyaman?

Kamu menentukan dan mengenakan. Kalian sama-sama suka, ‘tetapi khalayak tidak’, begitu cemasmu.

Mesin jahit?

Dia memotong-motong helaian panjang kasih sayang, patuh pada lekukan pola yang dirancangnya khusus untukmu. Benang dan jarum berderap menyatukan tiap bagian, menyusun satu pakaian yang tidak terpajang di butik mana-mana, tetapi mirip dengan yang kerap menyapamu dari sela koleksi bermereknya. Apa itu, tanyamu, mengapa bisa memeluk manis tubuhmu?

“Ini rasa percaya diri.” Kamu tersihir oleh sosok antiarus di cermin selagi jemarinya menautkan setiap kancing dengan lubang. “Ketahuilah, jarang orang sekarang menyampirkan kasih sayang pada identitasnya yang asli. Jangan berdandan untuk menyerupai, tetapi berdandanlah supaya kamu dikenali.”


[3]

Advertisements

3 thoughts on “Satu Menuju Dua Menuju Satu [3]”

  1. Kak lianaaa :””)) aku suka banget ihh sama series(?)ini 😍😍 analogi yg disampaikan manis, terus lucu banget. Dan quote di awal selalu bikin sadar; bahwa ada hal-hal lain yg bikin ‘aku dan kamu menjadi kita yg seutuhnya’. Aju naiseu kak lianaaa :))) ku kan baca sampai ini berakhir ^^9 semangaddd 💪💪

    Like

    1. Makasih ya udh suka, padahal ini amatlah plotless dan cuma upaya menambah diksi aja 😀 sorry for the late reply dan Keep following!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s