Cara Semesta Bekerja

picture was taken from here

Primrose Deen © 2017

“Begitulah cara semesta bekerja. Tak peduli seberapa keras kau bersusah payah membanting tulang siang dan malam atau kau menjadi orang terkaya di dunia pun tak akan menjamin keselamatanmu di kehidupan selanjutnya jika tujuan manusia diciptakan saja … kau tidak mengetahuinya.”

“Terlepas dari apa saja yang telah kau lakukan selama 70 tahun hidupmu selama ini, hari ini adalah hadiah untukmu. Kau boleh melihat-lihat ke seluruh penjuru tempat ini sepuasnya. Tapi, kuharap kau tidak hanya sebatas melihat, tapi juga merasakan. Selamat menikmati,” ujarnya sebelum mengambil beberapa langkah untuk mendahuluiku yang masih berdiri terpaku, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.

Aku melihatnya; bagaimana kotak kaca sangat besar—sampai aku tidak mampu memperkirakan berapa kaki tingginya—itu menampung jutaan, bahkan milyaran gulungan kertas yang berisi semua harapan setiap manusia di muka bumi. Ya, semua. Kendati keinginan tersebut hanya sebatas untuk mendapatkan telur dadar sebagai lauk makan siangnya. Itu semua tercetak jelas di gulungan kertas tersebut beserta nama lengkap si empunya keinginan. Semua gulungan tersebut disortir dengan cara yang tidak biasa, namun tetap dengan penuh ketelitian.

“Kau pasti bertanya-tanya, apakah dengan segunung keinginan yang bercampur menjadi satu itu, tidak akan terjadi kesalahan?” Ia memecah keheningan di antara kami. Ujung bibirnya tertarik, lalu berkata, “Semuanya aman. Tidak akan tertukar, baik dari segi perwujudan keinginan ataupun waktu terwujudnya, meskipun seluruh gulungan kertas tersebut berisi keinginan yang sama.”

“Lantas, apakah semua keinginan diwujudkan berdasarkan siapa yang membuat keinginan tersebut terlebih dahulu? Seperti antrean?”

Ia menggerakkan jarinya ke kanan dan ke kiri beberapa kali seraya menggeleng. “Semua keinginan dikabulkan tidak berdasarkan kapan keinginan tersebut dibuat, melainkan berdasarkan ketaatan mereka terhadap peraturan yang telah digariskan dan seberapa keras usaha yang mereka lakukan demi keinginan tersebut, seperti ketepatan waktu mereka ketika dipanggil untuk menghadap dan berkeluh kesah.” Ia menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arahku sembari menambahkan, “Ah, ya. Dan bicara soal usaha, mereka seringkali hanya terpaku pada apa yang harus ia lakukan secara nyata untuk mendapatkannya, seperti bekerja keras siang dan malam. Padahal, usaha tak hanya sebatas itu.”

“Lalu, apa lagi usaha yang dapat dilakukan selain itu? Bukankah mereka memang harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan?”

Ia menyimpul senyum, lalu menjawab, “Menyampaikan.”

“Menyampaikan?”

“Mereka harus menyampaikan keinginan mereka dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan, karena semua akan sia-sia saja jika ada kelalaian di hati mereka, meski hanya seujung kuku.”

Aku teringat bagaimana kala itu aku memohon agar hidupku menjadi lebih layak dan berkecukupan. Rasanya tak ada kata lelah untuk terus memohon dalam kamusku. Tapi setelah itu, aku tidak ingat kapan aku pernah melakukannya lagi.

Aku membiarkan diriku tenggelam dalam segala pemandangan yang mampu ditangkap oleh penglihatanku. Didukung dengan sebuah layar besar yang memperlihatkan kehidupan manusia, aku melihat bahwa pabrik ini—aku tidak menemukan sebutan yang lebih pas selain pabrik—dengan begitu dermawannya, selalu memberikan periode waktu istimewa yang menjanjikan kesempatan yang lebih besar untuk mengabulkan keinginan manusia. Tak hanya sekali-dua kali dalam sebulan laiknya supermarket, namun setiap hari, bahkan tidak hanya sekali. Sayangnya, tidak semua manusia memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan keinginannya. Seringkali mereka melewatkannya begitu saja, seakan-akan periode waktu istimewa itu hanyalah fatarmorgana atau isapan jempol belaka. Padahal mereka sudah mendapatkan pengumumannya berulang kali, namun tetap tidak mereka indahkan. Mereka memilih untuk tetap tenggelam dalam hiruk-pikuk duniawinya—yang kata mereka melelahkan. Dan sepertinya, aku termasuk salah satu dari mereka.

“Hmm, menurutku Dia begitu romantis. Selalu cemburu kala kau terlalu perhatian atau mencintai apa pun melebihi cintamu pada diri-Nya. Ia memberimu sebuah janji indah bahwa Ia akan mengabulkan semua doa yang kau panjatkan setiap kali hujan turun ke bumi, meski hanya rinai tenang yang tak akan membuatmu basah kuyup. Ia berjanji bahwa jika kau yakin, Ia akan sedekat nadi.”

Ia menatap keluar jendela, namun bibirnya terus bergerak untuk mengurai kuriositasku. “Tapi, kau selalu mengabaikannya. Seakan-akan mantapnya pijakan kakimu di tanah murni berasal dari kekuatan dan betapa normalnya seluruh fungsi tubuhmu. Sampai-sampai kau tidak bisa mengingat kapan terakhir kali kau meninggalkan seluruh duniamu barang sejenak dan berterima kasih atas apa yang kaumiliki selama ini.”

Aku mulai merasakan kedua telapak tanganku berkeringat. Isi kepalaku seperti benang kusut. Rasanya seperti mengetahui arah pembicaraan ini tapi tidak ingin meyakini dugaanku sendiri.

“Nah, sekarang mari kita lihat apa saja bekal yang telah kau siapkan untuk perjalananmu.”

“Perjalanan?”

“Ya. Kau pasti sudah mendengar perihal kehidupan yang sesungguhnya, bukan? Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang, Bung. Mungkin akan memakan waktu yang sangat lama, berkali-kali lipat lebih lama dibandingkan usiamu.”

“Hah?”

Ia mengembuskan napas pelan, kemudian beranjak dari tempat duduknya. “Pokoknya, waktu persiapanmu sudah habis. Kau masih belum menyadarinya juga?”

Jika saat ini aku dapat melihat pantulan diriku di cermin, pasti wajahku sudah berubah pucat pasi. Bisa kurasakan keringat dingin menganak sungai di pelipisku.

“Kenapa begitu terkejut? Selama ini tawamu selalu membahana, membangga-banggakan bahwa dirimu begitu besar, tak terkalahkan. Kau tidak pernah menyadari, bukan, bahwa setiap hari salah satu dari kami selalu mengunjungimu, menatap wajahmu, sembari bertanya-tanya bagaimana bisa kau searogan itu padahal hari ini akan tiba.”

Lidahku kelu, terasa kebas. Entah ke mana perginya kecakapanku dalam berbicara seperti saat presentasi di depan para investor perusahaanku dulu.

“Begitulah cara semesta bekerja. Tak peduli seberapa keras kau bersusah payah membanting tulang siang dan malam atau kau menjadi orang terkaya di dunia pun tak akan menjamin keselamatanmu di kehidupan selanjutnya jika tujuan manusia diciptakan saja … kau tidak mengetahuinya.”

“Apa tujuan manusia diciptakan?”

“Merendahkan diri di hadapan Tuannya, tentu saja.”

Detik itu, aku tahu bagaimana rasanya keinginan memutar waktu kembali, untuk pertama kalinya.

end.

Nb.

  • Akhirnya kembali setelah mendapatkan gelar baru di belakang nama.
  • Harap dimaklumi, sudah setengah tahun lebih saya tidak menulis. Jadi adanya kekakuan dalam menulis murni karena kesalahan jemari saya yang terlanjur terbiasa merevisi pembahasan skripsi.
  • Ceritanya embuh-embuhan. Terlintas ini, lalu ditulis begitu saja.
Advertisements

14 thoughts on “Cara Semesta Bekerja

  1. LDS says:

    CIE YG SDH SARJANA *PAKE TOA
    halo ariii uwuuu bagus ceritanya bikin merinding. Yah suatu hari memang hari itu akan datang tapi entah kapan, nah entah kapannya itu yg bikin lupa
    Anyways ini disampaikan dgn cara yg surreal sehingga kukira ini awalnya surrealisme masak hahaha
    Keep writing ariiiii

    Like

    • Primrose Deen says:

      WKWK MAKASIH LIANAAA~♥️
      Serius, beneran, kamu jeli. Awalnya tuh di dalam hati aku emang berniat nulis surrealisme karena udah lama pengen bangeeeet bisa nulis genre itu. 🤤
      Makasih, Lianaaa! Keep writing too!

      Like

  2. Tanaya says:

    Tulisannya seperti langsung nendang aku dan dosa-dosaku selama ini :”””””) terima kasih atas tulisannya, terima kasih atas pengingatnya huhu

    Like

  3. oldnavy says:

    ya ampun ini bener bener sentilan buatku (atau mungkin buat kita semua) untuk meninggalkan urusan duniawi barang sejenak dan melaksanakan segala perintah-Nya :”’)

    keep writing, kak!

    Like

    • Primrose Deen says:

      Halo, Ocha (barusan aku baca perkenalanmu haha). Makasih banyak udah baca.
      Dan, ya, sejatinya hidup ini kan untuk menyiapkan datangnya hari itu. Jadi, semoga kita punya cukup bekal, ya!

      Keep writing too!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s