Astir

Ditulis oleh qL^^

Disclaimer: This writing contains scientific information which have been modified as story needs.

In which Min Yoongi’s favorite activity becomes complicated.

Min Yoongi likes sleeping.

Okay, fine. That is understatement. Min Yoongi bukan hanya suka tidur. He loves sleeping. A lot. Kalau sedang tidak ada deadline menggarap lagu atau memang jatah hari liburnya tiba, ia pasti bergulung dalam selimut di atas kasur. Yoongi bisa tidur dalam berbagai posisi (berselonjor, duduk, bahkan berdiri), di mana pun (ruang tunggu, studio, kadang kereta bawah tanah) dan kapan pun. Tingkat adiksinya terhadap tidur memang mengkhawatirkan. Apalagi ditambah kecenderungan Yoongi yang memang malas bergerak. Ah, bahasa gaul Jungkook, sih, menyebutnya ‘pelor’ alias nempel-molor.

Pagi ini, Yoongi terbangun saat sinar matahari sudah menembus celah-celah tirai merah jambu yang dipasang oleh Seokjin di kamar mereka. Matanya menyipit, membiasakan dengan cahaya masuk. Tubuhnya masih terbungkus selimut seperti kepompong. Ia mengulet. Sejujurnya ia masih malas beranjak. Tapi, Yoongi sudah berjanji mentraktir Jungkook satai domba hari ini. Si maknae tidak berhenti merongrongnya sejak minggu lalu. Lebih baik ia mengorbankan waktu tidur daripada harus menderita lebih lama lagi mendengar rengekan Jungkook.

Menyibak selimut, Yoongi bangkit dari kasur. Ia baru menyadari suasana asrama sepi sekali padahal jam sudah menunjukkan angka sepuluh pagi. Tidak ada bau harum sarapan yang dimasak Seokjin, suara karaoke kamar mandi Namjoon, tawa heboh Hoseok dan Taehyung atau pertengkaran siapa-lebih-dulu antara Jimin dan Jungkook. Yoongi membuka pintu kamar, mencari bandmates-nya.

They are asleep.

Odd.

Bandmates-nya bukan tipe orang yang akan tidur sampai siang seperti dirinya, terutama Seokjin dan Namjoon yang setiap hari selalu kerepotan mengurus mereka. Kejanggalan yang dirasakan Yoongi semakin menjadi ketika ia mengamati bagaimana para bandmates tidur. Posisi dan letak dimana mereka tidur terlihat tak biasa seolah mereka jatuh tertidur begitu saja saat melakukan kegiatan masing-masing. Seokjin dan Namjoon tertidur dengan wajah menempel di meja makan dan tangan masih memegang sumpit. Taehyung dan Jungkook tertidur di karpet depan televisi dalam posisi duduk. Stick PS masih dalam genggaman dan tulisan game over tertulis di layar. Jimin berbaring di sofa dengan iPad masih menyala di pangkuan dan earphone masih menyumbat telinga. Hoseok tergeletak di lorong menuju dapur. Botol vitamin yang tumpah membentuk sebaran tablet putih di dekat kakinya.

Pelan-pelan Yoongi mendekat. Mereka tidak sedang merencanakan hidden camera untuknya, ‘kan? Ia menjulurkan kaki ke arah punggung Taehyung dan menendang pelan sebagai upaya mengetes sekaligus mencoba membangunkan. Tubuh Taehyung terhuyung, lalu ambruk ke belakang. Tetap tidak terbangun, kini malah jadi meringkuk di karpet.

Mereka … tidak mati, ‘kan?

Terburu-buru, Yoongi mengecek satu persatu bandmates-nya. Dilihat dari kondisinya, mereka mungkin sudah begini selama satu atau dua jam. Semua bernapas normal (masih hidup, syukurlah), namun sama sekali tidak merespon segala macam tindakannya, baik itu berteriak di telinga, menguncang-guncang atau menendang bokong. Persis patung hidup.

Yoongi berlari ke arah jendela, mengintip keluar asrama bermaksud mengecek keadaan. Ia tercengang, menemukan orang-orang tertidur di jalanan dalam posisi yang tak wajar. Bulu kuduknya berdiri. Min Yoongi bukan penakut dan ia tidak mudah takut, tapi situasi pagi ini benar-benar tidak bisa dipahami nalar.

What in the world is happening?

Haruskah Yoongi tidur lagi saja dan membiarkan takdir yang menentukan mau membangunkan mereka atau tidak?

Dan akhirnya, ia benar-benar memutuskan tidur kembali meski gagal total.

Berguling-guling di dalam selimut pun sama sekali tidak membantu Yoongi untuk tidur. Otaknya seolah tidak mau diajak beristirahat. Yoongi meraih ponsel, memutuskan menelepon ibunya, PD Bang atau siapa pun untuk memastikan ia tidak terjaga seorang diri. Nihil. Tidak ada satu orang pun yang mengangkat teleponnya.

Berganti taktik, Yoongi membuka aplikasi Twitter. Untuk pertama kalinya, update terakhir timeline adalah dua jam yang lalu. Sungguh ganjil karena traffic Twitter Bangtan biasanya ramai  nyaris setiap detik. Ia mengetikkan kata kunci seperti ‘tidur’, ‘bangun’, dan ‘aneh’, untuk mendapatkan petunjuk dan tanpa  sengaja menemukan tweet seseorang.

@qi-eLdorado: The whole city is asleep. How could it be? I’m bloody confused.

@qi-eLdorado: If somebody awake and read this message, please contact me.

Bah, username macam apa ini? qi-eLdorado? Apa dia bukan orang Korea karena dilihat dari isi tweet-nya yang hampir semuanya berbahasa Inggris?

Kirimkan nomormu. Aku juga satu-satunya yang tidak tertidur.

Direct message Yoongi dibalas dalam hitungan detik. Orang ini pasti benar-benar bingung sampai terus memegang ponsel. Yoongi menghubungi nomor itu. Ia tak suka menghubungi orang asing, tapi situasi seperti ini juga tidak memberinya banyak pilihan.

“Halo?”

***

Tidak etis bagi Yoongi menyuruh seorang gadis sendirian mendatangi asrama, maka ia memutuskan akan datang ke tempat gadis itu. Ya, qi-eLdorado ternyata seorang perempuan. Gadis itu memberikan alamat sebuah rumah sakit pada Yoongi dan mengatakan bahwa ia berada di sana. Dalam waktu kurang lebih setengah jam, Yoongi akhirnya tiba. Jalanan tentu tidak macet, namun beberapa ruas tertahan oleh mobil-mobil yang pengendaranya tertidur lelap sehingga lelaki itu harus memutar cukup jauh. Ia turun dari mobil dan melihat seorang gadis duduk di tangga rumah sakit dengan kepala terbenam di lengan.

Yoongi berdeham dan gadis itu mendongak. Wajah cemasnya langsung digantikan kelegaan begitu melihat Yoongi. Gadis itu pendek, berwajah bulat dengan pipi chubby. Rambut hitam pendek sebahu dengan potongan poni depan semakin menambah kesan childish di wajahnya. Ia memakai seragam biru muda dilengkapi jas putih panjang dengan logo rumah sakit.

“Jadi, satu-satunya member Bangtan yang tidak tertidur itu kau? Suga? Really?” tanyanya sangsi.

Yoongi hanya mengangkat bahu. “Kau si qi ….”

“Ya, aku qi-eLdorado. Namaku Hyeki. Park Hyeki.” Gadis itu memperkenalkan diri. Nah, begitu, ‘kan, lebih muda. Hyeki tidak sulit diucapkan dibandingkan qi-qi-apalah itu. “Ini aneh sekali. Aku terbangun pagi ini untuk memulai shift-ku, namun semua orang tergeletak begitu saja dalam tidur mereka. Apa yang terjadi?” tanyanya lagi.

“Entahlah,” jawab Yoongi sama-sama tak yakin. “Aku juga terbangun dan menemukan hal yang sama di asrama.”

“Kuharap Namjoon baik-baik saja,” gumam Hyeki pelan, namun masih cukup jelas didengar Yoongi. Ah, gadis ini pasti seorang ARMY dan memilih Namjoon sebagai bias. Pantas ia sangsi ketika tahu Yoongi tidak tertidur. Si raja tidur yang tidak tertidur. Sungguh ironi.

Hyeki kembali bicara. “Yang lebih aneh, semua sistem rumah sakit bekerja seperti biasa. Alat-alat di ruang ICU dan OK berfungsi normal. Listrik, aliran air, sambungan telepon dan koneksi internet juga berjalan normal. Yang tidak normal justru tidak ada yang memakainya.”

Yoongi mengangguk setuju. Ia sudah tahu itu karena sebelum meninggalkan apartemen, ia juga sempat mengecek hal yang sama. Kompor Seokjin bekerja seperti biasa, keran wastafel tetap menyala, pencarian di internet masih bisa dilakukan dan ia bisa menelepon gadis itu tanpa kendala. Yoongi bahkan iseng mengecek fungsi lift sampai pom bensin yang ternyata beroperasi seperti biasa meski si penjaga tertidur pulas di depan mesin kasir.

“Kau bawa mobil?” Hyeki bertanya.

“Ya, kenapa?”

Good. Let’s go!”

Kening Yoongi berkerut. “Ke mana?”

My home,” jawab Hyeki singkat. “Tidak ada siapa pun di rumah dan kita perlu melakukan riset untuk menyelesaikan masalah ini. Kau tidak berpikir untuk tidur saja dan membiarkan takdir yang menyelesaikan masalah, ‘kan?”

Untuk sesaat Yoongi terdiam karena ia terlalu shock dengan tebakan akurat Hyeki. Setelah pulih, ia berjalan menuju lokasi parkir mobil dan membiarkan Hyeki mengikutinya di belakang. Gadis itu menyebutkan alamat rumah dan Yoongi menyetir ke sana. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, sampai Yoongi akhirnya bertanya.

“Kenapa kau tadi menungguku di luar?”

Yoongi pikir Hyeki tidak akan menjawab. Saat ia mengumpat keras karena mereka harus memutar balik dan mencari jalur berbeda akibat tertahan mobil-mobil dengan pengendara yang tertidur, barulah si gadis menjawab dengan suara tercekat sambil menatap seekor kucing yang mengeong-ngeong di dekat tubuh tuannya yang tertidur di pinggir jalan.

“Because it’s too sad, being surrounded by the livings that look like deads.”

***

Rumah yang dimaksud Park Hyeki ternyata sebuah unit apartemen di daerah pinggiran kota. Hyeki terus-menerus bergidik ketika ia dan Yoongi tanpa sengaja melewati orang-orang yang tergeletak tidur di pinggir jalan. Ia baru menghembuskan napas lega saat berada tepat di depan pintu apartemen. Apartemen Hyeki berada di lantai lima dan gadis itu memang tinggal sendiri. Yoongi masuk dengan canggung. Baru pertama kali berduaan dengan seorang gadis di dalam apartemen yang baru pertama kali dikunjungi. Anehnya, Hyeki terlihat biasa saja. Sepertinya terlalu fokus dengan malapetaka dunia tertidur. Ia langsung menyalakan komputer.

“Menurutmu, kenapa semua orang tertidur tapi kita tidak?” tanya Hyeki sembari membuka halaman pencarian.

Yoongi tidak terlalu memikirkan hal itu sebelumnya. “Umm … mungkin sesuatu membuat kita kebal?”

Hyeki mengangguk-angguk, masih sibuk mengetikkan sesuatu. “Bisa jadi. Tapi apa yang membuat kita kebal? Dan bagaimana membuat semua orang tertidur?”

Kali ini Yoongi tidak menjawab. Ia mendekati Hyeki, mengintip dari balik bahu gadis itu untuk melihat apa yang sedang dicarinya. “Apa itu?” tanyanya.

Hyeki memutar kursi menghadap Yoongi yang kini bersandar di meja. Ia mengetukkan jari seolah sedang berusaha merangkai apa yang ditemukan dengan kondisi mereka saat ini. “Aku menganalisa kinerja otak salah satu pasien yang tidur.” Ia memulai dengan suara ragu. “EEG menangkap gelombang delta frekuensi rendah, amplitudo tinggi dari otak yang mirip dengan stage 3 non-rapid eye movement sleep.”

“Jangan pakai bahasa alien,” gerutu Yoongi sama sekali tidak paham apa yang dibicarakan Hyeki.

Si dokter muda berdecak. “Intinya, Yoon, mereka semua sedang dalam kondisi deep sleep stabil yang tidak bisa dibangunkan, padahal biasanya deep sleep itu hanya berlangsung singkat. Dulu orang-orang menggunakan obat mengandung gamma hydroxybutyrade atau GHB untuk meningkatkan deep sleep.

Yoongi mengangguk paham, merasa sedikit lebih pintar.

Kening Hyeki mengernyit saat ia berpikir keras. “Aku jadi menduga-duga … bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya?”

“Maksudmu, kita tidak melakukan apa pun yang membuat kita kebal tapi hanya luput dari apa yang mengenai orang-orang?” Yoongi balik bertanya dan dijawab dengan anggukan ragu oleh Hyeki.

Yoongi menganga. “Mustahil ….”

“Itu mempersempit beberapa kemungkinan. Artinya ada GHB yang dibebaskan melalui udara atau ada metode lain yang membuat orang-orang mengonsumsi GHB secara tidak sadar.” Hyeki menyampaikan teorinya.

Teori Hyeki entah mengapa membuatnya teringat Hoseok dan ….

“Vitamin!” pekik Yoongi, setengah merasa bodoh karena tidak mengaitkannya sejak awal dan setengah lagi kagum pada kemampuan teoritis Hyeki. “Kami mendapat promo vitamin dari sponsor. Kau tahu, ‘kan, perusahaan Farmasi Q yang membagi-bagikan vitamin gratis? Satu-satunya yang tidak minum vitamin itu di asrama hanya aku!”

“Ya Tuhan! Same goes with me ….” Hyeki menyadari. Tubuhnya mendadak terasa lemas. “Itu menjelaskan kenapa hewan-hewan tidak terpengaruh pada efeknya.”

Mereka berdua terdiam, sama-sama terlalu terkejut dengan teori yang begitu cocok.

“What you should we do now?” Hyeki bertanya. Ada nada ketakutan kentara dalam suaranya yang membuat sisi protektif Yoongi tersentil.

“What else? Find the antidote from Q pharmacy,” sahutnya tegas.

“Only us?” Gadis itu terlihat skeptis.

“Two is better than one, Hye,” jawab Yoongi diplomatis.

Senyum kecil Hyeki akhirnya muncul.

***

It looks like abandon building,” komentar Hyeki ketika mereka menjejakkan kaki di gedung berlantai sepuluh dengan logo Q besar di dalam lingkaran.

Tentu maksud Hyeki bukan benar-benar gedung terlantar secara harfiah sebab gedung bergaya minimalis itu jelas jauh dari kata usang atau lapuk. Kondisi sunyi dan sepi tanpa jejak manusia yang membuat Hyeki menyebutnya seperti itu. Bahkan tidak ada orang yang tergeletak tertidur di sana. Sudah lewat tengah hari saat Yoongi dan Hyeki menyusuri gedung Farmasi Q yang tidak dijaga satpam, berusaha mencari petunjuk atau apa pun yang bisa menyelesaikan masalah malapetaka dunia tertidur.

Gotcha!” Hyeki berteriak girang ketika pintu berikutnya yang mereka buka terlihat seperti ruang arsip.

Tanpa membuang waktu, si dokter muda sudah tenggelam dalam banyaknya laporan-laporan yang harus dibaca. Awalnya Yoongi hanya melihat-lihat isi ruangan, lalu mencoba membuka salah satu dokumen di komputer berjudul ASTIR. Sayangnya dokumen itu dilindungi kata kunci. Akhirnya, ia mengambil salah satu laporan dan membaca. Berusaha membuat dirinya sedikit berguna selain sebagai companion dan supir dadakan Hyeki. Entah berapa lama mereka sudah membaca dan akhirnya Yoongi menguap.

“Yoongi!” Hyeki berteriak panik sambil menatapnya horor.

“Hah? Apa? Kenapa?” tanya Yoongi clueless dengan tangan masih tak jauh dari mulut setelah menutup kuapan.

“Itu tadi … kau ….”

“Aku? Apa?”

“Kau menguap!” Hyeki setengah histeris saat mengatakannya.

Barulah Yoongi sadar mengapa Hyeki sangat panik. Ia menguap! Astaga, padahal saat memaksakan diri untuk tidur di asrama, Yoongi sama sekali tidak menguap. Tapi, ia tidak mungkin ikut tertidur, ‘kan? Ia tidak minum vitaminnya, kok! Eh, tunggu dulu …

“Kau minum vitaminnya, ‘kan?” tanya Hyeki cemas. “Mungkin kau memang tidak minum pagi ini. Tapi, kemarin?”

Ah, sial! Sial! Sial! Yoongi benar-benar tidak ingat apakah kemarin dia minum vitamin itu atau tidak. Seokjin menjejalkan dirinya dan bandmates yang lain berbagai vitamin untuk menjaga stamina tubuh selama menjalani jadwal yang padat. Ia tidak tahu apakah vitamin Farmasi Q termasuk atau tidak.

“Pantas kau baru menguap sekarang! Onset GHB dalam tubuhmu pasti lebih lambat.” Hyeki mengerang frustrasi. “Sudah berakhir! Aku tidak akan bisa menyelesaikan ini semua sendirian.”

Tubuh Yoongi bergerak tanpa komando. Ia mencengkram bahu Hyeki, memaksa gadis itu menghadapnya. Ia mengangkat dagu Hyeki tatkala gadis itu menunduk menyembunyikan kekalutan hatinya.

“Hei, I don’t fall asleep yet, so we better hurry and end this,” ujarnya berusaha terdengar positif.

Hyeki mengigit bibir, menahan tangis. “Mereka tidak menciptakan antidote-nya. Mereka bahkan tidak tahu campuran bahan kimia dalam obat mereka menghasilkan GHB. Such stupid scientist!” makinya kesal.

“Pasti ada sesuatu yang bisa memaksa obat itu untuk keluar dari sistem tubuh,” kata Yoongi memancing. “Ayolah, coba pikir, Hye. Aku yakin kau dokter hebat yang bisa mengakhiri malapetaka ini.”

Tapi, Hyeki malah menggeleng dan matanya mulai berkaca-kaca.

Sialnya, Yoongi memilih saat itu untuk menguap lagi.

“Tidak, tidak! Aku baik-baik saja,” elaknya, namun ia mulai merasa dorongan untuk menutup mata.

Stage 1,” bisik Hyeki pelan. “Aku tidak bisa berpikir, Yoon!”

“Bisa! Ayolah!” Yoongi masih mencengkram bahu Hyeki, berusaha berpegangan melawan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Degup jantungnya mulai melambat disertai suhu tubuh yang terus menurun.

Hyeki kelihatannya tahu bahwa Yoongi tidak akan bertahan lebih lama dalam stage 2 dan segera masuk ke deep sleep. Gadis itu meraih tangan Yoongi dan menggenggamnya erat. “Aku belum bilang terima kasih karena sudah menjadi temanku saat malapetaka dunia tidur terjadi,” ucapnya tulus. “Thank, Yoon and sorry, too. I don’t know if I can end this.”

“Berterimakasihlah saat kau berhasil membangunkanku nanti,” balas Yoongi pura-pura galak. Ia akan kalah. “Tetap berjuang, dr. Park Hyeki.”

Yang terakhir Yoongi lihat adalah senyum Hyeki mulai mengembang. Anehnya, itu bukan jenis senyum sedih, namun senyum kemenangan. Lalu gelap mulai menguasai Yoongi dan ia terjatuh dalam deep sleep seperti orang-orang lain.

***

“Sudah kubilang mainan ini berbahaya!”

Samar-samar Yoongi bisa mendengar omelan Seokjin. Ia membuka mata perlahan dan disambut dengan lima kepala yang menatap ke arahnya dengan wajah penasaran.

“Seru tidak?” Jungkook bertanya kelewat bersemangat.

“Apa benar-benar terasa nyata?” Jimin juga ingin tahu.

“Harusnya kau pilih Zombie Apocalypse saja, Hyung. Jangan World Asleep,” komentar Taehyung.

“Ah, berikutnya aku mau coba!” teriak Hoseok mengacungkan jari.

Lalu mereka mulai berdebat memperebutkan giliran yang tidak dipahami Yoongi. Ia menoleh menatap Seokjin dan Namjoon yang kelihatannya tidak terlalu tertarik seperti Hoseok dan maknae line.

“Ada apa ini?” tanya Yoongi, baru menyadari bahwa ia sedang tidur di kasur dengan dikelilingi oleh bandmates-nya

“Lho, kau tidak ingat? Kau baru mencoba permainan virtual reality terbaru, Hyung. Perdana diberikan pada kita untuk uji coba langsung oleh pencipta mainan.” Namjoon menjelaskan.

Soekjin menggeleng-geleng prihatin. “Dasar mainan anak zaman sekarang! Main game saja bisa dilakukan sambil tidur.”

Namjoon terkekeh. “Seokjin Hyung tidak suka karena kau tidur terlalu lama gara-gara game. Kurasa kau masih tidak akan bangun kalau Seokjin Hyung tidak melepas mainan itu dari tubuhmu.”

Sesaat, Yoongi terdiam. Jadi … semua yang dialaminya tidak nyata? Hanya sebuah skenario khayalan dalam mesin virtual reality. Jantungnya serasa jatuh ke perut saat mengingat Hyeki yang setengah histeris. Apakah gadis itu juga tidak nyata?

Mainan yang dimaksud Namjoon adalah benda persegi panjang dengan kabel-kabel yang bisa ditempelkan di pelipis. Berbagai skenario petualangan pilihan tersedia di dalamnya. Pada badan benda itu ada tulisan ASTIR serta logo huruf Q dalam lingkaran yang familiar.

Yoongi tersentak, baru sadar bahwa itu kata yang sama tertulis pada dokumen yang ada di gedung farmasi dalam permainan. ASTIR. Oh, senyum itu …

“Kau tahu siapa pencipta permainan ini?” Yoongi bertanya lagi pada Namjoon.

“Tentu saja,” sahutnya malah tersenyum sendiri dan terdengar bangga. “Si jenius muda, Dr. Park Hyeki. Ngomong-ngomong katanya dia penggemarku.”

-Fin.-

 

an. Pernah diterbitkan di Wattpad melalui akun qi-eLdorado.

Advertisements

9 thoughts on “Astir

  1. LDS says:

    Endingnya koplak yawla
    Halo ini kak Kiki bukan hehe
    Ceritanya unik sih tapi sequence of eventnya agak gimana gitu, terus tadi ada bbrp tanda baca yg kelewatan. Kocak sih tapi yg bagian akhirnya lah ternyata main games? Mbak2 pencipta gamesnya kyknya otaku bgt bisa sampe pake games buat ndeketin anak2 bangtan
    Keep writing anyways 🙂

    Like

    • qL^^ says:

      Iyaa lii, ini Kiki hahaha. Agak lompat-lompat ya? Sebenarnya ini fiksi lama buat event sesuatu yang membatasi jumlah wordsnya makanya kesannya agak keburu-buru. Thanks yaa udah baca 😘😘

      Like

  2. cherryelf says:

    Jangan bilang nama koreanya kak kiki hyeki. Hahahha
    Mungkn bagian thril nya kurang panjang dikit, kak. Kurang tantangan dikit. Tp ide ceritanya keceh badai. Kirain semesta sepakat ngerjain yoongi loh wkwkwk trus bagian hyeki senyum diending, kupikir yg buat ramuan tidur itu dia.
    btw tiap yoongi dipanggil tukang tidur, aku merasa ikut tertampar. Bedanya yoongi, tukang tidur yg produktif, aku non-produktif LOL

    Like

    • qL^^ says:

      Wkwkwk kan ku jadi malu ketauan 🙈 hehe iyaa nanti diperbaiki ya soalnya tadinya bakal kepanjangan so banyak aku cut di sana sini. Makasih udah baca 😘😘

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s