Ponselku Terlalu Canggih

by Primrose Deen

© 2017

Pics by Pricilla Du Preez and Deep Dark Fears

Tahu begini, lebih baik aku meminta ponsel yang hanya menawarkan permainan Snake, Bounce, Sudoku, atau Pinball saja.

Aku jelas berbohong apabila aku mengatakan bahwa aku tidak takut berada di rumah sendirian, apa lagi kala malam telah bertandang. Semua hal bisa menjadi alasan untuk ditakuti; perampok, penculik, pembunuh berantai, dan makhluk tak kasat mata sialan itu—oh, sungguh, aku bahkan malas sekali untuk menyebutkannya.

Tidak mampu kupungkiri bahwa paranoid itu jelas ada, kendati aku telah berusaha menjejalkannya di dasar kotak penyimpanan memori di kepalaku. Alhasil, berbagai pikiran buruk melintas; bagaimana jika para penjahat itu tahu bahwa seorang anak kecil sedang ditinggal di rumah sendirian lantaran kedua orangtuanya harus bekerja? Lalu mereka akan datang malam ini dengan kantung-kantung besar yang telah dikosongkan, bersiap menguras harta benda di rumah ini sambil menyeringai penuh kemenangan. Atau mereka akan datang dengan membawa tali dadung, lalu mengikat tangan dan kakiku, serta menutup mulutku, agar dapat membawaku sejauh mungkin dan meminta uang tebusan. Mungkin saja di kaus kaki mereka terselip sebilah pisau untuk ditodongkan, apabila aku mencoba untuk menjadi kerikil dalam aksi mereka.

Aku tidak berharap akan ada seorang sanak saudara yang bersedia datang dari seberang samudera untuk menjagaku selama semalam—seluruh keluargaku berada di Asia, sedangkan aku ada di Australia. Pun aku tidak bisa dengan tenang memercayakan diriku dijaga oleh tetanggaku. Siapa yang tahu jika ternyata mereka adalah penjahatnya? Aku tidak tahu apakah hal tersebut benar-benar dapat terjadi atau aku yang terlalu sering menonton Home Alone.

Akhirnya, aku harus puas menghabiskan malamku yang terasa sangat panjang itu dengan menonton televisi yang entah menayangkan acara apa pun—asalkan bukan tentang kriminalitas dan horor—sampai kantuk mengambil alih kesadaranku. Jika aku beruntung, pukul 11 malam aku sudah tidak mengingat apa pun. Tapi, jika perasaan waswasku sedang menjadi-jadi, aku baru tidak mengingat apa pun lagi sekitar pukul tiga pagi.

Aku benci gemerisik angin di malam hari, apa lagi jika ranting-ranting pohon dan semak-semak itu saling bergesekan. Membuatku semakin sulit mengundang rasa kantukku. Belum lagi jika muncul perasaan sok-sokan-melihat-sekelebat-bayangan-hitam di pintu yang menghubungkan ruang tengah dan ruang tamu. Habislah aku.

“Kau terlalu banyak berimajinasi, Will. Alih-alih menonton Home Alone, sepertinya kau harus mulai menonton Baby’s Day Out saja,” komentar Dad seraya menyeringai setelah mendengarkan curahan hati seorang anak berusia sepuluh tahun ini. “Come on, mau sampai kapan kau seperti ini?”

“Mom dan Dad lebih sering mendapat shift berjaga malam di rumah sakit, Will. Jadi, mulai sekarang, kau harus memilih; tetap tinggal sendirian atau biarkan Watson menjagamu.”

“Tentu saja lebih baik aku di rumah sendiri. Watson adalah mantan tentara. Dia pasti ahli menembak anak ingusan sepertiku dengan mata tertutup,” timpalku, bergidik ngeri.

Mom terbahak. “Kenapa Watson harus menembakmu, wahai anak ingusan?”

“Lalu kami harus melakukan apa agar kau tidak lagi merasa waswas?” Dad akhirnya menangkap sinyal yang sudah cukup lama kupancarkan.

Aku menepuk permukaan meja makan dengan girang. “Itu, dia, Dad! Kenapa tidak bertanya dari dulu?”

Dad dan Mom saling melempar pandangan, merasa bingung sembari menahan rasa geli yang menggelitik perut mereka.

“Memangnya kau mau apa, ha?” Dad bertanya dengan mulut penuh gigitan roti lapis.

“Ponsel. Aku ingin ponsel pintar seperti milik teman-temanku yang bisa mendeteksi perintah suara.”

“Baiklah, Dad akan membelikannya. Tapi, jangan takut lagi di rumah sendiri. Oke?”

Aku siap untuk malam ini; sudah pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi, sudah berganti piyama, sudah menutup semua pintu dan jendela, dan yang terpenting adalah aku sudah mengisi penuh daya baterai ponselku. Jika aku mampu mendengar suara batinku sendiri, mungkin sekarang aku sedang mendengarkan tawaku yang membahana. Meski sesekali perasaan sok-sokan-melihat-sekelebat-bayangan-hitam itu datang lagi, kini aku lebih mampu untuk tidak mengacuhkannya.

Ponsel ini baru dibelikan oleh Dad tadi siang. Jadi aku belum terlalu familier dengan seluruh fitur canggih yang ditawarkan oleh ponsel ini. Selain mengambil gambar dengan ketajaman tinggi dan kejernihan suara yang dihasilkan ketika memutar musik, aku belum mahir mengoperasikan sisanya. Seperti orang pada umumnya yang berusaha mengenal barang baru miliknya, aku menyentuh di sana-sini untuk menjelajahi ponsel ini. Tiba-tiba saja aku tidak sengaja menekan tombol untuk mengaktifkan fitur pencari suara. Layar ponselku menunjukkan gambar mikrofon yang sedang berkedip-kedip untuk mendeteksi suara di sekitarku. Tampaknya ponselku telah selesai memindai suara. Apa yang selanjutnya tertera pada ponselku membuatku memutuskan untuk melemparnya ke sofa yang ada di seberang tempat tidur dan tidak menyentuhnya sampai pagi.

Sialan. Ponsel sialan.

Tahu begini, lebih baik aku meminta ponsel yang hanya menawarkan permainan Snake, Bounce, Sudoku, atau Pinball saja.

Dan benar saja, sesuai dugaanku, hasil pindaian suara oleh ponsel itu terus memutar di kepalaku; “Why can’t you see me?”

 

InShot_20171012_223013940

 

end.

Advertisements

11 thoughts on “Ponselku Terlalu Canggih

  1. LDS says:

    ARIIIIII KUKESAL
    UNTUNG SIANG YA ALLAH UNTUNG SIAAANG
    eh btw aku gak pernah Nemu horror beginian lho. Kok serem yaa
    Sepertinya elemen horor yg terpenting adalah tidak pernah mengenali model ceritanya. Kalo misalnya udh kenal kan jadinya kyk ketebak gitu.
    Bagus, Keep writing!

    Like

    • Primrose Deen says:

      Maaf baru bales, Lianaaa!
      Yah sayang banget bacanya siang-siang. 😦
      Iya, kadang yang tiba-tiba horor malah bikin lebih kaget padahal ga horor-horor amat. Semacem gambar setan yang tiba-tiba muncul di Instagram story-nya temen. kzl.
      Anw, thank youuu, Liana! ❤️

      Like

  2. kidokei says:

    halo, aku refi 00line yang lagi iseng mampir ws terus akhirnya baca ini waduh untung bacanya pagi nih soalnya serem jg kalau malem :3
    jadi kudu ngati ati nih kalo malem jangan sampe kepencet fitur pencarian suara hihihi.

    keren! keep writing!
    dan salam kenal yah hehehehe x)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s