Satu Menuju Dua Menuju Satu [4]

a ficlet-mix by LDS

Kamu ditambah dia tidak serta-merta menjadi kalian yang sekarang.

***

Seorang kekasih tidak lebih dari pengerucut visi. Ini takhayul lawas yang kamu enggan mendebat; selain buang-buang waktu, kacamata masyarakatmu telah dikaburkan preferensi pribadi.

Dia, preferensi pribadimu, justru menjernihkan ketimbang memburamkan.

Lugu, berpikir sederhana, tetapi sekalinya mendengar berita cepat sekali mencari sumber terpercayanya. Tidak dia biarkan kamu berbelok sesuai maksud jahat orang. Klarifikasi! Klarifikasi! Kamu harus selalu skeptis jika menghadapi suatu perkara supaya tindakanmu tidak menyerang banyak pihak. Membebaskan lapang pandangmu dari sekat asumsi artinya memahami lebih banyak pertimbangan. Sama sepertinya. Kelembutannya tidak mengizinkan siapa pun berduka akibat sikapnya.

Jika apa yang orang-orangmu lakukan hanya sebatas melihat, kamu dan dia menerjemahkan. Menerawang sebuah fenomena. Memprediksi peristiwa di linimasa. Bingkai bulat tidak boleh memenjara netra dalam dimensi panjang kali lebar.

Sebelum saling menemukan, kamu tinggal dalam persegi dan dia dalam jajar genjang. Setelah menggabungkan rusuk dan melekatkan sisi, hidup kalian menjelma menjadi sebuah poligon beribu sudut.


Jiwamu terkurung berabad-abad dalam kotak kaca, sementara dia ada di luar dengan ujung jemari menempel pada sisi balok yang mengelilingimu. Sekat bening di antara kalian tercoreng rasa istimewa, keberadaan kalian memancing keingintahuan satu sama lain. Kamu berdebar menanti keputusannya selagi dia menimbang-nimbang. Superegonya menolak merusak batas ruang yang entah punya siapa, lain hal dengan id yang tidak sabar untuk memecah penghalang dan merangsek masuk.

Menggunakan bagian dalam kepalan tangan, dia mulai mengetuk-ngetuk kotakmu. Kamu gelagapan, tak tahu harus membalas bagaimana. Ketukannya mengeras. Kamu mundur ketakutan, makin tidak paham. Genggamannya berputar, buku-buku jarinya kini menghantam bertubi lapisan transparan di hadapan, rahangnya terkatup rapat. Marahkah dia? Tautan alis, peluh di pelipis, gemeletuk gigi, dan ungkapan geramnya ketika meninju membuatmu mengerut. Apakah dia frustrasi karena tidak bisa meraihmu?

Serpihan kecil-kecil tajam rontok di sudut yang berseberangan denganmu. Kamu meringkuk melindungi diri sekalian menutup mata dari deritanya. Kulit penutup tonjolan tulang pada bogemnya sudah terkelupas di sana-sini, darahnya menodai penjaramu yang tanpa jeruji, tetapi kamu lantas sadar bahwa duniamu telah berlubang meski tak rapi.

Membesar. Membesar.

Hingga telapaknya benar-benar terulur ke arahmu, di tengah kalian cuma ada engahan napasnya. Isi setiap pembuluhmu berdeburan layaknya laut tatkala ia melengkungkan senyum yang masih terwarna kecemasan.

β€œMaaf menakutkanmu. Apa kamu terluka?”

Kamu menerima tangannya dengan hati-hati setelah menggeleng lemah. Kakimu terlalu gemetar untuk berdiri, tetapi dia merengkuh pundakmu dan mendekatkan wajahmu padanya.

Setelah sekian lama, kamu menemukan permukaan mengilap yang lebih indah dari kaca: tatapannya.


Daripada memberi keteduhan, bagi kalian asmara itu menghanguskan. Kecantikanmu membakar hasratnya, sementara undangannya menyalakanmu. Tidak ada bara, api itu langsung besar begitu disulut oleh kalian, reranting kering tanpa masa depan. Menarilah berdua di dalamnya sampai lupa segala. Abaikanlah dunia yang remang dan gersang. Selamanya bakar, bakar, bakar.

Pada akhirnya, api itu sendiri tertelan oleh api. Kata-kata dalam surat cinta yang menggoda, dilahaplah oleh kecemburuan. Matanya yang menyaksikan liukan api lain. Hidungmu termanjakan napas beraroma sigaret yang tidak diembuskan olehnya. Sari anggur bercampur dengan wangi wanita asing. Ada nyala yang tersembunyi tak rapi, menggerogoti perabotan, berkeratak mengunyah kayu, mengunyahnya, mengunyahmu. Abu, abu, abu.

Di bawah langit senja, kalian tidak bisa lagi berdiang. Dingin memaksa kalian saling menyalahkan. Hati sekeras batu berbenturan permukaan, intens tanpa ada yang mampu menghentikan. Tak pernah kulitnya menyentuhmu selembut dahulu, demikian pula kata-katamu yang tidak mengenang lagi bagaimana cara memujanya. Sakit, sakit, sakit. Rona nyeri dan lebam bisu sekaligus menjerit.

Satu percik, dua percik. Daun-daun keropos jadi santapan bunga cahaya dari sepasang hati sekeras batu, lantas merambat ke seluruh pohon meranggas. Luas, luas, luas. Di atas tubuhnya kamu rebah, asap hangat membalut lelah, pada jantungnya yang meletup-letup oleh darah kamu berbisik pasrah.

β€œSial, aku jatuh cinta untuk kali kedua.”

Bakar, bakar, bakar.


[4-TAMAT]

Advertisements

10 thoughts on “Satu Menuju Dua Menuju Satu [4]

  1. cherryelf says:

    Tsadeeeees πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘
    Makin ke bawah makin sakiiit aw waww. Diksinya πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘
    Empat, kirain bakal ada 4 flashfic lho hehehe

    Like

  2. Cake Alleb says:

    WOW KAK LIANA WOW. Wow daebak heol bahkan kak liana menyempilkan ilmu psikologi tentang superego dan id wow wow wow. Ini sungguh mempesona heuheu aku beneran suka ketiganya semua. Apalagi yang terakhir itu … aduh jatuh cinta lagi aduh wkwkwkwkw jangan lah jangan, mending kayak yang pertama aja hubungannya saling berbagi research kebenaran tentang fenomena ((lha ini aku malah ngomong apa)).

    Daebak kak lianaaaa keep writing yaa semangaaat! ^^

    Like

    • LDS says:

      bells ❀ kutak menyangka kamu datang lagi ahai kuterharu, kita lama tidak bertukar komen apa karena aku kelewatan mampir ke tempatmu huhu maaf ;-;
      makasih udah baca dan suka yaaa

      Like

  3. Fafa Sasazaki says:

    Li, kubaru tau ada yg keempat ini.
    Pleaseee, diksinya bikin aku pengen nyungsep ke tanah.
    Suka lah pokoknya.
    Dan kenapa itu ada TAMAT di akhirnya?? Ditunggu series lainnya Li

    Like

    • LDS says:

      iya kaaaak sorry for the very late reply astaga udah satu bulan T.T ini lagi semangat2nya njajal diksi baru sekarang udah kering lagi aja T.T makasih udah baca ya kak!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s