Once Upon A Day in December

2017 © slmnabil

Sebab setiap tempat mempunyai kisahnya.

Tentang seseorang, yang ketika ia melintas, orang-orang enggan bertemu pandang dengannya. Ujung kaus anak-anak yang tengah bermain seluncuran ditarik kembali ke rumah. Tetangga-tetangga pengintip menutup gorden. Pintu-pintu dibanting, gerendel dipasangi. Suara iklan sabun cuci diredam, pembicaraan dihentikan sejemang. Seluruh kota seakan disunyi senyapkan.

Sebab setiap tempat mempunyai kisahnya.

Tentang rumah yang selalu dihindari kendati masih berpenghuni. Melihat lampu dapurnya menyala tengah malam, menduga bukan lantaran ia kelaparan. Membersihkan seluruh area rumah, pikirnya ia menghilangkan jejak kejahatan. Membuat orang-orang rela mengambil jalan memutar dan ketinggalan bus di perhentian.

Sebab setiap tempat mempunyai kisahnya, dan bagi kami sang tokoh sentral adalah Donald Rutger.

Tuan Rutger adalah lelaki tua pengisap cerutu yang tinggal di ujung jalan, di samping bangunan yang dahulunya gereja, yang keberadaannya seakan untuk menakut-nakuti calon penghuni agar mengurungkan niat dan angkat kaki cepat-cepat. Ia bebas dari penjara beberapa bulan yang lalu, namun kendati hukum sudah mengampuni kesalahannya, para sesama penghuni nampaknya tidak demikian. Sebab ketika mereka membenci kejahatannya, mereka takut pada pelakunya.

Kendati begitu, Tuan Rutger menjalani kehidupannya selayaknya yang ia lakukan dahulu. Berkebun hingga tengah hari, mengendarai truk tuanya ke kota untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok, lalu kembali ke rumah dan tidak ke luar lagi sampai matahari mencarak keesokan harinya. Sepertinya banyak kegiatan menarik yang bisa dilakukan dalam rumah Tuan Rutger, namun tak ada yang bisa memastikannya. Tidak, kecuali Nyonya Rutger yang meninggal beberapa tahun silam.

 

Selain jam beker dan bunyi kokok ayam, adalah teriakan Nyonya Arroway yang mampu membuat tetangga di samping kediamannya menyalakan lampu tidur menjelang terbitnya fajar. Kalau tidak membentak suaminya yang mendengkur terlalu keras, ia mengumpati kehidupannya yang tak kunjung memulih setelah Tuan Arroway diputus hubungan kerjanya.

Setiap harinya Nyonya Arroway mencuci dengan mesin cuci yang nyaris rusak, mengeluarkan botol minum dari lemari pendingin yang tidak dicolokkan karena tagihan listrik yang membengkak, dan harus rela bepergian dengan sepeda lantaran mobil mereka sudah dijual beberapa bulan yang lalu untuk biaya sang anak masuk ke sekolah.

Bagi Nyonya Arroway, hidupnya tidak bisa lebih merana lagi dari ininiscaya ia akan menggantung dirinya apabila membeli panganan pokok saja kesulitan. Jika ada yang bisa disalahkan dari kesialannya, sang suami adalah orangnya.

Semua penghuni jalan nomor sembilan belas mengetahuinya. Mengenai piring-piring yang dibanting, umpatan-umpatan yang membuat telinga pekak, tangisan Adelaide yang malang.

O, gadis manis Adelaide.

Jika Adelaide mengetuk pintu rumah, jangan berpikir dua kali untuk menjamunya dengan secangkir kokoa dan gula-gula. Namun, apabila memiliki niat menyapa salah satu dari sepasang suami istri, sebaiknya jangan. Hanya raut masam dan senyum kecut yang membayang yang mungkin diterima sebagai respons.

 

Bagi sebagian orang musim dingin artinya gelas-gelas teh hangat dan kue-kue jahe. Bagi sebagian lainnya adalah periode petaka dengan pemanas ruangan yang tidak bisa dinyalakan. Kasihan Adelaide dan boneka beruangnya, juga Tuan Arroway yang harus menelan makan malam dingin ditemani gerutuan istrinya mengenai bagaimana lelaki itu seharusnya hidup.

“Uang,” diktenya, “hidup ini segala sesuatunya tentang uang. Dan kau masih bisa menelan makanan saat Addy menggigil di kamarnya. Lakukan sesuatu. Mencuri, meminjam uang, bobol penyimpanan uang, apa pun!”

“Apa pun?” Suara rendah serak Tuan Arroway terdengar samar. Senyum setengah membayang di bibirnya, membawa serta kerutan-kerutan kasar di wajahnya. “Aku mungkin tidak bisa melakukan sesuatu pada pemanasnya … atau Addy,” ia memainkan sisa makanan dengan garpunya, “tapi tentu aku bisa melakukan sesuatu padamu.”

 

Fajar menjelang saat jari-jari kaki Adelaide kecil berjingkat menuruni tangga. Di tangan kanannya, ia memeluk boneka yang dikepang dua pemberian ayahnya di ulang tahun ketiga. Kakinya menapak di anak tangga terakhir saat matanya mendapatkan akses untuk melihat secuil dari gambaran keadaan di ruang teve. Tuan Arroway, dengan janggut tercukur bersih, tengah menyeruput kopi paginya ditemani tontonan tak jernih di televisi.

Adelaide kecil mengambil langkah menuju dapur, memeriksa ada tidaknya sang ibu di sana.

“Mommy?” panggilnya.

“Addy?” Tuan Arroway muncul di ambang pintu.

“Daddy, di mana Mommy?”

Tuan Arroway merentangkan tangannya. “Kemarilah.”

Lantas dituntunnya jemari mungil Adelaide menuju ruang teve. Tuan Arroway menarik kursi ke depan jendela yang menampilkan lanskap serba putih di luar yang tebalnya kira-kira lima belas inci.

“Daddy, kenapa kita duduk di sini?”

“Kita menunggu.”

“Menunggu Mommy?”

“Ya, Mommy dan paman pengendara truk pengeruk salju.” Pandangan Tuan Arroway berkilat, disisipi luka, namun terbalut dengan kebencian. “Oh, itu mereka.”

Awalnya yang Adelaide lihat hanyalah truk pengeruk salju yang datang dari persimpangan di ujung kiri, pandangannya stagnan lantas mengikuti arah truk itu pergi. Beberapa meter sebelum melintas di depan rumahnya, Adelaide mengalihkan pandangan sekejap.

“Terus melihat, Addy.”

Jadi Adelaide melihat, memerhatikan, lalu meloloskan pekikan nyaring dari mulut kecilnya. Senyaring itu, sebab Tuan Arroway memegangi sisi kanan dan kiri kepalanya agar sang gadis kecil terus melihat. Adelaide meronta, meloloskan lebih banyak pekikan, lalu menangis histeris, melihat truk itu pergi seiring melukiskan noda merah di sepanjang jalan.

“Nah, sudah melihat Mommy sekarang?”

Ketukan tiga kali di pintu mengalihkan sepenuhnya atensi Tuan Arroway. Ia meninggalkan Adelaide yang malang dan bergegas membukakan pintu. Figur gempal agak menunduk memenuhi pandangannya seketika.

“Kurasa, tidak berlebihan bila aku minta dijamu dengan secangkir kopi.”

“Setelah semua yang kau lakukan? Tentu tidak, Tuan Rutger.”


kata nabil:

  • Tulisan pertama sejak, berapa lama ya, lima bulan lalu kalau ngga salah itung. Wah, lama juga ya. Kangen ngga? Kangen dong 😉
Advertisements

2 thoughts on “Once Upon A Day in December

  1. jungsangneul says:

    NABIIIIL HAAIIIII rindu deh tulisan dengan nuansa novel terjemahan gini hahaha.
    Tapi, awalnya aku agak bingung antara pergantian paragraf deskriptif tentang Tuan Rutger ke paragraf narasi cerita tentang Tuan Arroway.

    Tapi akhirnya nyambung sih. Cuma agak kurang smooth pergantiannya—menurutku aja kali ya? Tapi tetep suka penggunaan diksi dan setiap narasi di cerita ini. Loved banget!! Tetep semangat nulis yaaa. ♥

    Liked by 1 person

    • slmnabil says:

      NISWAKUH CEESKUH kita lumayan sering ngobrol di line tapi kita sudah lama ya tidak ngobrol di kolom komentar wordpress. Nabil setengah kangen wkwk setengahnya lagi sudah terbayar di chat HAHAHAHA

      Makasiih niswa udah bacaa dan ngasih saran, nabil juga kangen sama tulisan kamu. Nanti nabil ke tulisan-tulisanmu ya, luv :)))))))

      Like

Leave a Reply to jungsangneul Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s