A Nonrepresentative Intern’s View on Death Cases

by LDS

“Mata boleh melihat, tetapi hati kan tidak punya retina.”

***

Tidak, ada keranda!

“Ya Allah, ayo, ayo, mlebu menjero[1]!”

Sebagai perempuan kuno yang seporsi hidupnya berpondasikan takhayul, ibuku percaya bahwa bayi tidak boleh digendong di halaman ketika iring-iringan jenazah melintasi jalan kampung, bahkan ketika tahlil baru terdengar sayup-sayup dari gang seberang. Waktu itu, aku belum genap setahun, jadi tidak mengerti mengapa Ibu menutup telingaku, menyembunyikan kepalaku dalam dekapnya, dan buru-buru masuk rumah serta mengunci pintu. Kepercayaan di desa kelahiranku menyebut soal kerentanan bayi yang ‘terpapar’ roh halus, termasuk yang masih bau daun bidara. Konon, situasi ini akan membuat anak gampang sawan, atau sekadar bertubuh lemah, saat dewasa kelak.

Bagiku yang masih bocah, kematian bagai momok yang ada di mana-mana, tetapi harus dihindari bagaimana pun caranya. Ayah dan Ibu menjagaku dengan baik, sehingga gadis kecil mereka ini tidak pernah berenang di sungai seperti teman-temannya atau menantang ombak pantai waktu rekreasi sekolah. Menggunakan kata-kata jahat terkait kematian, misalnya ‘bunuh’, amat dilarang pula oleh kedua orang tuaku. “Itu ucapan orang besar,” dalih mereka, merujuk pada orang yang cukup umur, dan aku tidak melawan karena yakin diriku memang salah. Anak-anak cuma boleh tahu bermain, belajar, dan berbakti pada orang tua, lain tidak.

Namun, suatu hari, kakekku meninggal. Keranda yang selama ini dijauhkan dariku berada di depan mata dan aku menangis kencang tiada henti di tengah salat jenazah. Entah apa yang terbersit di benakku kala itu, tetapi biar kutebak: sebuah ketakutan terkondisi? Sepertinya aku bisa menyalahkan Ayah-Ibu yang menanamkan betapa mengerikan sebuah kematian—dan itu Kakek, keluargaku sendiri, dikafani!

Demam menyerangku seminggu penuh sepulang dari pemakaman.

***

Astaga.

Aku, mahasiswa kedokteran semester empat, sedang menyuapi Ibu ketika pendorong keranda melewati zaal kelas tiga. Siapakah yang meninggal? Mengapa kerandanya kecil begitu? Spontan mengucap istirja’, tanpa sadar pelupuk mataku tergenang lagi. Ibu dirawat akibat stroke dan aku sudah kebanjiran dengan menjijikkannya nyaris setiap jam lantaran khawatir Ibu dijemput Izrail (padahal stroke tipe trombosis yang diderita Ibu mirip pilek saja kalau dibandingkan tipe perdarahan); bagaimana perasaan mereka-mereka yang keluarganya sudah tak bernyawa? Dalam bangsal yang dibagi, refleks mental halusku terasah tanpa sengaja dan aku mulai belajar bersedih untuk orang-orang yang tidak terkait denganku. Malignansi sebelah kanan. Gagal ginjal dan bed-ridden sebelah kiri. Aku memencetkan tombol perawat untuk mereka jika kebetulan para penunggu pasien tertidur dan mereka mengerang ingin buang air.

Keluarga anak barusan—ya, tadi jenazah anak, karenanya kerandanya mini—bukan pengecualian.

Mulut ibuku tidak merot lagi di hari kedua perawatan, bicaranya pun mulai jelas, jadi aku ingat betul beliau meruntuhkan sisi gelap kematian yang dibangunnya dalam kepalaku.

Wis wayahe, Mbak. Mesakne[2], kalau masih hidup malah capek nanti adiknya.”

Benar juga. Kematian layaknya bel istirahat tanpa jeda. Sebesar itu, aku senang bukan kepalang bila dosen mengakhiri kuliah sebab aku bisa mengikuti teman sekelas, menghambur menuju kantin. Nah, bukankah hebat jika seseorang memperoleh rehat panjang dari kehidupan yang melelahkan?

Dipikir-pikir, mati itu rasanya bagaimana? Bebas utang, tidak dicemooh teman, bercerai dengan segala jatuh tempo—wah! Pasti membahagiakan andai aku juga bisa bebas dari segala macam tugas problem-based learning, mengurus mentoring jurusan, menggarap laporan administrasi lembaga kampus, mengingatkan Ayah buat berhenti merokok ….

Tunggu. Kalau aku mati, terus siapa yang merawat Ibu? Dosaku berat tidak di timbangan? Sebentar, jangan jauh-jauh; alam barzakh bakal bersahabat denganku, memangnya?

Tidak jadi ingin mati, deh.

***

“Cha, pasien yang di Ruang 13 sudah meninggal. Mintol bawain buku death case residen dari kaber bisakah? Makasih, ya.”

Bohong, tolong katakan itu tidak sungguhan.

September 2016, aku ditugaskan di Departemen Obstetri Ginekologi dan pasien jagaku malam itu seorang wanita 32 tahun, hamil 32 minggu, pasca operasi apendisitis yang opname di bangsal bedah, Ruang 13. Kesadarannya utuh saat dikonsultasikan Departemen Bedah pada kami. Ia masih bertanya ini dan itu padaku sebelum aku bertukar tugas observasi dengan rekan satu shift jaga. Izin sebentar untuk salat isya dan makan malam, aku masih berharap ibu yang sedang menanti anak pertamanya itu stabil sampai nanti. Residen obstetri sepakat bahwa pasien ini baik prognosisnya, walau tak lupa menyampaikan risiko perburukan post-op. Keluarganya tampak lega, aku ikut lega, dan mi instan kantin rumah sakit yang masuk ke perutku jadi terasa sedikit nikmat.

Panggilan dari temanku tadi melibas optimismeku seketika.

Sepanjang jalan dari bangsal bedah ke kamar bersalin, aku membuat enek rekanku, mengoceh segala yang kurang perlu tentang kondisi pasien gravida[3] barusan. Beruntung, dia lihai berpura-pura sabar dan memasang wajah pengertian, jadi masih sanggup bersikap menyenangkan sampai kami kembali ke kamar bersalin yang kosong. Aku duduk di bangku observasi dokter muda dengan kepala tertelungkup.

“Sudahlah, Cha, bukan salahmu, kok. Takdir, itu, takdir. Nggak usah dipikir.”

Ya, takdir, tetapi ibu tadi tidak bisa melihat putranya, putranya tidak bisa melihat dunia, dan mungkin suaminya tidak bisa melihat kebahagiaan gara-gara kematian tak terduga yang menyalahi prediksi dokter muda kurang pengalaman sepertiku.

Jaga di Departemen Obstetri Ginekologi bukan yang paling meremukkan badan, tetapi potensial meremukkan batin.

Itu kali terakhir aku ingat bersedih atas sebuah kematian.

***

Setiap menuju instalasi gawat darurat, aku harus melewati ruang di mana almarhum-almarhumah dari ruang emergensi disinggahkan sementara sebelum dijemput karyawan forensik untuk penyelenggaraan jenazah. Pagi itu, pukul enam, aku—dokter muda senior Departemen Penyakit Dalam—menemukan brankar di sana. Ada gundukan di atasnya, tertutup kain batik lebar, dan seorang perempuan tua becek pipinya, berdiri di sisi brankar tersebut.

Waktu itu, aku telah jauh lebih kering dibanding gadis malang penanggung jawab pasien hamil beberapa bulan sebelumnya. Menguap aku, mengantuk karena dipaksa bangun pagi oleh jadwal stase yang sialan, lantas berbelok ke ruang hijau pekat bunyi: infus pump norepinefrin yang habis isinya, irama mesin defibrilator yang pagi-pagi sudah diaktifkan untuk ‘main sinetron’, dan monitor-monitor yang terus meneriakkan rekaman bungee jumping tanda vital. Ramai betul macam pasar, bikin suntuk saja. Stase hari ini bakal banyak operan, nih.

Kontras denganku, dokter muda berbaju hijau lemper bermuka kucel kurang tidur langsung cerah mendapatkanku di ambang ruang gawat.

“Icha, ayo, operan! Aku mau mandi!”

Bagus, bagus sekali. Pasien yang dialihkan kepadaku semuanya kritis: leukemia myelositik kronik dengan perdarahan otak, dengue shock syndrome, dan sindroma distres pernapasan akut akibat Pneumocystis carinii pneumonia yang menumpangi AIDS. Dua dokter muda Penyakit Dalam yang stase emergensi hari itu bergantian memijat jantung, tidak berpindah sama sekali dari prioritas satu hingga ketiga pasien menemui ajal.

Aku sudah lama muak dengan muslihat ini. Entah mengapa, setiap aku terlibat dalam kegiatan resusitasi, aku tidak pernah berhasil mengembalikan kondisi sirkulasi spontan para pasien, padahal teknik pijat jantungku sudah berkembang lebih baik dari kali pertama bertugas di emergensi. Sungkup oksigen kusegel rapat menggunakan jari setiap memberikan napas bantuan. Obat-obatan penyokong kumasukkan pula sesuai dosis. Sayang, kondisi pasien ketika datang biasanya sangat buruk, kecil peluang selamatnya kata residen, lalu buat apa keluarga pasien berkaca-kaca, memandang kami seolah hidup orang terkasih mereka bisa kami kembalikan?

Pelakon sandiwara harus pandai menipu. Sehari-harinya, itulah yang kurasa sedang kulakukan, atau mungkin aku cuma terlalu bodoh untuk bisa menyelamatkan satu nyawa.

Rotasi klinik mendekati akhir. Si pandir ini mulai tertawa dalam hati jika ada pasien kritis meninggal.

Satu tugas observasi berkurang.

Perdarahan epidural. Sepsis karena peritonitis. Kanker serviks metastasis ke hepar. Enterokolitis nekrotikans. Infark myokard akut. Meningoensefalitis tuberkulosa. Besok apa lagi?

***

Minggu ini, kita melayat, yuk.

Satu hari di stase psikiatri, sebuah pertemuan menamparku. Sahabatku semasa SMA, pegawai perusahaan di Jepang sana yang mengajakku ke car free day pada libur pertengahan rotasi klinik, tahu-tahu muncul sebagai pasien gangguan bipolar II episode kini depresif. Berlawanan dengan pesan-pesan singkatnya yang hangat di ruang obrolan, ia saat itu tidak menatapku sama sekali, hanya menjawab malas-malasan pertanyaan psikiater pengampuku dan mengiyakan apa-apa saja yang disarankan padanya. Nyeri dadaku mengetahui fakta bahwa temanku sudah beberapa kali keluar masuk bangsal kejiwaan rumah sakit tempatku magang. Malam itu, aku—meskipun mengantuk habis jaga—nekat mengaliri ruang obrolannya dengan ajakan bertemu. Tidak kusinggung penyakitnya sama sekali, berani sumpah tersambar petir.

Dia tidak merespons.

Aku panik, mual, dan tidak bisa tidur sekitar lima hari.

Hari keenam, grup obrolan kelas tiga SMA yang tak pernah kubuka mendadak menampilkan notifikasi-notifikasi bernada obituari—nama kawanku tertera di sana. Dia bunuh diri, jasadnya tergantung pada tali di langit-langit kamar. Teman-temanku tak tahu jelas mengapa, tetapi diagnosis supervisor psikiatri tempo hari belum kulupakan. Aku tergelak, muntah-muntah, ketiduran pada jam stase, hingga terpaksa bertukar jaga karena aku tidak dapat memeriksa pasien sambil tersedu. ‘Melayat’ tidak pernah masuk jadwalku, takut nanti aku disapa arwahnya yang kesepian dan bau daun bidara.

Dua minggu kemudian, usai lulus Departemen Psikiatri dengan nilai pas-pasan, kulempar kunci gembok memori tentang almarhumah sahabatku ke dasar jurang kekecewaan. Lapang pandangku sempit, berdinding ilmu medis, nilai-nilai konvensional dari keluargaku, dan pilar beton agama yang pincang. Apa sedosis fluoksetin tidak membantu? Apa psikiaterku tidak melakukan psikoanalisis mendalam dan membangun hubungan baik dengannya? Apa dia tidak takut dihukum Tuhan di neraka, yang mana pun Tuhannya? Apa tidak ada alasan yang lebih cantik untuk bunuh diri selain depresi?

Tentu saja, aku mengunci bibir selagi warganet—dalam hal ini kawan-kawanku—berperang soal ketahanan mental dan kerapuhan landasan iman. Salah satu senjata yang digunakan adalah pesan untuk lebih mendengarkan, lebih peduli, dan jangan sekali-kali melontarkan ‘hidupku lebih susah, tetapi aku bisa bertahan’ pada mereka yang sedang hampa. Menarik. Aku penasaran apa mereka senantiasa menangkap lara yang tersembunyi di setiap ‘aku tidak apa-apa’? Apa mereka sadar bahwa mendengarkan tidak selamanya memperpanjang hidup seseorang yang kehilangan asa? Kendati telah memberikan banyak harapan pada mereka yang percaya, toh tanganku kerap menjadi yang terakhir bersentuhan dengan denyut nadi, apalagi buat mereka yang tak lagi punya angan. Kita duduk manis sambil menyimak pun tiada guna. O, ya, aku bahkan tidak berada dalam tahap ‘menyimak’. Aku sudah menawarkan bantuan, lho, tetapi lihat tanggapannya? Sahabatku laksana otot kardiak pasien-pasien darurat yang tak pernah bisa kudegupkan lagi.

Ah, saudara pembaca sekalian, izinkan aku menarik sebuah kesimpulan yang jahat dari kisah ini: nyawa yang diamanatkan Tuhan pada satu raga tidak bisa dikendalikan oleh orang lain di luarnya, maka berhentilah mencoba menggapai hidup yang sudah tidak dikehendaki. Cangkang manusia yang sudah kopong akan tersapu, tereliminasi dari pesisir kefanaan; berkabung atasnya hanya akan membuat kalian tampak konyol. Bukankah ketimbang mencengkeram apa yang harusnya dilepas, kita mestinya membuka genggaman untuk meraih yang lebih bisa dipertahankan? Mengapa membuang waktu menolong mereka yang duluan menyerah jasmani-rohani?

Susut air mata itu dan simpan untuk orang yang punya tekad bertarung.

Aku, seorang gadis linglung tak bernurani, lupa cara membesarkan hati yang ditinggalkan sebab di duniaku, kematian tidak sakral. Ia mirip cabai rawit dalam kresek gorengan yang kami makan untuk sarapan sebelum turun jaga.


TAMAT

[1] Jawa: masuk ke dalam!

[2] Jawa: sudah waktunya, Kak, kasihan

[3] Med: hamil

Advertisements

9 thoughts on “A Nonrepresentative Intern’s View on Death Cases

  1. Fafa Sasazaki says:

    Ini beberapa hari terakhir di sekelilingku banyak berita duka, lhah liana bikin cerita tentang kematian.
    Sisus aku ora mudeng blas bahasa2 kedokteranmu Li, tapi yo tetep ae tak woco.
    Yg terakhir aku kok keinget sebentar sama mas jonghyun yg bunuh diri. Seriously aku ga begitu respect sama orang yg depresi trus gunain alasan itu buat bunuh diri. Karena di agamaku sndiri ada aturan klo bunuh diri dilarang, dan itu ngelancangi takdir Tuhan. Dan aku percaya, seberapapun berat masalah, klo kita mendekatkan diri sama Tuhan, maka Tuhan akan ngasih solusi. Ngga ada yang ngga mungkin buat-Nya, entah itu masalah pikiran atau masalah penyakit fisik. Karena sejauh ini aku kaya gitu klo ada mslh.
    Jujur ya, aku juga prnah pnya pemikiran pengen bunuh diri dulu pas sekolah. Dan kalo aja aku bukan orang beragama, mungki aku udh ngelakuin itu. Tapi krn aku inget dosa, jadi aku lari ke Allah buat ngaduin smw masalahku ke Dia.
    Duh malah jadi tausiah dadakan ni Li.
    Keep writing ya.
    Ps: masih nunggu kelanjutan ceritanya Yuju-DK akutuh. Yang Rough itu lho. Hhe

    Liked by 1 person

    • LDS says:

      padahal rasanya aku udah bales komen ini ternyata tidak masuk T.T yaudah kukomen lagi
      iya kan kak aku sendiri merasa kalau org yg bunuh diri krn depresi itu agak2 hng gitu. gimana ya, walaupun aku ngerti kalo org bunuh diri krn depresi itu bisa disamakan dgn org yg mati krn sakit jantung, which means itu adalah krn konsekuensi penyakitnya dan bukan mau dia sendiri, tapi kupikir kan ada juga tuh yg bisa hidup dgn depresi walau dgn pikiran bunuh diri berulang, knp memilih mati?
      anyways, bukan berarti aku sepenuhnya menyalahkan org yg bunuh diri gegara depresi. respectnya sedikit berkurang aja. walaupun ya, kalau kakak bilang itu soal pendekatan pada Tuhan, kalau org depresi berat memang ga bisa mikir begitu kak, gampangannya kalo org pingsan pasti dia juga ga bisa makan kan pas laper, walaupun mungkin deep down dorongan itu ada?
      hm kok jadi meracau sih akunya -.- sebaiknya kusudahi sebelum jadi ficlet
      PS aku pindahin rough sementara ke wattpad kak selagi ngefixin plot, itu aja chap 1-nya berubah banyak T.T

      Like

  2. xianara says:

    kak liana!!!

    kak ini terbaik! entah ini fiksi atau fakta, ini pokoknya terbaik. kupikir ini karena dorongan empiris, aku pernah berada di posisi penjaga pasien selama satu bulan setengah sampai mau memanggil nama almarhumah neneku di fatmawati februari kemarin di ruang iccu. aku masih ingat betul.

    terus karena ini berasal dari point of views seorang dokter jaga, aku jadi bisa tahu bagaimana perasaan setiap dokter jaga atau dpjp saat kematian itu datang. terlebih dokter jaga yang saat itu kebetulan menangani almarhumah nenekku.

    kemudian, satire soal netijen yang judgmental sama penyakit kejiwaan itu top banget kak.
    selain soal itu, satire soal aku suka sama kearifan lokal yang juga diangkat kak liana di awal soal sawan dan tetek bengek kematian terutama yang masih diyakini di daerah. fiksi ini adalah paket lengkap cerita dengan alur yang rapi dan konten yang berkualitas. kak liana, aku padamu!!

    tetap semangat menulis!! 🙂

    Liked by 1 person

    • LDS says:

      xiaaan sudah lama tidak bertemu ya ^^ aku suka gimana kamu mengeksplor fiksi mepet deadline begini uhuhuuu aku senang bahwa sesuatu yg agak melawan arus begini masih ada yg baca dan suka, krn di sini sebenernya yg pingin kutonjolkan adalah sisi tumpul seorang tenaga medis (kuharap nyampe sih ya bagian depressingnya :p)
      sekali lagi makasih sdh baca!

      Liked by 1 person

    • xianara says:

      ahahaha gak kerasa di ujung deadline-nya beneran 😀

      weseh iya ini pesannya tersampaikan banget. gimana wayah-wayahnya seorang tenaga medis tersampaikan dengan apik, kak liana. sedap pokoknya!

      huhu iya sudah lama banget rasanya ga ngoyo-ngoyo bareng di komentar 😀

      semoga kak liana selalu sehat ya 🙂

      Like

  3. agrarianwildness says:

    The thing is, with medical fics i don’t really read, i’m sure it is a undeniably hard theme to work with. Either it is because the research that you need to do to at least make it deserve to be faced to the reader who can be someone who gulps medical anesthetics on daily basis, or to make the, you know, general angsty of deterioration of human body. It is extremely challenging to write, and surely the same goes on reading it, hence why med fics isn’t really my cup of tea. The way you construct each words and symptoms that could possibly be confusing but rather you deliciously mix them with the other sentences with ease that successfully made me wasn’t as perplexed as i thought i would. Therefore, hun, you make this cold-denying heart of mine head over heels, or should i say heart over heels? Lol.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s