Menunda Kepergian

15138339089653

Menunda Kepergian

by Adelma

“Tapi dengan begitu kau jadi tak perlu melangkah lagi. Kau sudah menjemput ketenangan dan kedamaian yang sebenar-benarnya…”

Muak, kau kembali menyelinap pergi tanpa menghitung berapa jumlah langkah yang dihasilkan oleh kakimu. Ke arah mana itu kau tak tahu. Utara bisa saja, tapi tenggara pun bukannya tidak mungkin. Kau mau ke mana? Hei, aku memerhatikanmu di sini, selalu di sini. Kusarankan kau untuk tak bersembunyi, karena bersembunyi takkan membuatmu menghilang.

Aku tahu, katamu. Kau bersikeras bahwa kautahu apa yang kaulakukan. Kau nyeroscos panjang-pendek, dan aku masih di sini, selalu di sini. Mendengarkan sambil sesekali mencelamu.

Sekarang kepalamu seperti akan meledak karena di dalamnya terlalu berisik oleh dirimu yang lain, yang lain, dan yang lain. Ya! Dirimu yang lain sangatlah banyak dan kau tak mengenal mereka semua. Memangnya enak dikuasai para orang asing? Tentu tidak. Mana ulah mereka macam-macam; ada yang menangis, ada yang marah, ada yang tertawa, ada yang mengeluh, ada yang menyalahkan, ada yang—

—bangsat, kau menginterupsiku, menginterupsi aku yang masih di sini; tidak kemana-mana.

Kini kau diam, mencoba mendengar mereka yang kini tengah sibuk berdebat tanpa menghiraukan kecacatan logika. Seandainya saja ada senjata api, mungkin kini moncongnya sudah memagut pelipismu dengan mesra, lalu …

… duar!

Semua selesai.

Kau mati dan kepalamu hancur menjadi partikel. Tapi dengan begitu kau jadi tak perlu melangkah lagi. Kau sudah menjemput ketenangan dan kedamaian yang sebenar-benarnya, segala kesakitan dan kegelisahanmu telah berpindah kepada mereka yang mencintaimu. Semua selesai dan kau senang. SENANG.

Tapi, sayang, ternyata nyalimu tak sebesar itu, ya? Buktinya kau masih memilih untuk melanjutkan lelahmu. Langkah itu kembali tertiti dan bahkan kali ini lebih lebar lagi. Punggungmu memang semakin menjauh tapi mereka masih bisa melihatnya. Pelarianmu adalah kekonyolan dan aku sebetulnya tidak suka. Tapi, sudahlah. Ini adalah pilihanmu, anggap saja kalau kau memang ditakdirkan untuk berteman dengan kesia-siaan.

Dan aku? Aku masih di sini, akan selalu di sini untuk tetap mengawasimu yang terus-menerus menunda kepergiaan ….

-fin

Advertisements

11 thoughts on “Menunda Kepergian

  1. Lt. VON says:

    Menunda kepergian … menunda istirahat.
    Terima kasih ka nisa, aku jadi ingin semakin menunda kepergian HAHAHAHAHA soalnya aku ga mau menyenangkan si dia yang bilang pake moncong senpi bisa duar langsung enak dan senang~~~

    Beautiful, beautiful, beautiful as always!
    Sehat selalu kanisa! Keep writing! Mari menunda kepergiaaaaaaaan ❤

    Like

  2. dhamalashobita says:

    “karena bersembunyi takkan membuatmu menghilang”
    Ini kalimat yang tepat sasaran banget, Nis.
    Ada 2 orang dalam diri seseorang yang akan berperang ketika mereka membaca ini. Satu, mereka yang akan rela menunda kepergian dan satu lagi mereka yang mungkin akan mempertimbangkan untuk berani melakukannya. Ya akan ada 2 mata koin. Di luar itu, tulisan ini dikemas apik. Seperti Nisa biasanya. Thanks buat tulisan keren ini, Nis.

    Like

    • nisady says:

      Iya betul, Mal. Dan aku nyeritain dari sisi yang menyuruh orang itu buat pergi selamanya. Tapi orangnya terus “menunda-nunda” karena masih bisa survive, dan mudah-mudahan akan selalu bisa survive. Makasih banyak Mala udah mampir di tulisan ini, seneng deh masih ada yang mampir haha fyi ini tulisan pertamaku di tahun 2017 WKWKWKWK :””””)

      Like

  3. Primrose Deen says:

    Reminds me of Jonghyun. Mungkin dia udah pernah menunda kepergian. Tapi kemarin udah nggak tahan buat nunda lagi.

    So beautifully written, Kak Nisaaa! Semangat menjalani hidup yang mungkin udah terasa bobrok di beberapa titik. But we should live our life till that time, shouldn’t we?

    Lebih sering nulis lagi dong, Kak Nisa 😳😍❤️
    xoxoxoxoxo

    Like

  4. Fantasy Giver says:

    kak nisaaaaaaa!!

    iih kangen banget baca tulisan kakak deh. btwbtw ini as always sangat cantik dan sangat deep seperti kak nisa biasanya! aku suka perang batinnya antara bunuh diri dan engga; accurately pictures a person’s mind with depression.

    semangat terus yaa kaaak🌸🌸

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s