Jejak Kaki di Pasir Pantai

by Primrose Deen

pic © Christoper Sadegna

“…presensinya memang benar adanya, tetapi di dalam jejak itu, yang ada hanyalah lubang kosong belaka.”


“Ibuk nggak mau berangkat, Ya.”

Aku menggigit bibir keras-keras. Masa bodoh dengan lipstik yang akan retak-retak lantaran gilasan gigi depanku. Mataku memindai dengan waswas seluruh hall yang seharusnya menjadi tempat terbaikku malam ini. Apa yang aku takutkan malah terjadi. Mungkin seharusnya aku tidak membiarkannya melesat dalam batinku. Tapi tidak berpikir sedikitpun perihal itu rasanya sangat tidak mungkin.

“Tolong dibujuk lagi, Mas. Ini MC-nya udah hampir kehabisan ide buat ngulur waktu. Tamunya mulai bisik-bisik ngeluh. Tapi Ibuk jangan dibohongin, ya,” kataku dengan suara agak keras agar tidak tenggelam oleh perpaduan antara seruan si MC dan musik latar. Aku menelungkupkan sebelah tanganku di dekat mulut agar suara di sekitarku tidak begitu mendistraksi.

Abangku di seberang telepon menghela napas berat yang mengandung banyak makna; antara mengerti, iba kepadaku, dan mempersiapkan diri untuk mengerahkan seluruh tenaganya untuk memersuasi Ibuk.

“Buk, ikut Ghani, ya. Anggep aja Ibuk mau dateng ke acara nikahan anak temen Ibuk. Nanti Ibuk nggak usah ngapa-ngapain. Tinggal dateng, duduk, diem aja, terus pulang.” Suara Mas Ghani yang dibuat sedemikian lembutnya terdengar samar-samar di telingaku. Aku tak bisa menerka kejadian berikutnya, tapi Mas Ghani kembali ke saluran dengan tambahan semangat, “Ibuk mau berangkat, Ya. Tunggu sebentar lagi, ya.”

Seketika senyum terkembang di bibirku yang dihiasi pulasan lipstik retak di sana-sini. “Iya, Mas. Hati-hati, ya.”

“Buk, aku udah bilang, ‘kan? Ibuk nggak usah capek-capek ngerajut syal terus buat Yaya. Mau dikasih syal semahal apa pun, syal dengan bau Ibuk tetep nomer satu, deh,” ujarku merujuk pada syal merah marun pemberian Ibuk sejak SD dulu.

“Kamu jarang mencucinya. Ibuk khawatir temenmu nggak nyaman sama baunya.”

“Kalau gitu, sebelum syal merah ini dicuci, syal baru ini dipakai Ibuk dulu, ya. Biar bau Ibuk nempel di situ.”

Ibuk tertawa kecil seraya menggeleng-geleng pelan. “Sesuka itu, ya, kamu sama bau Ibuk?”

“Banget!”

Kata orang-orang, anak perempuan biasanya paling dekat dengan ayahnya, sedangkan anak laki-laki paling dekat dengan ibunya. Teori itu tentunya tidak teraplikasikan dalam keluargaku. Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Mas Ghani, kakakku, maupun aku dekat dengan keduanya.

Ayah sendiri adalah bapak yang hebat. Ia adalah seorang diplomat. Kendati banyak kesibukan, Ayah tak pernah lupa meluangkan barang satu hari dalam seminggu untuk berkumpul bersama keluarganya. Pekerjaannya mengharuskan kami ikut berpindah tempat tinggal lintas negara setiap tiga tahun sekali. Awalnya aku dan Mas Ghani merasa sangat kesal harus berpindah sekolah dan berganti-ganti teman, selalu memulai dari awal lagi. Tapi kini nampaknya kami sudah beradaptasi dengan keadaan yang demikian ini.

Saat ini, kami tinggal di Den Haag, Belanda. Musim dinginnya jarang menghadirkan salju. Tapi tahun ini, rupanya salju tidak absen seperti tahun kemarin. Angka suhu beberapa hari terakhir ini melorot di bawah nol derajat. Selain salju yang mengubah seluruh pemandangan menjadi putih, hal yang paling kusukai dari musim dingin adalah menyantap sup tahu putih dengan daun bawang buatan Ibuk di dekat tungku perapian.

Ibuk memang jagonya memasak. Rasanya hampir pelbagai pekerjaan rumah dapat Ibuk kerjakan dengan mata tertutup; memasak, menjahit, merajut, mencuci, menyeterika, beres-beres rumah, sampai mengasuh anak-anaknya. Seantero penjuru rumah adalah teritorial Ibuk. Jika kami tidak menemukan barang yang kami cari, Ibuk akan menemukannya dengan mudah dalam waktu singkat. The power of emak-emak memang luar biasa.

Tahun ini Ibuk berusia 53 tahun. Ibuk bukan tipe ibu-ibu sosialita yang gemar berkumpul dengan teman-temannya, haha-hihi membicarakan gosip terbaru. Ibuk lebih menyukai acara lelucon garing yang ada di televisi. Ibuk bahkan masih kesulitan memakai ponsel canggih. Beberapa kali digunakan untuk belajar menggunakan Whatsapp, tapi berakhir dengan kembali ke ponsel jadulnya—yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS saja. Ibuk orangnya rapi dan telaten. Selalu merawat rambutnya dengan lidah buaya dan rebusan air seledri. Alhasil rambutnya sampai sekarang masih hitam berkilau, meski beberapa helai uban telah bergelantungan. Ibuk hobi mengomeli banyak hal laiknya ibu pada umumnya. Intensitas mengomelnya meningkat kala Ibuk sudah melalui masa menopause. Tapi Ibuk tetap favorit kami meski beberapa hari terakhir ini, Ibuk menjadi sedikit berubah; tak lagi rapi, sering melupakan janji, dan tak tahu jalan kembali.

Pagi ini, tidak biasanya Ibu tidak dapat kutemukan di dapur. Aku mencari ke ruang makan pun, Ibuk tak ada. Aku mengintip kamar Ibuk dari celah-celah pintu yang sedikit terbuka dan menemukannya sedang duduk di tepi tempat tidurnya sembari menatap ke arah jendela dalam kebisuan.

“Buk?” panggilku lirih.

Ibuk tak langsung menoleh. Pandangannya masih terpaku dengan pemandangan yang dihadirkan oleh jendela kamarnya yang berembun.

Aku duduk di sebelahnya dan mendaratkan tanganku di punggungnya. “Buk, Ibuk sakit?”

Akhirnya, Ibuk menoleh kepadaku dengan raut kebingungan, lantas bertanya, “Ya, kita di mana sekarang?”

Dahiku seketika mengernyit. Apabila saat ini Ibuk sedang bercanda, aku tidak menemukan bagian mana yang dapat ditertawakan. Namun, meski dengan kebimbangan yang berputar di benak, aku tetap menjawab, “Di Den Haag, Bu. Ini ‘kan sudah tahun kedua kita tinggal di sini.”

Air muka Ibuk semakin kebingungan. “Den Haag? Kenapa kita bisa di sini? Bukankah seharusnya kita ada di Afrika Selatan?”

Mulutku ternganga begitu saja selama beberapa saat. Kendati penuh ragu, kujawab pertanyaan Ibuk, “Itu ‘kan udah enam tahun yang lalu, Buk.”

“Mas, Ibuk agak aneh,” kataku dengan setengah berbisik setelah mendaratkan diri di kursi sebelah Mas Ghani.

“Aneh gimana, Ya?” Mas Ghani bertanya tanpa menjedakan atensinya dari layar laptop. Jemarinya terus mengetik tanpa merasa terdistraksi oleh pernyataanku.

“Minggu lalu Ibuk lupa jalan pulang, Mas. Padahal masih di daerah kompleks sini.”

Kali ini, jemari Mas Ghani berhenti. Ia menghujamku dengan tatapan yang menuntut elaborasi lebih lanjut.

“Udah beberapa kali ini Ibuk ngulang-ngulang omongannya. Padahal belum ada sejam diomongin. Ibuk sering lupa kalau ada janji atau tempat naruh barang yang padahal semua orang di rumah tahu ada di mana,” aku berhenti sejenak, lantas melanjutkan, “yang paling parah, ya, pagi ini.”

“Kenapa?”

“Ibuk mengira kita masih tinggal di Pretoria.”

Malam itu juga ketika Ayah pulang, Mas Ghani langsung menyampaikan apa yang kuceritakan tentang Ibuk. Tak menunggu waktu lama, keesokan harinya, kami membawa Ibuk untuk periksa ke rumah sakit. Seminggu kemudian, kami tahu penyebab di balik perubahan Ibuk.

Ibuk yang dahulu paling suka bergaya macam-macam kala diajak berfoto bersama, kini bahkan enggan menatap ke kamera.

Ibuk yang dahulu bersedia menghabiskan harinya untuk merajut benang-benang wol demi menghadiahkan sebuah syal beraroma tubuhnya kepadaku, kini bahkan tak mengakui bahwa ia pernah melihat syal-syal itu dalam hidupnya.

Ibuk yang dahulu gandrung menghidangkan sup tahu putih panas untuk disantap di dekat perapian, kini tak lagi memiliki selera untuk berlama-lama di dapur.

Ibuk yang dahulu membangga-banggakanku sebagai Ghaniyya kesayangannya, kini bahkan menatapku dingin.

Ini sudah kali ketiga Ibuk meminta dipulangkan, yang entah ke mana. Bahkan ketika kami sedang di rumah kami yang ada di Indonesia, Ibuk masih bersikeras meminta dipulangkan. Padahal sudah lama rumah kakek dan nenek dijual, kini digantikan gedung bertingkat puluhan.

Kukira, setidaknya Ibuk bersedia berpura-pura menjadi ibuku di hari bahagiaku.

Tapi aku keliru.

Bahkan untuk berpura-pura menjadi seorang tamu saja, Ibuk harus dipaksa berkali-kali.

Mungkin seharusnya aku sudah puas dengan melihat Ibuk yang menyaksikan aku berdiri di pelaminan bersama lelaki pilihanku yang dahulu telah ia restui. Tapi, aku masih saja meminta lebih. Aku meminta pelukan Ibuk. Atau setidaknya, ia membalas pelukanku.

Namun rupanya, kedua tangannya menahan kedua lenganku sekuat tenaga agar aku tak mendekapnya dalam pelukanku.

Kini Ibuk bagaikan jejak dalam pasir pantai; presensinya memang benar adanya, tetapi di dalam jejak itu, yang ada hanyalah lubang kosong belaka.

I have a complete parents. But I don’t own my mother. She’s not gone, but she’s not here. Alzheimer takes my mother away from me.

Ibuk, jangan lupa sama Ayah juga, ya, Buk. 🙂

end.


Note:

  • Terinspirasi dari salah satu orang yang cerita tentang ibunya yang nggak mau meluk dia waktu dia menikah gara-gara menderita Alzheimer. Sedih banget ga tuh. 😦
  • Akhirnya saya resmi menjadi pengangguran Sarjana! Doakan segera dapet kerjaan, ya. Kerjaan jadi ibu rumah tangga juga boleh.
  • Kebanyakan cingcong. Enjoy. Pokoknya sayangi ibumu meskipun sering baper dan marah-marah. Karena sesungguhnya kita hanyalah butiran nasi yang nempel di sandal jepit kalau nggak ada ibu. :”)
Advertisements

9 thoughts on “Jejak Kaki di Pasir Pantai

  1. cherryelf says:

    Tolong tinggalkan aiu sendiri terpuruk di sudut kamar mandi huhuhu ini sedih sekali :””’
    Kutahu kadang sakit banget kalau kita lg ada konflik sama emak. Kayak mrk tuh ga pernah mngerti ingin hati ini. Greget, pengen banting tv, tp sayang. 😢
    Kalau sudah gthu lebih baik nyingkir dan nenangin diri sendiri.

    Makasih Ari atas tamparan indahnya <333

    Liked by 1 person

  2. LDS says:

    Aku tau ini sedih bgt tapi knp aku tdk terpitjoe T.T bukan salah Ari, sumpah kata2nya itu udh sgt menggambarkan suasananya lho tapi kok aku gak ngerasa apa2. Sdh tumpul hiks
    Sedih yg sesungguhnya adlh kepingin sedih tapi ga bisa
    Emg masalah Alzheimer’s ini sangat susah, aku ga tau apa dia ini bener2 ga akan berprogres dgn obat. Sbnernya ada bbrp obat yg bisa memperbaiki fungsi kognitif sih, tapi gtau bisa bekerja atau nggak.
    Apa yg ‘kubenci’ dari fic ini adlh ketika kamu mulai ngungkit masa lalunya ibuk dan duo Ghani argh nyesek
    Keep writing Ari smg jadi pengangguran nya gak lama2! 😀

    Like

    • Primrose Deen says:

      Liana kamu kok lucu 😂😂😂😂😂
      Iyaaaa zantai aja to 🤣

      Bener. Kalau kemaren aku nanya temenku yang anak kedokteran, katanya bisa jadi ini juga ada gangguan di psikologisnya. Soalnya sampe mengganggu ingatan jangka panjangnya ini.
      Dan kalau aku baca, Alzheimer emang belum ada obatnya. Cuma bisa nglakuin pencegahan.

      Huhuhuhuhu aamiin aamiin! Makasih, Liana 🤧
      Makasih juga udah mampir bacaaa ❤️

      Like

  3. Fantasy Giver says:

    kak ari……😢😢😢

    sumpah sih aku tuh udah lemah banget kalo ngomongin masalah keluarga, terutama orang tua. and this hits me like a truck; bahwa akan ada masanya kita ga bisa lagi bergantung pada mereka, sebutuh apa pun dan sesayang apa pun. huhuhu.

    this is beautifully written, kak ari. dan dekat banget sama kehidupan sehari-hari. keep making something good yaa, kaak!❤❤

    Like

    • Primrose Deen says:

      Iyaaa. Semua orang tua bakal ngalamin fase yang kebalik lagi. Mereka malah jadi kaya anak kecil dan bergantungnya malah ke kita. Bukan sebaliknya, kaya dulu lagi.
      Aku udah mulai ngrasain soalnya ☺️

      Thank you for stopping by, Vin!
      U too, beautiful lady! ❤️❤️

      Like

  4. S. Sher says:

    HALO KAK! Alhamdulillah bisa kembali lagi ke tulisan ini 🙂

    Anyway, aku tuh sukaaa banget sama cara menyampaikan si anaknya sayang sama ibuk (bau ibunya di syal) dan cara nulis gimana sedihnya gitu. Gak deskripsi panjang menye sedih, tapi dengan moment yang berhasil nyampaiin itu semua ❤️❤️

    Terus aku gak kebayang jadi temen kakak 😦 ngerti sih sebenernya ibunya gak berniat kayak gitu, namanya, sakit, cuman pasti sedih banget :(((

    Keep writing something beautiful and have a nice day kak! 🙂

    Like

    • Primrose Deen says:

      Aduh, guruku, paporitkuh, Tari. Kenapa bisa sempet mampir ke gubuk reyot ini… Terharu aku tuh. 🤧
      Hahahaha
      Tapi beneran makasih banyaaaak udah stopping by trus baca ehe ehe. Jadi maloe.

      Btw itu bukan temenku. Itu orang di Instagram. Orang Indo juga sih.
      Iya sedih bgt waktu aku skrol ig-nya sampe ke bawah2. 😦

      Thank you, Tar! U too, yah! Pankapan aku bakal fallforthestars lagi. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s