Perempuan yang Tak Mengenal Maaf

by aminocte

Namun, ada rahasia istriku yang sungguh ganjil dan tak biasa, hingga lebih tepat untuk disebut misteri ketimbang rahasia.

 

Banyak orang berkata bahwa aku beruntung memilikinya sebagai pendamping hidup. Beberapa di antara mereka acap pula menatapku iri. Aku tak begitu paham mengapa mereka tak bisa berhenti membanding-bandingkan istriku dengan istri mereka, yang juga tak kalah menawan dan memesona. Mereka bilang istriku punya semua kualitas untuk disebut istri idaman. Baik, cerdas, dan menarik. Jarang sekali ada perempuan yang memiliki keempatnya sekaligus. Kalau dia baik dan menarik, belum tentu cerdas. Kalau dia cerdas dan menarik, belum tentu baik. Entah ada berapa banyak kombinasi yang bisa dibuat dari tiga kriteria ini dan aku mujur mendapatkan kombinasi sempurna itu.

Tidak ada yang tahu bahwa seperti kebanyakan keluarga lainnya, kami pun memiliki rahasia, kombinasi antara hal-hal yang kusembunyikan dengan hal-hal yang istriku – dia sembunyikan pula. Semisal, bahwa aku malas berganti kaus kaki atau kerap menggigau di malam hari. Meski kedua-duanya bukanlah kebiasaan yang baik, malah mengganggu, tetapi dia tidak terlalu mempermasalahkan kebiasaanku itu. Malah dia dengan sigap menyiapkan kaus kaki yang bersih setiap dua hari sekali – itu pun dia yang mencucikannya tanpa kuminta. Untuk masalah menggigau pun, dia tak lupa mengingatkanku untuk berdoa menjelang tidur dan menceritakan masalah yang mengganjal pada hari itu kepadanya agar tak muncul dari alam bawah sadarku dalam wujud igauan yang kadang kurang pantas didengar. Sebenarnya ada banyak lagi kekurangan yang kumiliki dan kututupi rapat-rapat, tetapi aku pun tak ingin membahasnya dengan siapa pun, termasuk kalian yang membaca tulisan ini.

Namun, ada rahasia istriku yang sungguh ganjil dan tak biasa, hingga lebih tepat untuk disebut misteri ketimbang rahasia. Tidak sekali dua kali aku mencoba menggali jawaban misteri itu dari dirinya secara langsung, tetapi bukannya jawaban, aku justru mendapatkan senyuman hambar diiringi berjam-jam kekikukan setelahnya karena dia enggan berbicara denganku. Semakin rajin aku menanyainya, semakin tabah pula dia menahan diri dari mengeluarkan suara. Dalam hal itu, ia sangat teguh pendirian, hingga tak kukenal lagi perempuan yang lebih teguh pendirian daripada dirinya.

Sebenarnya aku bisa saja bertanya kepada orang tuanya yang pasti mengenalnya luar-dalam. Akan tetapi, aku tidak pernah berani melangkah lebih jauh dari itu. Ayahnya demikian berkharisma hingga aku tak pernah berani memandang wajah beliau lebih dari lima detik. Bahkan saat menikah, aku harus mengulangi lafal ijab kabul hingga lima kali dengan punggung basah oleh peluh dingin akibat tak mampu menahan tatapan mata beliau yang seakan menembus sumsum tulang. Sementara ibunya dulu adalah dosen pembimbing skripsiku yang amat kusegani. Tutur katanya yang senantiasa lembut, motivasinya agar aku tidak hanya sekadar lulus, tetapi juga berhasil dunia akhirat, membuatku merasa seperti mahasiswa paling beruntung di Bumi. Apa jadinya jika aku lancang menanyakan masalah remeh-temeh ini kepada mereka berdua – mertuaku, sekaligus orang tua istriku? Aku bisa membayangkan amukan badai amarah yang mampu merontokkan rumah tangga kami yang baru seumur jagung. Hingga akhirnya niat itu senantiasa kuurungkan segera setelah muncul di benakku. Sejauh ini, upayaku selalu berhasil. Aku bisa menerima misteri itu menjadi tak lebih dari pertanyaan biasa, yang sah-sah saja jika seumur hidupku tak kutemukan jawabannya.

***

Semuanya terasa aman dan tenteram hingga sebulan yang lalu. Saat ekonomi mulai tak menentu dan perusahaan mulai gulung tikar satu persatu. Aku yang sebelumnya memperoleh penghasilan sebagai manajer cabang sebuah perusahaan retail, harus rela membiarkan setelan kerjaku tergantung rapi di dalam lemari untuk jangka waktu yang tidak kuketahui. Sementara istriku, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri, tampaknya tidak terlalu terpengaruh. Kuota mahasiswa baru pertengahan tahun ini tampaknya akan dinaikkan lagi, meski para orang tua setengah mati mencari biaya untuk sekadar sesuap nasi. Rasa rendah diriku sebagai suami yang tak berpenghasilan membuatku sulit untuk menjaga hati agar tetap lapang. Kadang kusindir dia perihal kuota mahasiswa baru itu, padahal posisinya sebagai dosen baru jelas tak ada hubungannya dengan kebijakan tingkat tinggi macam itu. Istriku, anehnya tak pernah tersulut. Dia menjawab pertanyaanku dengan baik dan sabar, seperti sosok guru besar yang selalu mampu menengahi debat kusir para ahli hukum di televisi, dan ujung-ujungnya membuatku malu sendiri. Kuucapkan maaf kepadanya selepas menyudahi omonganku yang picik itu, yang dijawabnya dengan senyuman tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku memilih untuk mengalihkan pikiranku dari prasangka buruk dan memusatkan perhatianku pada kemungkinan untuk mendapatkan sumber penghasilan baru. Jika bisnis retail tidak mampu bertahan, barangkali ada jalan lain. Namun, apa yang bisa kulakukan? Menjadi pegawai negeri jelas tak mungkin karena pemerintah masih memberlakukan moratorium pengangkatan pegawai negeri baru. Menjadi dosen apa lagi karena semua dosen, bahkan yang baru berniat menjadi dosen pun harus menyelesaikan pendidikan Magister. Berwirausaha tampaknya terlalu berisiko, dengan harga-harga yang melambung dan daya beli masyarakat yang menurun.

“Bagaimana kalau Abang ngojek online?” Demikian yang diusulkannya kepadaku suatu hari.

Ngojek online?” tanyaku balik, merasa tidak yakin.

“Iya, kayaknya sekarang lagi musim ojek online, Bang. Bahkan mahasiswaku juga banyak yang ngojek buat tambahan uang saku.”

“Kamu nggak malu?”

Kedua alisnya terangkat. “Kenapa musti malu, Bang? Kan yang penting rejekinya halal. Lagipula dengan kondisi ekonomi negara sekarang, nggak banyak perusahaan yang membuka lowongan. Yang ada malahan PHK besar-besaran.”

Mendengar kalimat terakhir, kurasakan amarahku meletup. Belum sampai mendidih, memang. Aku tahu dia tak bermaksud menyinggung perasaanku. Namun, orang bilang, perasaan bisa kelewat sensitif jika sudah merasa tak berguna. Aku, yang nyaris merasa tak berguna ini pun tampaknya mulai menampakkan gejala ke arah sana.

“Abang marah ya?”

Aku diam saja.

“Aku bukannya bermaksud menyindir Abang. Sama sekali bukan.”

Membelakanginya, aku beranjak ke kamar. Pintu terhempas menutup, kemudian hening melingkupi suasana. Aku berbaring menghadap dinding. Rasanya dinding pun patut merasakan kekuatan kepalan tinjuku saat ini juga. Ya, rasa-rasanya begitu, tetapi aku tak berani. Buat apa sok kuat menghantam dinding jika nanti buku jariku berdarah-darah aku harus merepotkan dia lagi?

Ah, betapa aku membenci situasi. Betapa aku membenci pemerintah yang tidak mampu melindungi rakyatnya dari kemiskinan dan kehilangan kesempatan kerja. Betapa aku membenci konspirasi global yang membuat negara ini selalu berada dalam situasi terjepit. Betapa aku membenci direktur perusahaan yang tidak berusaha sedikit saja untuk menyelamatkan karyawannya ketimbang menyelamatkan keuangan perusahaan. Kenapa harus berakhir dengan pemutusan hubungan kerja? Kenapa bukan yang lain, meski aku tahu benar bahwa pemangkasan biaya, termasuk biaya untuk menggaji karyawan, harus dilakukan dengan cepat untuk memperpanjang umur perusahaan. Lantas, mengapa pula aku harus beristrikan seseorang yang punya pendidikan lebih tinggi, pekerjaan yang lebih stabil, dan pencapaian-pencapaian yang lebih tinggi? Mengapa tidak sekalian saja aku beristrikan babu supaya paling tidak aku bisa menyelamatkan muka di tengah kehidupan yang serba tak tentu?

Bunyi ketukan pintu mengusik rutukanku. Dia memanggilku, mengklarifikasi ucapannya, menceritakan kemungkinan lain di luar profesi driver ojek online, membujukku untuk keluar dan makan siang, hingga mengajakku untuk berjalan-jalan sore selepas Ashar. Aku bergeming.

Dia mengetuk pintu lagi, memanggil namaku lagi, kali ini dengan nada memelas. Aku iba mendengarnya, tetapi kadung gengsi untuk luluh. Ia sebenarnya tak salah, barangkali perlu kutegaskan hal itu sekali lagi. Namun, ada yang kurang darinya, yang sekaligus membuatku tidak senang. Dan bukankah jika seorang istri melakukan perkara yang tidak disukai suaminya, dia akan melakukan sesuatu untuk menebusnya?

Sesuatu itulah yang tidak dilakukan oleh istriku kali ini, bahkan tidak satu kali pun sejak kami telah menikah lima bulan yang lalu.

Sesuatu itu pula yang terpendam lama sebagai misteri di dalam benakku, bahkan nyaris terlupakan jika tidak ada insiden kecil ini.

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih lemah.

Aku tidak bisa melanjutkan aksi mogok bicara ini. Aku tidak bisa terus-terusan membiarkan dia dengan segala cara berusaha mengajakku berbicara, mencairkan kebekuan sesaat di antara kami.

“Bang.” Ia memanggilku lagi.

Tepat pada waktu itulah aku membuka pintu dan melihat wajahnya sekilas. Air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Aku tahu apa yang Abang inginkan. Bukannya aku nggak mau mengucapkannya. Aku cuma nggak bisa bilang maaf karena sesuatu yang susah kujelaskan.”

Aku tertegun.

“Itulah kenapa aku selama ini berusaha keras untuk menjadi istri yang baik bagi Abang, berusaha untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun, walaupun itu mustahil. Tetap saja aku punya kekurangan di sana sini. Tapi semua itu kutebus dengan perbuatan baik, dengan harapan Abang ridho dan mau memaafkanku.”

“Kamu nggak salah, Sayang. Kamu nggak perlu—“

“Aku minta maaf, Bang. Aku minta maaf.”

“Kamu nggak perlu minta maaf karena kamu nggak salah. Aku yang salah.”

Dia diam saja meski aku merengkuh pundaknya dan membiarkan kepalanya bersandar di pundakku.

“Aku nggak biasa minta maaf di rumah karena aku dibiasakan untuk tidak berbuat kesalahan dan aku juga nggak pernah dengar Mama dan Papa minta maaf. Kukira sebuah keluarga seharusnya demikian saling mengenal sehingga mereka tahu batasan dan menghindarkan diri dari kesalahan yang nggak perlu.”

“Tapi aku berbeda dengan Mama dan Papa, Sayang. Apa-apa yang biasa kamu lakukan tidak selalu bisa aku pahami. Yang kamu anggap sudah sesuai, bagiku belum tentu. Begitu juga sebaliknya.”

Ia mengangguk, seketika menarik kepalanya dari pundakku.

“Aku mengerti.”

“Berbeda dengan kamu, aku justru dibiasakan untuk meminta maaf, kapan pun aku merasa tidak nyaman dengan perbuatanku. Selalu ada sesuatu yang mengganjal jika aku berbuat salah, meskipun bagi orang lain, aku tidak melanggar apa-apa.”

“Jadi, kita kompromi?”

“Ya.”

“Sekali lagi?”

“Yep.”

“Kita makan siang sekarang?”

“Yuk. Aku lapar.”

“Tapi … lauknya udah dingin. Aku hangatkan dulu ya.”

“Nggak apa-apa. Ayo.”

***

Banyak orang berkata bahwa aku beruntung memilikinya sebagai pendamping hidup. Aku mengamini mereka dengan suatu catatan yang mengganjal. Dulu, bagiku dia nyaris sempurna, seandainya saja dia tak membuatku bertanya-tanya. Namun kini, jawaban pertanyaanku itu sudah jelas. Sederhana saja, karena dia tak terbiasa. Dan barangkali setelah ini, ia akan mulai memahami sudut pandangku soal ucapan maaf ini. Sama seperti aku yang mencoba memahami sudut pandangnya pula.

fin.

 

  • Agak-agak gimana gitu ya
  • Maaf aku nulisnya masih kaku
  • Selamat berlibur

 

Advertisements

3 thoughts on “Perempuan yang Tak Mengenal Maaf

  1. cherryelf says:

    Sudah mikir yang enggak2 sama sosok si istri ini, jangan dia gini, githu. Misterius sekali ==;
    Ternyata. Duh, maaf atas kbodohan yg khaqiqi ini. Padahal di judul sudah disebutkan wkwkwk
    Mungkn Ami bisa nyelipin konflik yg lebih berat lagi dan diposiskan si istri ini ga mau minta maaf. Tapi balik lagi terbatasnya karakter dia yg sudah dicap istri baik, ya hmm
    Eh, si suaminya ini noticed kalau si istri ga bisa bilang maaf kan, ya. Berarti mereka pernah memperdebatkan suatu prahara, yah, walau masalahe minor. Ya, ga sih?

    Semangat, Ami! Ini udah bikin penasaran kog 😉 ❤

    Like

  2. S. Sher says:

    Kak amiiii, oh I miss you so much! ❤️

    Terus satu yang gak berubah dan selalu aku suka dari tulisan kak ami adalah, selalu ada makna yang berusaha di sampaikan di sini dan kadang bahasannya agak berat tapi masih enak bangeeet buat dibaca. Dan aku suka karakter cewenya, emang ya gak ada yang sempurna, dan si cewek ini malah dengan dituntutnya kesempurnaan itu sendiri, jadi gak kenal kata maaf :”””

    Keep making something beautiful and have a nice day kak! ❤️

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s