Black Mark

by fikeey

The Grim has retired. Now it’s time for us to kill one another.

Berita itu datang di suatu pagi yang kelam ketika tidak ada satu pun kicau burung yang biasanya membangunkan seluruh pelosok distrik dan rimbunan awan di langit seolah membagi sepi.

Suara sang Penguasa dikoarkan lewat speaker raksasa di alun-alun; dengan ratusan tentara berseragam mengelilingi kami yang kala itu dipaksa memenuhi ruang terbuka yang tak seberapa besar ini. Bellamy kecil menangis di sebelahku tatkala kicauan nyaring tanda dibukanya acara menggantung di udara. Pelukannya kelewat erat di paha kanan, sementara ia merengek minta digendong. Salah satu tentara memelototi kami begitu isak Bellamy mulai terdengar dan aku terpaksa mengangkat tubuh kecilnya apabila tidak ingin pulang dalam keadaan kepala berlubang.

Penguasa meneriakkan kepada kami soal pekerjaan Grim, yang kedatangannya memberikan sensasi dingin menggigit sebelum keesokan harinya salah seorang dari penduduk dinyatakan tidak akan kembali lagi. Pria gembil itu bersungut-sungut hingga kumisnya yang sepanjang rel kereta api ikut bergerak-gerak, dengan suara lantangnya memaki para Grim yang menyatakan angkat kaki dari distrik ini. Dia bilang, dia sengaja menyewa para pengambil nyawa itu untuk mempertahankan jumlah kami supaya tidak membludak dan membawa kemiskinan serta kesengsaraan. Tetangga kami di sebelah barat adalah contohnya, hanya menyewa dua pasang Grim lalu sekarang hal termewah yang ada di kota itu hanyalah rangka-rangka ternak yang tidak dapat dimakan.

Aku tidak bisa menyembunyikan helaan napasku yang mengekspresikan kelegaan. Sungguh, presensi yang sangat mengerikan―para Grim itu. Aku pernah melihatnya mendatangi Mr. Atticus di suatu malam yang dingin. Beliau pulang dengan berbotol-botol minuman keras di pundi-pundi kudanya dan sebotol di tangan kirinya. Sang Grim menunggunya di belokan, meniupkan asap keabuan yang membuat kuda Mr. Atticus meringkik kesetanan. Aku ingin bergerak, namun kakiku rasanya kaku di atas permukaan bersalju―dan hal ini sekaligus memaksaku untuk menjadi saksi kematian tragis Mr. Atticus, yang terlempar begitu saja dan meninggal dalam kubangan darahnya sendiri.

Namun nyatanya helaan napasku yang tadi harus rela kutarik kembali. Aku tidak tahu makanan jenis apa yang masuk ke dalam perut pria serakah itu waktu mengoarkan kalimat selanjutnya.

“Lihat. Orang yang tidak ingin kekuasaannya diambil alih akan melakukan hal yang paling tolol sekalipun.” Farlan mendesah di sebelahku. Ia melarikan tangan, menyisir rambutnya yang pirang. “Membuat perjanjian dengan Lucifer, misalnya.”

“Dia … benar-benar melakukannya?”

Farlan terlihat ingin tertawa mengejek, namun kemudian hanya helaan napas yang keluar dari bibir tipisnya itu. “Apakah kau tidak mendengarnya tadi, Elle? Kali ini dia menyerahkan hidup kita pada Lucifer! Kau tahu kan bagaimana liciknya makhluk itu?”

Aku mengangguk. Hatiku mencelos.

“Grim berhenti bekerja untuk kota ini, dengan kata lain tidak akan ada lagi nyawa yang ditumbangkan. Namun si Tolol ini menginginkan adanya keseimbangan―hah, tahi kerbau. Dia hanya tidak rela membagi kepemilikannya dengan kita.” Farlan kian meledak-ledak, namun ia masih berlaku normal dengan tidak mengubah volume suaranya lebih keras lagi. “Dia akan membuat kita saling membunuh, Elle.”

Hentakan di dadaku muncul berbarengan dengan suara nyaring alarm peringatan. Bellamy mulai memberontak dalam pangkuanku, bertanya-tanya di manakah orang tuanya dengan suara lirih yang meminta. Aku tak tega memberitahunya. Baru saja semalam rumah Bellamy ditinggalkan keluarga yang berkabung dan nyatanya keadaan tidak bertambah baik bagi Bellamy kecil.

Aku tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi di hadapanku ketika kurasakan tangan kanan Farlan mencengkeramku erat-erat. Ia menarikku, meliak-liuk di antara lautan tubuh penduduk yang sama-sama bingungnya dengan diriku.

Ratusan tentara yang semula mengelilingi kami sepertinya telah angkat kaki satu-persatu karena kini Farlan telah berhasil membawaku dan Bellamy menjauh dari kerumunan. Suara sang Penguasa masih memenuhi udara dan wajah bergelambirnya memenuhi layar besar. Aku hendak bertanya sesuatu kepada Farlan, namun kalah cepat, karena lelaki itu tiba-tiba menunjuk sesuatu di kejauhan.

Awalnya aku tidak melihat apa yang dimaksudkannya, namun detik kemudian layar yang semula diisi oleh wajah babun sang Penguasa kini berganti. Aku tidak ingat siapa nama pria ini, tempat tinggalnya, ataupun hubungannya denganku, tapi tato yang tergambar di sepanjang sisi wajah kanannya sangatlah mengerikan. Ia seolah pernah masuk ke dalam bara api tapi hanya setengah badannya, berdiam di sana, hingga luka bakarnya tidak lagi berwarna kehitaman namun juga menganga. Saat itulah ratusan tentara yang kukira sudah angkat kaki bergumul tepat mengelilingi. Pria itu hampir tak sadarkan diri, berteriak-teriak seolah sakitnya mencapai ulu hati.

Kupikir para tentara itu hendak menyelamatkannya. Kupikir para tentara itu hendak menariknya dari cercaan ini. Namun bibirku kering ketika sebilah tombak bersarang di dada sang pria tak lebih dari dua detik.

Sekarang aku tahu maksud Farlan soal Penguasa yang membuat kami saling membunuh.

Aktivitas favorit Bellamy akhir-akhir ini adalah duduk di depan jendela, memandang ke jalanan sempit di depan rumah yang seringkali penuh oleh derap kaki kuda dengan pundi-pundi berisi makanan di punggung mereka. Dia tak lagi tidur di kamar bekas Blake―kakakku―yang kayu dipannya berderit jika dinaiki. Aku harus berbagi tempat dengannya sekarang, ditambah harus tiba-tiba terbangun di tengah malam apabila ia mulai terisak dan merindukan orang tuanya. Aku tidak menyalahkan Bellamy, sungguh, karena aku bisa merasakan apa yang ia rasakan ketika hal yang sama menimpa Blake. Seperti matahari terpeleset di kala senja dan bukannya terbenam.

Farlan mampir lagi pagi tadi, membawakan sekarung besar jagung dan beberapa botol susu. Katanya, ia merasa bertanggung jawab atas aku dan Bellamy yang notabene hanya memiliki satu sama lain.

Keluarga kecil yang tinggal di sekitar rumahku masih memiliki setidaknya satu dari anggota keluarga mereka, sementara yang bernasib sama sepertiku hanya merasakan kesengsaraan selama beberapa bulan. Beberapa dari mereka memilih untuk mengakhiri diri sendiri yang tentu sangat disambut baik oleh Grim―aku pernah menyaksikan Anne mengikis nadinya sendiri. Tudung Grim yang kemudian membawa jiwa Anne pergi terlihat menari bahagia disapu angin lalu menghilang di balik awan kelabu malam itu.

Sup jagung di panci baru mulai menggelegak ketika kudengar derap terburu dari arah tangga kayu. Mom pernah bilang pada kami untuk berhati-hati ketika melewati tangga karena ada bocel di anak tangga ketiga―atau keempat. Dan hal itu pula yang menyebabkan kepergiannya. Grim membuat pegangannya di susuran oleng lalu ia jatuh terjerembab dengan luka serius di belakang kepala. Ketika Dad akhirnya pulang dari ladang, Mom sudah tidak bernapas. Umurku sepuluh dan Blake harus menemaniku tidur sebulan penuh karena aku selalu mimpi buruk setiap malam.

“Elle! Elle, kau harus lihat ini!” Bellamy berteriak nyaring begitu ia menemukanku di dapur.

“Ada apa? Bukan tentang bocah bernama Callum yang sering kau kuntit itu ‘kan?”

Wajah Bellamy memerah sesaat namun kemudian ia seolah teringat sesuatu dan langsung mengambil tempat di bangku kayu. Ada aroma sabun yang menguar darinya, jadi kuasumsikan ia baru selesai mandi.

“Terjadi lagi, Elle. Barusan saja. Di dekat alun-alun kota, aku melihat lewat jendelaku. Orang-orang seperti kesetanan membawa cangkul dan garu menuju ke suatu tempat.”

Wow. Aku tidak tahu apa yang salah dengan dunia ini hingga seorang anak perempuan berumur dua belas seperti Bellamy harus menyaksikan permainan kematian ini secara bebas, seperti kau membebaskan anak-anakmu untuk berkeliling ke wilayah di mana orang-orang diperjual-belikan, para budak disiksa semalaman, dan kumpulan wanita murahan.

“Jangan lagi duduk-duduk dekat jendela, Bellamy. Kau bisa masuk angin.” Kudapati bibirku berbicara sendiri tanpa alasan, lalu berbalik dan mengawasi sup jagungku di panci. Farlan akan datang sebentar lagi karena matahari sudah berada di atas kepala yang artinya adalah waktu istirahat para pekerja ladang. Sebagai penanda konkrit, akan ada sirene nyaring yang berbunyi dari arah alun-alun.

Distrik kami sangat kecil, omong-omong, dengan seluruh permukiman dibangun mengelilingi pusat tempat seluruh kegiatan besar diadakan. Seperti acara pemberitahuan kemarin, misalnya, atau ketika kami merayakan acara panen. Sisi permukiman memenuhi tiga per empat bagian lingkaran yang mengelilingi alun-alun sementara sisanya adalah ladang para penduduk―yang tentunya sudah diambil alih sejak Penguasa sekarang menaiki tahta. Kami disuruh bekerja tapi harus pula membayar pajak. Apabila telah jatuh tempo dan belum ada uang yang disetorkan, Penguasa akan berunding dengan Grim dan kau tahu bagaimana kelanjutannya.

Memang beginilah ironisnya. Hampir setengah lebih pengurangan angka penduduk di kota ini disebabkan oleh hal sepele.

“Elle? Hei, kau melamun!”

O, aku mungkin terlalu serius berpikir hingga tak menyadari sirene dari alun-alun telah dikumandangkan. Dan tentu saja Farlan adalah orang pertama yang akan melempar cangkulnya lalu berlari pulang.

“Wah, kau sudah memasak jagungnya? Kau yang terbaik, Elle!” pekiknya dengan wajah penuh corengan tanah. Farlan membawa aroma matahari dan tanah yang dibajak ke dalam rumah, dan mau tak mau aku berjengit karenanya. Walaupun Dad dan Blake dulu sering melakukan hal yang sama, aku masih belum bisa terbiasa. “Mana Bellamy?”

Aku justru hendak menanyainya demikian, namun derap langkah dari tangga terdengar lagi.

“Mereka akan melakukan pemakanan lusa. Ada tentara berkuda yang mengelilingi jalanan tadi.”

“Dari mana kau mendengarnya?” Farlan bertanya setelah menelan habis roti gandumnya.

Bellamy mengedik ringan. “Aku melihatnya dari jendela kamarku tadi. O, maaf, Elle bukannya aku tidak patuh padamu tapi sulit sekali menjauhkan diriku dari sana,” tuturnya dengan nada mendecit pada kalimat terakhir. “Aku bisa melihat rumahku dari sini Elle, jelas sekali. Maafkan aku.”

Aktivitas meminum kopi anarkis yang sering dilakukan Farlan terhenti begitu saja, pun aku sendiri yang kala itu tengah membagi-bagikan sup ke masing-masing mangkuk. Bellamy terduduk lesu di kursinya, menatap ujung-ujung jari kakinya yang kurus. Jangankan anak sekecil Bellamy, aku pun masih sering meratapi nasibku beberapa kali.

“Tidak apa-apa,” ujar Farlan tiba-tiba. “Aku yakin Elle tidak akan marah. Ia pasti punya alasan tersendiri saat melarangmu dekat-dekat dengan jendela lagi. Iya, ‘kan, Elle?”

Kutangkap ekspresi memohon dari mata biru milik Farlan. Ia hanya ingin kedamaian di tengah-tengah suasana seperti ini, dan―lagi-lagi―aku tidak menyalahkannya. Dia memang tidak ditinggal sendiri seperti halnya aku dan Bellamy, namun satu-satunya anggota keluarga yang kini tinggal bersamanya tak lagi mengingat siapa pun, bahkan anaknya sendiri. Farlan hanya datang dua hari sekali untuk memastikan beliau makan sesuatu dan membersihkan diri. Pikirannya diserap entah bagaimana setelah menyaksikan suaminya dijemput oleh Grim di suatu siang yang terik.

“Ya,” kataku kemudian, mengabulkan permintaan bisu lelaki itu. “Berhati-hatilah.”

Senyum Bellamy merangkak menuju wajahnya kemudian. “Terima kasih, Elle.”

Pemakaman Sergio―pria malang yang kematiannya sangat tragis kemarin dulu―berjalan cepat. Ia dibawa pulang dengan tandu, dimandikan, lalu pendeta memimpin upacara kematiannya. Entah apakah aku harus sedikit lega karena nyatanya pria itu tidak memiliki siapa pun untuk dimintai tangisan, jadi efek setelah penguburannya tidaklah semenyakitkan yang kukira. Kejadian Mr. Atticus sangatlah membuatku syok, ditambah jumlah keluarga besarnya yang mampu memadati gereja serta desau tangis di mana-mana.

Tidak ada undangan pemakaman setelah ini. Mungkin korban malang yang baru kemarin dilihat Bellamy akan diurus selanjutnya. Masuk akal, karena aku bisa membayangkan seberapa besar bagian yang harus dibersihkan, maksudku, orang-orang di sini tidak memiliki senjata apa pun kecuali alat-alat pertanian. Aku tak perlu menjelaskan padamu bagaimana jadinya apabila benda-benda itu digunakan untuk membunuh orang, ‘kan?

“Elle, ayo pulang.”

Di sebelahku, Bellamy mulai merengek. Entah karena suasana gereja yang mencekam atau aura gelap yang terasa begitu pekat. Orang-orang berbusana hitam yang bertugas memakamkan serta mendoakan sudah mulai menutup peti dan mengangkutnya menuju kereta kuda di halaman gereja. Aku menebak Bellamy tidak akan kuat mengikuti upacara ini hingga akhir, jadi kuputuskan untuk tetap duduk sedikit lebih lama hingga rombongan duka berangkat.

Farlan tidak hadir di sini namun ia berjanji akan menemui kami begitu sirene istirahat berbunyi. Jarak ladang tempatnya bekerja dengan satu-satunya gereja yang berada di kota ini tidaklah terlalu jauh jadi ia berjanji akan menjemput sambil membawakan bahan makanan lagi. Ia bilang jumlah panen sedang meningkat, jadi membawa banyak pun tidak akan ketahuan.

Kereta kuda reyot yang tengah membawa peti itu berjalan lesu menuju tanah pekuburan dengan rombongan berbaju hitam mengikuti di belakangnya.

Aku dan Bellamy telah mencapai pagar luar gereja ketika Farlan muncul di kejauhan, tengah memanggul sebuah karung besar di punggung serta pisau kerja yang menggantung di ikat pinggang kulitnya. Aku sudah berkali-kali mengingatkannya untuk memasukkan pisau itu ke dalam tas kulit atau apa, namun Farlan selalu berkilah agar ia tidak perlu repot mengeluarkannya apabila dibutuhkan.

Kata-kata Bellamy yang terlontar untuk menjawab sapaan Farlan terdengar jauh di telingaku saat kurasakan tanganku menyentak keras pegangan Bellamy. Anak perempuan itu memandangku heran pada awalnya, namun hanya berselang lima detik setelah itu ada sulur ketakutan merambati wajah mungilnya.

“Elle!”

Bibirnya mengucapkan―atau meneriakkan―kata demikian, namun sumpah demi Tuhan aku tidak mendengarnya karena ada suara lain yang memenuhi telingaku kala itu.

Terjungkal dan berdebum di atas tanah berbatu tidaklah berarti apa-apa dibandingkan rasa panas yang menjalar di urat lehermu, merangkak pelan sambil memastikan bahwa tiap inci urat sakitmu menegang dan menghantarkan hujaman keji ke seluruh tubuhmu. Wajah Bellamy tak lagi terlihat olehku, namun aku bisa merasakan lengan-lengan kecilnya memelukku dari belakang, sembari dirinya meneriakkan sesuatu seperti namaku, nama Farlan, serta memanggil bantuan.

Karung yang dibawa Farlan terempas begitu saja dan jagung yang dibawanya bergulingan di jalanan. Farlan tiba secepat Grim yang melesat hendak mencabut nyawa. Ia berlutut di hadapanku, tangannya gemetaran sambil menangkup kedua pipiku.

“Elle? Elle, kumohon bertahanlah. Aku akan membawamu pergi dari sini, tidak boleh ada yang melihatmu. Tidak boleh. Bellamy. Bellamy, ayo bantu aku. Kita harus membawa Elle pergi.”

Bellamy tak menjawab, namun bisa kurasakan pegangannya menguat.

Tapi di detik berikutnya aku tak lagi mendengar suara Farlan yang bergetar karena ketakutan melainkan ledakan emosinya yang penuh amarah, pun dengan pegangan Bellamy yang dihentak paksa secara tiba-tiba. Rambut pirang Farlan tak lagi terlihat olehku, digantikan oleh jajaran kaki tinggi yang memerangkapku. Ada denting besi yang terdengar selanjutnya, disusul pekik tinggi dari seseorang ketika ada kelip cahaya menyilaukan menyentil indera penglihatanku.

Aku tidak melihat senjata itu mendekat tadi namun kupastikan sisa napasku sekarang hanyalah beberapa hela. Tidak ada yang ingin kuingat, tidak ada pula yang ingin kusesalkan. Maka dengan napas-napas lemah terakhir yang masih kupunya, hanya ada jeritan bisu dariku yang sekarat sambil meratapi dunia yang tak bersahabat.

  • so glad to be here! dan gak kerasa dalam beberapa hari kita udah sampe di tahun 2018 hihi. hope 2017 left you with good memories and let 2018 promise you a fresh beginning! we hope y’all always keep in touch with WS yo!
  • this is literally re-upload fiction aja hahah. rencananya mau ngepost yang lain tapi waktunya tidak memungkinkan (but akan dipost apabila sudah selesaai)
  • thank you for reading! have a wonderful new year, salam olahraga!
Advertisements

2 thoughts on “Black Mark

  1. Lt. VON says:

    …………………………………………………………………………………………………………….killing is easy rite rite rite kafikaa 🙂
    TERIMA KASIH, JANTUNQU YANG TINGGAL SATU LAGI NGAP-NGAP MENCOBA NAPAS BUAT LANJUT KE 2018

    Buset aku uda keringetan pas baca kalimat italic, trus taunya ganti dari Grim ke Lucifer, trus bacok-bacokan each other like … GUE BISA MINTA PINDAH GAK???? HUHU BAPAK MAU KOTANYA GA KEBANYAKAN PENDUDUK??? OKE PAK SAYA PINDAH SEKARANG! SAYA NIKAH SAMA OPPA LALU PINDAH KORIYA!! :((((

    Edun euy ini apakah Hunger Games si Bapak ena nonton-nonton besok pala bapak kita rebus jadiin sop tulang 😦

    KAGHET EUY KAFIKA WHY SO GORE
    KEMBALIKAN KAFIKAQU YANG MAENAN PRUSSIAN BLUE BUAT BUNUH IBU JAHADNYA TAEHYUNGGGGGGG

    ENIWAIIII
    See u in 2018 kafikeeeey!!! Wish u a fabulous year too! ❤ Feel great to read your fiction in the end of this year ❤ Thank Youuuuuuu ❤

    Like

  2. kimminjung00 says:

    KAFIKAAA OMAYGAT AKU REUWAS INI SANGAT SANGAT SANGAT CANTIIKKK T.T AAAAHHHH♡♡♡♡

    Ini si bapak bapak kumisan pingin digiles sama kereta kumis apa ya? :”) awalnya aku masih bingung sih,sampe dijelasin farlan baru paham ceritanya >< ga nyangka akhirnya elle jadi korban juga :") ah, kapalku tidak berlayar /?/

    Keep nulis kak fikaaa♡♡♡

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s