A Conversation Over Tea

by Cake Alleb

cr. pic: here

Udara cukup lembap ketika Min Yoongi menemukan adik perempuannya mengangkat sebuah amplop yang tengkurap di lorong pintu utama rumah mereka.

Setelah membuka dan membaca isinya, dengus malas yang diembuskan si bungsu cukup membangun intuisi Yoongi sehingga dia bisa langsung menduga informasi yang tertulis dalam surat tersebut. Karena menanyakan apa yang terjadi termasuk hal buang-buang waktu jika sudah tahu persoalannya—selain keduanya memang tidak terbiasa berbasa-basi—maka tanpa pertimbangan lain, lelaki itu langsung membawa teh mengepulnya ke sofa beralaskan karpet bulu di ruang tengah.

“Jangan beralasan pergi ke luar kota atau kedatangan orang tua kita lagi.” Si sulung berbicara di antara tiupannya pada bibir cangkir. “Aku hanya mengingatkan.”

Yoonbi menyeberangi ruangan dengan menyeret langkah lalu mengempaskan diri di kursi goyang dekat perapian. “Aku tidak sebodoh itu, lagi pula,” ujarnya dibarengi leher menjulur ke belakang sandaran—seperti sengaja berusaha membuat kepalanya copot supaya ada alasan untuk tidak pergi ke mana-mana. “Tapi mencari alibi baru yang tidak bisa didebat bukan perkara mudah. Ada ide?”

Meletakkan cangkir di atas alas piring kecilnya, Yoongi meneruskannya dengan menaruh sepasang benda itu ke meja. Kalimat yang dia lontarkan selanjutnya tidak membutuhkan waktu lebih dari setengah menit untuk berhasil menegakkan tubuh sang adik dan membuatnya sumringah. “Kau bisa menjadikanku sebagai alasan dan temanmu tidak akan berani membantah.”

My Dear Brother, kau sungguh mau?” Tapi antusiasme mata bulat dan mulut menganga si bungsu tidak bertahan lama. Sesekon kemudian dia lebih merasa terbodohi daripada terbantu oleh penawaran pengorbanan diri saudaranya; ditandai oleh kedip kelopaknya yang berubah malas. “Kau harap aku percaya?”

“Jadi, kau tidak mau?”

“Kembali saja ke kamarmu.” Yoonbi melirik si sulung yang tampak seperti kucing mengantuk lewat ekor matanya sebelum melemas lagi di kursi peninggalan kakek mereka. “Sama sekali tidak membantu.”

“Kuberi satu kesempatan lagi sebelum aku berubah pikiran,” kata Yoongi. “Ingatlah, kau punya saudara laki-laki yang baik.”

“Baik untuk membuat orang lain terlihat bodoh?”

“Baik untuk mengisolasi saudaraku dari orang lain.”

Alis Yoonbi terangkat begitu pun tubuhnya, bergerak mendekati pusat ruang tengah untuk secangkir teh yang baru dituangkan saudaranya. Dia merasa pembahasan itu sedikit lebih menarik, maka bukan hal yang berat bagi gadis berkuncir tunggal berantakan tersebut mendaratkan berat badannya di hadapan sang tertua. “Kau tidak pernah mengisolasiku dari orang lain. Jadi, apa maksudmu?”

“Aku memang tidak melakukannya. Tapi jika aku mengizinkanmu menggunakan namaku untuk absen dari pesta temanmu itu—“ Yoongi memandang si bungsu dengan benar setelah tepi atas cangkir turun dari hidungnya dan teguk terakhirnya meluncuri kerongkongan. “—artinya aku mendukungmu untuk mendekam di sini daripada bersosialisasi. Kau tidak bisa tidak setuju, bukan, kalau itu sama saja dengan aku membiarkanmu terisolasi?”

Kekehan sang adik hanya mengudara sebentar sebelum wajahnya kembali tak berekspresi. “Kau berkata demikian seperti kau sendiri senang bertemu orang-orang baru, saja.”

Well.” Yoongi menempatkan sikunya di lengan sofa lantas menyanggah kepala. “Tapi jika aku terus menuruti ketidaksenanganku; hanya menyimpan musik di ruanganku; tidak memaksakan diri untuk keluar dan tidak bertemu orang-orang baru yang mendukungku; menurutmu apa kita benar-benar ada di sini untuk minum teh sekarang?”

Mendengar itu, meski minumannya masih utuh, Yoonbi mengembalikannya ke atas meja dan kebiasaan buruknya menggigit kuku ibu jari ketika memfokuskan diri berlangsung diam-diam. “Aku sering mencemaskan hal yang sama, sebenarnya.”

“Tapi kau terlalu takut membuka diri.”

“Haruskah kau membuat semuanya terlalu jelas?”

“Ini bahkan belum bisa dikatakan jelas.” Napas Yoongi berderu tak puas. “Kau tidak berencana membuka pameran dan membuka jasa pemotretan hanya untuk orang-orang yang kaukenal saja, ‘kan? Kau tidak lupa kalau penyewaan gedung juga melibatkan orang baru, ‘kan? Ah, bahkan jika ingin mendirikan gedung pameranmu sendiri supaya tidak terus berhubungan dengan orang asing, kau tidak akan membangunnya sendiri dari dasar lantai hingga memasang atapnya, ‘kan? O, Min Yoonbi, tidakkah kau berpikir itu jauh lebih merepotkan?”

“Bagaimana dengan menjadikan pemilik gedungnya rekanku sehingga dia tidak lagi menjadi orang baru?”

Brilliant. Tapi jika kau bisa melakukan itu, bukankah berarti sebenarnya kau bisa pergi ke pesta? Kau hanya akan bertemu beberapa orang baru dan jika beruntung, kau malah bisa mengurangi daftar orang-orang barumu itu dan memindahnya ke halaman tentang mereka yang kaukenal,” kata Yoongi sebelum beranjak menuju dapur. “Bukankah itu ide yang bagus?”

“Sepertinya tidak buruk.” Yoonbi mengusap-usap kulit pelipisnya. “Kurasa aku bisa datang. Jika memang terpaksa, aku akan mengobrol sebentar sebelum benar-benar pulang.”

Much better.”

“Tapi setelah lima menit tiba di sana, pasti aku sudah berpikir lebih baik aku ada di rumah dengan memakai piyama dan itu memuakkan.”

“Tahan pikiranmu yang itu, kalau begitu, karena aku punya sesuatu.” Suara Yoongi teredam bising air keran yang menjatuhi permukaan porselen sehingga dia harus menaikkan notasi sedikit. “Pikirkan kalau kedatanganmu akan membuat temanmu yang sudah bersusah mengadakan pesta itu merasa senang. Bukankah akhir-akhir ini dia menjadi sahabatmu?”

“Um … aku tidak yakin.” Jeda menyelinap sejenak sebelum gadis itu menyambung, “Kurasa kau berlebihan.”

“Buat dia jadi sahabatmu, kalau begitu.” Yoongi kembali ke ruang tengah dan mengusap wajah si saudara perempuan menggunakan telapak tangannya yang basah. “Kau tahu, sulit sekali mendengarmu membicarakan temanmu tapi tiba-tiba kau sering menceritakan hal tentangnya dan itu bagus.”

Well.”

“Tidakkah kau iri denganku yang punya enam sahabat? Kehilangan satu bukan berarti kau harus kehilangan selamanya, Yoon.”

“Iri?” kata Yoonbi yang masih mengeringkan pipi dengan lengan baju. “Yang benar saja. Beberapa waktu lalu aku mendengar seseorang bilang tidak punya teman yang benar-benar teman. Apa aku berhalusinasi?”

“Itu hanya dalam arti mereka tidak ada yang berusia sama denganku, tahu.” Si sulung mengakhiri kalimatnya dengan decakan serta tubuh berbalik menuju kamar tidur.

“Yang benar adalah karena kau juga kepalang susah membuka diri, tahu.”

Lantas berselang lima belas detik, Min Yoonbi yang sudah ditinggalkan sendiri bergegas mengosongkan cangkirnya untuk segera berkutat memberantakkan isi lemari sementara Min yang lain bernapas lega sembari mengulum senyum.

 

Fin.

 


 

A/N:

  1. Terima kasih sudah membaca. 🙂
Advertisements

13 thoughts on “A Conversation Over Tea

  1. asanayuuki says:

    Ketika yoonbi bercakap-cakap dengan si abang….here i am having conversation over lunch with my mind😂😂
    Belakangan ini suka kenapa ya kalo mau keluar tuh rasanya beratt banget, mager maksimal rasanya pengen gelundungan di kamar kos aja hngg tida baik ini :((

    Yha aku kangen sama min siblings kaa :”)) suasana rumah mereka di benakku kebayang rumah2 yg anget pake perapian trus temaram enak dan so cozy buat mendekam ala2 musim gugur(?) gitu hahaha…
    Anw min yoonbi coba aja sesekali ikut pesta dan bersosialisasi….barangkali ntar ketemu jodoh (yang mana saya sendiri masih galaw mau ngeship yoonbi-taehyung ato yoonbi-jungkook lol) OH IYA btw yg ngadain pesta si maknae kah? Masih menjadi misteri😅

    Well, kak bell… glad to see you here… selamat liburan🎉 dan semoga tahun baru yg akan datang makin sip semuamuanyaa ^^ much love😘😘

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      halo, washfa! pertama-tama aku mau minta maaf dulu karena balesnya lama banget. maaf, yaaa. :”

      hehe aku juga gitu kok, fa. kurang seneng keluar lebih nyaman di rumah. kalo emang kecapekan mah nggak papa ya tapi kalo tiap harinya gitu mah jadinya nggak produktif. waktunya sayang kebuang. masalah kita sama, fa, huhu sedih.

      aku terharu ada yg kangen min siblings :”) terima kasih banyaak. dan terima kasih udah membayangkan rumah mereka kayak gitu karena aku juga bayanginnya sama. yeay. btw astaga hahaha galau ngeship yoonbi sama taehyung atau jungkook. kenapa kamu sangat cute, sih, fa :(. hm kalau sijeon yg ngadain pesta kira-kira dalam rangka apa ya hahaha.

      terima kasih banyak dan selamat liburan juga, washfa, semoga semua-muanya juga makin sip buat kamu. semangaaat! ^^

      Like

  2. slmnabil says:

    Kak Bella, berikan nabil kakak laki-laki karena nabil anak sulung tapi pengen diperhatiin sama kakak kaya yoongi :”) Terus sukanyaa sama cerita ini tuuuh kak bel ngejadiin masalah yang ga terlalu ‘wah’ tapi emang sering kerasa sama kita jadi pas baca ga sekali dua kali dalem hati:

    “ANDAAAAAI BENER BANGEEET”

    Hahahahahaha

    singkat, padat, tapi sangat sangat sangat sangaaat nyampe intinyaaa uwoooo uwooo kak beellll ♡♡♡♡

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      nabil! aku mau minta maaf dulu karena balesnya lamaa banget huhu maaf, ya, nabiiil. 😦

      tapi nabil udah nerima paket belum? isinya yoongi. itu hadiah kakak buat nabil hahahaha. tapi mohon kesabarannya untuk lidahnya yg tajam, ya, bil. kalo bikin sakit hati terus dikirim balik aja ngga papa hehe diganti jimin yg baik hati.

      terima kasih banyaaaak, nabil, aku seneng banget kalo bisa beneran kerasa relatable :”)

      sekali lagi terima kasih banyak, nabiiiil, sudah menyempatkan baca dan komentar. semangaaaat! ❤️❤️❤️

      Liked by 1 person

  3. kimminjung00 says:

    MAS MIN YOONGIII!! PINGIN PUNYA KAKAK MACEM BEGINIAN SATU DOOONGGG UUUNNCCHHH :”)
    Yoobin swag banget ya saking malesnya sampe mau matahin leher wkwkwk :”)
    Topiknya aku banget kak :”) belakangan pas libur, karena gaada kegiatan dan cenderung mendekam di rumah jadi bener-bener males keluar dan ketemu orang baruuu >< rasanya dapet banyak dari petuah mas yoongi~~

    Keep nulis kak bella♡♡♡

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      imel! pertama-tama aku mau minta maaf sama imel karena balesnya lama banget 😦 maaf, ya, imeel.

      oiya imel juga udah nerima paket yg isinya yoongi belum? atau jangan-jangan dia udah bikin kamu sakit hati gara-gara omongannya yg tajem? huhu dasar yoongi.

      hehe iya, mel, yoonbi saking malesnya sampe geblak di kursi pun bakal dia lakuin asal punya alasan buat nggak berangkat ke pesta hahaha.

      same, mel, same. itu juga masalah buat aku pribadi karena home sweet home, kan, mel. rumahku surgaku aku sangat setuju, tapi ya gitu minusnya. :”

      syukurlah yoongi bisa sedikit membantu imel huhu aku ikut senaang~

      terima kasih banyak, imel, sudah menyempatkan baca dan komentar. keep writing juga dan semangaaat! ❤️❤️

      Like

    • kimminjung00 says:

      iya gapapa ko kak wkwkwk :*:*:*

      UNCCHH IYA NIH PAKETNYA BELUM NYAMPE AHAHAHAHAHAHA KAYANYA DIA UDAH KABUR DULUAN SEBELUM NYAMPE WKWKWK

      IYA SURGA BANGETTT walau di rumah berantakan dan sering disuruh suruh tapi tetep aja surga :”)

      IYA MAS YOONGI EMANG TERBAIQQQ♡♡♡ qaqa rasa patcar wkwk

      Sama sama kak♡♡♡ luv yah

      Liked by 1 person

  4. Fafa Sasazaki says:

    Yoonbi kek kembaran yoongi ya, segala kemagerannya pun ada.
    Topiknya nonjok aku juga, krn aq somehow males bgt ketemu orang2 baru trus harus beramah tamah sama mereka. Merepotkan. Hhh, itu tidak baik

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      pertama-tama maaf sekali karena baru bisa balas komen sekarang, kak fafa. :” (semoga panggilan ini benar, ya, kak.)

      tenang, kak, aku juga sebenarnya tertonjok hehe karena ini aslinya sindiran buat aku pribadi. dan betul sekalii itu sangat tidak baik.

      terima kasih banyaak, kak fafa, sudah menyempatkan untuk baca dan komentar. semangaaat! ^^

      Like

  5. Cheery says:

    I can relaaatee huhuhu kadang aku semager itu ketemu sama orang baru, bahkan diajak keluar sama temen yg ga bener2 deket pun mikirnya sampe lamaaa banget heu tida baik memang :(( makasih ya mas yoongi atas pencerahannya 🙏

    Keep writing bell♥

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      nuruuul! maaf sekali baru bisa balas komen sekarang huhu. 😦

      nah itu iya sama aku juga. terus kalo dipaksain gitu jatuhnya capek banget ya rasanya menguras sangat banyak energi dan betul … itu sangat tidak baik. :”

      terima kasih banyak, nurul, sudah menyempatkan waktu untuk baca dan komentar. keep writing juga semangaaat! ❤️

      Like

  6. shiana says:

    kak bells, hai! udah lama gabaca tulisan kakak, bahkan aku udah lupa fiksi terakhir kakak yang kubaca apa…. pardon me. TAPI INI AKU SUKA BANGET. siblings. ada yoongi lagi. terus bahasannya juga ugh bisa relate banget. sebenernya aku seneng sih ketemu orang baru, semangat banget malah, kayak “wah, nambah kenalan nih.” tapi tapi di lain sisi aku takut malah jadinya canggung sama mereka-mereka ini bcos simply i’m not good to get closer to someone new. ribet sih kalo dipikir. eniwei this is so warm. yoongiiii aaaaa!!! jadi kangen kakak cowokku deh. sayangnya kakakku ga kaya yoongi gini, yg bahasannya dalem, mungkin karena umurku sama dia terpaut jauh jadi aku selalu dianggap anak kecil huft 😦

    (knp ini komen kebanyakan curhatnya y sori kak bells)

    keep writing kak ❤

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      hai, shiaa! pertama-tama mohon maaf sekali balasan aku sangaaaat lama. seneng banget kalau shia suka huhu dan wah kamu relatable sama yoonbi, ya, shi, dia juga begitu. cuma jeleknya dia sampe mengisolasi diri sendiri gitu jadinya. sangat tidak baik. anw lucunyaaa shia kangen kakak laki-lakinya! aku seneng kalau liat siblings, brothers, sisters akur gitu. uwu pasti kakaknya shia kalau ngeliat adiknya terpaut jauh. pasti gemes! gemes dan protektif!

      ngga papa, shiaa, aku suka komen-komen curhat hehehehehe thank youu! ❤

      Like

Leave a Reply to shiana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s