Raquel van Scneith

OtherwiseM presented

cr pict here .

.

.

.

 

Raquel van Scneith menghabiskan dua puluh tiga tahun hidupnya dengan menebas kepala orang dan membuang mayatnya ke sungai atau tempat pembuangan sampah—kadang ia membungkus kepala targetnya untuk uang tips dari klien. Cantik, mungil, mematikan dan punya mata indah berwarna hijau. Itulah kenapa ia dijuluki sang rubah hijau.

 

Gadis itu lebih pandai memegang pedang dan panah ketimbang spatula dan pisau dapur. Gadis itu tidak pergi ke pasar, tidak mengenakan gaun indah berenda yang akan menampakan dada dan pinggangnya, tidak juga memoles wajahnya dengan riasan. Dalam kamus hidupnya, tidak ada gosip, menggoda pria, atau merawat diri. Raquel lebih senang tidur sepanjang hari dan menghitung uang bayarannya.

Gadis itu suka rasa tegang saat bersembunyi, tatapan kaget targetnya dan muncratan darah yang tak jarang mewarnai wajahnya. Kalau ia beruntung, korbannya bisa memberikan permainan menarik dengan adu pedang yang tetap berakhir dengan senyum menang Raquel.

Kehidupannya sebagai pembunuh bayaran begitu menyenangkan. Ya, setidaknya sampai malam itu.

Bulan bersinar terang saat Raquel menjalankan misinya untuk membawa hidup-hidup salah seorang anggota kavaleri berjubah merah dari utara. Iya, pasukan jubah merah yang terkenal dengan kebrutalannya itu, yang sekali pemimpinya berseru, “Serang!” maka tidak akan ada satu kepala lawan pun yang tidak putus. Seorang gadis menghadapi salah satu anggota pasukan paling ditakuti beberapa korps militer untuk sekarung emas—sebenarnya tidak benar-benar sekarung penuh, tapi Raquel mana bisa menolak kilauan emas dari dalam karung goni tersebut dua hari sebelumnya (ini adalah bayaran tertinggi yang pernah ia terima). Iya, Raquel segila itu.

Malam itu menjadi sangat panjang karena kau tidak bisa berharap Raquel akan membunuh orang itu secepat ia menyimpulkan tali sepatu. Salah langkah sedikit saja kepalanya bisa menggelinding. Prajurit kavaleri berjubah merah memang dilatih untuk mengincar leher musuhnya—katanya agar cepat dan pasti (mati).

Dengan berat hati, Raquel meninggalkan katana kesayangannya di kedai untuk menyelamatkan kepalanya dari tancapan pedang si prajurit saat hendak kabur ke hutan. Ia butuh ruang lebih dan juga rileksasi untuk jemarinya yang terasa kebas sebelum kembali melanjutkan pekerjaan dengan pedang curian dari orang yang lewat. Kekuatan keduanya seimbang kecuali kenyataan bahwa Raquel seorang wanita. Luka menganga di lengan dan kakinya cukup menghambat gerak si gadis. Raquel benci kenyataan kalau tenaga wanita lebih kecil dibanding pria. Ini melukai harga dirinya. Bayang-bayang sekarung emas membakar semangatnya, tapi tubuh mungilnya yang kelelahan itu tetap saja jatuh tersungkur di atas semak-semak. Raquel menangkis pedang lawannya namun tangan pegangan pedangnya tiba-tiba saja licin (mungkin kualat karena mencuri pedang orang) dan pedang sialan itu berhasil lolos dari genggamannya. Skakmat. Kini ujung pedang lawannya sudah berada di depan wajahnya.

“Dengan kemampuan segini kau berani mencoba membunuhku, Nona?” Prajurit berusia tiga puluhan itu bertanya dengan seringai mengejek walau kulitnya juga sobek di beberapa bagian.

Raquel hendak mengambil pisau di pinggangnya saat ia merasakan sekujur tubuhnya kaku. Ia bahkan tidak bisa menggerakan tangannya.

“Ah, racunnya bekerja dengan cepat ternyata.”

Sial. Dasar picik!

Saat itu, Raquel mulai berpikir apa tubuhnya bisa dikuburkan dengan layak? Atau malah membusuk di tengah hutan? Kira-kira berapa jumlah uang yang baru ia hitung tadi pagi? Satu karung emas itu pasti akan melengkapi targetnya dan ia akan kembali ke kampung halaman untuk menggosokkan uangnya ke wajah keluarga sialan yang menghina ibunya mati-matian. Seharusnya Raquel tidak mematok target terlalu tinggi dan—

Kepala si prajurit ditendang dan ia jatuh terpental ke samping.

—oke, Raquel mencabut kembali penyesalannya.

Seorang lelaki jangkung tiba-tiba muncul dan mengambil alih posisinya untuk bertarung dengan si prajurit. Siapa dia? Raquel tidak bisa menggerakan kepalanya untuk sekadar menengok duel mereka yang cukup ‘berisik’. Denting pedang beradu, suara bariton yang saling bersahutan diselingi makian, serta suara gedebuk dan kerasak-kerusuk. Ah, sayang sekali Raquel harus melewatkan pertarungan mereka.

“Nona, ambillah. Ini penawar racun.”

Si lelaki jangkung tiba-tiba sudah berjongkok membelakangi Raquel sambil menyodorkan setabung cairan bening dengan jarum di bagian atasnya.

“Ah, aku lupa kau tidak bisa bergerak.” Setelah mengatakannya, lelaki itu dengan santai menusukkan jarum ke paha Raquel. Si gadis sontak menjerit. Sialan, ngilu sekali rasanya.

“O, maaf aku harus pergi.”

Lantas lelaki itu kembali melanjutkan duelnya yang sempat tertunda. Tanpa melepas tancapannya di paha Raquel. Lamat-lamat tubuh gadis beriris hijau tersebut mulai membaik dan ia sudah bisa menggerakan jemarinya. Raquel sempat mengira akan diracuni—untuk kedua kalinya—dan mati begitu saja. Tapi kenapa lelaki itu membantunya? Siapa dia?

Tak lama si lelaki kembali dengan peluh membanjiri dahi saat Raquel telah mendudukan tubuhnya dan mencabut penawar racun di pahanya. Di bawah temaran sinar rembulan, si gadis bisa melihat jelas surai emas lelaki itu berkibar tertiup angin. Irisnya berwarna sebiru laut dan garis wajahnya tegas. Tubuh jangkung tegapnya dilengkapi bahu lebar yang tampak nyaman dipakai bersandar.

Sial, kenapa Raquel malah memikirkan itu! Targetnya! Bagaimana dengan targetnya?

“Ah, dia belum mati. Aku menyuntikkan obat bius dengan konsenterasi tinggi,” papar lelaki itu seakan membaca pikiran Raquel.

“Siapa kau?”

Si lelaki berjongkok di hadapan Raquel sambil mengulas senyum. “Raven Crawford. Salah satu pengagum rubah hijau yang beruntung bisa menolongnya.”

Raquel menatap tak suka. Harga dirinya terluka. “Aku tidak minta ditolong.”

Raven masih memertahankan senyumnya. “Aku dapat sepeti emas dari pasukan kavaleri selatan untuk membawa orang itu hidup-hidup.”

Sepeti … emas?! Jadi si Raven ini saingannya? Sialan, ia harus membuatnya sekarat dan menanyakan orang mana yang mau membayarnya sebanyak itu. Perlahan jemari lentik Raquel bergerak meraih pisau di pinggang. Namun, tepat saat ia akan menusuknya, Raven sudah menahan pergerakan si gadis dan menjatuhkan tubuhnya ke rerumputan. Raquel melebarkan matanya, terkejut.

“Nona Raquel van Scneith, aku tidak ingin bertarung denganmu. Aku bahkan berniat membagi dua bayaranku nanti,” Jarak wajah keduanya begitu dekat saat Raven melanjutkan, “tapi kau harus jadi partner-ku.”

Otak Raquel sudah terlatih untuk berpikir keras dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jadi, gadis itu menerima tawaran ‘sinting’ Raven dengan harapan bisa meraup banyak uang tanpa banyak usaha.

.

.

.

Keputusan konyol yang membuatnya mengutuk habis-habisan di masa depan karena—o, bahkan Raquel sendiri jijik mengakuinya.

.

.

.

Ya. Raquel akhirnya menyukai Raven.

Perkara sederhana yang mengesalkan.

.

.

.

—end—

Postingan pertama dan terakhir di tahun 2017—ini pengakuan yang memalukan dan menyedihkan T.T. Setahun ini banyak yang terjadi dan banyak juga resolusi yang belum tercapai. Semoga di 2018 kita semua bisa jadi lebih baik  lagi. Saranghae~~ WS fighting!!!

Advertisements

3 thoughts on “Raquel van Scneith

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s