Fangirl Syndrome

OtherwiseM presented

cr pict here.

Choi Yoojung dihadapkan dengan dua opsi; hidup dikelilingi oppa tampan seperti dalam drama atau hidup normal sebagai gadis sekolahan.

.

.

.

Choi Yoojung adalah salah satu dari sekian juta gadis yang terlena dalam indahnya imaji bersama oppa-oppa tampan yang boyfriend material. Choi Yoojung adalah salah satu dari sekian juta gadis yang menempatkan kegiatan fangirling dan maraton drama di daftar prioritas hidupnya. Spesies-spesies sejenis Yoojung ini kalau dihadapkan dengan dua opsi; hidup dikelilingi oppa tampan seperti dalam drama atau hidup normal sebagai gadis sekolahan, pasti akan memilih opsi pertama. Tentu saja! Maksudnya, siapa yang menolak hidup dikelilingi lelaki tampan? Apalagi kalau kau cukup perlu jadi gadis biasa-biasa saja yang tidak kaya, tidak cantik, tidak jenius, dan tidak populer untuk mendapatkan perhatian—dan juga perasaan, ekhem—mereka.

Itu impian semua gadis! Tak terkecuali Yoojung, siswi tingkat dua sekolah menengah atas berkantung mata tebal yang kesehariannya dihabiskan dengan mengagumi keindahan manusia rasa pangeran dari layar laptop-nya.

Ya, setidaknya sampai pagi yang dingin di awal bulan Januari.

Bagi sebagian besar orang, mimpi hanyalah bunga tidur. Tidak lebih. Awalnya Yoojung juga begitu, tapi siapa sangka mimpinya malam itu berhasil mengubah total cara pandangnya terhadap banyak hal. Jika kau berharap ini mimpi buruk tentang hantu, simpan saja tebakanmu itu karena nyatanya mimpi Yoojung lebih buruk dan mengerikan. Rasanya seperti kedua pipimu ditampar panci dan penggorengan sekaligus. Menyadarkanmu pada realita yang menyakitkan.

Mimpi itu dimulai dengan Choi Yoojung yang berperan sebagai salah satu siswi di sekolah elit yang isinya anak-anak orang kaya yang—ya, seperti tebakanmu, sombong. Ceritanya kelewat klise dan membosankan untuk diceritakan. Yoojung menjadi gadis dari kelas ekonomi menengah ke bawah yang beruntung bisa bersekolah di sana dengan mengandalkan beasiswa. Suatu hari ia bertemu dengan lelaki tampan dengan cara sangat-sangat klise; Yoojung terpeleset, si lelaki menahan tubuhnya, mereka saling tatap-tatap dan muncullah gejolak-gejolak aneh. O, ayolah, ini benar-benar cerita yang membosankan walau Yoojung sendiri tidak bisa menyangkal jantungnya menari-nari bahagia di dalam sana.

Yoojung melepaskan diri, keduanya saling canggung, lalu si lelaki mengajak berkenalan (keduanya benar-benar berkenalan tapi Yoojung sama sekali tidak bisa mengingat namanya, huhu). Setelah kejadian itu, Yoojung dan si lelaki tampan yang entah namanya siapa itu jadi semakin dekat dan Yoojung menyukainya.

Adegan beralih ke lelaki tampan kedua. Lagi-lagi Yoojung tidak ingat namanya, tapi ia ingat kalau lelaki itu adalah anak berandalan yang terkenal sering berbuat onar di sekolah. Banyak orang tidak ingin berada radius dua meter darinya karena ia lelaki nekat yang bisa melakukan apapun pada orang yang berbuat salah padanya—atau melakukan hal yang tidak disukainya. Tapi tidak pada Yoojung. Ia sering membantu gadis itu walau masih dengan cara menyebalkan yang membuat si gadis jengkel. Ya, lelaki itu menyukai Yoojung dan mimpinya benar-benar cerita yang membosankan.

Namun, bukan itu yang membuat Yoojung termenung nyaris setengah jam di atas ranjangnya setelah bangun. Bukan karena ia mengingat kembali sensasi dikelilingi oppa sungguhan, melainkan beban berat yang membayanginya. Pernahkan kalian berpikir bagaimana rasanya diabaikan banyak orang, tidak memiliki teman, bahkan di-bully habis-habisan saat kalian sendiri tidak tahu apa kesalahan yang terlah diperbuat? Rasanya benar-benar mengerikan. Disukai dua lelaki tampan memiliki risiko untuk dikucilkan dari lingkungan sosial dan itu sama sekali bukan hidup indah yang jadi impian semua orang.

Yoojung mulai bertanya-tanya untuk apa ia dikelilingi dua lelaki tampan kalau ia bahkan tidak punya satu teman pun yang mau mendengarkan keluh kesahnya? Oke, kedua lelaki itu pasti mau mendengarkan ocehan Yoojung, tapi Yoojung mana bisa menceritakan masalah seputar perempuan kepada mereka, ‘kan? Yoojung juga harus menelan pahitnya kenyataan bahwa ia harus selalu sendirian ke mana pun ia pergi walau ia begitu ingin ada seseorang yang bertukar gurau dengannya sepanjang koridor. Yoojung juga ingin ada seseorang yang bisa menginap di rumahnya, bermain perang bantal, dan bercerita semalaman. Yoojung ingin ada seseorang yang akan mengedukasinya tentang kiat pacaran walau tips-tips yang diterimanya amatiran. Yoojung perlu seorang sahabat yang selalu ada di saat senang maupun susah, dan kedua lelaki itu tidak akan memberikan hal semacam itu dengan cinta yang mereka miliki.

Yoojung mulai berkaca pada kehidupan nyatanya. Ia gadis yang lumayan populer di sekolah karena sifatnya yang supel dan kocak. Ia punya banyak teman yang peduli dan menyayanginya, bahkan dua orang sahabat yang sering menjitak kepalanya saat ia bertingkat tidak waras. Ia menerima banyak hal dari orang lain saat ia bahkan tidak bisa memberikan hal yang sepadan. Ia memang tidak punya lelaki tampan yang tinggi, cerdas, perhatian, dan kaya yang mencintainya dengan segenap hati. Namun, Yoojung punya lebih daripada itu; limpahan kasih sayang dari banyak orang.

Memang hati kecilnya tidak bisa menolak bahwa diperebutkan dua lelaki tampan adalah hidup yang ‘sempurna’. Namun, kalau boleh, Yoojung ingin mengganti opsinya jadi yang kedua. Hidupnya sudah ‘sempurna’ dengan caranya sendiri walau dalam delapan belas tahun hidupnya ia belum pernah merasakan yang namanya pacaran.

Ibunya pernah berkata bahwa sesuatu yang terlihat berkilau, tidak selamanya indah. Jika kau terus merasa iri pada hidup orang lain, selamanya kau tidak akan bahagia. Akan datang saat di mana kita melihat kilauan itu hanyalah sejumput saja keindahan di antara berbagai hal mengerikan yang mengukungnya kuat-kuat. Setiap orang punya fase sulit dan fase senangnya masing-masing, dan hidup seperti Cinderella yang menikah dengan pangeran tapi memiliki kehidupan berat bersama ibu dan saudari tirinya sama sekali bukan kehidupan yang Yoojung inginkan.

Gadis itu sudah merasa puas dengan hidupnya yang sekarang. Walau terlihat ‘biasa’ saja, Yoojung merasa luar biasa karena ada banyak orang di sisinya. Ya, daripada terlihat ‘luar biasa’ karena diperebutkan dua pangeran tapi tidak punya orang yang banyak orang yang merangkulmu, bukan?

Ah, kenapa Choi Yoojung si penggila oppa berubah jadi bijak begini?

.

.

.

Tapi tentu saja Choi Yoojung tidak bisa menghentikan imajinya tentang diperebutkan oppa-oppa tampan.

Oppa! Oppa kenapa sangat tampan? Ah, berhentilah menyeringai, kau membuat dadaku sesak.”

Ya, namanya juga manusia.

—end—

#EfekKebanyakanNontonDrakor

#PengagumOppaDalamLayar

Terima kasih sudah membaca!

Advertisements

4 thoughts on “Fangirl Syndrome

  1. Fafa Sasazaki says:

    Mungkin untuk anak sekolahan yang setiap harinya bergelut sama rumus dan ulangan, fangirling akut bisa jadi hal yg menyenangkan alih2 refreshing otak dr pelajaran. Tapi seiring jalannya waktu dan umur nambah, ketika kita lebih memikirkan rasio penjualan atau spt pajak, dengan sendirinya mulai bisa membatasi. Itu sih yg kurasain sbg fangirl. Dulu pas gila2nya smpt mikir, bisa ngga ya aku brhenti dr dunia oppa ini. Dan skrg kerasa, ada titik lelah yg kutemui.
    Ih,, yoojungnya aku ngebayangin dia ribut sama doyeon masa, aku suka friendship mrk soalnya

    Liked by 1 person

    • kimminjung00 says:

      Halo Kak Fafa, Imel dari 00L di sini salam kenaall :))
      IYA IYA AKU JUGA NGERASA GITUUU sekarang fangirling cuman sebatas pelepas penat sama tugas kuliah dan ujian yang menumpuk, heuheu. Sekarang kaya cuman lebih dengerin musiknya sama nonton-nonton mv atau performnya kalo butuh suplai tenaga wkwkwk
      Aku juga suka merekaaa perbedaan tingginya ucul banget wkwkwkw
      Makasih udah baca yaa ^^

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s