Aside

Aside © Fantasy Finder

I try to scold myself for being such a fool, but my heart is still heading toward you.

“Kemarin aku ke toko daging—kamu tahu biasanya aku bersemangat, ‘kan? Aku pasti sudah berpikir akan memasak ini atau memasak itu. Tapi, sumpah, aku merasa kosong. Kakak dan adikku berputar-putar, sementara aku hanya berdiri di sana. Rasanya seperti setengah dari hidupku diambil sampai-sampai aku ingin menangis.”

Tapi kamu punya dia—bukankah seharusnya gadis itu membuatmu bahagia?

Tolol. Bodoh. Pikiran pandir.

Memang pacar bisa membuat seseorang bahagia secara instan? Lagi pula, konteksnya berbeda.

Kamu mengajakku mencerca panjang lebar sistem pendidikan yang berbeda dengan masa lalu kita. Aku setuju saja, berkata bahwa aku tidak ingin jadi budak korporat. Bangun pagi hanya untuk macet, pergi ke kantor, disuruh A sampai Z, lalu macet lagi dan tidur. Sirkulasi urban sampai mati.

Kini setelah kamu bicara tentang hidupmu, aku malah berpikir begitu. Egois sekali. Merasakan aliran kebencian pada diri sendiri, aku mengalihkan pandangan menuju barisan perbaikan jalan di pinggir tol. O, aku juga terlalu takut memandang wajahmu karena kamu seperti mimpi yang tak mampu kuraih. Seperti sisa hidupku yang tak tahu untuk apa, seperti harapan akan nilai-nilaiku yang baru saja terjatuh.

“Memangnya kamu sudah sejarang itu memasak?”

“Jarang banget. Sekarang hampir 24 jamku ada di Depok.”

Dan kita seharusnya mudah bertemu, tapi kamu malah menyambangi apartemen gadis itu. Iya, ‘kan? Aku masih berpikir kost-kostan lebih ekonomis. Tapi mungkin karena aku iri padanya.

Jesus Christ. Aku harusnya masuk neraka untuk berpikir demikian.

“Ya, masaklah. Jangan sampai mimpimu hilang kalau kamu memang kepingin bikin restoran. Aku tahu kamu bisa.”

“Iya, sih … cuma nggak tahulah. Itu ‘kan juga gara-gara Papa.”

“Hah, maksudnya? Cita-citamu punya restoran karena disuruh Papa?” Aku merengut tak percaya. Tidak mungkin mimpimu mendirikan restoran hadir karena dipaksa Papamu. Aku kenal kamu begitu dalam, begitu hafal dengan keahlian dan passion-mu dalam hal kuliner untuk dibohongi. Kendati kamu tidak tahu. Meski kamu buta.

“Bukan, bukan. Masuk ekonomi.”

“Oooh. Memangnya kamu lebih ingin culinary?”

“Sebetulnya iya … tapi takut juga.”

“Semua orang takut pada yang nggak pasti, kamu tahu? Dan masa depan adalah salah satu yang paling nggak pasti buat manusia.”

Kubiarkan napasku masuk dan keluar lamat-lamat. Berdua denganmu dalam satu mobil hampir tengah malam setelah kita menghabiskan seharian bersama tiga orang lainnya terasa menyempurnakan segalanya. Aku tak tahu apa motivasimu berkendara sampai Bekasi ketika biasanya kamu malas pergi jauh-jauh (kecuali ketika bersama gadis itu, tentu saja) tapi aku sedikit bersyukur. Kamu menyuruhku menemani dan sudah lama sekali sejak kita bicara dari hati ke hati. Tentang dunia, tentang hari-harimu—mimpi-mimpi kita. Iya, aku selalu merasa ini adalah sebuah kemewahan, namun kini … agak ganjil.

Kerinduan ini aneh; seperti sebagian dariku ingin merangkak keluar, tapi sebagian lagi menikmatinya. Ya, aku tahu aku tidak bisa memelukmu, tapi aku ingin. Setiap kali kamu tersenyum, aku suka tapi hatiku ngilu.

Di satu sisi, aku tak ingin kamu melewati batas dan membuat pacarmu marah. Namun munafik bila kukatakan aku tidak mau kamu tinggal.

“Omong-omong aku nggak yakin bisa ikut tanggal 11, deh.”

Kali ini aku menoleh. Kamu berkedip. Bulu matamu indah.

Ah, tidak seharusnya aku memperhatikan.

“Kenapa?”

“Sebenarnya sih belum ada rencana, cuma kadang Papa tuh kalau bikin acara suka mendadak-mendadak. Ini saja aku penuh dari kemarin sampai tanggal 7.”

“Lho, hari ini bisa?”

“Ya ‘kan acara hari ini sama kalian. Gimana, sih?” Kamu terkekeh sedikit bertepatan saat playlist mobil memainkan tembang milik Adele yang paling jahanam. Aku segera meraih ponselmu untuk mengganti lagu. “Tadi pagi aku mau servis mobil tapi bangun kesiangan, jadinya besok deh. Terus juga udah ada janji sama ….” Kamu menyebut nama pacarmu dengan suara yang lebih pelan.

Ini yang kubenci.

Kenapa kamu tak pernah yakin kalau menceritakan dia di hadapanku? Kamu selalu menghindar, kalau tidak hanya menyebutnya secara sekilas? Apa kamu takut menyakiti perasaanku? Apa selama ini aku terlalu jelas menunjukkan perasaanku sampai kamu memberiku keringanan?

Temanku berkata begitu. Aku pun berpikir demikian.

Demi Tuhan, aku memang menyayangimu tapi aku tak ingin kamu kasihani!

Aku juga tak berniat menghancurkan hubungan kalian, kok, mengingat itu sumber kepuasanmu akan cinta.

(Kalau bayang-bayang kalian cepat putus beda lagi.)

Tenggorokanku tercekat, teringat bahwa background ruang obrol virtualmu dengannya adalah foto close-up gadis itu yang sedang tersenyum memesona. Sumpah, bukan inginku melihat, aku hanya tak sengaja menoleh ketika kamu membalas pesannya. Lalu semuanya tumpah-ruah bersamaan. Fakta bahwa kamu sudah pergi ke Inggris dengannya. Kamu menyatakan perasaanmu di sebuah pelabuhan, mungkin seromantis Titanic. Kamu memikirkannya setiap malam.

Dan kukira jantungmu berdegup kencang ketika melihat dia tersenyum—seperti aku kepadamu.

“Nggak ‘papa, sih. Nanti kita bisa pergi lagi habis tanggal 19.”

“Iya, bisa.”

Janji itu bisa tak ditepati, jadi aku tutup mulut.

Hei, kamu tahu? Sejatinya aku berharap jarak mampu bengkak—kian membentang tak berkesudahan supaya tidak satu pun di antara kita turun dan mengucap perpisahan. Tapi aku juga sadar mungkin aku tidak bisa memberi yang gadis itu berikan. Dia cantik, dia rajin, dia pintar. Suaranya bagus, begitu pula sikapnya. Dia menulis lebih baik dariku. Dia juga setara denganmu. Mungkin bisa menenangkan keraguan-keraguanmu di saat aku memperunyam semua dengan ceritaku sebab aku terlalu bego memberi tanggapan dan motivasi.

Dia bisa membuatmu bahagia dan mencinta. Aku tidak.

Aku yakin akan lama sekali sampai kita bertatapan lagi dan aku tak tahu harus hancur atau lega karenanya.

A/N:

  • i’m so sorry kalau banyak kalimat yang tidak koheren.
  • based on aside by shinee? heheheheheheh.
  • thanks for reading! 🙂 ❤
Advertisements

4 thoughts on “Aside

  1. Lt. VON says:

    RASANYA SAKIT TAPI SAKIT TUH GIMANA SIH :(((

    Mana semobil rasanya ingin ngemut wiper mobil 😦 Salah tapi seneng ya gimana ya 😦

    VIN SEDIH VIN HATIQU BERDARAH 😦

    Ini gimana aku antara mau support sama membimbing ke jalan yang benar. Ayo ayo jangan ya itu laki orang XD

    Somehow pait-pait asem is my fav ❤ ❤ ❤ keep writing VIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN ❤ maaf pendek dan absurd banget ❤

    Like

    • Fantasy Giver says:

      RASANYA SEPERTI RIBUAN BINTANG YANG MENGHUJAM JANTUNGKU….. OW OW OWWW OWWW kau membuatku merasakan indahnya jatuh cinta, indahnya dicintai—o, oh. salah lagu. itu buat jatuh cinta. ini juga jatuh cinta, sih. cuma. one sided. terus cowoknya udah punya pacar lagi. jadi yha gitu deh kak pokoknya rasanya, hiks 😦

      bukan ngemut wiper lagi kak itu si cewek udah asam-asam semeriwing pengen lompat dari atas mobil, gulung-gulung di aspal, terus kelindes mobil lain. so f-ing heartbreaking dan membingungkan. wgwgwgw.

      iya cowok orang iya DENGERIN YA JANGAN BEGOOOO :(((

      no no jangan maaf-maaf. pokoknya kak filz always be my treasure! terima kasih banyak, kak filzku yang tersayanggggg! ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply to Datardo sinaga Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s