Yusuf & Anna

Achter elke succesvolle man, is er een vrouw*

Kerudung putih menutup rambut pirang. Sembunyi, tak tersisa, jangan tertangkap. Dalam hati Anna menggumam. Kota tidak sepi, pun tidak ramai. Namun pasukan bersenjata masih berkeliaran di mana-mana. Dan bersembunyi adalah satu yang harus dilakukan Anna. Bukan takut. Takut bukan kata dalam kamus Anna Margreet Willems. Tapi karena masih ada rindu yang belum tuntas dibayarnya.

Dari desa lain tak jauh dari Malabar—tempatnya hijrahnya ketika desa tempat ia tinggal luluh-lantak—Anna bertandang. Tidak cepat juga waktu yang ditempuhnya. Tetapi telegraf itu membuat apa-apa yang tadinya terasa begitu jauh dan mustahil menjadi mudah untuk dilakukan. Kereta dari Yogyakarta ke Bandung yang mengantarnya. Pagi itu, di bangku pinggir jalan depan Sociëteit Concordia**.

Pemuda pribumi lalu-lalang, sementara mata gadis berusia dua puluh tahun itu tak henti-hentinya memindai setiap pribumi yang keluar. Beberapa mengenakan seragam cokelat, beberapa dengan pakaian putih dan bercengkrama seperti mahasiswa. Mungkin mereka dari Technische Hoogeschool te Bandoeng. Dan derap langkah Anna dimulai ketika seseorang dengan kemeja rapi dan beberapa buku di tangan berjalan keluar seorang diri. Berbelok ke kiri dan berjalan lurus dengan langkah cepat bak seseorang kesetanan.

Selain penyamar yang ulung, Anna adalah pelari yang baik. Karena tak butuh waktu lama untuk menyusul lelaki itu ke depan asramanya. Tentu saja. Dia masih bertahan di sini karena lelaki itu.

Goede morgen.”

Ada dua hal yang Anna pandai lakukan. Pertama, bersikukuh pada keinginannya. Kedua, memukau orang dengan senyumnya. Maka ia tak heran jika laki-laki di depannya terdiam untuk beberapa saat, dengan mata bulat dan kulit kecokelatan wajahnya.

“Anna. Anna Margreet.” Anna membuka kerudung putihnya, menunjukkan rambut pirang sebahunya yang berkilauan diterpa sinar matahari.

“A-Anna?”

Tapi laki-laki itu tidak terpukau. Alih-alih terpukau, dia justru terkejut. Sejak dia pergi bersekolah ke Geneeskundige Hoogeschool, Anna barulah mulai berubah. Dia bukan lagi gadis berusia empat belas yang selalu mengandalkan ibunya dan mengurung diri di kamar. Tapi untuk melupakan wajah istrinya seperti itu, Anna sungguh tidak begitu bisa menerimanya.

“Kamu lupa wajah saya atau sengaja melupakan saya?”

“Tuan dan Nyonya Willems sudah tiada, jadi saya pikir kamu akan akan kembali ke Netherland. Mereka menyuruh warga sipil pulang.”

“Bumi Pasundan adalah rumahku. Jadi harus ke mana aku pulang?”

Anna tersenyum. Penolakan adalah hal yang lumrah. Setelah desa tempat tinggalnya dibumihanguskan, tidak ada warga yang mau menampungnya, meski berkali-kali Anna mengatakan bahwa ia adalah istri pribumi.

“Pulanglah ke tempat keluargamu berada, Nona Anna.”

“Kalau begitu saya sudah pulang sekarang. Selamat datang. Seharusnya begitu kamu mengucapkannya.”

*

“Het is gek—ini gila!”

Kamu boleh berbaur dengan pribumi tetapi tidak dengan menikahinya. Begitu aturan Tuan Willems yang mau tak mau harus ditariknya kembali ketika Anna sempat mengancam akan memberikan surat tanah ayahnya pada pribumi. Anna kehilangan akal sehatnya, tepat ketika dia bertemu dengan Yusuf Setiakusumah.

Papa, saya hanya menyelamatkan tanah kita. Siapa lagi yang akan meneruskan perkebunan jika Papa sudah tiada? Me!”

Alibi. Alibi yang dibuat hanya untuk meyakinkan Andrew Willems untuk menikahkan putri sematawayangnya dengan Yusuf Setiakusumah, seorang pribumi jenius kesayangannya.

Tuan Willems tidak pernah berpikir memiliki anak perempuan akan menjadi sepelik itu. Tak ada yang bisa menghentikan Anna Margreet Willems, terlebih lagi jika itu menyangkut sesuatu yang dicintainya. Anna tidak akan menyerah. Entah turun dari mana sifatnya yang satu itu. Persis seperti prajurit Netherland yang tak kunjung hengkang dari nusantara.

*

“Bagaimana kamu tahu saya di sini?”

“Kolonel prajurit Natherland saya memberitahu. Itu sangat baik mengingat saya tahu suami saya tidak akan memberitahukan kedatangannya.”

“Licik.”

“Kamu belum tahu bagaimana rasanya rindu, Dokter.”

Dokter. Asing rasanya memanggil laki-laki di depannya dengan sebutan dokter, alih-alih Yusuf.

“Kamu tidak akan pulang ke Netherland?”

“Kamu mau saya pulang ke mana?”

“Kamu sudah tahu apa jawaban saya, Anna. Netherland. Rumahmu di sana, sisa keluargamu di sana. Bumi Indonesia tidak akan aman untukmu.”

“Aman, asal kamu menjagaku.”

Yusuf—laki-laki yang kini duduk di sudut tempat tidur—menenggak sebotol alkohol di tangannya. Anna menyunggingkan senyum asimetris. Anak priyayi yang dulu hanya bisa memegang buku sepanjang hari, kini bisa menenggak sebotol alkohol, pikir Anna.

“Alkohol tidak ada kaitannya dengan agama atau derajat seseorang,” seru Yusuf.

“Kamu tidak dikirim oleh Papa ke STOVIA untuk belajar membaca pikiran orang.”

“Terlalu mudah membacamu.”

Menarik, pikir Anna. Maka ia maju selangkah dan duduk di depan Yusuf, tersenyum sambil mendekatkan wajahnya. Matanya membulat. Dari dekat—sayangnya—Yusuf dapat melihat memar di pelipis dan lehernya, juga bagian bawah matanya yang sembab. Mungkin hasil pukulan dari pribumi-pribumi desa, atau dari prajurit yang berusaha mengusirnya kembali ke tanah air mereka.

“Apa yang ada di pikiranku?” tanya Anna.

“Seberapa berat beban yang kau pikul seorang diri di bahumu?” Yusuf balik bertanya.

Oh, Anna. Dia lupa bahwa jantungnya belum mati rasa. Menggoda suaminya dan berujung pada tergoda. Tapi Yusuf tidak menggoda, Yusuf menyentuh hatinya. Perlahan, lemah lembut, tapi pasti.

“Sangat berat, sampai aku tidak lagi bisa berdiri,” gumam Anna pelan.

“Biar aku angkat sedikit.”

Yusuf mendekat, mengecup bibir mungil Anna. Anna meneteskan air mata. Ada rindu yang menguap ke udara, yang mengosongkan dadanya tiba-tiba. Alkohol itu mungkin penyebabnya, atau hati yang sama sekali tidak pernah Anna duga.

“Angkat dan bebaskan. Saya tidak ingin membuat kamu menderita, Yusuf.”

*

Anna berada di semak-semak, di balik tumpukan kardus dan daun teh basah. Asap membubung di udara.

“Mama… Papa…”

Tak ada yang menyahut. Suara percikan api dan jeritan orang-orang adalah yang terdengar. Setelahnya, hanya butuh beberapa jam sebelum semua menjadi gelap dan menyesakkan dada. Asap berkumpul, masuk ke dada menggantikan oksigen. Selamat tinggal, kata Anna. Pada tanah basah, dan hijau daun teh yang baunya menguar karena terbakar. Pada pribumi yang dilihatnya setiap hari, yang melayani keluarga Willems. Selemat tinggal pada ayah dan ibunya yang juga tengah menari atau terkulai dalam api. Selamat tinggal pada dunia, yang tidak pernah dirasanya indah.

Anna sangat berharap dia akan mati. Atau membuka mata dan menemukan jasadnya di balut kain putih. Sayangnya, dia bangun dan melihat seseorang yang mirip sepertinya memandanginya lekat, seakan ingin menelanjangi tubuhnya bulat-bulat.

“Siapa anda?”

“Nona Willems, saya turut berduka atas kejadian yang menimpa keluarga anda.”

Ah ya, kejadian. Anna ingat. Anna ingat ia sudah mengatakan selamat tinggal sebelum mati, tetapi ternyata tidak jadi mati. Dia duduk, menatap prajurit di depannya. Tentara Netherland.

“Anda akan kembali ke Netherland. Kami sedang melakukan pemulangan pada warga sipil dan anda akan…”

“Saya orang pribumi,” ujar Anna pelan.

“Nona!”

“Suami saya! Yusuf Setiakusumah, tengah menempuh pendidikan di Geneeskundige Hoogeschool.”

“STOVIA?”

“Cari dia. Yusuf Setiakusumah. Saya istrinya dan anda tidak bisa memulangkan saya begitu saja!”

Anna menangis sekeras-kerasnya. Pulang. Dia tidak tahu apa definisi pulang dalam hidupnya. Apakah ke mana? Bertemu siapa? Suasana seperti apa yang didapatkannya dengan pulang? Tidak ada ayah dan ibunya, maka satu-satunya ‘pulang’ yang dia akui hanyalah Yusuf Setiakusumah.

“Kau tahu betapa berbahayanya ini untukmu dan untuk suamimu. Kami bisa membuat suamimu berhenti dari sana dan menjadikannya tahanan. Namanya, mungkin saja adalah bagian dari gerakan pemuda yang ingin menghancurkan bangsa kita, Nona.”

“Aku tidak peduli.”

Satu tamparan mengenai pipi Anna. Anyir. Darah mengalir dari sudut bibirnya yang tersobek. Kata kolonel biadab itu, Anna akan peduli jika melihat Yusuf ditahan di penjara, dipukuli hingga mati—mungkin.

“Bisakah aku menunggu hingga suamiku lulus, beberapa bulan lagi.”

*

Anna menyodorkan kertas-kertas ke arah Yusuf.

“Tanah keluarga, ini semua surat pentingnya. Buatlah semuanya bermanfaat bagi semua orang, termasuk dirimu.”

Rindu yang menggebu dan detik yang hampir habis membuat air mata menjadi tak terbendung. Anna menyekanya pelan sebelum menandatangani kertas lain di tangannya. Surat perceraian.

“Anna.”

“Jika saya adalah pengekang dari segala hal yang bisa kamu capai, maka saya tidak akan menyesal pergi dari sini. Saya sudah kembali ke rumah hari ini. Saya sudah siap untuk pergi. Menjadi beban untukmu adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan, Yusuf.”

“Anna, maafkan saya. Saya tidak berniat untuk.”

Gelengan kepala Anna adalah jawaban, sekaligus isyarat bahwa dirinya tidak lagi sanggup berkata-kata. Anna mendekat dan memeluk Yusuf erat. Air mata menetes ke pundak Yusuf yang berbalut kemeja putih.

“Saya menyukaimu, Yusuf. Sampai bertemu di Netherland. Jika kamu membutuhkan rumah, saya akan selalu berada di sana. Atau paling tidak, di hatimu.” []

*

Catatan kaki:

* Behind every successful man, there is a woman

** Sekarang Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika

*** STOVIA, sekarang Fakultas Kedokteran UI

Catatan pengarang:

  • Photo from TheJakartaPost
  • Terinspirasi dari lagu Pagi Itu Di Bangku Taman – Seiring Waktu Berjalan

Advertisements

4 thoughts on “Yusuf & Anna

  1. Lt. VON says:

    ((insert gif. dance sakitnya tuh di sini))
    :((((((((((
    Aku beberapa kali baca cerita latar belakang historikal dan sakitnya tetep aja awet euy

    di sekolah aura kalo uda bahas sejarah adalah seperti apa yang orang-orang pribumi lakukan kepada teh Anna. penuh kebencian, dan ketidakadilan, ya gimana namanya juga orang abis disakiti jadi ga peduli itu penjajah yang sama atau bukan, pokok pirang dilibas.

    sementara kalau baca cerita-cerita yang mengulas sisi lain dari penjajahan, trenyuh euyyy
    karena mau ga mau pasti ada ‘penjajah’ yang baik, yang punya hati, yang ga punya pilihan selain ditempatkan di sini dan mereka tetap punya tujuan baik smhw.

    DAN QUSUKA INI KAMALAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA ❤
    NICEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE ❤
    SUQA SEKALI PAHIT MANISNYA ANNA-YUSUF ❤

    Thanks for the good fic kamalaaaa ❤ you made my dayyyyy ❤

    Like

  2. Fafa Sasazaki says:

    Pas tau kalo ini latarnya tahun penjajahan kujadi ‘mak tratak’ /aduh bahasanya. Ya pokoknya gitulah/
    Sisus itu pengorbanan yusuf sama ana bener2 berat. Cinta emang buta ya,,
    Nice, saya suka sekali. Sebenarnya pelik situasinya kalo mau dibikin detil lebih jauh bisa tambah greget. But overal aku menikmatinya.

    Like

  3. kimminjung00 says:

    “Aman, asal kamu menjagaku.”

    MATE AENG MATE MATEEEE T.T
    MEREKA MANIS TAPI NYIWIT /duh maaf kamala nyundaku keluar/

    Jadi anna ini belum kepala 1 ya kak? Atau di stovianya udah bukan 2 tahun lama belajarnya? Jarang banget aku basa historikal dan ini KETCE BANGEUUUT KAMALA ADUH AKU KUDU OTOKE :”)
    kebaperan yang haqiqi ini mah♡ aku suka penggambarannya dan gimana perasaan campur aduknya anna :”)

    Keep nulis kamalaa♡

    Like

  4. Fantasy Giver says:

    holaaaaaa kak mala!

    this is a nice fic. i mean keluar dari stereotip orang belanda (yang dikatakan penjajah/kompeni) selalu jahat, toh buktinya ada juga kok dutch yang datang ke indonesia bukan karena pilihan dan mereka membela kita atas nama kemanusiaan. kalau di sini anna atas nama cinta kali yaaa hahahahaha. dan aku suka deh kak mala milih dia jatuh cinta sama yusuf yang zaman itu berarti semacam anak priyayi kalo dia bisa sekolah di stovia.

    this is fresh and delicious! hihi. semangat kak mala! keep writing! ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s