Tuesday Song

by Primrose Deen

Pic © Siddharth Bhogra

They call it Monday blue

but I only know Tuesday blue

and don’t ask me why

I don’t need days to help me through this blue

I just need a proof that I’ll be with you

(This is a sequel of He is)

Senin, 18 Desember 2023

Setelah selesai mandi, menggosok gigi, membasuh muka, dan memastikan kesadaran jiwa telah memenuhi cawan ragaku, aku melangkah keluar kamar mandi dengan cuilan-cuilan semangat untuk melanjutkan sisa tahun ini. Langkahku menuju kamar terjeda kala ekor mataku menangkap eksistensi kalender yang kugantung di dinding ruang tengah. Aku mengamati angka tanggal hari ini. Desember sudah berlalu setengah jalan. Tahun sudah hampir berganti lagi. Memang benar jika orang mengatakan bahwa waktu adalah hal yang paling cepat berlalu.

Aku harus menghitung kembali sudah menginjak tahun ke berapa hari ini sejak notifikasi pesan berisi kabar itu masuk ke ponselku.

Ya, aku sudah berhenti menghitung berapa hari yang aku lewati tanpa presensinya. Kuharap dia tidak sakit hati jika tahu bahwa aku memilih jalan ini untuk berdamai dengan kecamuk perasaanku sendiri. Hanya ini yang dapat kulihat sebagai satu-satunya cara bertahan dalam kepingan asa yang tersisa.

Rupanya, sudah enam tahun berlalu. Selama enam tahun ini, aku selalu absen pada hari yang sama; tanggal hari ini. Dengan segudang alasan berbeda yang kubuat setiap tahunnya, atasanku tidak pernah menyadarinya. Tapi, rekan-rekan kerja yang dekat denganku sudah tahu dengan sendirinya. Alih-alih bertanya, mereka hanya mengirimiku pesan, jangan lupa makan atau istirahatlah dengan baik di rumah hari ini.

Aku sangat bersyukur, orang-orang seperti mereka masih mengelilingiku.

Tapi, hari ini aku memutuskan untuk tetap pergi ke kantor.

Sudah saatnya aku bertingkah seakan-akan hidupku sudah tidak terpengaruh olehnya. Kendati kenyataannya memang masih demikian, tapi kurasa, hidup tidak boleh begini terus, bukan?

“Selamat pagi,” sapaku dengan nyaring dan lantang, nyaris membuat seluruh penghuni ruangan terusik pendiriannya untuk tidak mengalihkan atensi dari pekerjaan mereka. Tentu saja rasanya sekujur tubuhku seolah-olah mampu merasakan beberapa pasang mata sedang melempar tatapan acuh tak acuh.

“Astaga.” Teman sebelah kubikelku langsung beranjak dari tempat duduknya dan menikamku dengan tatapan ini-benar-benar-kau. “Kenapa masuk?”

Aku meletakkan tasku di meja, lalu mengangkat bahu. “Kenapa tidak? Hari ini tidak libur ‘kan?”

Kerutan di keningnya tak mengendur barang sedikitpun. “Kau tidak apa-apa?”

Aku mengangkat kedua sudut bibirku sembari berharap bahwa itu memang pantas disebut dengan senyuman. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” ujarku sambil mendaratkan tubuh di atas kursi, lalu melanjutkan, “aku baik-baik saja. Aku berharap aku akan baik-baik saja sampai hari ini berakhir.”

Ia menepuk-nepuk pundakku sambil mengembuskan napas perlahan. “Yah, kau memang harus segera kembali ke kehidupanmu yang biasanya.”

Aku mengangkat kertas jadwal yang sengaja kutempelkan di atas foto kami sembari menjawab, “Ya, semoga aku bisa.”

Jumat, 26 Desember 2016

Foto itu diambil ketika kami sedang berada di pantai pada musim dingin tujuh tahun yang lalu. Kala itu, kebetulan kami mendapatkan libur di hari yang sama. Kala itu, sebenarnya kami lebih ingin pergi bermain ski. Tapi pantai menjadi keputusan akhir kami lantaran resor ski sedang ramai-ramainya. Kala itu, kami memilih pantai kecil di pesisir timur yang jarang dijamah keramaian manusia. Kala itu, kami masih bergandengan tangan dan berbagi dunia bersama.

Seharusnya kami membiarkan jemari kaki kami disambut ramah oleh desir lembut ombak laut. Tapi, lantaran suhunya terlalu dingin, kami hanya menyusuri pasir pantai yang kering seraya mengaitkan lengan satu sama lain. Rambutnya yang sedang dicat merah jambu menari-nari gemulai kala dibelai sepoi-sepoi angin pantai. Kami terus berjalan dalam hening. Membiarkan deburan ombak mengambil alih rungu kami. Menikmati setiap detik kebebasan yang tak kami rasakan kala hari-hari kami hanya dipenuhi dengan segunung pekerjaan yang harus diselesaikan. Sesekali kami menatap satu sama lain dan mengurai senyum, sama-sama menyetujui bahwa ini adalah hari ini adalah hari berharga kami.

Ia melambatkan langkahnya, yang secara otomatis pula membuatku melambatkan langkah. Ia berhenti, akupun berhenti. Ia sedikit memutar tubuhnya menghadap ke lautan.

Masih belum berkata-kata, ia hanya menerawang jauh ke lautan. Menatap entah apa, memikirkan entah apa.

“Terkadang aku merasa kecil. Terkadang aku hanya ingin menjadi buih di lautan, mengambang, dan menghilang dengan tenang,” kata-katanya memecah sunyi.

Aku menatapnya beberapa detik. Menatap bulu matanya yang naik turun dengan gerakan lembut, mengaguminya sebagai salah satu manusia hebat dalam hidupku.

“Jangan pernah merasa begitu, Jjong. Kau tahu, kau selalu lebih dari sekadar buih di lautan. Jangan membuat mereka bangga karena kau ingin menjadi seperti mereka.”

Dia menatapku sekilas, lalu terbahak. “Kau ini, selalu saja membuat komentar tidak bermutu.”

Aku melepaskan kaitan lengan kami dan menambahkan cebikan kesal sebagai bentuk protes atas perkataannya barusan.

Sedangkan dia? Hanya tergelak cukup keras sambil menepuk-nepukkan tangannya beberapa kali. “Eyyy, jangan kesal begitu,” ujarnya, masih dengan sisa-sisa gelak tawanya.

Dibilang kesal, sebenarnya tidak benar-benar kesal. Dibilang tidak kesal, sikapnya membuatku kesal. Bingung, ‘kan?

Akhirnya aku memutuskan untuk memutar tubuh untuk melanjutkan menyusuri pantai. Tapi, dengan begitu tiba-tiba, tanpa membiarkanku menyiapkan diri, ia berjalan cepat untuk mendahuluiku beberapa langkah, lalu berhenti di depanku. Kedua tangannya yang dingin menangkup kedua pipiku dan seketika bibirku merasa hangat kala bertemu dengan bibirnya.

Senin, 18 Desember 2023

Aku sengaja melewatkan makan siang dan lebih memilih untuk tetap bersembunyi di balik kubikelku. Aku mendapatkan pesan dari sahabatnya yang sudah beberapa bulan belakangan tidak menghubungiku lagi. Mungkin karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri, atau karena dia tidak ingin bersedih sepanjang hari sepertiku.

Hari ini kau datang?

Sejenak aku merasa skeptis. Aku tak mengerti kenapa hari ini harus selalu diingat. Membangkitkan denyutan lara yang setiap hari selalu berusaha untuk diredakan. Tapi, akhirnya aku mengetik balasannya; Tentu. Setelah aku pulang dari kantor, aku akan ke sana.

Sepulang dari kantor, aku mampir ke tempatnya berada, di pinggiran kota.

Secara bergantian, kami memberinya dua kali penghormatan, melanjutkannya dengan bercakap-cakap singkat dengan sanak famili dan sahabat-sahabatnya, lalu pulang tanpa setetes air mata pun. Seolah-olah lima tahun belakangan sudah cukup bagi kami untuk beradaptasi dengan hari ini dan hari-hari berikutnya.

Begitulah aku mengakhiri hari Senin ini.

Minggu, 2 April 2017

Malam ini adalah malam terakhirnya sebagai DJ Radio di Blue Night. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari acara radio yang sudah tiga tahun belakangan membuatnya terjaga untuk memeluk hati para pendengarnya yang sedang remuk redam. Ia beralasan bahwa grupnya akan mengadakan tur konser ke beberapa negara, sehingga akan membuatnya sangat sibuk.

Malam ini, salah satu rekan satu grupnya memberinya kunjungan tiba-tiba dengan sekotak tisu di tangan, seakan-akan sudah tahu bahwa tangis tuan rumahnya akan pecah malam itu. Dugaannya memang benar, tisu itu terpakai, lantaran kawannya itu menangis penuh haru.

Malam ini siaran radionya dibarengi dengan tayangan langsung. Jadi, aku bisa puas memandanginya di hari terakhirnya siaran. Gunungan surat penggemar sudah bercokol di hadapannya. Sepertinya, bukan hanya aku yang merasa kehilangan dia sebagai seorang pendengar setia.

Malam ini, dia mengenakan setelan jas biru tua. Dengan rambutnya yang berwarna gelap ditambah setelan itu, harus kuakui dia berhasil membuatku enggan mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Dia sudah mengirimkan swafotonya kepadaku sebelum siaran tadi, diikuti kata-kata bukankah kau sangat bangga memiliki pacar setampan aku?

Namun, siapa yang tahu bila malam itu adalah malam terakhirku menyebutnya sebagai pacar.

Mungkin hanya dia yang tahu.

Lantaran setelah siaran radio terakhirnya selesai, alih-alih menanggapi komplimen-komplimen yang kukirimkan padanya, ia malah mengatakan sesuatu yang tidak relevan.

Let’s break up.

Selasa, 19 Desember 2023

Hari Selasa terasa lebih kelabu dari kemarin. Persis seperti enam tahun yang lalu, akupun merasa hari Selasa lebih berat dan melelahkan. Hari itu terasa seperti mimpi, tak terasa seperti kenyataan sedikitpun. Kedua lututku lemah sepanjang hari. Bahkan terlalu lemah untuk melangkah ke kamar mandi dan bersiap-siap ke kantor. Air mataku tak terbendung sepanjang hari, membuat kedua mataku sebesar bola pingpong.

Sedikit berbeda dengan hari ini, aku pergi ke kantor seperti biasanya tanpa setetes air matapun. Kendati harus kuakui, mendung dalam batinku masih sama, tapi sepertinya aku sudah terbiasa.

Aku menebar senyum ke siapapun yang kutemui, tak terkecuali supir bus yang mengantarkanku ke kantor pagi ini sembari berkata, “Kau sudah bekerja keras, Ahjussi.”

Tuesday comes and goes like a raindrop slowly falls

It’s been a long long day

When my days turned like a river and I stopped counting the days

I spent without you

Rabu, 20 Desember 2023

Pagi ini, seperti kemarin dan hari-hari biasanya, aku pergi ke kantor dengan sisa-sisa perasaan tak menentu. Ada sendu yang berdampingan dengan secuil asa untuk bangkit. Jadi, hari ini kuputuskan untuk mengenakan setelan kerja berwarna merah jambu yang kulapisi mantel merah marun dengan harapan agar aku memiliki keberanian yang membara seperti warna merah untuk memerangi perasaan kelabu yang masih menggelayuti peparuku.

Selama perjalanan menuju kantor, aku mendengarkan siaran radio tempat ia bekerja dahulu. Radio itu sedang memutarkan lagunya, She is.

Ingatan tentangnya yang menyuruhku untuk mendengarkan lagunya menyeruak tiba-tiba saja. Aku masih ingat, ia mengatakan bahwa lagu itu ia buat sembari memikirkan setiap detil tentangku. Aku masih ingat, bagaimana ia berbohong pada khalayak bahwa ia hanya berimajinasi tentang deskripsi gadis yang ada di lagunya itu.

Dan begitu saja pula, air mataku jatuh tanpa permisi. Aku hanya mampu mengumpat dalam hati sambil tertawa tanpa suara.

Sialan, kau, Jjong. Membuat riasan mataku rusak.

Wednesday morning comes and I turn on your radio and every song

Shows me the picture of you and the secrets of our own

And I just fall down and cry

Orang-orang berkata bahwa aku harus segera kembali ke kehidupanku yang biasanya.

Bagaimana aku bisa bersikap seperti biasanya jika seseorang yang selalu kujumpai seperti biasanya tidak ada untuk menggenapinya?

Tapi aku yakin, meski bukan sekarang, aku pasti akan sampai pada hari ketika hidup tanpa presensinya adalah sesuatu yang membuatku terbiasa.

I don’t know how to say goodbye

I don’t know how to quit you

Never say goodbye

I’ll hold you tight even in the dark

end.

  • You’ve done very well, everyone. Stop thinking that you are worthless. When you do, you should remember this; you were never born out of purpose. You were born because He knows you will do well.
  • It’s been a month since that beautiful soul was gone. It still feels unreal, but let’s keep moving forward.
  • Liriknya diambil dari lagunya Big Baby Driver, judulnya Tuesday Song. Bagus sangat.

6149574889ba2d439ff4c48f962382ae

Advertisements

7 thoughts on “Tuesday Song

  1. sashi says:

    What and how will I be in 2023 ya 🤔
    This one is good Ri! Memang harus go on no matter what. He’s gone but not forgotten, tho. Terima kasih…

    Like

  2. Fafa Sasazaki says:

    Di awal ga nyangka aja klo ini fanfic, mana canon nya dipake,, aku belum baca he is soalnya.
    Btw jadi inget kemarin2 ku juga bikin modelan fanfic canon kaya gini, tapi pake cast RV, imagine sndri mrk 10 taun ke depan /lhah malah promosi/

    Great,, aku suka ♥

    Like

    • Primrose Deen says:

      Hehe iya nih, dalam rangka berusaha move on darinya. He is itu kutulis pas lagi sedih-sedihnya. Haha.

      Wah, boleh kok drop link ke sini atau ke blog-ku. Insyaa Allah aku baca. ☺️

      Anyway, thank you for stopping by. Thank you for liking this story. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s