[Special Event: Best of Us] Setelah Hujan Berhenti di Taman Eden

by moonchild

*

Turunlah hujan ketika cintaku dilukai. Berhentilah hujan ketika tunas cinta merekah lagi.

.

Ketika aku mendengar suara Liz di telepon setelah lima puluh enam hari hari, burung-burung seolah berkicau riang di sekelilingku. Aku bahkan lupa jika sebenarnya yang tengah berkicau adalah bosku—laki-laki yang menyimpan lemak dengan berat nyaris seperempat berat tubuhnya di dalam lipatan-lipatan perutnya. Suara Liz, omong-omong, terdengar seperti cokelat beku yang dituangkan di atas es krim vanila—lembut juga dingin. Padahal enam puluh hari yang lalu, suara Liz masih selembut macaron rasa arbei.

Kami akan bertemu di Taman Eden dan seperti biasa, aku akan tiba lebih dulu. Dengan gitar tua yang kupikul di punggungku, sambil menyeret bot yang bolong di beberapa bagiannya. Bot itu membuatku kesusahan untuk berjalan pada musim hujan seperti ini. Air pada genangan yang ada di jalan dengan mudah masuk dan membasahi kakiku dan membuat kakiku bau. Dan tentu saja bos di tempat kerjaku tidak suka itu. Meskipun aku tidak peduli karena Liz tetap mencintaiku.

Sambil menunggu Liz, aku memilih mengeluarkan gitar dan memetiknya pelan. Lagu kesukaan Liz tentunya. Gadis itu menyebutnya Melodi Setelah Hujan. Katanya, suara petikan kecil-kecil yang kumainkan dengan lembut terdengar seperti pelangi yang muncul perlahan-lahan ketika hujan berhenti. Dia selalu menyangsikan melodi itu adalah ciptaanku, karena menurutnya Melodi Setelah Hujan terdengar terlalu feminin di telinganya, dan dia tidak suka jika aku menciptakan lagu yang terkesan feminin. Tetapi Liz suka lagunya, dia bahkan memintaku merekam lagu itu untuk didengarnya sebelum tidur setiap hari. Karena dia menyukainya, maka aku tetap memainkannya.

Saat Liz datang, Taman Eden masih sepi, sama seperti ketika pertama kali aku datang beberapa menit lalu. Berapa lama aku menunggu gadis itu di bangku? Lima menit? Sepuluh menit? Mungkin tiga puluh menit. Aku juga tidak berniat untuk tahu, karena itu tidak penting selama aku bisa bertemu Liz. Laki-laki mana yang tidak bahagia jika bertemu dengan gadisnya? Kendati demikian, sangat disayangkan karena kali ini aku hanya melihat mata redup milik Liz.

“Mungkin ini adalah hari terakhir kita.” Liz angkat suara setelah kami membiarkan petikan gitarku mendominasi suara. Taman Eden masih sepi. Mungkin karena langit bercengkerama dengan awan gelap, bersekongkol menakuti-nakuti manusia untuk melangkahkan kaki keluar dari gua mereka yang nyaman.

Aku berani jamin, aku tidak mengutuk pada Liz ketika petir pertama sore itu terdengar di Taman Eden, memecah kesunyian yang membuat taman tersebut lebih mirip pemakaman daripada sebuah taman. Namun alam seolah berkonspirasi, dan aku tidak bisa meminta pada tuhan untuk sebentar saja menghentikan petir karena kami—aku dan Liz—ingin bicara serius.

“Aku tidak tahu apa yang bisa kutemukan dalam dirimu.”

Sebenarnya banyak. Liz pernah mengatakannya dan aku pernah mencatatnya, untuk kemudian kumasukkan ke dalam bingkai dan kupajang di dekat tempat tidurku. Aku perlu melakukannya karena kupikir suatu hari mungkin aku akan lupa mengapa kami bersama, atau mengapa Liz mencintaiku. Aku bukan seorang pelupa tapi ingatanku tidak sebaik orang lain. Dan pada masa-masa tertentu, aku malah merasa Liz mungkin tidak pantas untukku, oleh karena itu daftar panjang tentang mengapa-Liz-menyukaiku, kupajang terus-terusan di dekat tempat tidurku. Salah satunya adalah karena aku punya rambut hitam tebal yang membuatku terlihat gagah jika disandingkan dengannya yang berambut merah ikal. Juga karena aku memasak kari lebih baik dari pemilik restoran India di ujung gang rumahnya.

Aku menatapnya lekat-lekat. Kesenduan sudah jelas tergambar di kedua bola mataku. Aku sudah menghentikan petikan gitarku sejak tadi karena tahu suaranya bertambah sumbang dan Liz mulai mengernyitkan dahi, pertanda dirinya mulai terganggu dengan suara gitarku. Liz tentu saja tidak berani menatap mataku. Mungkin takut aku tahu bahwa masih ada banyak cinta di kedua bola matanya. Padahal jika aku tahu—dan jika bola matanya masih dipenuhi banyak cinta—bukankah itu bagus? Jadi perpisahan tidak perlu diucapkan di antara kami.

Tapi sepertinya dia tidak menginginkan itu. Maka alih-alih memintanya untuk bertahan atau kembali padaku, aku malah memulas senyum di wajahku. Peduli setan jika senyum ini bisa meluluhkan hati Liz atau tidak, aku hanya ingin tersenyum karena aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah. Pernah suatu hari, Liz memarahiku karena aku bersikeras menyelesaikan atap garasinya padahal hari di luar hujan. Dia memarahiku habis-habisan, seperti seorang ibu memarahi anaknya yang main di luar pada hari hujan. Liz—dan ibu yang memarahi anaknya—hanya sama-sama tidak ingin anaknya sakit. Marah kadang adalah bentuk perhatian. Setelah Liz memarahiku, aku malah terdiam, merajuk karena dia tidak mengizinkanku menyelesaikan garasinya. Kemudian dia malah merasa kecewa dan merasa bersalah karena memarahiku. Sejak saat itu, aku memilih tersenyum ketika Liz memarahiku.

“Jangan tersenyum lagi. Ini bukan hal untuk kau senyumkan,” serunya. Maka kupikir, dia benar-benar marah kali ini. Meskipun aku tidak mengerti salahku apa.

Dadaku sebenarnya sudah sesak meski aku tetap tersenyum. Awan gelap di atas kepala kami mulai bosan mengganggu orang dengan petir-petir ciptaannya. Maka awan-awan itu mengirimkan air hujan, yang akhirnya kuanggap sebagai juru bicaraku—atau lebih tepat juru tangisku. Biar aku bisa tetap tersenyum, dan langit mewakiliku menangis.

“Sebaiknya kau pulang. Hari hujan dan aku akan segera pulang.” Liz bangkit dan aku meraih pergelangan tangannya. Jangan pulang dulu, maksudku. Mungkin aku bisa memberikan satu lagu kemudian membuatnya berubah pikiran. Karena biasanya aku melakukannya ketika Liz merajuk. Meskipun dia jarang sekali merajuk, dan aku selalu memberikannya lagu.

Liz yang masih tidak ingin menatap mataku kembali duduk dan menundukkan kepalanya. Rinai hujan membasahi rambut merahnya membuatnya tidak lagi mengembang. Titik-titik hujan itu juga memasahi rambut dan gitarku, berpotensi merusak senar-senar kawatku. Biarlah, jika Liz bisa mendengar laguku kemudian kembali, aku tentu saja rela membeli enam untai senar gitar baru.

“Mengapa kau bersikeras mempertahankan orang yang tidak lagi peduli padamu?” tanya Liz, tetapi pertanyaannya sama sekali tidak menghentikan laguku.

Hujan pintar, dia datang kecil-kecil agar suara gitarku tak teredam, meski suara Liz ganti meredamnya. Mengapa Liz harus susah payah melepas seseorang yang begitu peduli padanya?

“Kau tidak punya apa-apa yang membuatku jatuh cinta.”

Sebelum aku selesai memainkan laguku, Liz bangkit dan meninggalkan bangku taman. Rintik hujan membuat pola pada jaket cokelatnya seiring punggungnya menjauh dari bangku taman yang kami duduki. Laguku belum habis. Padahal, satu hal yang kumiliki untuk membuatnya jatuh cinta hanya itu.

Sesak di dadaku melesak lebih dalam, membuat nyeri di ulu hati. Hujan turun deras sekali, mengguyurku—mungkin juga mengguyur Liz yang punggungnya semakin menjauh. Laguku semakin samar, suara hujan menutupinya. Hatiku semakin samar, air mata membanjirinya.

O cinta, mengapa sekadar lagu saja tak cukup untukmu?

*

Ternyata hujan tak mewakili hatiku. Dia mewakili cinta. Turunlah hujan ketika cintaku dilukai. Berhentilah hujan ketika tunas cinta merekah lagi. Sebagai ganti, pelangi pelan-pelan seolah merambat. Awan merambat, bosan bermain dengan langit di atas Taman Eden.

Seorang gadis berambut pirang basah kuyup, berhenti di depanku dengan senyum merekah.

“Aku turut berduka untukmu dan kekasihmu. Tapi harus kuakui lagumu tadi sangat indah. Bisakah aku mendengarkannya sekali lagi?”

Binar matanya penuh cinta. Aku mengulas senyum seperti biasa, sebelum Melodi Setelah Hujan mengalun dari gitarku.

“Namaku Zui.”

Petikan gitarku berhenti. Kugerakkan jari-jariku membentuk deretan huruf yang diejanya tanpa suara.

V-I-R-G-O []

pic: endup@unsplash

Advertisements

19 thoughts on “[Special Event: Best of Us] Setelah Hujan Berhenti di Taman Eden”

  1. aw pesonamu mas pesonamu! kalo itu aku, bah! bakal menjomblo sampai masuk liang lahat. yang di atas-atas itu sendu sekali huhu kakmala aku butuh pelukan. tapi kemudian berkat kedatangan dik zui yang sedang absen dari girlgroup Twice, senyumku turut merekah juga❤ boleh juga permainannya, dari kata, gitar, sampe percintaannya hehehe iluv!

    Liked by 2 people

  2. kak malaaaa! ❤

    ini cowoknya kenapa aku mikir kayak streotip anak sastra gitu ya. yang puitis, hopeless romantic, terus suka berandai-andai tentang senja dan hujan AHAHAHA. but you did execute it so well. aku sukaaaa. keep writing kak! 🙂

    Liked by 2 people

    1. Eviiin, Hullo!! ❤

      Anak sastra yaaa, Wkwkwk.
      Aku belum pernah liat anak sastra yang cowok, penasaran bener-bener puitis sama hopeless romantic gak yaa. hehe.
      Makasih ya, Evin. XOXO

      Liked by 1 person

  3. Kak Malaaa!
    Kenapa aku nangkepnya si Mas Virgo ini nggak bisa ngomong, ya? Apa aku salah? He he.
    Btw sebel banget sama ceweknyaaa. Selama baca, gemes sendiri. Sambil ngebatin “hih piye to kowe ki” (hih gimana sih kamu tuh) wkwk

    Somehow setelah selesai baca ini, justru mengingatkan aku sama 500 Days of Summer. Cuma bedanya di sana mereka nggak ada hubungan apa-apa tapi dah melakukan banyak hal. Etapi tiba-tiba si cewek main pergi aja. Terus di akhir-akhir ketemu cewek baru yang ngajak kenalan juga.

    It’s a good start for this event, Kak! Ringan bahasanya. Sukaaa ❤️
    Keep up the good work, Kak Mala! ✨

    Liked by 2 people

    1. hai, Ari! 🙂
      You got it. Hahaha.

      Iya, aku terinspirasi 500 Days of Summer. tapi di sana cowoknya bisa ngomong. Hehehe.

      Terima kasih, Ari.. Aku memang bisanya yang ringan-ringan aja. Huhu. Makasih ya. You too, let’s keep up the good work. ❤

      Liked by 2 people

    2. Yay, yay! Bangga banget dahhhhh, berasa habis menyelamatkan dunia HAHAHA

      Jangan “huhu” lah, Kak. That’s not a bad thing tho. Buktinya tuh Kak Mala dah jadi penulis beneran, punya buku. Apalah q yang masih gini gini aja……. Lulz.

      Yep yep! ❤️

      Liked by 2 people

  4. Kakmalaaaa.. Ini tuh semacam bittersweet gitu menurutku. Dia patah hati tapi seolah mencoba baik2 saja. Terus aku kaget dong tetiba ada cewek yg ngajak kenalan abis putus. Kirain udah, end, terus makin baper. Taunya berakhir manis(?)
    Keep writing kaaakk ❤️

    Liked by 1 person

    1. bittersweet.. aaak kusuka sebutannya tita. ❤
      Iya ada yang kenalan, aku juga kaget, ta! Hahaha.
      Ya tapi kasian juga mau biarin mas-nya sendirian, abis keujanan pula kan. Hahaha.
      Makasih yaa Tita ❤

      Like

    1. Thank you, Refil. 🙂
      Nggak, mala kan salah satu writer di blog ini, terus ada event kecil2an di antara kami, semacam program kerja blog. Tulisan teman2 yang lain juga keren2.. Jadi ini kita lagi di-challenge buat bikin tulisan yang menurut kita adalah kita banget, wilayah paling bagusnya kita gitu. :))

      Makasih udah mampir ya, Refil 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s