[Special Event: Best of Us] Jejak Ziarah

oleh Niswahikmah

.

 

DIA mendatangiku dengan pertanyaan yang sama lagi, di waktu yang sama pula. Di kala langit-langit rumahku tampak lebih bercahaya, ketika langit yang sesungguhnya mulai menjingga disaput awan-awan putih tipis.

“Siapa yang akan mengunjungiku saat aku pergi nanti?”

Sambil menggumamkannya, ia akan menatap tanaman di sekitarnya. Ada pohon yang baru saja tumbuh tanpa bibit apa pun. Batinnya, ajaib sekali. Namun kemudian ia akan tersenyum mengenang bahwa itulah kebesaran Tuhan. Sambil menanyakan hal itu lagi, dia akan mencabuti rumput yang tumbuh subur di tanah, menjadikannya rapi kembali. Kemudian ia akan tersenyum tipis sembari menghela napas lega.

Pertanyaan itu hanya akan dia gumamkan sekali saja. Setelahnya, ia akan mengangkat tangannya sambil menggumamkan hal lain. Doa-doa yang tak pernah kering dari bibirnya setiap kali datang kemari. Ya, dia selalu datang di hari Kamis. Aku hafal itu.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa ibuku yang telah mengasuhku semenjak kecil dan menyayangiku,” gumamnya lamat-lamat. Aku merasakan tubuhku bergetar. Secercah sinar itu benderang di sekitarku, memberikan rasa tenang dan kehangatan.

Selesai berdoa, ia akan berdiri, membersihkan celananya, dan pulang.

AKU tahu ada kecemasan besar yang dipendamnya sebab pertanyaan itu. Dia tidak hanya mengucapkannya di bibir setiap kali menengokku. Dia akan memikirkannya sepanjang perjalanan pulang atau setiap saat melamunkan tentang kematian. Seringkali, dia duduk sendiri di beranda dengan secangkir kopi di sampingnya, mengamati daun-daun dari tanaman yang dibudidayakan istrinya sambil menatap senja yang mulai tenggelam, sembari berpikir sekali lagi, “Siapa yang akan mengunjungiku saat aku pergi nanti?”

Ingin sekali aku mengelus pundaknya dan bilang bahwa ada anak, istri, dan saudaranya yang akan datang berkunjung untuk sekadar membersihkan nisannya dan berdoa. Tapi, sayangnya aku tak mampu.

Yang mampu adalah orang terdekatnya. Maka, ketika suatu waktu istrinya yang berwajah teduh itu mendekat di senja hari, mengingatkan bahwa waktu magrib akan segera tiba, aku berharap ia juga menenangkan hati suaminya akan pertanyaan itu.

Tapi, tidak.

“Mas, apa yang kamu pikirkan? Ini sudah mau magrib. Nggak ke masjid?” tanya wanita itu lembut.

Dia termenung beberapa saat, kemudian menoleh dan tersenyum pada istrinya. “Iya, terima kasih sudah mengingatkan. Aku berangkat ke masjid dulu, ya.”

Hanya begitu saja. Lantas dia pergi masih dengan hunjaman pertanyaan yang sama dalam dadanya. Setiap sujud dan ruku’nya, ia berusaha memfokuskan diri untuk memohon ampunan—aku melihat ketulusan berpendar di sekitarnya. Tapi, tak sedikit pun alam bawah sadarnya berhenti mengingat bahwa waktu kematian bisa jadi sangat dekat. Dan, masalahnya, ia belum tahu pasti jawaban dari pertanyaan itu. Siapakah yang akan mengunjunginya saat ia pergi nanti?

ASAL mula pertanyaan itu bersemayam dalam dadanya adalah saat hari aku meninggalkannya. Dia menahan tangisan mati-matian di sebelahku. Sepanjang membersihkan tubuhku dan menyemayamkan aku, ia tak berhenti menahannya. Namun, saat pulang, ia tak sanggup menahan air matanya itu. Ada duka besar di dalam dadanya, seperti ditinggal separuh jiwa. Aku merasa sesak melihatnya.

Namun, kehidupan terus berjalan. Anak laki-lakinya selalu mulai mencibir saat melihat raut wajah muram ayahnya setiap hari Kamis datang.

“Sebenarnya ada apa di hari Kamis? Apa masakan Ibu selalu hambar di hari ini? Apa semua orang rumah terlihat seperti monyet?” begitu komentarnya.

Ayahnya diam saja. Sang ibu berdecak dan melarangnya bicara lagi.

“Ya, baiklah, aku memang tidak tahu apa-apa.”

Ibunya akhirnya muntab. “Ya, kamu memang tidak tahu dan tidak bisa apa-apa. Apa yang kamu lakukan di usia beranjak kepala tiga? Terus-terusan menyusahkan orang tua! Tidak paham kondisi ekonomi keluarga. Keluar-masuk kerja seenaknya dan malah menambah beban dengan menikah sebelum mapan.”

“Bu, sudah.” Dia memutus ucapan istrinya. Wanita itu beristighfar kemudian meninggalkan mereka.

Waktu itulah, pertanyaan dalam dadanya terbetik. Jika asetnya hanyalah wanita itu dan anaknya, ia tak punya banyak pilihan. Anaknya itu … apakah akan mengunjunginya? Istrinya adalah wanita yang tak mungkin sering-sering pergi ke pemakaman. Hatinya tiba-tiba tersentil ngilu, dan aku juga tak bisa memberikan asuransi untuk melegakannya. Hingga kini.

SORE itu, ia datang lagi. Berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, wajahnya tidak lagi muram. Dia tersenyum sumringah ketika berjongkok di hadapanku. Dia mencabuti rumput-rumput kering di tanah tidak sambil mengucapkan tanya itu. Gumamannya hanya sebatas doa dan lafal surat. Aku bertanya ada apa gerangan, namun ia tak membuatku menunggu berlama-lama untuk kemudian menjelaskannya.

“Dia akan mengunjungiku, Bu. Putraku akan datang mengunjungiku. Aku akan mengajarinya untuk mengunjungiku ketika aku sudah pergi nanti.”

Hanya itu yang dia katakan. Dipakainya pecinya, kemudian melangkah pergi. Yang kulihat selanjutnya adalah ia menaiki mobil dengan anaknya di jok sebelahnya. Senyum itu ia lempar pada sang anak dan dibalas olehnya.

Mereka menikmati semilir angin, meninggalkanku.

PADA hari ketika dia tak lagi kuat untuk mengunjungiku, dia terus berdoa pada Tuhan untuk membiarkan malaikat mendatanginya agar ia bisa segera bertemu denganku. Maka, tak lama kemudian, Tuhan mengabulkan pintanya. Dia bertemu denganku sambil tersenyum. Senyumku tak kalah lebar menyambutnya.

Saat itulah, ketika ia dibaringkan di atas bumi di sebelahku, aku tahu alasan ia tak lagi khawatir tentang siapa yang akan mengunjunginya. Putranya—tentu, dia adalah cucuku—datang dengan bunga kamboja merah, menaburkannya di atas tanah setelah rumputnya bersih dicabuti. Dengan mata berkaca-kaca, ia berbisik pada pusara.

“Ayah, terima kasih sudah memberiku teladan. Jika saja ayah tidak setiap hari rajin shalat berjamaah dan shalat sunnah, aku tidak akan bisa seperti ini. Andai saja ayah tak pernah mengunjungi nenek, mungkin aku tidak sempat kemari saat ini.”

Ya, itulah rahasia pudarnya kecemasannya. Ia memberikan warisan terbaik untuk putranya: suri teladan.

 

selesai.

Advertisements

5 thoughts on “[Special Event: Best of Us] Jejak Ziarah”

  1. niswaaa kamu tuh emang kalo udah nulis yang lekat banget sama sisi religius-sosial-humanis gitu bagus banget yaaa. this is your forte indeed! aku suka sih ngebacanya kayak… menenangkan banget, gitu. apalagi tentang anak dan orangtua yang selalu aku ga bisa kalo nggak terharu. dan kusuka gimana kamu menyelipkan sedikit pendidikan religius dari ayah ke cucunya karena … papaku sereligius itu meski anaknya begini, beliau nggak menyerah. huehue.

    semangat niswa! keep the nice job! ❤

    Liked by 2 people

  2. Duuuhh niswaaaa ❤️❤️❤️ tulisan kamu tuh selalu adem banget tiap kubaca kaya lagi neduh di bawah pohon rindang. Terus, terus, kamu juga selalu bisa bikin orang yg baca ‘tersentil’ meski pakai bahasa yg halus. Kamu selalu ga pernah lupa ngasih pesan moral dan nilai buat pembaca… Kusuka sekaliiiii 😊😊

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s