[Special Event: Best of Us] Matahari yang Tak Secerah Dulu

by cherryelf

credit pic here

“Menurutmu, matahari berubah tidak, sih?”

.

Bukan salah langit musim gugur yang murung. Bukan juga salah teman-temannya yang berisiknya tidak tertolong di lapangan sepak bola. Nilai merah yang tertoreh di kertas ulangan matematikanya tadi pagi, pula bukan merupakan kesalahan. Soal itu, sejujurnya ia tidak berharap banyak, sementara semalam ia lebih memilih menyibukkan diri menyusun strategi serangan di game online kesukaan.

Tapi Lio tidak bisa berhenti berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan semua ini. Dalam dirinya atau mungkin orang-orang di sekitarnya. Lio tidak yakin. Paling mencolok dari segala hal janggal itu, matahari yang bertengger di atas kepalanya tidak seterang yang dulu pernah dikenalnya.

Bagaimana menjelaskannya, sih? Matahari hari ini–atau mungkin sejak kemarin hari–tidak secerah yang dulu. Semasa kanak-kanak, kala ia belum terlalu memusingkan sekolah dan setumpuk rencana masa depan orang tuanya, Lio melihat matahari sebagai sumber energinya. Entah bagaimana, semangatnya selalu membara tiap kali ia melihat matahari muncul di sela ufuk. Seolah ia siap menerjang hari dengan sederet permainan yang Lio dan kawan-kawannya mainkan.

Lalu apa yang terjadi dengan matahari sekarang? Tiap pagi menjelang, saat cahaya pagi menembus tirai, menusuk dan memecahkan mimpinya, Lio merasa seribu kali lebih lelah dari hari kemarin. Ia mengingat lembar-lembar pekerjaan rumah yang belum sempat ia sentuh semalam. Sederet ulangan mingguan tanpa persiapan. Dan sekelompok anak-anak menyebalkan yang bertingkah sok di kelas dan membuatnya mual.

Harinya tergambar gelap. Dan jika itu berupa lukisan, hanya akan serupa carutan pudar abu-abu yang maknanya tanpa harapan.

Lio menghela napas, untuk kesekian kali hari itu. Terlalu keras sampai ditangkap rungu teman sebangkunya, El.

“Ada apa?”

“Hanya sedang mencoba menikmati hari, tapi gagal.”

El mendengus seperti gayanya yang biasa. El bukan teman terbaik. Tapi juga tidak terlalu buruk untuk menjadi teman sebangku. Temannya itu lebih peduli pada nilai-nilai di rapornya daripada memedulikan keadaan kelas, yang menjadi alasan utama kenapa tidak satu pun anak memilihnya menjadi kandidat ketua kelas.

El punya visi. Seolah jalur hidupnya sudah ada di sana. Jelas dan terang, hanya menunggu untuk dilewati. Ia sangat menyukai angka lebih dari apa pun. Dan jika mampu, ia ingin mengganti huruf  di buku  catatannya dengan angka. Semacam sandi, mungkin.

Meski begitu, Lio sudah terlalu putus asa untuk mencari pendengar lain selain anak ini.

“Menurutmu, matahari berubah tidak, sih?”

“Tidak. Kecuali jumlah sunspot yang berubah tiap waktu.”

“Bukan,” potong Lio muram dan tidak peduli apa yang El maksud dengan sunspot. “Maksudku, matahari tidak secerah dulu.”

El diam sejenak dan menengok matahari dari balik bahu kawannya.

“Sama saja. Malah menurutku cuaca tambah panas.”

Lio menggeleng. “Matahari tidak seterik dulu.”

“Ingin melihat matahari paling terik?”

Tanpa berpikir dua kali, Lio mengangguk. Walau ia ragu dengan apa pun itu yang El temukan.

Sepulang sekolah, El mengajak Lio ke rumahnya. Setelah menyapa ibu El sebentar, mereka berderap naik ke lantai dua. Di atap, tempat jemuran pakaian keluarga El saling berdesakan berebut angin.

Lio merapatkan bibir, berusaha untuk tidak melempar komentar dingin.

“Baru tadi pagi ibu menjemur semua ini,” El menyentuh celana panjang yang sepertinya milik abang atau ayahnya. “Dan sore ini sudah kering. Menurutmu kurang panas apa lagi di sini?”

Lio terdiam. Semakin muram. Ia melihat ke seberang tepat ke atap rumah para tetangga.

“Lio.” El berbalik dan menghadapnya. Tatapan El di bawah alis tebalnya cukup melenyapkan makian yang ingin Lio keluarkan. “Tidak ada yang salah dengan mataharinya.”

El terlihat ingin melanjutkan. Lio tahu kalimat apa yang akan menyambunginya.

Semua masalah berawal dari diriku. Dan aku terlalu pengecut sampai menyalahkan matahari.

“Jangan terlalu memikirkan hari esok dan jangan terlalu lama menengok ke belakang. Pikirkanlah apa yang kau lakukan hari ini. Apapun itu akan menjadikanmu sesuatu di masa mendatang.”

Lio terkesiap sesaat. El bisa diandalkan sebagai pendengar yang baik.

 

Advertisements

9 thoughts on “[Special Event: Best of Us] Matahari yang Tak Secerah Dulu”

  1. hai, kak fatim!

    hahaha ini relatable ke seluruh anak sekolah/kuliah/kerja/aktivitas apa pun yang lagi penat kali ya. semua hal dimasalahn dan bikin kesel. termasuk matahari. i like how el responds to it, tho. keep writing kaaak! 🙂

    Like

    1. awww eviiin yang pertama, makasih evin. 🙂
      sebenernya ini cerita soal Lio yang capek sama hidupnya dan merindukan masa-masa kecil dia yang bebas. Matahari hari cerah di sini di maknai masa lalu, githu sih ehhehe tapi eksekusinya kurang greget, yah 😦

      Like

  2. Fatiiimm! Iyaaa, aku bisa ngerasain apa yg lio rasa. Pasti tiap manusia idup adaaa aja masalahnya, dan kalo udah gak tau mau nyalahin siapa atau udah capek nyalahin diri sendiri, yaudah nyalahin matahari aja hahaha dan bener juga kata temennya lio, udahlah gausah mikirin yang lalu atau khawatir mikirin besok. Yg penting ya jalanin hari ini.
    Keep writing fatiim! 😊

    Like

    1. Titaaaa, aww makasih sudah berkunjung. Sebenernya yang ingin aku sampein di sini soal Lio yang capek sama hidupnya dan merindukan masa-masa kecil dia yang bebas. Matahari hari cerah di sini perwakilan dari masa lalu dia, masa anak-anaknya, yah githu lah ehhehe tapi eksekusinya kurang greget, i knew it 😦

      Like

  3. I feel like I was Lio.
    Lagi butuh temen kaya El bikos hidup lagi embuh-embuhnya. Hahaha.

    Duh suka banget Kak penyampaiannya. Bahasanya pun rapi, cakep, enak banget, sampe di ati. Yokshi Kak Fatim cucmeeeey cyiiin ✨

    Tetep bersinar di hatiku, yha, Kak. 🌞 (Eaaa apaan sih lol).

    Rajin nulis terus, ya, Kaaaak! Luv luv ❤️

    Like

    1. Di sini aku kurang menggambarkan soal El, ya. Padahal dia punya peran penting nyembuhin si Lio ini hahha percaya ga sih, teori soal matahari yang sudah ga cerah itu sebenernya itu yang aku rasain. Dalam artian yang nyata, atau mungkin juga sedalam yang Lio pikirkan haha.

      Sebenernya ini cerita soal Lio yang capek sama hidupnya dan merindukan masa-masa kecil dia yang bebas tanpa dituntut ini-itu. Matahari hari cerah di sini sebagai perwujudan masa lalu dia, githu sih ehhehe tapi eksekusinya kurang greget, ><

      Liked by 1 person

    1. lio ngerasa masa lalunya dia lebih baik dari sekrang hehe intinya begitu. makasih sudah menyempatkan waktu membaca tulisanku,yah 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s