[Special Event: Best of Us] Losing Their Minds

by Cake Alleb

cr. pic: here

I got so much to do and not enough time.

Tentu tidaklah mudah bagi seseorang untuk menggeser selot dan mendorong pintu dengan kedua tangan penuh kantong belanja, jadi Yoonbi mendaratkan satu yang dipastikannya tidak memuat telur sebelum melakukannya. Seusai dua-tiga gerak jemarinya sukses membuka akses menuju lorong utama dan gadis itu meraih bawaannya lagi, ada sesuatu yang terasa menahan tangannya. Menoleh, dia terkesiap—o, itu adalah wanita ramping bersurai sepunggung yang diperkenalkan Yoongi beberapa bulan lalu. Kegelapan dari dalam lorong membuat Yoonbi hanya bisa melihat wajah wanita itu samar-samar, namun radiasi lampu jalan di belakang mereka cukup terang untuk mendeteksi senyuman lebar sang tamu kepadanya.

Ms. Wilson!” sapa si bungsu Min dari balik syal rajutnya. Setelah sesekon memikirkan kemungkinan yang membawa wanita itu berkunjung, dia memastikan bibirnya mengembang hingga kerutan harus terbentuk di ujung matanya. “Aku senang kau datang.”

“Kukira kita sudah cukup akrab.” Wanita bersepatu hak tinggi itu bergegas ke dalam ruangan meskipun sang tuan rumah belum bergerak dari teras dan mempersilakannya masuk. “Kukira aku akan mendengarmu berhenti memanggilku Ms. Wilson dan mulai menggantinya dengan Alice. Kau baru akan memasak makan malam?”

Alih-alih menjawab, Yoonbi menyunggingkan senyum lagi—yang jika kau mendekat ke sebelahnya, kau akan mendengar dengusannya yang keras. Dia merogoh saku mantel untuk mengeluarkan ponsel, menghapus belasan notifikasi panggilan tak terjawab serta beberapa pesan yang berbunyi: Bisakah kau mengirimkan sesuatu buat meyakinkanku kalau Yoongi baik-baik saja? yang mana kesemuanya berasal dari Alice hingga Yoonbi sempat bertanya-tanya sejak masih berada dalam taksi apakah dia bisa melaporkannya ke polisi atas tuduhan peneroran.

Tapi dia tahu itu sekadar fantasinya yang konyol, maka dia segera kembali ke realitas dengan memetik nyala sakelar lampu. Ketika langkahnya mencapai depan pantri, si bungsu Min meminta dengan sopan supaya Alice menunggu di ruang duduk. Tapi tamu yang tak berhenti mencelotehkan kekhawatirannya terhadap Yoongi tersebut malah terus mendekati apron yang menggantungi pojok dapur dan itu membuat Yoonbi mengeratkan gigi.

“Jika kau bersedia untuk tenang, kau bisa mendengar sesuatu dari arah studio musik,” kata si termuda sambil menjauhkan sepasang celemek hitam itu dari jangkauan sang tamu untuk menjejalkannya ke salah satu lemari persediaan. “Kau tahu, hanya dua orang yang tinggal di rumah ini. Jika kau bersamaku, kau tahu siapa yang menimbulkan suara di sudut lain.”

“O, itu sedikit—” Tampaknya Alice mulai merasakan sikap Yoonbi yang kurang menerima kehadirannya. Suara wanita itu terdengar mengudara tanpa diiringi embusan napas. “—melegakan.”

“Maaf,” kata si bungsu Min. “Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman, tapi aku tahu kau kemari memang untuk menemui Yoongi—bukan memasak. Well, aku juga ingin meminta maaf karena membuatmu jauh-jauh kemari—bukannya mengirimkan foto keadaan Yoongi saat ini. Tapi, Ms. Wilson, tidakkah gambar-gambar yang seminggu kemarin kuberikan padamu cukup mengobati kecemasanmu kalau Yoongi memang terbukti benar-benar sibuk—bukannya terbaring di rumah sakit?”

“Tapi minggu lalu juga terakhir kali kau mengabariku. Waktu terus berjalan, Sayang. Sekarang belum tentu sama dengan kemarin.” Alice mendesah seperti tengah mengangkat berton-ton karung kentang. “Kau keberatan melakukan itu untukku? Kau tahu aku terpaksa meminta bantuanmu karena Yoongi menolak semua panggilanku, ‘kan?”

“Masalah kalian seharusnya tidak ada hubungannya denganku.” Yoonbi sebenarnya mengerti kalau kalimat itu terlalu kasar dan benar saja; dia segera mendapati tatapan si lawan bicara bersulut-sulut. Seperti obat pahit yang dibutuhkan menjelang kesembuhan; di tengah atmosfer mereka yang memburuk, dia berpikir lebih baik sekalian saja memperjelas apa yang dia rasakan selama beberapa minggu terakhir. “Maaf aku berkata demikian dan harus mengatakan ini: sebenarnya kami tidak suka kauperlakukan begitu.”

“Kami?”

“Kau membuatku seolah aku tidak becus menjaga saudaraku sendiri sementara Yoongi menjadi kehilangan ruang privasi.”

Sontak perempuan yang lebih tua itu membelalak. “Tapi aku tidak bermaksud begitu.”

“Aku tahu kau tidak berniat menyinggung siapa pun. Itu hanyalah bagian dari sifat protektifmu sebagai teman, bukan? Aku tahu kau adalah wanita yang baik.” Si bungsu Min tersenyum dengan tangan menggeser jauh sentuhan sang lawan bicara pada lengannya. “Tapi karena itulah, Alice, kami memutuskan untuk berhenti berhubungan denganmu.”

“Kami?” Kening sang tamu mengerut dalam di atas bulu matanya yang berair. “Tidak, Yoonbi, kau tahu—“

“Kau tahu kalau Yoongi bukan orang yang suka diganggu? Precisely!” Si pemilik rumah kembali mengulas senyum sembari melepas lapisan terluar pakaiannya. Lengkungan itu tetap terpatri sampai ketika dia melanjutkan, “Well, Ms. Wilson, kelihatannya kau sudah lelah. Akan kuantar kau ke depan sekalian aku menggantung mantel ini di tempatnya.” Tapi kemudian dia tidak bisa mengabaikan kondisi tamunya yang menahan bibir gemetar. “O, astaga, setidaknya kau harus bertemu dulu dengan Yoongi. Kau pasti sangat merindukannya.”

“Terima kasih.”

“Tapi aku tetap akan mengantarmu.”

“Kau bisa melanjutkan kegiatanmu, Yoonbi.” Alice menangkup wajah si lawan bicara yang lelah membentuk ekspresi. “Aku masih ingat pertama kali bertemu denganmu yang saat itu berada di studio lukis. Yoongi pernah berkata kalau studio musik berada di depannya.”

“Tapi sejak saudaraku tidak pernah membiarkan siapa pun menginterupsi pekerjaannya—” Si bungsu Min beringsut mundur supaya jemari yang menempeli pipinya jatuh. “—aku harus tetap mengantarmu karena aku pasti bodoh kalau menganggapmu punya kuncinya.”

Setelah itu Yoonbi memimpin langkah meninggalkan dapur dan menaiki undakan seiring mengudaranya embusan napas panjang dari Alice. Menggerakkan kunci khusus ke lubang pintu yang mana bisa tersambung dengan selot di dalam, dia berhasil membuka studio. Tapi sesuatu yang ditemukannya kemudian membuatnya terkejut: ternyata Yoongi sudah memosisikan diri memunggungi layar monitor seperti telah menantikan kedatangan mereka. Dan lelaki itu menatap si adik perempuan serta sang tamu dengan pandangan menilai.

“Aku tahu kau datang,” kata Yoongi, mengusap rambutnya yang berantakan kala beranjak dari kursi putar. “Aku sempat mendengar langkah adikku tidak sendirian. Jadi setelah kupikirkan, aku tahu itu kau.”

“Sekarang aku baru akan melanjutkan kegiatanku, Ms. Wilson.” Yoonbi menggerakkan tungkainya; tapi sebelum itu terjadi, dia telanjur dibuat kesal oleh si sulung yang memintanya tetap tinggal. “Berhenti melibatkanku, Yoongi. Kenapa kau dan teman wanitamu ini suka sekali menggeretku mencampuri urusan kalian saat aku bahkan tidak butuh bantuan siapa pun untuk menghilangkan perasaanku pada Taehyung?”

“Kau tidak menghilangkannya. Kau memang menolak berperasaan dari awal.” Lelaki itu menggeleng. “Aku tidak bakal berlama-lama, Yoon, tenang saja.” Lalu dia bergerak semakin mendekati Alice, memeluk wanita dengan mata memerah itu sedikit lama dan ketika melepaskannya, dia berkata sambil meraih daun pintu, “Senang bisa mengenalmu, Alice Wilson, maaf telah membuatmu khawatir. Aku berjanji mulai sekarang tidak akan ada yang membuatmu perlu mencemaskanku lagi; karena kau akan mencemaskan pria lain. Terima kasih telah datang—“ Kurva bibir Yoongi yang mengembang itu membuat gusi sampai deret giginya tampak manis hingga si bungsu Min bisa mendengar lenguhan wanita satunya. “—dan untuk tidak datang lagi.”

Yoonbi segera meraih tangan Alice dan mengarahkannya menampar pipi Yoongi sebelum menutup kasar pintu studio. “Kau sudah memukulnya,” katanya. “Aku tahu kau pasti ingin memukulnya tapi tertahan karena masih terkejut. Dan aku sudah menghilangkannya dari hadapanmu karena kau pasti tidak ingin melihatnya lagi. Jadi, apa yang harus kaulakukan setelah ini?” Mati-matian menahan degup jantung, sejatinya si termuda benar-benar tidak sabar melihat Alice bertunggang langgang keluar.

Tapi Min Bersaudara tampaknya memang terlahir sial.

“Dia sangat … sangat memesona!” Alice mendekap tubuh si bungsu Min yang mengernyit dan menganga dan merasa kehidupannya tak masuk akal. “Katakanlah, kumohon, apa saja hal yang disukai saudaramu?”

Terlalu malas bereaksi, Yoonbi hanya mengeluarkan tawa hambar yang singkat. Kemudian dengan senyuman berujung timpang, dia menjawab, “Sama sepertiku.”

“Dan itu adalah …?”

“Segala hal selain kau.”

Fin.


A/N:

  1. Foreword from Charlie Puth’s Nine Track Mind – Losing My Mind.
  2. Terima kasih sudah membaca. 🙂
Advertisements

9 thoughts on “[Special Event: Best of Us] Losing Their Minds

  1. shiana says:

    Kakbella! Aku! Mau! Peluk! Kakak rasanya! Baru aja kemarin lupa kapan, aku baca tentang yoon siblings ini dan skrg aku disuguhi lagi cerita mereka yg ga kalah kecenya :”'”) aku sesuuuuka itu sama tiap-tiap scene dan cara yoonbi menghadapi si alice ini. Rada sebel juga sama si alice, like kalau aku jadi yoonbi, bakal kucuekin dia deh mati-matian. Yang temenan siapa dan yang direpotin siapa HUH. DAN ENDINGNYA HAHAHA i think it completes the whole story. Duh rasanya kmrn banyak bgt yang mau kusampein but komenku kenapa masih sependek ini. Pokoknya this is so gud!!! Semangat terus kakbella nulisnya ❤ 🌻

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      aku juga mau peluk shia please jangan menghindar! karena aku tau aku tidak deserve karena sudah setelat ini. btw iya, kan, shi. alice tuh pacar bukan, tunangan bukan, istri bukan, udah ngalah-ngalahin yoonbi aja ngebisingin kehidupan yoongi. adiknya aja diem biarpun sendirian tiap hari kalo kakaknya udah di studio ga keluar-keluar, nah situ malah yang bukan keluarga ngeriweuhin segitu ngerepotinnya. tapi gapapa, kalau ga ketemu min siblings si alice ga dapet pelajaran kan, ya, shi. biar dia ga gitu lagi ke orang lain, tapi kalau dia mau refleksi sih. pft. wkwkw.

      terima kasih banyak, shiaaa, semangat terus juga buat kamu terutama real lifenya. thank youu!❤

      Like

  2. Fafa Sasazaki says:

    perasaan baru kemarin2 baca min bersaudara, sekarang ada lagi, Yeayy!! ini sengaja buat ulang tahunnya si yoongi kah??
    heol, cewek macem alice emang mendokusei alias merepotkan ya, aku yang baca kesel juga sama ms.wilson ini. gedek aku sama dia, kukira habis diusir terang2an sama yoongi dia bakal jera, eeeh,, malah kebalik.
    keep writing ya,,

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      hai, kak fafa! pertama-tama mohon maaf sekali karena balasan ini sangaaaat lama. sebenarnya fiksi ini sudah ditulis lama, kak, sudah dipublish lebih dulu di wp pribadi juga cuma waktu event di ws ternyata kebetulan dapat jadwal H-1 ulang tahun yoongi, jadi … terima kasih ws! hehehe. anw iya, kak, aku setuju alice merepotkan sekali. yoongi gimana bisa kenal sama dia sampe ms. wilson itu ngerasa sedeket itu coba kan. yoongi perlu diinterogasi juga ga sih, kak? wkwk. ga ding. kan ms. wilson udah sirna dari kehidupan min siblings juga jadi ga perlu.
      keep writing juga, kak fafa, semangat terus terutama untuk real lifenya. thank youu!

      Like

  3. titayuu says:

    Bellaaaa! Haiii!!
    Aku suka banget karakter adeknya yoongi. Dalam imajinasiku dia sassy tapi cute sama maniss. Setuju apa yg dibilang shia, aku juga suka cara yoonbi menghadapi si alice. Tapi kalo aku jadi dia, udah kuseret aja keluar sambil ngunci pintu hahaha
    Sungguh tulisan yg menghibur, ringan tapi keceee! Good job bell! ❤️

    Liked by 1 person

    • Cake Alleb says:

      kak titaa! maaf sekali atas balasan yang sangat terlambat ini. alhamdulillah aku senaaang banget kak tita suka sama yoonbi. wah, kak, bisa dijadiin yoonbi referensi itu: diseret dan kunci pintu! berarti harus sedia karung dan tali rotan buat ngiket juga ya kak biar dia ngga bisa meronta-ronta wkwkw.
      terima kasih banyaak, kak tita, sudah meluangkan waktu untuk baca dan semoga balasanku yang basi ini tidak melunturkan kesukaan kak tita ke yoonbi huhu. semangat terus terutama real lifenya, ya, kaak!❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s