[Special Event: Best Of Us] It’s Fine

 

.

Tidak ada yang bilang bahwa menjadi yang terburuk di antara yang terbaik adalah sesuatu yang mudah. Terlebih jika masyarakat mulai mengelompokan seseorang pada dua sebutan; Tim Pemenang dan Tim Pecundang. Beruntung kalau lingkungan keluargamu tak mempermasalahkan di mana kau harus berada. Tapi bagaimana jika dirimu sendiri yang menjerumuskan ke dalam kelompok pecundang?

Aku, contohnya.

Sekarang pukul satu, di balik jendela minimarket yang buka sepanjang malam, kuputuskan untuk meredam depresi dengan mengamati jalan kosong dan segelas kopi kaleng. Menit berlalu cepat saat otak memikirkan banyak hal. Hingga membutuhkan beberapa kedipan untuk menyadari kehadiran seseorang yang duduk di kursi samping.

Sejak kedatangannya, kami seakan sepakat untuk tak berucap. Kepalaku sendiri masih mengolah memori yang terjadi beberapa hari terakhir, beberapa tahun yang lalu, dan tentang kejadian masa kecil. Berbekal ingatan itu, aku pun menyimpulkan bahwa tak pernah ada perubahan besar dalam setiap keputusan yang kuambil. Akhirnya selalu sama; gagal, kecewa, dan putus asa.

“Aku melihatmu saat melintas di depan, dan aku tidak datang untuk membisu,” kata Rama. Dia menoleh saat aku baru terseret kembali dari lamunan. “Bicaralah tentang apa pun.”

“Aku juga tidak menyuruhmu datang.”

“Aku bosan.” Tangannya memangku dagu; dia masih menatap ke depan.

“Aku ingin mati.”

Dari sekelumit isi pikiranku yang pernah kutuang ke telinga Rama, hanya kurang dari lima puluh persen yang ia ketahui. Saat awal mengenalnya, aku pernah bercerita tentang keluargaku. Di mana kedua orangtuaku akan selalu berkata bahwa aku bisa mendapat nilai bagus saat ujian sekolah. Tak masalah kalau gagal, kata mereka. Padahal aku merasakan kekecewaan yang persis seperti yang kurasa setiap kegagalan menerpa secara berulang. Aku gagal menjadi seseorang yang mereka harapkan.

Belakangan aku dan Rama jarang bertemu, atau aku yang memang malas berjumpa dengan siapa pun. Aku tidak bercerita tentang kuliahku yang berantakan karena mimpi lain yang tak kunjung digapai. Juga tentang kehadiranku yang hanya menghabiskan pasokan oksigen di bumi tanpa menghasilkan apa-apa. Mati memang bukan pilihan terbaik, tapi membuat orang lain kecewa bukan keinginan semua orang.

“Mati saja kalau gitu.”

Otomatis kepalaku menoleh. Dwimanik Rama bertemu denganku. Tak ada kesan bercanda dari ekspresi yang sejalan dengan ucapannya barusan. Aku pun menjawab dengan pasti. “Akan kulakukan. Tapi mungkin bukan sekarang.”

“Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa ingin mati?”

Aku butuh pertimbangan. Meski dada terasa sesak seperti balon yang terlalu banyak diisi udara, aku masih ingin mengeluarkan udara itu secara perlahan. Bukan membiarkannya meledak dan menghancurkanku dalam sekejap. Pertimbanganku terkait dengan apa yang terjadi setelah aku mati; pun apa yang terjadi jika aku tetap hidup seperti ini.

“Kamu pikir bunuh diri itu mudah?” Rama lagi yang mulai bicara. Tubuhnya memutar menghadapku. “Pertama mungkin terlihat gampang, tapi penderitaan selanjutnya lebih parah dibanding yang sedang kamu rasakan sekarang. Beruntung jika nyawamu langsung hilang. Kalau ternyata kamu masih bisa bernapas, mungkin terjadi kerusakan di salah satu anggota tubuhmu.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu tidak tahu,” katanya. Dia membuatku  defensif dengan pergerakannya untuk menggulung celana panjangnya. “Aku pernah merasakannya sekali dan membuatku mendapatkan ini.”

Luka bakar di tungkai kanannya dan tangan yang tertutup jaket membuat mataku membulat total. Aku tak pernah tahu kejadian apa yang menimpanya hingga harus mendapatkan luka itu. Dia tersenyum. “Terbakar saat mencoba menghanguskan kamar sebulan lalu, tapi gagal menghanguskan diriku sendiri. Atau haruskah aku bersyukur untuk ini?”

“Aku tidak pernah tahu—“

“Tidak semua hal harus kau ketahui, Kal,” kini Rama menatap ke jalan kosong di balik jendela. “Kita punya beberapa hal yang hanya ingin kita simpan sendiri. Kau punya, dan aku tidak harus mengetahui apa yang terjadi padamu jika kau tidak ingin mengatakannya.”

Mulutku resmi terkatup, mataku belum ingin lepas pada luka bakar milik Rama. Kejadian yang menimpa Rama membuatku ingin menertawakan pemikiran yang sebelumnya terlintas di kepala. Rasanya aneh ketika aku tidak bisa berada bersama lelaki itu untuk setidaknya menyelamatkan dirinya pada waktu itu. Sekarang, aku yang merasa terselamatkan olehnya.

Malam makin pekat, kami pun masih duduk manis tanpa ada pengusiran dari pemilik minimarket yang mulai tertidur di balik konter. Aku tidak tahu di mana harus memulai, akhirnya kuceritakan semua yang kusimpan pada lelaki di sampingku sepanjang malam.

Aku tahu semua akan baik-baik saja—atau tak masalah jika tidak berakhir baik-baik saja. Mungkin manusia memang harus tahu rasa sakit untuk tetap merasa hidup.

.

 

 

 

 

 

Advertisements

13 thoughts on “[Special Event: Best Of Us] It’s Fine

  1. shiana says:

    Kaktitaaa hai. Hm this is kinda suffocating but also soothing at the same time. Sepakat sama Rama; bunuh diri itu nggak mudah. Bukan berarti aku pernah melakukan sih, amit-amit semoga enggak, tp kalo dipikir-pikir pun bener juga. Kalo gak berhasilnya itu lho, yang mungkin malah bikin hidup makin sengsara dibanding sebelumnya 😦 “Mungkin manusia memang harus tahu rasa sakit untuk tetap merasa hidup.” YASH aku suka kalimat ini. Somehow this piece menjadi reminder buatku. Huhuhu, thanks for writing this dan semangat nulis kaktitaa ❤ 🌻

    Liked by 2 people

    • titayuu says:

      Haloo siaa! Makasih udah nyempetin mampir. Kuharap kita bisa baik-baik aja dalam menghadapi masalah yg ada. Semoga juga kita tetep baik-baik aja dan jangan sampe ada berniat bunuh diri dalam keadaan apapun. Semangat nulis jugaa buat siaaa
      ❤️❤️❤️

      Liked by 1 person

  2. futureasy says:

    kaktita keberadaanku di sini bukan sebagai ur fated partner tapi sebagai pembaca yg emang beneran merasa terselamatkan pula oleh isi tulisan ini. Belakangan pikiran-pikiran kayak gini merajai banyak orang dan thanks to Rama, kita semua bisa belajar satu lagi alasan untuk terus fight for our way!

    Simple tapi topiknya hangat dan ngena tanpa harus bertele-tele! You’re doing such a great job delivering the hidden meaning. Plus, nama Rama selalu terdengar adem dan ganteng dan aku-pengen-deket-cowok-bernama-itu banget huhu kAKTITA ILUVTHIS ❤❤❤❤

    Liked by 1 person

    • titayuu says:

      Halooo dhiluu!
      Makasih udah mampir jugaa. Aku pun terselamatkan setelah nulis tulisan ini dan nulis unek2 aku di note kesayangan. Semoga kita dijauhkan dengan niatan negatif semacam itu meski banyak masalah yg dateng.
      (aku juga selalu ngebayangin cowo bernama rama emang ganteng tapi nenangin eheheheh)

      Anw, makasih banyak udah bacaa dhilu. And have a good life ❤️

      Liked by 1 person

  3. Primrose Deen says:

    Kak Tita, I’m here again!
    Until some point, aku bisa relate sama perasaan si Kal ini. Pun beberapa bulan terakhir ini aku lagi ngerasa ada di titik terendah dalam hidup. Dan orang kaya Rama, honestly I need one. Orang yang paham kalau seseorang itu terkadang butuh space sendiri dan ada sesuatu yang kepengin disimpan sendiri. Bukannya maksa-maksa buat cerita, dengan mengatasnamakan kepedulian. Padahal bukan itu yang namanya peduli. 😊

    Thank you for writing this, Kak. L
    I hope life will get better for everyone, for me, for you.

    Liked by 1 person

    • titayuu says:

      Haloo ariii!
      Di beberapa momen, semua org pernah bahkan sering berada di titik terendah dakam hidup. Pas nulis ini pun aku juga lagi ngerasa begitu.
      Dan aku setuju sama kamu, kadang kita butuh ruang untuk diri sendiri, untuk memahami diri sendiri, menyayangi diri sendiri, dan memaafkan diri sendiri.

      Terimakasih banyaak udah mampir, ari! Semoga kita semua tetep baik-baik aja di dalam kondisi apapun ❤️❤️

      Liked by 1 person

  4. Fantasy Giver says:

    kak titaaaa. this is deep and beautiful. indeed one of the best of you. aku suka kak tita ngeramu topik yg tabu ini jd cukup subtle dan lembut untuk bisa dinikmati yang mungkin suka ke-trigger. dan bagaimana kakak menyelipkan soft moral value di dalamnya. wow. adem gitu kak aku bacanya….

    semangat kak tita dan maafin aku karena baru sempet komen sekarang huhu

    Liked by 1 person

    • titayuu says:

      Haloo evin!
      Menurutku ini bukan yang terbaik yg bisa kutulis buat event ini. Tadinya kuhanya ingin mengeluarkan pikiran jelek ke sesuatu yg bisa menguatkanku.

      Makasih banyak udah mampir, evin! Maafkan aku juga karena baru membalas komenmu sekarang 😦 ❤️❤️❤️

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s