[Special Event: Best of Us] Suatu Malam di Dobong-dong

by Primrose Deen

Pic © Hiveminer.com

Dan aku, yang entah manusia atau binatang tanpa perasaan, malah mengambil langkah seribu dari tempat itu sambil menutup mata.

Warning: Terdapat beberapa adegan kekerasan yang digambarkan secara implisit.

Hampir semua orang mengatakan bahwa hal terpenting yang harus dilakukan menjelang ujian masuk perguruan tinggi adalah belajar, belajar, dan belajar. Tak peduli kantung matamu membesar, lengkungan di bawah matamu menghitam menyerupai mata panda, atau dirimu berubah menjadi zombi sekalipun. Hal yang terpenting tetaplah belajar.

Jangan pernah merasa berhak untuk makan enak, apa lagi tidur enam jam. Lantaran tumbuh dengan kebiasaan ini, tidur dua jam saja rasanya sudah merasa bersalah.

Tetapi menurutku, belajar bukanlah hal yang terpenting. Yang terpenting adalah tidak terlibat urusan orang lain.

Itu adalah hal yang sudah kulakukan sejak dulu. Aku selalu menjaga diriku untuk tidak intervensi dalam apa yang orang lain lakukan. Terlebih lagi apabila mereka melakukan hal-hal yang merepotkan seperti minum-minum bersama semalaman atau bertengkar dengan temannya sendiri.

Sama seperti hari ini. Seusai kelas tambahan malam, aku sudah melewati sepasang kekasih yang saling berteriak satu sama lain di depan minimarket seolah-olah manusia-manusia di sekelilingnya tak memiliki mata, telinga, dan mulut yang pantang bergunjing. Selain itu, aku juga melewati segerombolan anak SMA seusiaku yang sedang memukuli seorang laki-laki berseragam sekolah yang sama dengan mereka.

Ketika hal-hal merepotkan seperti itu tertangkap penglihatanku, aku hanya bisa membutakan mata, memasang earphone di telingaku, dan berjalan melewati mereka semua seakan-akan tak ada siapapun di sana. Maka semuanya sudah beres.

Aku tinggal di sebuah gang sempit di daerah Dobong-dong. Gang ini dikelilingi pagar-pagar tembok setinggi telingaku dan ada pula yang langsung dibatasi rumah berdinding tinggi. Atap dari setiap bangunan rumah hampir saling bersinggungan. Kabel-kabel listrik tampak bergelantungan dan saling melilit dengan kusut di antara atap-atap tersebut. Di lingkungan ini terdapat banyak anak tangga lantaran permukaan lahannya tidak memiliki tinggi yang sama. Hanya mengandalkan penerangan minim dari lampu-lampu kuning di beberapa sudut jalan, gang ini tampak tak ramah. Terlebih lagi di jam-jam seperti sekarang ini, nyaris tak ada satu pun orang yang berlalu-lalang.

Saat melewati salah satu gang yang terdapat tak jauh dari gang rumahku, terdengar suara hantaman keras yang menyebabkan sebuah tong menggelinding. Aku bermaksud tetap tak mengacuhkan kegaduhan kecil itu sampai aku mendengar rintihan seorang wanita yang ucapannya tidak bisa didengar dengan jelas lantaran sesuatu menghalangi pita suaranya—cekikan. Kubiarkan sebelah mataku mencuri pandang dari balik tembok. Jantungku seolah-olah berhenti ketika menangkap pemandangan yang belum pernah kutemui sebelumnya. Tak jauh dari sana, seorang wanita berusia awal 30-an sedang meronta-ronta, memberontak atas perlakuan tak senonoh dari laki-laki di hadapannya. Karena dianggap tak mau “bekerja sama”, lelaki itu melingkarkan telapak tangannya di leher wanita itu.

“Tutup mulutmu atau aku akan menghabisimu sekarang juga,” laki-laki itu mengancam.

Masih dengan meronta-ronta, tiba-tiba saja wanita itu bertemu pandang dengan sebelah mataku. Dengan bibir gemetaran, ia meminta pertolongan tanpa mengeluarkan suara. Bibirnya terus-menerus berkomat-kamit tolong aku.

Melihatnya menangkap basah aku yang sedang mengintip diam-diam, dengan seketika aku menegakkan tumbuh untuk bersembunyi di balik tembok.

Sial betul aku malam ini.

Ujian masuk universitas tinggal beberapa hari lagi, tapi aku malah melihat kejadian macam ini. Sebagai manusia normal yang masih memiliki akal sehat dan hati nurani, siapa yang tidak ingin memberikan pertolongan? Tapi, sebagai murid SMA biasa yang telah mengorbankan tubuh dan pikirannya setiap detik hanya untuk beberapa jam di ruang ujian, aku tidak bisa melakukannya. Aku membayangkan bahwa aku akan dipanggil ke kantor polisi untuk memberikan keterangan selama berjam-jam. Jika hal ini berlanjut, aku harus hadir di pengadilan sebagai saksi mata dan bersaksi di hadapan khalayak. Belum lagi jika si terdakwa menyimpan dendam padaku di masa depan, wajar bila aku menjadi seorang pengecut, bukan?

Belum selesai aku berkontemplasi untuk mengambil keputusan, wanita itu berteriak di balik sesuatu yang membungkam mulutnya, yang tak lain adalah tangan si lelaki. Mataku membeliak kala melihat cairan merah merembes melalui serat kemeja si wanita. Itu darah.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, kendati seluruh tubuhnya telah kehilangan kestabilan, dengan gemetaran ia menahan luka di dada kirinya. Dan dengan berengseknya, lelaki yang entah manusia atau binatang tadi, berlari kecil meninggalkan korbannya.

Masih dengan kegamangan yang menggantung di kepalaku, aku mengedarkan pandangan di setiap lampu jalan atau tempat-tempat tinggi yang memungkinkan keberadaan kamera CCTV. Setelah kupastikan tak ada satu pun kamera CCTV yang akan menangkap presensiku, aku melangkah ragu-ragu mendekati wanita itu.

Ia masih menggumamkan hal yang sama; tolong aku. Tapi, sejemang kemudian, tiba-tiba ia kehilangan kesadaran. Saat kuperiksa apakah ia masih mengeluarkan napasnya melalui hidung atau mulutnya, hasilnya nihil. Wanita itu sudah tak bernapas lagi.

Dan aku, yang entah manusia atau binatang tanpa perasaan, malah mengambil langkah seribu dari tempat itu sambil menutup mata.

Aku tersentak saat suara alarm ponselku berdering semakin keras. Jantungku berdegup terlalu kencang, tapi ada secuil perasaan lega kala mendapati langit-langit kamarku adalah pemandangan yang kulihat setelah mimpi buruk tadi. Ya, mimpi buruk.

Tapi ketika aku mencoba untuk mengingatnya secara runtut dan mendetil, rasanya tiba-tiba aku telah melupakan semuanya. Hanya satu hal yang pasti; yaitu perasaan bahwa mimpi itu adalah mimpi yang buruk.

Tidur memang bukanlah hal yang seharusnya tak banyak kulakukan di hari-hari menjelang ujian masuk universitas.

“Adeul, ayo bangun. Kau harus segera ke sekolah, ‘kan?” Suara Ibu dari balik pintu kamar turut menambah perasaan legaku.

“Baik, Bu.”

“Hari ini Ibu memasak mi dingin. Karena kau tak bisa memakannya saat makan siang nanti lantaran pulangmu selalu malam, jadi Ibu memutuskan untuk menjadikannya sarapan saja,” ujar Ibu sambil meletakkan semangkuk mi dingin di hadapanku.

Aku tertawa kecil sebelum menyahut, “Terima kasih, Bu.”

“Oh iya,” sambung Ibu dengan kecemasan yang mulai merayap di wajahnya, “Ibu dengar kemarin malam terjadi pembunuhan di gang yang terletak tidak jauh dari sini.”

“Oh, ya? Tapi kenapa kemarin aku tidak melihatnya, ya?” Aku menggumam, mencoba mengingat sesuatu sambil memiringkan kepala. “Mungkin terjadi setelah aku sampai di rumah,” tambahku seraya mengedikkan bahu.

“Pokoknya kamu harus hati-hati. Jika ada orang yang mencurigakan, cepat-cepat lari. Jangan hanya berjalan begitu saja seperti biasanya.”

Aku bisa mengerti mengapa Ibu menjadi sangat khawatir. Tapi, aku tetap tak dapat menahan diri untuk tidak terkekeh. “Iya, Bu, iya. Aku laki-laki. Jadi lariku cepat. Di dompetku isinya juga hanya cukup untuk membeli camilan tengah malam. Jadi tidak ada yang berselera untuk menggangguku.”

Seperti biasanya, aku pulang dari sekolah pukul sembilan malam. Saat sedang menunggu bus terakhir di halte, tiba-tiba salah satu temanku menyeletuk, “Hei, bukankah ini daerah rumahmu? Dobong-dong?”

Tak benar-benar mengacuhkan celetukannya, aku hanya menimpali, “Pembunuhan?”

“Be—yah, kau sudah tahu?”

“Aku mendengarnya dari ibuku pagi ini.”

“Hei, lihat. Ada foto wanita yang jadi korban. Zaman sekarang banyak media yang tidak bisa menjaga privasi orang,” ujarnya. “Eh, tapi omong-omong, dia cantik. Kasihan sekali, ya.”

Pendirianku goyah untuk tidak mencurahkan setitik atensipun pada ocehan temanku. Aku pun ikut melihat layar ponselnya yang sedang menampilkan foto wanita itu di artikel berita terbaru.

Sudah hampir tiga tahun aku selalu pulang sekolah di jam-jam seperti ini. Sudah hampir tiga tahun pula aku selalu menyusuri gang ini di jam-jam seperti ini. Tapi malam ini, rasanya seperti deja vu. Aku memerhatikan setiap hal yang rasanya persis sudah pernah kulakukan. Bagaimana sempitnya gang ini, bagaimana gang ini dikelilingi pagar-pagar tembok setinggi telingaku, bagaimana kabel-kabel itu saling melilit dengan ruwetnya di antara atap-atap rumah yang hampir bersinggungan satu sama lain, bagaimana temaramnya gang ini karena hanya mengandalkan penerangan dari lampu-lampu kuning, dan bagaimana sepinya gang ini setiap malam.

Dan tiba-tiba, dengan begitu saja, langkahku terhenti setelah melewati sebuah gang.  Aku mengambil beberapa langkah mundur dan menatap salah satu sudut jalan yang tak mendapatkan penerangan. Di sekelilingnya masih terpasang garis polisi berwarna kuning yang melarang warga sipil untuk melewatinya. Tak seperti tadi pagi saat tempat ini menjadi pusat atensi masyarakat, malam ini justru tak terlihat satu orang pun yang melintas kecuali aku sendiri.

Tadi pagi saat berangkat sekolah, aku tidak sempat mampir untuk melihat tempat ini lantaran terlalu malas menjadi bagian dari kerumunan orang-orang yang penasaran dengan tempat kejadian perkaranya. Terlebih lagi, aku juga sudah hampir ketinggalan bus yang menuju ke sekolah.

Setelah kupikir-pikir, rasanya tempat ini sedikit familier. Yah, aku tahu, aku memang tinggal di daerah ini jadi wajar saja jika familier. Tapi, kau tahu, ini perasaan familier yang berbeda. Rasanya seperti sebuah scene yang sudah pernah kulihat, tiba-tiba terulang kembali.

Dengan langkah-langkah pelan penuh keraguan, aku mendekati sudut jalan itu. Aku mendongak untuk mencari keberadaan kamera CCTV—sejujurnya aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Lalu, sesuatu mendorongku untuk melihat artikel berita yang tadi kulihat bersama temanku. Aku berhenti tepat ketika artikel itu menampilkan foto si wanita, yang merupakan korban dari kekejian yang terjadi di tempat ini.

Menurut artikel berita, wanita itu berusia awal 30-an. Kuperhatikan foto itu beberapa saat dan perasaan tak asing kembali menjalari. Rasanya aku pernah melihat wanita ini, tapi dengan keadaan yang sedikit berbeda, dan tidak tampak serapi ini. Aku masih berusaha keras menggali ingatanku untuk menemukan wanita itu dalam kepalaku, tapi tiba-tiba terdistraksi oleh sebuah tepukan ringan di pundakku.

“Hei,” suara itu terdengar bersamaan dengan tepukan tadi.

Dan tentu saja, secara refleks aku pun menoleh, dan mendapati seorang wanita sedang menyeringai kepadaku.

Wanita itu sama persis seperti di foto. Melihat pakaian yang ia kenakan, aku merasa aku sudah pernah melihatnya. Dan saat itulah aku ingat kapan, di mana, dan bagaimana aku pernah melihat wanita ini dengan pakaian ini pula; tadi malam, di mimpiku—atau bukan mimpi, dia sedang dicekik, dilecehkan, dan ditikam oleh seorang laki-laki. Tapi aku malah melarikan diri lantaran tak ingin terlibat.

Dan aku ingat bagaimana keadaan wanita itu kali terakhir aku melihatnya; pakaiannya penuh dengan darah di bagian dada sebelah kiri dan ia tak mengembuskan napas lagi. Tapi saat ini tak terlihat setitik pun noda darah di pakaiannya dan ia terlihat baik-baik saja.

“Bukankah tidak sopan jika kau tidak menjawab ketika disapa oleh seseorang?”

Masih bergeming di tempat, aku hanya terus mencari di mana titik logis dari kejadian yang kualami saat ini.

Kini ia ikut memerhatikan layar ponselku yang sedang menampilkan fotonya tadi.

Seringainya melebar, lalu ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, “Kenapa kemarin malah meninggalkanku, anak muda?”

Aku tak bisa mengingat kejadian selanjutnya. Yang kuingat hanyalah ketika telapak tangan, punggung, dan pelipisku dibanjiri keringat dingin begitu saja. Juga kala aku membaca judul artikel berita yang ditunjukkan oleh temanku di halte tadi; Seorang Wanita Ditemukan Tewas Ditikam di Salah Satu Gang di Dobong-dong.

end.


Catatan kaki:

Adeul: anak laki-laki

Catatan dari orang yang nulis:

  • Errr … I’m not sure if this is the best of me, or the best fiction I’ve ever made since my life is in a mess lately. I’m even deactivating most of my social media since I want to get a peacefulness and avoid some burdensome people. I can’t think of anything properly and clearly. So I just followed my head and fingers. But I tried my best, so please feel free to give me any feedback.
  • Unrelated curcol of the story making: being grown up adult is hard.
  • Related curcol of the story making: susah banget nyari gambar gang kecil di Seoul yang kualitasnya bagus. Harap dimaklumi. Soal Dobong-dong … iya, ikutan lingkungannya Do Bong Soon aja lol
Advertisements

5 thoughts on “[Special Event: Best of Us] Suatu Malam di Dobong-dong

  1. titayuu says:

    Haaaiii ariiii!
    Perlu semenit buatku mencoba mencerna endingnya. Ini maksudnya semua scene yg dia alami nyata kan? Terus wanita itu hantu? 😕
    Scene pembunuhannya bikin ikut ngerasain ngerinya. Terus aku juga jadi ngerasain ketakutan dan rasa lelah si karakter utama. Emang, ngelewatin jalah sepi malem2 tuh gak pernah gak berprasangka buruk. Aku orgnya pun gampang parno. Mau orang apa makhluk lain pun pasti aku bakal takut dan menghindar jalan sepi sendirian huhuhu jd bisa relate bgt sama si karakter.
    Anw kusukaaa sekaliii ❤️😊
    Keep writiiing ariii!

    Like

    • Primrose Deen says:

      Iya gitu deh Kak, pokoknya realitas sama mimpinya semacam kecampur gitu hahahahaha

      Iya, sama banget. Kalau pas lagi parno gitu tiba-tiba jadi suka nyurigain orang-orang di sekeliling sambil pasang muka jutek lol

      Thank you for stopping by, Kak Titaaaa ♥️😆

      Liked by 1 person

  2. Fantasy Giver says:

    kak ariiii!

    ini bagus dan plot twist-nya kena! aku suka suka suka. flow-nya juga ngalir kok dan aku sangat bisa merasakan emosi karakternya! cuma mungkin ada beberapa koreksi kayak “adeul” itu harusnya di-italic karena kata asing kali ya? hehehe.

    dan despite apa pun, kak ari, i hope you’re okay there. semangat terus, kak. kalau ada apa-apa yang bisa aku bantu, jangan segan untuk bilang, okay? i love you and will always hope for the best for you. ❤ hang in there, kak. hugggggg

    Like

    • Primrose Deen says:

      Evvv~~~~~in!

      Thank you so much, that’s so nice of you for saying this even tho my writing is not that much. Haha.
      Makasih udah dibantu ngoreksi! Akan kuperbaikinnnn ♥️

      Makasih juga for your kind and cheering words. I wish I was okay, I wish I will be okay.
      Thank you for offering help! Hope you’re doing fine too. Sending much love for Evinnnnn! ♥♥

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s