[Special Event: Best of Us] Dinner Noise

by shiana

Photo © Caroline Attwood

“Kak Lana!”

Suara Leo bergetar di udara, melayang ke seluruh penjuru rumah termasuk kamar si pemilik nama yang dipanggilnya, Lana. Cowok itu sudah duduk manis di salah satu kursi meja makan, hidangan pun telah tersaji dengan rapi. Harusnya ia senang melihat makanan-makanan buatan ibunya yang tidak pernah mengecewakan mata juga lidah. Berbanding terbalik, rautnya sekarang justru diwarnai oleh kekesalan yang mengental.

“Kak Lanaaa!”

Kali ini Leo memanjangkan durasi vokalnya—berharap dengan begitu, si pemilik nama akan muncul parasnya saat itu juga (meskipun tidak mungkin sih, kakaknya tidak bisa teleportasi—tapi masa bodohlah, Leo sudah lapar!). Melihat tingkah anak tengahnya itu, Kim San—sang ayah—di sisi lain meja pun bergumam menyuruh Leo bersabar setelah mencuri satu sesap jus tomat dari gelas.

“Leo, daripada kau berteriak-teriak begitu, lebih baik kau ketuk pintu kamar kakakmu dan baik-baik mengajaknya makan malam sekarang.”

Leo masih betah mempertahankan air muka keruhnya. “Mom seperti tidak tahu Kak Lana saja. Mana senang dia diganggu saat beritual dengan buku-bukunya. Apalagi kalau orang itu aku,” ujarnya datar, mendengus. “Aku pasti diomeli dengan istilah-istilah sok ilmiahnya.”

Sang ibu, Jessica, mengernyit heran. Berhenti sejemang menata peralatan dapur. Lalu seakan paham, wanita itu tersenyum tipis. Kepalanya lalu tertoleh pada sofa di depan TV; anak bungsunya tengah menikmati tayangan kartun dalam diam. “Lily, matikan TV-nya lalu duduk di kursimu.” Tak butuh waktu lama, Lily menurut dengan sigap. Sejujurnya ia sudah lapar, beruntung kartun dapat mengalihkan atensinya. Bocah mungil itu kemudian melompat turun dari sofa dan berlari kecil menuju kursinya.

“Suami, bisakah kau memanggil Lana?

Hening sebentar, lalu, “Lana! Ayo makan malam dulu, Nak!” teriak Kim San tanpa menggeser pandangannya dari halaman buku.

Terdengar helaan napas keras.

Kim San setengah menoleh. “Kenapa, Jess?”

“Maksudku, Sayang, kau menghampiri Lana ke kamarnya.”

“Oh.” Kim San lalu menggeleng sebelum kembali menjamah bukunya. “Dia tidak akan mau denganku. Kau tahu ‘kan anak itu keras kepala; persis seperti diriku.”

Aduh, suami dan anak sama saja.

Jessica menggerutu sebelum akhirnya angkat kaki dari dapur, langkahnya tertitih mengarah pada kamar si sulung. “Kau hanya perlu bilang tidak mau melewatkan bagian seru dari bukumu itu, Suami Tersayang.”

I love you, Jess.”

Begitu sampai di depan kamar Lana, Jessica mengetuk pelan pintunya, lalu memutar kenopnya hati-hati. Belum sempat sepatah kata pun keluar dari mulut, suara dari dalam keburu menyelip, “Mom, kalian makan duluan saja. Aku bisa makan nanti.” Punggung Lana menyambutnya begitu kepalanya sukses melongok ke dalam.

“Tidak, kami akan menunggumu, Lana. Take your time.

“Mom….” lirih Lana merajuk. Gadis itu berbalik. Wajahnya tampak lelah. “Aku masih belum bisa menghafal nama bakteri-bakteri sialan ini beserta fungsinya. Sebelum aku menguasainya, aku tidak akan makan. Jadi, makan duluan saja, please?”

Jessica menghela napas. “Itu karena otakmu butuh asupan energi, Sayang”—seutas senyum terselip tipis—”Mom yakin, setelah makan kau akan lancar menghafalnya. Jadi, ayo. Adik-adikmu sudah kelaparan, tuh.”

Begitu ibunya menghilang dari ambang pintu, Lana mengantukkan dahinya pada tumpukan buku di hadapan beberapa kali. Seusai mengirup-lepas napas, gadis itu pun berdiri dan menyeret langkah meninggalkan kamar.

Dari meja makan, terdengar suara Leo luar biasa sumringah. Kedua tangannya direntangkan ke atas dramatis. “Puja kerang ajaib! Akhirnya Hamba bisa makan!” Ia beralih ke arah Lily. “Lily, ayo merayakan kemerdekaan perut-perut kita!”

Lily mencontoh apa yang dilakukan Leo dan berseru ‘Woo!’ rendah.

Lana mendengus. “Ya, ya, makanlah yang banyak. Cacingmu pasti kelaparan setengah mati.” Senyum cemoohnya tipis ketika ia menarik kursi sebelum menempatkan bokong dengan nyaman di atasnya.

Leo melenguh. Sensitif bagi telinganya apabila mendengar kata ‘cacing’. “Tuh Mom, Kak Lana mengataiku cacingan lagi,” adu Leo pada ibunya. Jessica hanya melirik sekilas.

Mereka berlima mulai menyuap. Leo sibuk memanjangkan tangannya ke sana kemari demi menjangkau lauk yang dikehendakinya. Lana mendesis beberapa kali apabila adik lelakinya itu tidak sengaja menyenggolnya. Dan Lily menyantap makanannya khidmat tanpa terpengaruh oleh kedua kakaknya yang rusuh seperti kartun Tom and Jerry kesukaannya.

“Tapi, Leo, kau memang kurus sekali kalau dilihat-lihat,” Kim San tiba-tiba memecah keheningan setelah hanya suara dentingan peralatan makan yang beradu mendominasi.

Leo terdiam sejenak. “Maksud Dad?” Perasaannya mendadak tak enak.

“Maksud Dad, kau mungkin saja cacingan,” jawab Lana tanpa diminta. Nadanya seolah pula berkata masa-begitu-saja-tidak-tahu-sih. “Ya ‘kan, Dad?”

“O, Tuhan.”

“Makanmu juga cukup banyak, lho, Leo.”

“Tapi tidak gemuk-gemuk,” timpal Lana lagi.

“Hei!” Leo tidak terima. Mengapa skenario yang pernah terjadi ini terulang kembali? Ia mengacung-acungkan sendoknya ke arah Lana. “Kak, kau juga kurus, tahu. Jangan hanya—”

“Tentu. Aku rajin olahraga, tidak sepertimu, jadi tidak heran berat badanku selalu stabil.”

“Tapi—”

“Mom, aku mau telur lagi.” Celetukan Lily yang tidak terekspetasi menghentikan adu mulut keduanya sejenak. Semua atensi terpusat pada tangan Jessica yang telaten mengambilkan dua telur sekaligus dan meletakkannya di atas nasi Lily.

“Mom, aku mau daging lagi.” Leo mengangkat mangkuk nasinya menjorok ke tengah. Sepenuhnya lupa dengan perang mulut sekon lalu.

Jessica tidak mengindahkannya. “Kau sudah makan cukup banyak daging, Leo,” ibunya menyahut. Suara Lana menahan tawa di sebelahnya menyusul. “Apa kau mau menambah sayur saja?” tawar ibunya.

“Astaga, Mom…”

Tawa Lana pecah saat itu juga, diikuti kekehan Kim San dan Jessica. Tentu saja, kecuali Lily (karena bocah itu sibuk makan sambil mengelus perutnya: “Makan yang banyak, Cacing-cacingku!)

.


notes:

Terima kasih banyak yang sudah menyempatkan baca! ❤ Maaf kalau kaku bgt kayak kanebo, entah sudah berapa bulan nggak nulis. But I love this family though, hope you’ll love them too ❤ Sempat ingin buat series tentang mereka, tp sampai sekarang belum kesampaian. Boleh mampir ke blog pribadi kalau mau baca dua fiksi lainnya tentang mereka (I name them Ls and Their Quirks)! (shameless promotion)

Advertisements

3 thoughts on “[Special Event: Best of Us] Dinner Noise”

  1. PUJA KERANG AJAIB!!
    Suka ih sama konflik, karakternya juga. Mama jes kayak tipe ibu2 yg kalo anaknya teriak dimana kaos kakinya, si papa teriak di mana dasinya, tanpa ngelihat dimana barangnya udah bales teriak jawab dimana letak kaos kaki dan dasi itu dengan tepat.
    Lily kok kiyowo sekali ya ampun pengen nguyel2,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s