[Special Event: Best of Us] One Paradise: Twisted

One Paradise: Twisted

LDS, 2018

[the best of us. warning: religious issues!]

.

Di manakah surga berada? Di langit, berdampingan dengan kerajaan Tuhan, ataukah di bawah tanah tempat bersemayamnya kekayaan Bumi? Konon, pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh mereka yang telah dikubur; itu pun jika mereka tidak memperoleh neraka sebagai ganjaran amal selama hidup. Namun, apabila surga bermakna kenikmatan, maka Sujeong pikir ia sudah tinggal di sana.

Sebenarnya, kebahagiaan yang Sujeong rasakan belum sempurna, mengingat ia kadang masih iri pada perempuan-perempuan kaya bergaun indah, sementara dirinya berkalang debu jalanan, sesekali juga abu perapian. Seusai bertugas di pesta yang diselenggarakan sang majikan, hasratnya untuk menabur pupur dan memerahkan bibir menguasai, padahal satu-satunya cara berhias yang selama ini ia tahu hanya menyelipkan bunga liar di daun telinga. Tentu ia sadar bahwa bedak dan gincu kelewat berlebihan untuk dirinya, maka keinginan itu tertelan lagi saat ia mengepang rambut pagi buta, bersiap memulai kerja. Beruntung, rasa berkekurangan tak pernah lama merundung sang dara bersurai sewarna anggur sebab ia segera mencari anugerah-anugerah lain yang belum sempat disyukurinya.

“Terima kasih lagi untuk hari ini, Nona Ryu. Supmu lezat sekali.”

Pujian begini saja sanggup menebar rona di pipi Sujeong. Si gadis pelayan mengangguk hormat dan berterima kasih kembali sambil menunduk. Bukan mustahil ia—yang belum mempunyai pengalaman asmara apa pun—terperangkap dalam manik zamrud Jung Jaehyun bila nekat menengadah. Mewarisi seluruh harta orang tuanya sebagai putra tunggal, dalam sekejap pria muda yang Sujeong panggil ‘Tuan Besar’ itu jadi termasyhur di desa seusai menimba ilmu di negeri seberang, jelas bukan karena keningratannya semata. Berapa banyak wanita yang terpikat oleh pesonanya pada sekian pesta dan jamuan malam di mana ia hadir? Meskipun ada undangan yang berpakaian lebih mewah maupun bersikap lebih ramah, Jaehyun terlalu rupawan untuk tidak menarik atensi. Terdapat wibawa di balik perilaku bersahabatnya yang memaksa orang terkagum. Sujeong heran, bagaimana Tuan Besar Jung yang sesungguhnya hanya lebih tua beberapa bulan darinya itu bisa menjadi pusat gravitasi, sedangkan ia sendiri terkucil di dapur berarang?

“Sepertinya kita sudah pernah membahas ini: pandanglah lawan bicaramu siapa pun dia, Nona Ryu.”

“Ah, baik.” Buru-buru Sujeong mengangkat kepala, walau degup jantungnya meningkat begitu sosok Jaehyun tertangkap netra. “Saya mohon maaf, Tuan Besar.”

Lelaki tinggi yang tengah menikmati sarapannya tampak puas setelah berkontak mata dengan sang pelayan.

“Lebih baik. Tidak boleh ada orangku yang merasa rendah diri.”

Semenjak menjadi pelayan Jaehyun, Sujeong senantiasa mencegah diri dari merasa rendah, tetapi bagaimana gadis itu dapat bersitatap dengan sang majikan bila senyumnya begini menyilaukan? Sungguh, Tuan Besar Jung barangkali adalah nirwana berwujud manusia tanpa cela: sudah tampan, kaya, cerdas, baik hati pula, dan bulir kesempurnaan terakhir ini mendorong Sujeong untuk jatuh cinta ketimbang mencemburui mukjizat yang Tuhan berikan pada pria itu. Bukankah menemukan bangsawan yang memperlakukan layak para pekerjanya sangat jarang sekarang? Bukan lagi layak, Jaehyun bahkan menyetarakan para pelayan terhadap dirinya, sampai-sampai beberapa orang tidak lagi ‘menuankan’ dan itu tidak menjadi masalah di kediaman ini. Akibatnya, kadang Sujeong berandai-andai, apa mungkin suatu saat, tuannya yang masih lajang itu akan meraih tangannya dan memohon kesetiaannya sebagai pendamping hidup?

O, mimpimu, Sujeong, batin si gadis sembari menggeleng kuat. Bisa-bisanya mengkhayalkan sesuatu yang memalukan begitu di tengah kekhusyukannya beribadah? Segera ia mengubah lafal doa yang dipanjatkannya, sepenuhnya mengesampingkan asanya sendiri demi kesejahteraan sang majikan. Tak lupa ia meminta perlindungan pada Tuhan dari nafsu yang menjerumuskan, juga berterima kasih atas segala karunia yang telah dilimpahkan kepadanya.

“Aku ingin memberimu hadiah atas kerja kerasmu, tetapi aku tak tahu apa yang kausuka. Katakan, apa hal yang paling kauinginkan, Nona Ryu?”

“Beribu maaf dan terima kasih, Tuan Besar, tetapi apakah saya sungguh boleh meminta?”

“Tentu saja. Tak perlu sungkan-sungkan.”

“Anu …. Jika dan hanya jika Tuan Besar memiliki waktu luang, berkenankah Tuan Besar mengajari saya membaca?”

Menarik. Alis Jaehyun naik sebelum ia tertawa lembut.

“Tak masalah, asalkan kau mau bangun lebih awal untuk belajar. Pukul empat pagi, ketuklah pintu kamarku dan jangan ragu mengetuk lebih keras kalau aku tak segera menjawab.”

Wajah Sujeong berbinar-binar; ini sebuah kesempatan besar! Ia membungkuk penuh terima kasih dengan semburat merah penuh semangat di pipi. Berkurangnya jam tidur bukan rintangan bermakna …

… jika setelahnya, ia jadi bisa membaca salinan kitab suci dari pendeta desa.

Seminggu berkutat dengan aksara-aksara mungil dalam buku filsafat Jaehyun (sang tuan sudah memilihkan yang paling mudah dipahami, omong-omong, karena ia tak punya buku yang cukup sederhana), Sujeong mulai bisa membaca rangkaian kalimat dalam kitabnya meski tertatih. Semakin memukaulah lembar-lembar menguning itu setelah ia bisa mengecap sarinya. Ayat-ayat yang menenteramkan hati ia ulang setiap malam demi mengusir kegundahan, sekali-sekali ia sisipkan pula ke dalam doa. Seiring waktu, salinan kitab tua makin sering ia bawa agar bisa dibaca di antara waktu kerja.

“O, rupanya kau belajar padaku untuk memahami isi kitabmu?”

Tiba-tiba sekali! Nyaris saja Sujeong memekik kaget lantaran Jaehyun berlutut di belakangnya, membaca melalui bahunya. Si pelayan kontan menarik diri, bangkit dari anak tangga tempatnya duduk, kemudian membungkuk penuh rasa bersalah.

“Tuan Besar, ampuni kelancangan saya! Anda sampai berjongkok di lantai begini ….”

“Jangan panik. Kan aku melakukannya atas keinginanku sendiri.” Perlahan Jaehyun ikut berdiri, menepuk bagian bawah jubahnya yang agak kotor. “Luar biasa, di masa ini, masih ada saja orang sepertimu yang berpegang teguh pada iman.”

Sujeong tidak mengerti apa yang sebenarnya disiratkan kalimat singkat ini, yang jelas senyum tuannya tampak sedangkal tipuan ketika bicara, tetapi gadis itu tidak ingin berprasangka.

“Maksud Tuan Besar—“

“Kau masih percaya akan kekuatan Tuhan atas hamba-Nya, meskipun ia mungkin adalah kesemuan belaka?”

Apa?

Tuhan adalah kesemuan, Jaehyun bilang?

Timbul dorongan yang sangat kuat dari diri Sujeong untuk menyangkal pernyataan itu, tetapi dinginnya raut sang tuan membungkamnya sebelum sempat bicara. Walaupun senyum si pria ningrat masih tersungging, Sujeong tahu Jaehyun berseberangan pendapat dengannya dan ia tidak berada pada posisi boleh melawan. Ujungnya, gadis pelayan itu hanya mampu mendekap erat kitab sucinya seraya merangkai kata untuk merendahkan diri di hadapan si majikan.

“Saya percaya akan hal itu, tetapi kalau soal ilmu, Tuan Besar tetap lebih baik dari saya, maka apa yang saya katakan bukankah tidak berarti untuk Tuan?”

Jaehyun tidak menanggapi, tetapi tatapannya begitu menusuk sampai Sujeong ketakutan dan mohon izin untuk undur diri. Untuk pertama kalinya, perempuan belia itu merasa terimpit dalam ‘perang’ prinsip dengan sang bangsawan tanpa kuasa berargumen. Yang lebih menyakitkan adalah opini Jaehyun mengenai Tuhan: bahwa Yang Maha Segalanya, menurut hemat sang cendekiawan, tidak lebih hebat dari mereka yang fana. Tidak! Selama ini, Sujeong berdoa pada sesuatu yang kekal, raja seluruh alam, dan Dia menolong, tak hanya mendengar!

Bagai menelan buah berduri, malam itu, dada Sujeong nyeri lantaran jiwanya diterjang badai.

Sejak peristiwa di anak tangga taman, Sujeong tidak pernah membaca kitab di ruang terbuka, lebih-lebih di depan Jaehyun. Hubungan mereka pun mendingin; salam sekilas sangat kurang untuk memulihkan ikatan yang melonggar. Si pelayan mengerti bahwa satu kalimat tidak bisa menyimpulkan keseluruhan pandangan Jaehyun, tetapi satu pernyataan ini telah menodai kesempurnaan sang majikan di matanya. Utang budi pada tuan besarnya membuat Sujeong dihantui rasa bersalah bila sebiji kebencian saja sempat berkembang dalam batin, sayangnya untuk mencintai Jaehyun seperti dulu pun, gadis itu tak mampu lagi.

Entah dari mana, sebuah suara berbisik pada Sujeong, memperingatkannya soal ancaman yang disembunyikan Jaehyun di belakang punggung.

Tuan Besar bukan orang jahat!

Kendati Sujeong terus menangkal suara itu agar tak memengaruhinya, kian hari gema suara itu kian lantang, apalagi ketika ia terjaga untuk beribadah di malam sunyi. Apakah Tuhan sedang mencoba melindunginya dari marabahaya? Yang benar saja, Jaehyun bukan seseorang yang harus ia hindari.

“Nona Ryu, kita harus bicara.”

Usai makan malam, Jaehyun menahan Sujeong agak lama demi meluruskan asumsi si pelayan yang membekukan interaksi mereka hingga melampaui toleransi sang bangsawan. Sujeong mengangguk hampa manakala dijelaskan tentang ucapan majikannya tempo hari; ungkapan tersebut begitu saja terlontar saat Jaehyun sedang suntuk menyelesaikan kolom untuk sebuah surat kabar, padahal ia juga harus menyetorkan karya filsafatnya yang sudah disunting di minggu yang sama agar bisa terbit tepat waktu.

“Kau tampaknya meragukanku.”

“T-Tidak, Tuan Besar.”

Namun, anak mata si gadis bergeser menjauhi kejaran manik hijau pangeran tunggal Jung. Sujeong bukan pembohong yang lihai, tetapi Jaehyun tidak hendak memojokkannya karena hal itu akan semakin menghalangi sang pelayan untuk jujur.

“Besok malam, setelah perjamuan dengan orang-orang akademi selesai, datanglah ke ruang bawah tanah. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.”

Perintah sang tuan tidak untuk ditolak, walaupun firasat buruk menghantui Sujeong semalaman karenanya. Tidur si pelayan tak nyenyak karena suara yang memperingatkannya kembali merundung, kali ini lebih mendesak: bahaya itu mendekat! Jantung si gadis bertalu-talu dalam kurungan rusuk, seirama dengan lentera di tangan yang bergoyang kanan-kiri saat ia menapaki tangga menuju basemen. Padahal sehari-hari, ia sering mengambil anggur dari gudang; mengapa kegelapan dari lorong yang sama jadi lebih mencekam sekarang?

Jaehyun, yang sebelum mengantar tamu-tamunya pulang meminta Sujeong turun lebih dulu, nyatanya telah menunggu di dasar tangga dengan lentera kecil. Ia tersenyum tipis seraya mengulurkan tangan pada pelayannya.

“Hati-hati langkahmu, Nona Ryu. Aku tadi terpeleset karena lumut.”

Masih sungkan, Sujeong menyambut telapak dingin itu dan jadi merasa bersalah. Apakah ia terlalu lama menemukan lentera hingga membuat Jaehyun menunggu dalam kepungan hawa menggigit nan lembab?

“Belum terlalu lama aku sampai, jadi jangan khawatir. Lagi pula, banyak lampu lilin di ruanganku;  nanti akan hangat, kok.”

“Tuan memiliki ruang kerja sini?” Sujeong pantas terkejut; ia hanya pernah tahu gudang anggur, dari ujung tangga belok ke kanan. Ia tidak berani menelusuri arah sebaliknya karena tidak ingin melanggar perintah.

“Bukan ruang kerja, itu hanya ruang pribadi tempatku beristirahat dan menyimpan barang-barang berharga, termasuk sesuatu yang akan kutunjukkan padamu. Ia adalah milikku yang paling penting, sangat berbahaya jika disalahgunakan.”

Keduanya tiba di ruangan yang dimaksud. Dari saku mantelnya, Jaehyun meraih anak kunci dan sejemang kemudian, pintu eboni yang tingginya tiga kali lipat dari Sujeong itu berderit membuka. Keriut kayu cukup mencerminkan betapa tua usia ruang tersebut; merupakan sebuah kehormatan bisa menyibak misteri di dalamnya.

Ataukah … ini akan menjadi awal sebuah malapetaka?

Sujeong dipersilakan masuk, majikannya memimpin jalan. Benar kata Jaehyun, hampir seluruh sisi bersimbah cahaya lilin, jadi gadis itu tidak perlu penerangan tambahan untuk melihat isi ruangan. Ada sofa besar di depan perapian, meja kecil dengan sekotak tembakau di atasnya, lukisan pria dan wanita yang tak Sujeong kenal digantung berseberangan dengan lemari buku tua. Tujuh rekan Sujeong—dua laki-laki dan lima perempuan—tengah membersihkan ruangan, tetapi mereka semua tampak … ganjil.

“Semuanya, Ryu Sujeong sudah hadir di antara kita.”

Sontak ketujuh pelayan berhenti bekerja. Mereka segera berbaris rapi, tatapan mereka nanar menanti perintah selanjutnya. Walaupun beberapa di antara mereka cukup akrab dengan Sujeong, mereka memandang tamu mereka seperti orang asing sekarang, membungkam gadis itu dengan kecemasan.

“Nona Ryu,” Jaehyun lantas berpaling pada pelayannya yang paling muda itu, “apa kemarin ucapanku soal Tuhan menyinggungmu?”

“Benar, Tuan.” Sujeong sejenak menyingkirkan keseganannya di hadapan Tuan Besar. “Saya merasa terluka. Dalam ketidakberdayaan saya, Tuhan selalu membantu dengan mukjizat yang bahkan tak pernah terlintas dalam benak. Jika kekuatan-Nya saja demikian nyata, tentu mustahil jika Dia sendiri semu. Beribu maaf, Tuan Besar, tetapi itulah yang selama ini saya yakini.”

“Begitu. Tuhan ada karena kau mempercayai keberadaan-Nya, bukan?”

Sujeong diam.

“Tapi, aku penasaran, dari mana kau mengetahui bahwa keajaiban-keajaiban yang kaunamai mukjizat itu memang berasal dari Tuhan?”

Bukan perdebatan kedua yang Sujeong harapkan dari pertemuan malam ini. Aneh, Jaehyun kemarin kelihatannya mengisyaratkan sebuah resolusi, bukan adu pendapat lagi. Sujeong kan sudah pasti kalah. Ditanya begitu tadi saja, ia sudah gelagapan; dari mana ia tahu? Hampir goyah, ia menemukan dalih ketika jarum detik pada jam dinding sudah menggenapkan satu putaran.

“Karena setiap keajaiban itu datang setiap saya selesai berdoa kepada Tuhan.”

“Itu saja? Sangat lugu, Nona Ryu, tetapi untukku,” Gemetar raga Sujeong tatkala punggung telunjuk Jaehyun menelusuri sisi wajahnya, “mata, hidung, lidah, dan kulitmu ini belum cukup mencerap. Bagaimana jika bukan Tuhan yang menjawab doa itu? Bagaimana jika kekuatan yang menjawab doa-doamu sebenarnya tak ada, melainkan murni sebuah kebetulan?”

“Kebetulan yang Tuan maksud pastilah takdir,” Entah dari mana dorongan intens ini berasal, tahu-tahu Sujeong sudah mengemukakan sudut pandangnya yang kontras, “dan takdir juga dikuasai oleh Tuhan.”

“Benarkah? Apa kitabmu yang menyebutkan itu?”

Sujeong nyaris mengiyakan jika saja lanjutan kalimat Jaehyun tak mengguncangnya.

“Apa kau bisa menjamin kebenaran dalam kitabmu?”

“Y-Ya.”

Satu sudut bibir Jaehyun terangkat. Pada titik ini, sadarlah Sujeong bahwa argumennya mulai tampak lemah. Terpojok, sang pelayan angkat bicara lagi tanpa benar-benar memahami apa yang ia ucapkan.

“Pendeta mengatakan kitab ini ditulis oleh utusan-utusan Tuhan segera setelah wahyu turun. Selama berabad-abad, hukum yang dianut berdasarkan kitab ini telah membawa kedamaian dalam kehidupan kami, jadi tidak mungkin tulisan-tulisan di dalamnya dipalsukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab—”

“Jadi, seperti apa sebenarnya Tuhan itu, Nona Ryu?” sahut Jaehyun, mendadak menaikkan dagu Sujeong hingga leher belakang gadis itu nyeri oleh tekanan yang tak diantisipasi. “Apakah Dia Maha Segalanya karena memang begitulah Dia atau karena kau yang meyakini-Nya demikian?”

Sujeong tersentak. Sejak kecil, nilai yang orang tuanya tanamkan adalah bahwa Tuhan itu kuat. Titik. Kemungkinan-kemungkinan lain tak beroleh jalan menuju landasan pemahamannya karena mempertanyakan kebenaran tentang Tuhan dianggap hal tabu. Sekarang, pondasi kepercayaannya terombang-ambing oleh keingintahuannya yang Jaehyun picu. Apakah Tuhan memang sekuat itu hingga ia teryakinkan ataukah sebaliknya?

“Untuk membentuk iman, kau harus memiliki cukup pengetahuan tentang apa yang akan kautuhankan. Kau tampaknya masih menyimpan sedikit keraguan—yang berarti kau belum banyak tahu, padahal bukankah keberadaan Tuhan seharusnya tak terbantahkan? Sebuah keyakinan saja tak cukup untuk membuat sesuatu bernilai kebenaran mutlak. Sejauh ini, kusimpulkan Tuhanmu hanyalah sebuah ide tentang kesempurnaan; tebak siapa yang menciptakan ide itu.”

Jaehyun menurunkan telunjuknya dari dagu Sujeong, terus hingga ujung telunjuk itu mencapai celah di antara dua tulang selangka si gadis.

Kau.

“Tidak.” Menangkap betapa mengerikannya gagasan yang Jaehyun siratkan, Sujeong mundur selangkah. “Tuhan-lah yang Maha Pencipta dan saya … saya adalah salah satu ciptaan-Nya, begitu pula Tuan.”

“Tak ada bukti untuk itu, Nona Ryu, sedangkan kebenaran yang diterima dunia harus selalu melewati proses pembuktian. Para ilmuwan memang skeptis, tetapi orang yang mudah percaya akan mudah ditipu juga, bukan?”

“Ini berbeda. Orang tua saya dan para pendeta bukan penipu. Tuan Besar,” Pelupuk Sujeong tergenang, “justru Anda-lah yang tengah menipu saya.”

“Jika aku—orang yang selama ini kauhormati—berpeluang menipumu, apa yang membuat orang tuamu dan para pendeta tidak bisa?”

“Mereka …. Mereka … bukan ….”

Apa buktinya, Ryu Sujeong?” tuntut Jaehyun; lengannya melingkari pinggang Sujeong yang nyaris merosot ke lantai saking lemasnya kakinya. Tindakan ini meniadakan jarak antara keduanya, memerangkap Sujeong dalam keputusasaan. “Sekalipun kau mengungkapkan kebenaran, jika kau tak mampu membujukku untuk membenarkannya, aku akan menganggapmu salah.”

Iris hijau Jaehyun berkilat oleh ambisi, sementara Sujeong menciut dalam dekapannya bagaikan mangsa yang takluk.

“Giliranku sekarang,” seringai sang bangsawan kemudian, noktah merah yang aneh mendadak muncul di tengah matanya. “Biar kupahamkan kau akan kebenaranku yang tidak dibangun oleh tulisan para pembual. Cermatilah, Nona Ryu.”

Dari noktah dalam mata Jaehyun, melengkung-lengkung warna merah yang menodai separuh wajah rupawan itu, terus ke leher, melampaui bahu, lalu ke tangan … dan terakhir, dari pergelangan yang diliputi warna darah, terjuntai pengikat setipis sutra namun sekuat rantai baja, menegang ke belakang. Tujuh pelayan di ruangan itu mengalami hal yang sama …

… dan pada pangkal dari semua pengikat, tegak menjulang sampai ke langit-langit ruangan adalah teror yang hidup. Warna hitam menyelubungi tubuhnya yang mirip manusia, tetapi jauh lebih besar. Satu matanya terbuka selebar jendela ruangan, sementara mulutnya—yang ada di dada—penuh taring dan terus menganga layaknya orang tertawa. Lengannya panjang menyentuh lantai, kuku-kukunya sepanjang pedang. Dari perut ke bawah—astaga—beberapa pasang tangan dan kaki manusia bermunculan, bergerak-gerak dengan keretak yang menegakkan bulu roma.

“Daripada keyakinan, pengalaman yang konkret akan mengantarkanmu pada sebenar-benarnya ketuhanan. Dialah kebenaran itu, kebenaranku yang tak lama lagi akan turut menjadi kebenaranmu,” desis Jaehyun di telinga Sujeong, “Iblis.”

Mendengar nama makhluk terlaknat itu, Sujeong meronta, tetapi Jaehyun tidak ragu menahannya dan merenggut nyaris seluruh napasnya. Tangis si gadis pelayan lambat laun berubah menjadi deguk, sedangkan permohonannya agar dibebaskan lenyap ke dalam rintih lirih. Mata besar di balik punggung Jaehyun melebar, menatap ganas, dan ia mendekat, mendekat ….

“Nah, mari kita buktikan. Pilihanmu hanya ada dua: bertahan pada imanmu dan berakhir tercerna sebagian—seperti tangan-tangan dan kaki itu—atau mengikat dirimu pada kekuatan yang baru? Tentu jika Tuhanmu nyata, Dia akan membantumu keluar dari situasi ini.”

Bibir Sujeong pucat pasi. Raganya dan Jaehyun tertelan bayang-bayang Iblis yang kini berdiri sangat dekat. Makhluk itu mengendusnya tak sabar dan mengeluarkan suara yang saking paraunya tak sanggup diterjemahkan Sujeong.

Jaehyun, dengan keindahannya yang setengah busuk, mengulas senyum terakhir yang bisa Sujeong ingat.

“Siapa Tuhan itu, Nona Ryu?”

***

Di mana surga itu? Sujeong tidak tahu lagi, tetapi ada satu hal yang ia bisa pastikan di ambang desah sekaratnya.

***

“Tuhan saya bukan Iblis. Kebenaran Tuan tidak akan pernah menjadi kebenaran saya, selamanya.”

***

Darah bermuncrat mengotori jubah mahal Tuan Besar Jung.

“Pendirian yang luar biasa teguh, Nona Ryu. Sungguh mengagumkan.”

Selanjutnya, yang memenuhi ruangan itu adalah keretak tulang panjang tanpa jerit tangis. Tujuh pasang mata menjadi saksi, ditambah sepasang lagi yang paling menikmati.

[1/3]

15 thoughts on “[Special Event: Best of Us] One Paradise: Twisted

  1. Lee Donghae's says:

    Keren! Ada banyak bgt kalimat yg quotable di sini, dan pertanyaan-pertanyaan Jaehyun jg bagus bgt dipake sbg bahan perenungan. Oh, dan pemilihan tokohnya. Saya gak terlalu kenal sama tokoh cewenya. Idol juga? Atau OC? Tp pas Jaehyun disebut-sebut sbg tuan besar, rasanya langsung kebayang aja. Aura ningratnya emang memancar sih. Haha.
    Oia, tanda 1/2 di akhir itu maksudnya ini bakalan ada part lanjutan? Ditunggu bgt lho.
    All in all, terima kasih buat tulisan ini. Saya senang bacanya.

    Liked by 2 people

    • LDS says:

      halo ^^ untuk tokoh ceweknya itu anggota girlband Lovelyz, Ryu Sujeong 🙂
      and yes, 1/2 memang berarti part lanjutan tapi up kapan ya enaknya~?
      makasih sdh baca ya!

      Liked by 1 person

  2. asanayuuki says:

    Kak lianaaa :””))) huhu ini keren banget aku speechless😂😂
    Suka banget banget bangettt karena apa ya, ini tuh ngangkat tema yg nganu(?) tapi enak buat dibaca dan engga berat 🙂 dan jaehyun, hhhh emang bangsawan banget sih ga ngerti lagi lol😅😅
    Trus… apakah ini bakal ada lanjutannya kak? Soalnya di akhir ada (1/2) dan kayaknya kok agak gimana gitu kalo berakhir gini aja hehe. Emang dasarnya aku ngarep ada part 2 nya sih wkwkw.
    Okee makasih ya kak liana 😊😊 aku tercerahkan(?) dan terinspirasi buat menjamah semua genre tulis menulis. Pokoknya kak liana jjang! Have nice days kak ^^

    Liked by 2 people

    • LDS says:

      halo ^^ sorry for the late reply
      iya memang kadang2 aku ngambil tema yg rada2/? hehe maafkan. untunglah kamu berpikir ini tidak terlalu berat
      aku sih merencanakan ada lanjutannya bikos ga lega kalo cuma dari satu pov, ufufu
      ditunggu saja lanjutannya ehe :p makasih sdh baca!

      Liked by 2 people

  3. Kevin Evan says:

    hai kak li^^ mungkin ini kedengaran sksd atau apa tapi suka bgt kalo kak li udah ngebawain genre kaya gini:”v asosiasinya itu lhoo, ngena bgt, selaras sama realitas kehidupan kita yg meskipun percaya masih sering nanyain keberadaan Tuhan:’)

    dan aku bacanya malah ngebayangin suho masa:’ konsep iblis di ff kakak beberapa taun lalu ngena bgt di hati:’v

    oh ya, ini masih ada lanjutannya kan?’-‘) soalnya aku berharap ada dialog yg lebih berani dari ini:’v yang bisa mentahin argumentasi ttg eksistensinya Tuhan:’

    Liked by 1 person

    • LDS says:

      Suho? Lah berarti kamu baca paradise within thee? Apa paradise lost? Kyaaaa makasih XD aku tdk menyangka ada org yg masih mengingat ff itu~
      Iyah ini juga si jae kan titisan Suho *gak gitu
      Sebenernya pov yg ingin kutulis selanjutnya lebih menetralkan ini sih. Krn aku bukan atheis juga jadi g berani main filsafat yg agak ngelangkahin gitu huhu dan aku smcm ingin mengoreksinya.
      Anyways makasiiiih bgt udh ngikutin aku dari jaman lawas ^^

      Liked by 1 person

    • Kevin Evan says:

      yang paradise within thee kak😂salah satu ff yang memorable (sampe aku inget betapa melongonya daku waktu baca ff itu)😂😂

      oh, siap siap kak😂😂kalau udah ngerambah dunia filsafat materinya lebih gila lagi kutau😵😵

      nb: maafin daku karena udah ngikutin dari jaman three second rule tapi gaberani komen sampe sekarang

      Liked by 3 people

  4. oldnavy says:

    kak liana!!!
    sumpah sumpah sumpah ini bagus banget asli bener bener filsafat dan permainan logika yang… ah susah ngejelasinnya saking bagusnya ❤
    keep writing kak kutunggu tulisan tulisan yang lain!

    Regards,
    Ocha.

    Liked by 1 person

    • LDS says:

      Halo, maaf telat bales komennya…
      Terima kasih sdh membaca ya, aku senang ini bisa terlihat bagus walaupun bikinnya agak takut Krn agak ‘nerabas aturan’ hehe
      Sekali lagi makasih ocha udah mampir!

      Liked by 2 people

  5. Berly says:

    GOD DAMN IT! Kak Liana halooo :’) Ber lagi mampir-mampir, terus nemu fantasy fiksi yang aduhai kaya gini, duh, pas baca aja udah enak alurnya ngalir, dan emang setiap aku baca tulisan Kak Liana tuh pasti selalu ngalir sih, beda ketika aku baca tulisan lain. Pertama, ini alur berat banget ngangkat kepercayaan Tuhan. Kedua, tau gak sih, aku baca ini sambil nyelup-nyelup biskuit ke susu, tanpa memalingkan mata dari setiap kata-katanya wkwkw, kaya yang berasa “wadaww gw gamau ngelewatin banyak kata,” atau “gw gaboleh sampe nunda bacanya ini lagi seru soalnya,” DAN HIYAAAAT! Ketika tau di akhir Jaehyun adalah iblis, heuh …. Berasa kaya yang … krik apaan sih lu Jae mojok-mojokin iman orang kaya gitu? wkwkw. Dan aku merasa memang di dunia nyata pun terjadi yang seperti ini ya, kak. Tapi aseli, ini sih kerasa mendramatisir banget, dan deskripsi penjabarannya bisa aku bayangkan dengan jelas. Ketiga, Makasih Kak Liana udah buat karya yang selalu bagus, terus menulis yaaa! ❤

    Liked by 3 people

  6. Rijiyo says:

    ALLAHU AKBAR SENPAINIM LDS 🙇 AKU BACA INI SAMBIL ELUS DADA, APALAGI SAMA KELAKUAN JUNGJAE YG BIKIN SIAPA PUN KHILAF. YA ALLAH KAPAN AKU BISA NULIS TEMA BERAT TAPI NGALIR DAN SEINDAH INI 😭😭😭😭 Aku sampe bingung mau ngebacot apa soalnya WTF, TULISAN KAK LIANA TUH SELALU BIKIN SPICLES SUERRRR

    Seriusan kak, aku tuh kurang suka baca cerita berat kayak gini ((karena mesti bikin ngantuk)) TAPI PENGECUALIAN BUAT SAMPEYAN. YA ALLAH SAKING SERUNYA SAMPE GAK KERASA KALO UDAH TO BE CONTINUE

    Wes lah komen segini disek. Aku mau baca lanjutannya cerita ini. Uwuuuuu

    Keep writing kak liana 💪 Makasih banget udah bikin story seinspiratif ini hwhwhwhwh yg udah master mah tema yg dibawain gak pernah mainstream 😭

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s