[Special Event: Best of Us] Night Driving

by Cheery

credit pic here

.

Sebenarnya, aku ingin bilang sesuatu.

.

Momen pergantian tahun termasuk dalam daftar event tahunan yang patut dirayakan bagi sebagian besar populasi manusia di dunia. Resolusi-resolusi baru ditargetkan, begitu pula harapan-harapan yang  dipanjatkan ketika ketiga jarum jam bertumpuk di angka dua belas dibarengi riuh terompet serta ledakan kembang api yang menghiasi pekatnya langit. Di antara ratusan manusia yang berkumpul di pusat kota untuk menyambut tahun baru, seorang gadis berkaus merah tampak sibuk dengan ponselnya, sesekali dahinya ditekuk kemudian menghela napas panjang.

“Ra, kau sungguhan tidak mau menginap?” tanya seseorang di sebelahnya sambil sedikit menyikut.

“Aku, sih, mau. Tapi kalau ibu negara sudah bertitah, aku tidak bisa membantah,” jawabnya mengedikkan bahu.  Ponsel dalam genggamannya berdering untuk yang kedua kalinya dalam sepuluh menit terakhir. Ia menunjukkan layarnya pada temannya, “Lihat, kan?” Mengambil beberapa langkah menjauh, ia kemudian menjawab telepon dari sang ibu.

“Sera jadi langsung pulang?” tanya temannya yang lain sekembalinya ia dari menelepon yang direspon dengan anggukan lemah.

“Ah, padahal aku juga ingin menginap di rumah Evelyn bersama kalian,” tambahnya kecewa.

“Mau aku yang izinkan? Lagipula rumahku dekat dari sini,” tawar si tuan rumah.

“Tidak, deh, Eve. Nanti ada sepupuku yang akan datang dan pagi-pagi sekali orang tuaku mau menjenguk nenek.” Teman-temannya mengangguk mengerti kemudian mereka menuju parkiran.

 Sebenarnya Sera sempat menyumpahi kakak sepupunya yang harus datang saat malam tahun baru. Kalau saja bukan karena alasan tidak sopan meninggalkan tamu sendirian di rumah, mungkin ia diizinkan bermalam bersama kawan-kawannya. Atau mungkin tidak.

Tahun ini gadis berlesung pipi itu akan menginjak usia dua puluh, namun perlakuan orang tuanya tidak jauh berbeda dengan saat ia belum memiliki SIM. Kalau sampai pukul delapan malam Sera belum di rumah, siap-siap saja dapat bombardir telepon dari ibunya. Untung ia punya kalimat sakti yang dapat membebaskan dirinya dari jerat omelan, bilang saja sedang bersama Hans dan dengan ajaib ibunya akan benar-benar berhenti menelepon.

Sera sendiri juga tidak tahu mengapa orang tuanya begitu percaya pada pemuda yang tinggal di blok sebelah itu. Mungkin karena mereka sudah berteman sejak sekolah dasar? Pernah satu kali ibunya berkata, “Ya kalau sama Hans, kan, kamu pulang ada temannya.” Yang jelas Sera berterima kasih, berkat Hans ibunya jadi memperpanjang jam malamnya meski hanya satu jam.

Gadis bersurai madu itu sudah siap di balik kemudi setelah pamit pada teman-temannya. Sesaat setelah ia menyalakan mesin mobil, ponselnya berdering lagi. Raut cemberutnya berubah drastis ketika melihat wajah seseorang yang muncul pada layar. Setelah menggeser tombol hijau, ia pun berseru, “Hans!”

“Hei!” Lawan bicaranya terkekeh, “Senang sekali aku video call?”

“Selamat tahun baru, Hans.” Sera ikut terkikik, menghiraukan pertanyaan si pemuda.

“Selamat tahun baru juga, Ra.” Sera menempatkan ponselnya pada holder di depan kemudi lalu mengatur posisinya agar wajahnya tetap terlihat. “Omong-omong kau mau ke mana?”

Setelah sudutnya dirasa pas, ia tersenyum lalu menjawab, “Aku baru mau pulang.” Beberapa sekon berlalu, namun kawannya tak kunjung menyahuti, hanya menatap lurus padanya. “Ada sesuatu di wajahku?”

“Oh? Tidak, kok.” Hans menggumam, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.

“Mau bilang sesuatu?”

“Hati-hati,” ujar pemuda itu pada akhirnya. “Aku temani, ya?” tawarnya.

Ujung-ujung bibir Sera naik lagi, “Hehe, aku memang mau minta.” Gadis berpotongan bob itu mulai melajukan mobilnya.

“Katanya kau mau menginap?” Hans membuka topik.

“Tidak jadi. Kak Shannen juga mau datang, tidak enak kalau aku tinggal sendirian.”

“Memang om dan tante ke mana?”

“Nanti mau jenguk nenek.”

Suasana di antara keduanya sempat senyap sementara. Sera tampak begitu fokus menyetir higga muncul kerutan di dahinya dan Hans tidak ingin mengganggu. Sampai si gadis melajukan kendaraannya semakin pelan sambil mengamati ke sekitarnya. “Hans.”

“Ya?”

“Sepertinya aku tadi salah belok.” Hans mengusap muka gusar, mulai khawatir akan kebiasaan temannya. Sera memang payah kalau urusan menghapal jalan. “Gara-gara macet, jalannya sempat dialihkan─wow, aku masuk tol!” serunya, terdengar excited.

“Ra, jangan sembarangan! Itu tol ke arah mana?”

“Sebentar, aku belum lihat petunjuk jalan.” Tersesat bukanlah hal baru bagi Sera. Dia, sih, santai saja.

“Kalau ada polisi langsung tanya. Cepat buka maps!” Tapi temannya tidak. Sera tidak bisa menahan senyum kalau Hans sudah panik begini. “Tidak usah senyum-senyum!” yang ditegur malah tertawa.

Calm down, Hans. Pasti sampai rumah, kok.” Optimisme gadis ini memang jempolan.

“Aku benar-benar tidak pernah bisa tenang membiarkanmu pergi sendiri,” katanya sambil mengurut kening.

“Oh! Aku lihat petunjuk arah. Sepertinya aku pernah lewat jalan ini sebelumnya.” Sera menambah kecepatan.

“Jangan ngebut!”

“Wah, ternyata bisa sampai ke sini,”melihat ke sekelilingnya lagi, mengabaikan peringatan Hans.

“Lihat ke depan!”

Sera mendengus, “Iya, iya. Ini masih lampu merah, aku sudah di jalan raya lagi.”

Lima belas menit sisa perjalanan mereka dipenuhi obrolan random, mulai dari gosip kampus sampai harga makanan di kantin yang semakin tidak ramah untuk kantong mahasiswa.

“Aku sudah sampai di rumah. Terima kasih sudah mengantar.” Sera memarkirkan mobilnya di garasi, mematikan mesinnya, melepas ponselnya dari holder, kemudian keluar dan berjalan santai.

“Hei, aku sebenarnya selama ini ingin bilang sesuatu,” kata Hans, sedikit ragu.

“Apa?”

“Tapi janji kau tidak akan marah.”

“Kenapa, sih?”

“Janji dulu.”

“Ya sudah, iya.”

“Itu… sebenarnya…” Hans menggaruk belakang lehernya.

“Sebenarnya?”

“Kau sungguhan jangan marah, ya.”

“Astaga!”

“Dari tadi ada yang menemanimu.”

“Hah?”

“Di dalam mobil, kursi belakang.”

Otak Sera berjalan agak lambat mencerna kalimat Hans barusan. Langkahnya terhenti dan sesaat sebelum ia menolehkan kepalanya, ia tersadar, “Berengsek!”

.

fin

Advertisements

One thought on “[Special Event: Best of Us] Night Driving”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s