[Special Event: Best of Us] Good and Bad

by aminocte

“Mau gimana lagi. Mereka yang duluan merampas hak-hak kita. Kalau nggak pinter-pinter, kita jadi kelindes….”


Di dunia ini, tidak semua orang menyukaimu. Sebagian dari mereka tampak tak acuh dan sebagiannya lagi justru terang-terangan memusuhimu. Itulah pelajaran berharga yang kuperoleh selama tiga tahun bekerja di perusahaan rintisan ini, hingga aku memutuskan untuk pergi mencari pelajaran lain yang lebih bernuansa positif.

“Lihat wajah-wajah mereka. Sumringahnya beda. Kayaknya pada seneng kalau kamu pergi.”

Aku tersenyum simpul begitu mendapati seseorang memasuki pantry. Perempuan itu adalah satu-satunya karyawan generasi pertama yang bertahan di perusahaan ini, selain aku yang mengundurkan diri mulai hari ini. Jika ada ungkapan yang menyatakan bahwa teman adalah lawan yang belum berkhianat, hal itu tidak berlaku pada temanku ini. Ia satu-satunya orang yang tulus, tanpa sedikitpun maksud untuk berkhianat, setidaknya menurut intuisiku.

“Kamu sendiri?”

Ia mengangkat bahu.

“Mungkin nggak lama lagi aku bakal nyusul kamu. Sekarang lagi cari-cari tempat mendarat yang baru.”

Aku tergelak.

“Udahlah, kalau rezekimu masih di sini, kamu nggak akan ke mana-mana. Percaya deh.”

Ia memutar mata. “Kalau gitu, aku pengen rezekiku jangan di sini. Di tempat mana kek, yang iklim kerjanya lebih sehat. Heran deh, perusahaan kecil ini bisa dipenuhi orang-orang jahat. Kayak empang kecil yang penuh sama eceng gondok. Orang-orang baik kayak kita kan jadi megap-megap.”

“Orang-orang baik? Sadar nggak sih, kita jadi banyak dosa gara-gara ngomongin mereka hampir setiap hari? Belum lagi kamu yang hobi nguping pembicaraan orang-orang itu.”

“Mau gimana lagi. Mereka yang duluan merampas hak-hak kita. Kalau nggak pinter-pinter, kita jadi kelindes. Aku nggak akan ngomongin mereka juga kalau mereka itu sebaik pencitraan mereka.”

Wajahnya tampak kesal. Kusodorkan padanya sepotong pizza pepperoni yang mulai dingin. Ia menggeleng.

“Kalau aku ambil, berarti aku senang kamu pergi. Seperti mereka.”

“Kalau kamu nggak ambil, artinya kamu mubadzir.”

“Tapi mereka yang maksa kamu buat traktir kita semua. Jahat banget. Orang resign kok disuruh traktir.”

“Mereka mau maksa aku atau nggak pun, aku tetap akan traktir kalian. Sekalian meninggalkan kesan baik sebelum pergi.”

Sambil bersungut-sungut, ia memakan pizza pepperoni yang kusodorkan sebelumnya. Ini adalah pizza favoritnya, tetapi ia tak tampak menikmatinya. Aku merasa tidak enak karena akan meninggalkannya tak lama lagi. Ia tak punya teman lain selain aku, itu yang pernah dikatakannya padaku.

“Jadi ini sogokan supaya aku nggak nangis pas farewell speech-mu nanti? Eh, farewell speech-nya udah lewat, bukan?”

Farewell speech apaan? Aku nggak dikasih kesempatan buat ngomong. Cuma basa-basi dari atasan kita, trus makanan di atas meja langsung diserbu dalam hitungan detik.”

“Jahat.”

Aku diam saja. Kata sifat itu seakan kehilangan maknanya di tempatku bekerja, saking seringnya digunakan. Temanku ini tampaknya tak punya banyak referensi kosakata. Kalau aku jadi dirinya, aku mungkin akan menggunakan kata biadab, kurang ajar, munafik, picik, tidak sportif, dan entah apa lagi. Tapi anehnya, di depan orang-orang, aku selalu tampak seperti orang baik yang naif, yang tak punya pilihan dan tak akan mampu melawan.

“Mau kamu ulang seribu kali pun, mereka nggak akan berubah jadi baik.”

“Aku tahu. Tapi kamu tega meninggalkan aku di hutan belantara ini. Gimana kalau nggak ada orang lain yang datang menggantikan kamu, yang baiknya sebelas dua belas sama kamu? Apa aku resign aja, ya?”

Kuangkat bahu. Ia diam saja. Kami lalu tenggelam dalam hening. Di ruangan sebelah, orang-orang masih riuh. Aku yakin mereka senang sekarang. Barangkali karena aku akan pergi tak lama lagi, atau karena mendapat makan siang gratis.

Seseorang berseru padaku dari balik pintu pantry yang setengah terbuka.

“Makasih, ya, buat makan siang gratisnya. Sayang besok-besok nggak ada lagi.”

Aku tersenyum setengah, menimpali celetukan itu tanpa mencari sosok yang bersuara.

“Sama-sama.”

Perempuan di sampingku menunduk dalam. Tangannya mengepal.

“Di dunia ini, katanya nggak ada makan siang gratis. Tapi selalu ada orang kelewat baik seperti kamu yang mau menyediakannya, bahkan untuk orang-orang jahat seperti mereka.”

“Paling tidak, dia udah berterima kasih sama aku. Lumayan, jadinya nggak jahat-jahat amat.”

Di dunia ini, kejahatan dan kebaikan tampak membaur, sulit dipisahkan meski garis batas di antara keduanya membentang nyata. Orang-orang jahat bisa tampak baik, sebaliknya, orang-orang baik dianggap sebagai penjahat. Namun, temanku ini senantiasa mengontraskan keduanya, sehingga aku pun merasakan hawa hangat dari moralitasnya yang terkadang naif. Apakah aku akan menemukan teman sepertinya di tempat yang baru, itu masih misteri. Meski demikian, kuharap di tempat yang baru aku  menemukan rekan-rekan kerja yang baik, sehingga aku tak perlu bersusah payah mengidentifikasi si jahat setiap saat.

Lihat siapa yang naif sekarang.

fin

 

Advertisements

7 thoughts on “[Special Event: Best of Us] Good and Bad”

  1. kesel woi bacanya grr .-. hah kok pas lagunya yg keputer coup detat nya gd hohoi dikudeta aja itu pegawainya/? *apadah
    emang separah itu ya lingkungan kerja kantoran? yah … aku juga bbrp kali berada dalam situasi kerja yg ga sehat sih *emang lu udh kerja Li *blm *plak*, tapi ga sekentara ini. kalo setting yg ini sih keliatan bgt ha ngeselin.
    liat reaksiku kyk mak2 nonton sinetron. “tuh temennya keluar aja ngapain lingkungan kerja kyk gitu dipertahanin” dsb dsb
    tapi alasan keluarnya si aku masih agak samar, kurasa? yah, gak perlu terlalu gamblang dijelaskan juga sdh keliatan sih waktu di farewell speechnya yg sebenernya noneksisten itu ha
    sdhlah daripada saya marah2 terus, kak ami keep writing ya!
    PS look guys this is the hilarious realist kak ami yg bisa bikin pembaca mencak2

    Like

    1. tambahan: 1. itu ‘mubazir’ atau ‘mubadzir’ ya kak? *beneran nanya ini* 2. mubazir itu bisa dijadiin kata sifat yg berarti menyia2kan ya? soalnya somehow aku g pernah liat yg begitu

      Like

  2. Kak ami … ini bagus banget :”))) nabil seneng banget kalo kak ami udah nulis karena isinya pasti paragraf-paragraf dari seorang pemikir kritis yang jago ngeramu topik sosialnya dalam sebuah tulisan padat dan bermakna bangeet kaya gini. suka iri sebenernya sama kak ami, tulisanya bikin sadar orang yang baca 😍

    Like

  3. kak ami, kakak tuh emang jago sama cerita-cerita yang realistis dan kayak bisa direfleksikan di dunia nyata ya hahaha. one of the best of you. from what i’ve heard, dunia kerja itu emang penuh dengan sikut-sikutan. aku jadi males sesungguhnya bcs aku salah satu yg idealis (tp ga mau lama-lama kuliah juga) huhuhuhu 😦

    makasih ya, kak ami, sudah menulis sebagus ini! 🙂 keep writingggg

    Like

  4. Udah lama bgt aku ga baca tulisan dan Ami dan masih ttp sama rasanya :’)
    Tulisan Ami selalu diangkat dari hal2 kecil di sekitar. Ditulis lg dengan sederhana tapi dengan makna di dalemnya huhu

    Cerita yg ini relate bgt ya. Sebenernya bisa sangat subjektif tapi ditulis dengan menampilkan bagian atasnya aja dan ga perlu sampek dalem karena takutnya jdi curhat hahahhaa

    Banyak juga sih kasus kayak gini di kantor. Dan pilihannya menurut aku emang cuman dua: maju dan bertahan atau mundur demi kesehatan mental kkkkk

    Like

  5. Alhamdulilah lingkungan kerjaku ga kek gini. Alhamdulilah temen2 kantorku baik2 dan kekeluargaannya kerasa.
    Tapi prnah denger juga temen yg satu kerjaan sama dia pada sikut2an, nyari muka di depan atasan. Pas aku diceritain sama temenku jg rasanya mendidih nih otak pengen nge-death note temen kerjanya itu satu2,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s