[Special Event: Best of Us] Year of Desperation and Death Wishes

written by slmnabil

Harry Potter © J.K. Rowling

Ada berbagai alasan mengapa para siswa Hogwarts beranggapan bahwa tahun kelima berarti sebaiknya kau mati suri saja. Sebab tahun kelima artinya: O.W.L. dan kalimat sejenis “Kalau kalian belum memikirkan akan jadi apa sepuluh tahun mendatang, inilah yang saat yang tepat untuk memutuskan,” serangkaian makian Snape yang jarang berpikir bahwa siswa-siswanya pantas mengikuti kelasnya, tugas-tugas esai sepanjang dua belas inci, dan Quidditch.

Dari semua hal yang menunggu di tahun kelima, satu-satunya yang dikhawatirkan Oliver Wood hanyalah Quidditch. Kekhawatiran itu cukup makan tempat, sehingga Wood tidak merasakan perasaan-perasaan yang seharusnya dimiliki siswa tahun kelima: optimisme mampu melewati O.W.L. dengan baik jika berusaha keras, kepasrahan di muka dan masa bodoh saja, juga pengharapan pada catatan-catatan teman satu asrama yang memerhatikan pelajaran bahkan dalam kelas Binns—Profesor hantunya yang mengajar Sejarah Sihir. Telah mendapat persetujuan umum bahwa Binns adalah profesor paling membosankan. (Apakah para pengajar hantu tidak dibekali selera humor?)

Tapi, khusus tahun ini saja, Wood lebih baik mendapat jadwal ganda di Sejarah Sihir daripada harus hadir di Transfigurasi. Lantaran Transfigurasi artinya bertemu McGonagall; McGonagall artinya kepala asrama Gryffindor yang tahun lalu ia kecewakan, atau realistis saja: permalukan, di hadapan Snape. Tahun lalu, Gryffindor kalah dari Asrama Hijau dalam turnamen Quidditch antarasrama. Sebagai kapten tim, tentu saja Wood merasa bertanggung jawab akan peristiwa McGonagall-tak-bisa-mengangkat-wajahnya-di-hadapan-Snape-selama berminggu-minggu. Bertanggung jawab atas tim masih bisa ditahan, namun atas seorang profesor—McGonagall pula—mana kuat dia? (Meski kepala asramanya itu tak pernah secara verbal maupun non-verbal menyalahkan sang ketua tim).

Wood tidak tahu seharusnya ia kesal pada Charlie Weasley atau naga-naga di Rumania sana—atau malah keduanya, sebab sejak seeker Gryffindor itu meninggalkan tim untuk belajar mengenai naga, timnya belum sekalipun mencecap kemenangan.

Wood sebetulnya bisa menunggu. Keyakinannya dapat dibilang cukup kuat bahwa suatu hari nanti—tapi perlu dicatat sebaiknya disegerakan—akan ada seeker yang mampu menggantikan tempat si Rambut Merah. Tapi, situasi dan harga dirinya mendesak untuk mendapatkan kepastian jalan hidupnya. Yang caranya berkaitan dengan ramalan; yang juga berarti Sybil Trelawney.

Berada dalam ruangan yang semua gordennya ditutup dan bahkan bola-bola lampunya saja dikerudungi dengan selendang, memberimu hak sepenuhnya untuk terkantuk-terkantuk. Apalagi bau perapiannya. Sungguh, bagi Wood ruang kelas Ramalan dibuat dalam suasana peristirahatan bayi-bayi naga.

Di hari-hari biasanya, Wood secara sengaja dan sadar mengabaikan ujaran-ujaran mistis-semi-dramatis Profesor Trelawney meski masih berusaha tampak memperhatikan. Namun hari ini, di balik meja bundarnya, sang kapten Quidditch memusatkan perhatian sepenuhnya pada profesor berkacamata super besar itu—atau mungkin pada kalung rantainya; bisa juga gelang-gelangnya yang jumlahnya sampai mencapai bawah siku, yang berkelap-kelip ditimpa cahaya perapian.

Hebatnya, atensinya tak terusik sampai pelajaran ditutup dengan tugas analisis mengenai bentuk-bentuk ampas teh—walaupun rasionalitasnya tak menerima pembelajaran semacam ini, tapi itulah Trelawney.

Seisi kelas merapikan pena-pena bulu dan buku-buku mereka sebelum bergiliran keluar. Yang paling cepat, buat mereka adalah yang paling muak, jadi kau bisa bayangkan betapa sulitnya meninggalkan kelas itu, disaat masuknya sangat leluasa.

“Profesor,” sapa Wood ketika jari-jari kurus Trelawney menempatkan bola ramalannya ke lemari penyimpanan.

“Anak muda,” katanya menimpali dengan suara serak nyaris berbisik. “Aku tahu, aku tahu,” sang profesor melanjutkan. Dagunya naik sedikit, menciptakan kemiringan sekitar tiga puluh derajat. Kelopak matanya terbuka separuh—atau tertutup separuh, dan tangannya diangkat membentuk siku-siku.

“Mata batinku mengatakan bahwa kau sedang diselimuti aura-aura keputusasaan. JANGAN! TIDAK! JANGAN BERPIKIR UNTUK MENYAKITI DIRI! Ah, kekhawatiranmu sangat beralasan. Meragukan kompetensi diri … MCGONAGALL!”

Wood hampir lompat ke belakang lantaran mengira profesornya menyapa kepala asramanya yang kebetulan melintas. Wood menoleh ke arah pintu. Tapi, tidak, beruntungnya tidak ada McGonagall.

Saat ia kembali menghadapkan wajahnya pada Trelawney, tahu-tahu saja wajah sang profesor sudah memenuhi seluruh pandangannya.

“Pelajaran apa yang akan kau hadiri selanjutnya, o sang jiwa yang terombang-ambing?”

Wood menarik diri, ngeri. “Mantra. Flitwick.”

Trelawney meraih bahu Wood lalu memutarnya, menghadapkannya pada pintu keluar. “Jemput cahayamu, Sayang.”

Lalu ia didepak.

Memang benar, hanya Sybill Trelawney yang menyampaikan segala sesuatu dengan nada menyuruh mati.

Sampai dua puluh menit di kelas Mantra, hanya dua-tiga menit Wood mendengarkan. Sisanya? Ia menggambar-gambar asal di perkamennya, tidak memerhatikan sama sekali. Bahkan kala pintu kelas diketuk dan, tentu saja, setiap leher dipanjangkan untuk melihat siapa yang datang, Wood malah bertopang dagu.

“Maaf, Profesor, bolehkah aku meminjam Wood sebentar?”

McGonagall.

Kelima indra Oliver Wood langsung siaga, mungkin sampai enam kalau saja ia punya. Tubuhnya mendadak lebih tegak daripada dirinya di kelas Ramuan, padahal dia sudah memantapkan kalau hanya di depan Snape-lah punggungnya dilarang membungkuk sedikitpun.

“Tentu. Wood.” Rasanya Flitwick baru saja mengantarkannya menuju gerbang neraka.

Begitu pintu ditutup dan figur McGonagall berada tepat di hadapannya, Wood merasakan dua hal: tegang sebab profesornya tiga kali lipat lebih mengintimidasi, dan bingung sebab McGonagall membawa serta seorang anak laki-laki pendek—kemungkinan siswa tahun pertama atau kedua—berambut hitam lebat sampai bagian depannya menyentuh alis. Kacamata bulat mengait pada telinganya. Mau tak mau membuat Wood berpikir, “McGonagall mengasuh juga sekarang?”

“Aku telah menemukan seeker untukmu,” kata profesornya ceria. “Potter, dia Oliver Wood.”

end

 

Advertisements

6 thoughts on “[Special Event: Best of Us] Year of Desperation and Death Wishes”

  1. Jadi karena pada dasarnya tidak mendalami Harry Potter!au sesungguhnya saya tdk terlalu kenal Oliver Wood. Walaupun gitu inti ceritanya ttp kena sih, bahwa si Wood desperate dan aku cukup mengasihani dia waktu ngadepin trelawney yg rada2/?
    Jadi dia ini semacam kaptennya Harry gitu ga sih *baca di Wiki entah benar entah salah*
    Tapi aku baru tau klo kalah quidditch tu efeknya sampe ke kepala asrama juga, jadi kyk kalah di lomba kelas trs wali kelasnya juga ikutan segan sama wali kelas lain gitu .-.
    Anyways, Keep writing nabil!

    Liked by 2 people

    1. kak lianaaaa:)))) kakak ngga mendalami harry potter tapi dibaca sampe selesai terus sampe liat ke wiki, nabil seneng bangeet :”) jadi inget belum mampir ke ceritanya kakak :((

      di bukunya gitu kaak, kata McGonagall dia gabisa ngadepin snape gituu hahaha

      kak liana juga semangat terus nulisnyaa:) segera nabil meninggalkan jejak di cerita kakaak 💕💕

      Liked by 1 person

    1. hehehehehe di kepalaku yaaa kurang lebih begitu 😳😳 makasih banyak yaaa udah baca 🙂 nanti kalo nabil bikin kamunya baca tapi yaa? 😉

      oh iya, namaku nabil. salam kenal ya cacha?

      Liked by 1 person

  2. Wow… aku selalu suka sama Oliver Wood ini. Dan Yeah… ketika meliat nama Snape tertulis disitu awalnya aku nebak2 ini yg diangkat cerita siapa? Ternyata Kaptennya kkkkk

    Semoga ada lanjutannya ^^

    Like

  3. Waaaa…. nabil bikin point of view nya Oliver, si kapten yg manis itu yaaa.. hhe
    Kukira ini bakal kayak author lain yg ngambil setting harpot tp cast nya idol. Ternyata nabil ngambil karakter dr cerita harpotnya sendiri.
    Ku sempet geli sama pemikiran Wood yg ngira mcgonagall mengasuh anak. Pleaseee,, wood,, otak warasmu udh mulai ilang gegara keseringan kena bludger kayaknya.
    Naiseu nabil,,, i like it.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s