One Paradise: Temptation

One Paradise: Temptation

LDS, 2018

[previous: One Paradise: Twisted. warning: religious issues!]

.

Para pelayan di Kediaman Jung mengenakan seragam dan raut yang sama sejak tuan mereka berhasil menjerat sasarannya dalam ketidakberdayaan. Kehangatan yang dipancarkan semua orang di rumah megah itu sesungguhnya merupakan tipuan agar Ryu Sujeong tidak sadar dirinya telah masuk perangkap. Kini, gadis belia yang sebelumnya melayani Jung Jaehyun itu terbaring lemas dalam sebuah kamar di sudut terpencil pondok pelayan, tak mampu banyak bergerak lantaran kehilangan tangan serta kaki kirinya.

Petang ini, Jaehyun berjalan di antara dua baris pelayan yang membungkuk hormat menyambut kedatangannya, lurus menuju kamar Sujeong sembari masih memikirkan mengapa ia mencegah Iblis melahap si perempuan malang sampai habis tempo hari. Tak pernah ada manusia yang teguh dalam iman mereka setelah menyaksikan sosok asli Iblis; mereka pasti akan memilih menyerahkan jiwa mereka untuk disantap makhluk laknat itu—dan hidup abadi, walau nyatanya mereka mirip mayat bernapas—ketimbang berakhir terkunyah. Sujeong menjadi yang pertama bertahan dengan keputusannya dan meski hal tersebut agak mengejutkan Jaehyun, aturan main tidak berubah: tidak menyerahkan jiwamu, tamatlah kau.

Iblis waktu itu sudah setengah jalan menikmati tubuh Sujeong ketika Jaehyun menyuruhnya berhenti.

“Andai aku tidak terikat dengan kontrak kita, gadis itu pasti sudah berakhir. Mengapa kau menghentikanku, Bedebah?!”

Jaehyun belum menemukan jawaban atas pertanyaan ini hingga detik ia mengganjur langkah menuju pondok pelayan.

Dalam keadaan bersih dan harum setelah dimandikan, Sujeong duduk di tempat tidur dengan mata terpejam, bibir bergumam, dan jemari menurutkan satu demi satu simpul pada tali yang ia genggam. Melihat bagaimana gaun tidur si gadis melonggar, Jaehyun menduga rosario kain itu berasal dari sabuk beludru tipis yang tiap ikatannya ditebalkan agar menyerupai manik-manik.

Bisa-bisanya dia masih berdoa setelah semua usahaku membelokkan kepercayaannya.

Kendati demikian, tak dapat dipungkiri bahwa Sujeong dan butir-butir penghitung lantun pujanya membentuk lukisan yang khidmat, damai, dan begitu cantik—jika saja ibadah bukan sesuatu yang di luar toleransi Jaehyun.

Ritual Sujeong terputus tatkala ia menyadari kehadiran orang lain dalam kamar dan membuka mata. Ia menarik diri, sedikit enggan didekati, tetapi tidak bergerak lebih jauh karena Jaehyun hanya berdiri di sisi ranjang.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Baik, Tuan.” Sujeong menjawab tanya dingin Jaehyun dengan anggukan sopan, matanya—meski belum sepenuhnya bebas dari rasa ngeri—jadi lebih menantang dibanding dulu. Mungkinkah ini dampak dari adu pendapat mereka beberapa hari lampau? Menggunakan kalimat berbelit nan memaksa, Jaehyun seakan mengatakan bahwa konsep Tuhan pegangan Sujeong tidak akan menyelamatkannya dari kegentingan situasi saat itu, tetapi kenyataannya toh si pelayan masih bernapas hingga detik ini. Secara tidak langsung, sang cendekiawan telah kalah dalam perang argumen yang ia mulai, walaupun kemenangan lawan juga sudah tercederai oleh kecacatan yang Iblis timbulkan.

“’Baik’, hah? Dengan tangan dan kaki tak utuh begitu? Kau benar-benar ajaib, Nona Ryu.”

“Lebih baik begini. Saya bersyukur Tuhan masih berkenan menggenapkan hati saya dalam kehidupan kedua pemberian-Nya.”

Jaehyun tidak ingin berpura-pura tidak menangkap makna tersembunyi dari kata-kata lembut Sujeong.

“Kau tak tahu siapa yang mewujudkan ‘kehidupan kedua’ itu karena kau hilang kesadaran sebelum mukjizat terjadi.”

Sujeong menggeleng. “Bagi saya, ini takdir Tuhan dan bukan kehendak selain-Nya, Tuan.”

Tiba-tiba, Jaehyun mencekal pergelangan tangan Sujeong, menjatuhkannya hingga telentang, dan menindih pahanya sebelum mencabut belati dari dalam rompi. Ujung senjata tipis itu tertanam ke kulit satin Sujeong sampai mengucurkan darah serta memancing erang kesakitan.

Aku yang memerintahkan Iblis untuk tidak menghabisimu—dan cuma aku yang bisa menghentikan belati ini untuk tidak membunuhmu.”

Sejenak, Sujeong menampilkan kerapuhannya, terengah-engah dalam kungkungan tubuh besar Jaehyun sembari menggeliat sebisanya agar bebas. Sisi ini begitu saja menguap di penghujung ucapan si pangeran Jung. Semula tak terbaca, gerakan-gerakan kecil dari bibir sang dara membentuk serangkaian puja suci yang sangat jelas dipanjatkan kepada siapa.

Tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya. Tuhan mengetahui apa yang di depan dan di belakang mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu-Nya, kecuali yang Ia kehendaki ….

Berlawanan dengan kemauan si pemilik, tangan Jaehyun bergetar begitu hebat sehingga kesulitan menembus leher Sujeong lebih jauh. Betapa pun besarnya upaya untuk bisa mengoyak kulit di bawah mata pisau menjadi sia-sia; telapak itu telah ditahan oleh kekuatan tak kasatmata. Debaran jantung pria itu bertambah kencang, menyakitkan, seiring menguatnya penolakan terhadap keberadaan zat di luar nalarnya. Otot-otot liat Jaehyun akhirnya menyerah, belati terlempar ke sisi, dan Sujeong dapat bernapas leluasa seperti sediakala.

Doa yang Sujeong lafalkan sebelum ini pernah menyinggahi kenangan Jaehyun di satu sudut gelap nan sunyi, sudut yang ia kira tak akan dikunjunginya kembali.

“Tuan baik-baik saja?”

Sujeong memang kesakitan, tetapi pedih luka barunya pasti tak seberapa dibanding kecemasan yang kini ia tunjukkan untuk Jaehyun. Tidak selarasnya noda darah—bekas mengusap sayatan leher—pada punggung tangan itu dan ekspresi khawatir si empunya telapak seakan menghinakan pewaris tunggal Jung—dan bantuan yang belum sempat ditawarkan Sujeong ditepis Jaehyun kasar. Ia menganggap itikad baik itu sebagai bukti kesombongan pelayannya.

“Nona Ryu, kau seharusnya mencemaskan dirimu sendiri.” Jaehyun menyimpan belatinya ke saku pakaian, riak emosinya berangsur mereda dan ia berlalu.

Sayup, ucapan Sujeong mengantarnya ke ambang ruangan.

“Semoga Tuhan selalu menjaga Tuan.”

***

Kapan aku bisa meneruskan makanku?

Desis di belakang punggung Jaehyun akan sukar diterjemahkan telinga yang tak biasa mendengarnya. Bayangan raga Iblis yang menakutkan dalam keremangan ruang bawah tanah tidak membuat lawan bicaranya gentar. Noktah merah pada anak mata sang darah biru—yang merupakan pusat alur-alur serupa rajah pada sisi wajah dan lengannya—berkilatan sama menyeramkan.

“Tunggulah. Selama hatinya masih dipenuhi keyakinan akan Tuhan, mustahil bagimu menyentuhnya, apalagi menyantapnya.”

Mengapa tidak goda saja dia agar mau berpindah jalan?

“Itu mungkin mudah jika cara pandangnya terhadapku masih seperti dulu.”

Kau memojokkannya terlalu awal, tetapi tidak menghabisinya. Itu salahmu!

“Bukan salahku,” tegas Jaehyun; api di perapian ikut membesar bersama kata-katanya. “Ryu Sujeong memilih untuk tetap percaya pada zat yang menurutnya Maha Agung, maka kau tidak akan berhasil memakan jiwanya. Bila badannya hancur di mulutmu, aku harus mencari ruh baru sebagai gantinya—dan itu berarti dua kali kerja.”

Ruangan redup itu sejenak tenang. Bosan dengan geliat nyala perapian, Jaehyun mengalihkan tatapan pada lukisan sepasang pria-wanita di seberang lemari buku, tetapi tak lama kemudian, ia menjauh untuk mengambil sehelai kain lebar. Dilemparnya kain tersebut ke arah lukisan hingga tertutup sempurna. Noktah merah di tengah irisnya perlahan menghilang bersama seluruh lengkungan sewarna pada kulitnya, tanda Iblis telah tersegel balik, biarpun suara makhluk itu masih mencapai telinga Jaehyun.

Ingat, jika aku tidak bisa memakan Ryu Sujeong, kau akan sangat menyesal.

“Ya, ya. Dasar tidak sabaran.”

Jaehyun menuang anggur ke sebuah gelas bertangkai. Seraya menyesap cairan keunguan tersebut, ia—yang masih terheran pada semua kegagalan rencana untuk menaklukkan Sujeong—mencari kiat untuk ‘merayu’ sang pelayan. Ia akui, lebih dahulu memicu ketakutan dibanding menawarkan kenikmatan adalah langkah yang salah untuk mengarahkan seseorang pada kekuasaan Iblis, tetapi kesalahan semacam itu saja mestinya bisa ia perbaiki. Sudah berapa manusia yang disesatkannya menggunakan filosofi-filosofi keliru mengenai kebahagiaan dan ketuhanan? Dibanding mereka semua, pelayan terakhirnya hanyalah perempuan muda yang hobi berangan-angan, juga hidup jauh dari pengetahuan.

Ryu Sujeong tidak sesederhana itu.

Kening Jaehyun berkerut ketika menyangkal pernyataannya sendiri. Dengan kekayaan, kecerdasan, dan Iblis yang berada di sisinya, ia boleh tampak lebih unggul, tetapi apakah itu sebenarnya semu? Apakah satu kekuatan dahsyat yang tak terjangkau indra memihak Sujeong hingga gadis itu berkali-kali lolos dari ancamannya?

Sungguh bodoh, Jaehyun menyisihkan gelasnya yang telah kosong. Andai apa yang Ryu Sujeong sebut ‘Tuhan’ itu ada, Dia telah menyia-nyiakan doa dan pengabdianku yang tak akan pernah kembali.

***

Tiga hari belakangan, Jaehyun tidak menjenguk Sujeong sama sekali lantaran sibuk dengan tugas-tugas di akademi dan penerbitan bukunya. Selain itu, pengabaiannya terhadap si perempuan merupakan bagian dari taktik agar Iblis bisa makan—yang berpeluang sukses lebih besar dari strategi lainnya. Akan tetapi, dalam perjalanan pulang petang ini, kebimbangan menggelayuti bahu sang bangsawan sebab konsep dosa menyambangi benaknya setelah sekian lama. Ganjil; manusia adalah inti putaran semesta, bukan sebaliknya, maka hukum yang memuat dosa serta pahala jelas tidak berlaku.

Untuk apa takut? Tuhan tidak mengawasiku. Dia bahkan tidak ada.

Sudut bibir Jaehyun terangkat sedikit ketika ia turun dari kereta kuda.

Belum hendak beristirahat, Jaehyun meminta segelas penuh anggur disiapkan di atas meja sebelah tempat tidur. Jemari ningratnya kemudian melingkupi pangkal wadah bertangkai itu, sementara tangan yang lain membawa lentera, menuruni jalan setapak pendek menuju pondok pelayan dalam pakaian terbaiknya. Pada ‘permainan’ ini, Jaehyun harus terlihat dan tercium seperti kemenangan supaya Sujeong dan sosok pelindungnya cukup terpojok untuk menerima ‘godaan’ yang ia ulurkan.

“T-Tuan … tolong …. A-air ….”

Alangkah puas Jaehyun saat mendapati Sujeong merintih parau di lantai dengan selimut terseret bersamanya (barangkali ia berpindah tanpa bantuan), kulit pucat, dan bibir pecah-pecah.

“Lihat, kelemahan memang lebih pantas untukmu.” Berada di atas angin, Jaehyun menggoyangkan sedikit gelasnya, menimbulkan kecipak kecil. “Air? Aku cuma punya anggur dan jika kau haus, hanya ini satu-satunya yang akan kauteguk.”

Erangan kecewa Sujeong—walau lirih—tertangkap oleh rungu Jaehyun. Gadis itu beringsut menuju pintu, tetapi Jaehyun menginjak telapak tangannya dan ia memekik.

“Kaupikir dengan adanya aku di sini, kau bisa pergi?”

Jaehyun mengentak lengan Sujeong dan mengempaskannya balik ke tempat tidur dengan satu genggaman bagai melempar binatang buruan ke tanah. Tidak makan maupun minum selama tiga hari penuh mengurangi berat badan sang dara, juga membuat benturan tulang dan permukaan keras ranjang lebih menyakitkan. Sujeong akan menangis andai saja air matanya tidak dikeringkan dahaga—dan Jaehyun paham bahwa anggurnya akan menjadi berlipat-lipat lebih menggoda.

“Kau cuma punya satu kesempatan. Setelah meminum ini, kau akan mendapatkan kembali makanan dan air dari para pelayan.”

Dengan sisa tenaga, Sujeong mendorong gelas yang disodorkan padanya.

“Jangan menolak kalau memang mau, Nona Ryu,” ujar Jaehyun saat mendengar samar bunyi ludah ditelan. Sujeong menggeleng. Dia tidak tahu apa yang akan Jaehyun perbuat usai raga dan pikirannya dilemahkan minuman itu. Satu teguk saja bisa saja sangat berbahaya.

“Kau sungguh keras kepala.” Bangkit dari tempat tidur, Jaehyun menyesap anggur; gerak naik jakunnya memaksa Sujeong untuk menelan ludah yang kedua kali. “Tiga hari lagi, aku akan datang. Penawaranku sama, tetapi rasa lapar dan haus yang lebih hebat mungkin akan mengubah jawabanmu.”

Jarak tungkai Jaehyun menuju pintu kamar tinggal sedepa.

“Tunggu ….”

Sujeong tersengal, berpegang pada ujung lain dipan, tidak cukup kuat untuk turun dan menyusul tuannya.

“Mengapa?” Jaehyun menyeringai. “Bukankah kau tidak menginginkan anggur ini?”

Tak sepatah kata terlontar dari celah bibir Sujeong yang setengah membuka. Hasratnya begitu besar untuk meneguk sesuatu sekarang dan aroma minuman Jaehyun membuatnya kewalahan. Ia tidak sanggup lagi menahan derita selama tiga hari ke depan. Dalam keadaan ini, harapan si gadis demikian tipis hingga kepercayaan pada kekuatan yang beberapa kali menyelamatkannya pun lenyap.

“Saya akan meminumnya, Tuan ….”

Alis Jaehyun terangkat, tampak terkejut oleh pernyataan yang sebenarnya telah masuk dalam perhitungannya. Langkah sang bangsawan lambat menghampiri Sujeong sebelum menggenggamkan gelas anggurnya ke tangan rapuh itu.

“Kalau begitu, habiskan.”

Sujeong menghela napas sebelum mendekatkan tepi gelas pada bibirnya. Semula menelan perlahan, si gadis lantas meneguk dengan rakus layaknya minum air. Setetes anggur pun menuruni dagu; cepat dihapusnya jalur keunguan itu sebelum meninggalkan bekas. Gelas kembali berada di tangan Jaehyun dalam keadaan terbalik usai dikosongkan; tidak sebulir sisa pun jatuh dari wadah kaca itu ke lantai.

“Luar biasa. Kau membersihkan gelasku!”

Pandangan Sujeong mulai tak fokus, mukanya bersemu panas, dan jari-jarinya bertaut erat di atas pangkuan demi meredam getar di sana. Bersilang lengan, Jaehyun menanti tawanannya memegangi dahi, mengaduh, dan terempas balik ke atas bantal. Sujeong kelihatannya tidak mampu banyak minum alkohol pada keadaan biasa, apalagi ketika tubuhnya sedang ‘kering’; anggur itu pasti akan bereaksi lebih cepat. Noktah merah di mata kiri Jaehyun cukup menjelaskan apa yang menunggu si gadis sehabis mabuk.

“Nona Ryu,” Ujung telunjuk Jaehyun meluncur pada tepian bibir pelayannya yang baru saja basah, “sekarang, bagaimana keadaanmu?”

Putus asa, Sujeong meremas bagian bawah jubah Jaehyun yang terjangkau olehnya.

“Lagi ….”

“Aku tidak bisa mendengarmu.” Jaehyun berbohong. “Katakan dengan lebih jelas dan keras.”

“Berikan aku lagi …. Aku terbakar ….”

Tiada dahaga dapat dipuaskan segelas maupun berbotol-botol anggur, tetapi memang dalam permainan ini, ramuan buah-khamir tersebut merupakan satu-satunya ‘hidangan’. Mau tidak mau, Sujeong memohon—di antara pasang surut kesadarannya—agar Jaehyun menuang lagi untuknya. Sesuai keinginan sang tuan, perempuan malang itu telah menggali lebih dalam lubang dosanya sendiri.

“Mengapa aku harus memberimu gelas kedua? Mintalah pada Tuhanmu, pasti Dia akan memberikannya.”

“Tidak, Jaehyun, tolong aku …. Ambilkan sekarang ….”

Bukannya tersinggung dipanggil hanya menggunakan nama depan, Jaehyun justru merasa terhibur. Batasan-batasan yang Sujeong tetapkan sebagai pelayan telah lebur bersama mengalirnya anggur ke kerongkongan, maka sebentar lagi, akan ada batasan lain yang ia langkahi. Setitik noda pada manik Jaehyun berdenyut, menjalarkan warna merah ke sebelah kiri tubuhnya ketika ia bertanya dengan nada main-main.

“Apa aku bermimpi? Kau lebih memilih bergantung padaku daripada memanjatkan doa? Ke mana Tuhanmu pergi, memangnya, Nona Ryu?”

Warna hitam yang membumbung di seberang ranjang Sujeong berangsur tegas bentuknya. Alih-alih merasakan cekaman hawa makhluk yang Jaehyun lepaskan, si gadis ikal terus mengerang; benaknya berkabut oleh rasa butuh. Pinta bercampur sedu sedan mendesak sang tuan agar segera memenuhi keinginannya, sementara rosario kainnya menggantung terlupakan di ujung lain kasur

“Aku haus!” teriak Sujeong setelah tuannya cukup lama mengulur waktu dengan retorika-retorika yang melelahkan. “Berikan aku minum! Tuhanku telah meninggalkanku …. Dia membiarkanmu menyiksaku seperti ini!”

Jaehyun terkekeh di sela deguk kecewa Sujeong, begitu pula sosok gelap berukuran raksasa di belakang si tawanan. Sangkar yang mengurung rapat hati perempuan itu terbuka akibat keluhan akan keberadaan timbul tenggelam Sang Maha Segala, padahal cakar-cakar api sedang bersiap menerkamnya. Terkesan kokoh, iman Sujeong rupanya tidak betul-betul mengakar hingga ke dasar batinnya sehingga bisa digoyahkan oleh segelas anggur dan sedikit tekanan. Ini tidak akan makan waktu banyak. Jika lapis terluar jiwa pelayannya telah tercabik oleh Iblis, maka selanjutnya—

“AH!!!”

Anyir menyeruak dalam sempitnya bilik di mana kedua musuh Sujeong tiba-tiba terpelanting jauh. Kelopak mata Jaehyun yang tertutup mengucurkan darah dan jerit Iblis menggoncang ruangan itu beserta isinya. Badan si penghuni neraka koyak menjadi serpih-serpih bayangan yang pecah dan bergabung berulang kali, walaupun kuku-kukunya masih menancap pada Sujeong.

“Lepaskan!” perintah Jaehyun, bola matanya berkedut nyeri. “Lepaskan gadis itu!”

Namun, Iblis tidak mau membebaskan jiwa Sujeong—yang pingsan seketika pada serangan pertama—dari genggaman. Keserakahannya ingin menelan seluruh bagian hati itu, tidak peduli betapa menyakitkan prosesnya, meloloskan erang keras Jaehyun. Sudah jelas gadis itu ‘dilindungi’, mengapa Iblis masih memaksa untuk memakan jiwanya?

“Keras kepala! Lepaskan, kubilang!”

Akhirnya, manik zamrud Jaehyun terbuka lebar. Noktah di tengahnya mengerut, menarik lengkung-lengkung merah ke dalam iris hijau itu sampai hilang. Gema suara Iblis yang tidak ikut lenyap ke dalam segel sihir lambat laun tergantikan rintihan pemilik kulit susu yang kini dihias dua lajur darah.

Ryu Sujeong sungguh bukan perempuan biasa. Kesederhanaan dan kedangkalan pandangannya hanya kedok di atas keteguhan prinsip. Lisan yang berkhianat di bawah pengaruh alkohol tidak lantas membusukkan secara penuh jiwa putih bersih miliknya sehingga dasar nurani yang coba diusik Iblis tetap terjaga. Inilah kalbu yang selamanya tak akan tergerogoti dosa, maka Jaehyun dan ‘peliharaannya’ harusnya berhenti.

Tidak, tidak. Seseorang di masa lalu Jaehyun pernah mempunyai jiwa semurni Sujeong, tetapi toh Iblis tetap mampu menghunjamkan cakar-cakarnya di sana.

Tenaga Jaehyun terkuras habis gara-gara melawan dorongan perisai yang melingkupi jiwa Sujeong, jadi ia hanya memanggil beberapa orang untuk membereskan kamar dan menyajikan makan malam buat pelayannya yang baru bebas hukuman tersebut. Beranjak dari pondok dengan kekalahan tak terduga, Jaehyun merasa amat letih, sayangnya sesak yang menghinggapi dada—entah dari mana berasal—mencegahnya  menikmati rehat malam itu.

[2/3]


haha ini sebenernya ada tiga part. semoga ga jelek2 banget, bikinnya suuuuuuusah soalnya ~ sbnernya sih aku membayangkan setnya itu mirip Eropa tahun 1800an gitu tapi aku ga ngomong specific date and place krn bingung juga nyesuaikan sama nama mereka. satu hal lagi adalah gelas anggur. waktu nulis ini bayanganku gelas anggur tuh yg ramping panjang, baru kuinget itu buat sampanye bukan red wine *malu. tapi kusearching lagi sih, dan emg ukurannya banyak, klo jaman2 1800-an harusnya memang masih ukuran kecil krn jaman itu anggur masi susah didpt dan mahal *katanya si sumber itu* trs soal knp siksaannya jae ‘seperti itu’, well … somehow kepikiran aja krn nyambung sama bgmn jae bisa jadi sperti skrg. aku sdh baca bbrp artikel ttg intoksikasi alkohol pada org yg dehidrasi, tapi yah … aku masih takut bbrp keadaan di ff ini dan fakta2 seputarnya agak ga pas. hm.

btw lovelyz comeback uwu senang, sujeongnya cantik ehe. ada yg ngikutin lovelyzkah selain diriku?

Advertisements

3 thoughts on “One Paradise: Temptation

  1. Rijiyo says:

    ASTAGHFIRULLAH PAS BACA BAGIAN INI, AKU CUMA BISA BILANG ASTAGHFIRULLAH. GEMETER BANGET BACANYA ASTAGHFIRULLAH…… TERNYATA PESONA IBLIS TUH LEBIH MENGGODA DARIPADA SURGA. AKU MAU NANGIS AJA RASANYA KALO JADI SUJEONG. ASTAGHFIRULLAH BAYANGIN SUJEONG HIDUP TANPA TANGAN DAN KAKI LENGKAP, DITAMBAH PERLAKUAN JAEHYUN YG 11 : 12 SAMA IBLIS TUH KAYAK…………………. ADOH BATINKU GAK KUAT 😭

    Aku gak ngikutin lovelyz sih, tapi aku menikmati bgt jalan cerita ini hwhwhwhwhwhwh ini tulisannya baku banget tapi knp gak bikin bosen sih? Apa rahasianya? 😭 Aku juga mau bikin kek gini biar gak ngereceh mulu 😭

    Liked by 1 person

    • LDS says:

      ji kerecehan adalah hidupmu. tanpa kerecehanmu aku hampa, tolong jgn hilangkan kerecehanmu agar hidupku berwarna. *oposeh
      ada yg baca ini ternyata setelah sekian lama ehe ehe seneng aku. makasih udh mampir ya. btw aku bertanya2 ini tuh emg tema berat tah? aku sering nulis soal beginian tapi krn bungkusnya fantasi kupikir tidak terlihat berat. SUMPAH JI IKI GAK BERAT KOK
      tapi emboh seh
      nanti sujeong bakal jadi pihak yg menang kok *spo* tapi di chap 3 dia baru menang ehe
      gapapa ga ngikutin lovelyz, aku ga ngikuti pentagon yo sik pengen nyeleding hyunggu gara2 ffmu.
      rahasia agar tdk receh? jangan menjadi shifta HAHAHA ora tah. ngereceh aja kali shif semua orang cinta pada kricikanmu termasuk aku krn kita jadi bisa nyeleding hyunggu berjamaah ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s