Punggungmu

by Primrose Deen, 2018.

Kau tertidur lagi selepas sahur, seperti yang kau katakan tujuh tahun yang lalu.

Melihat punggungmu yang sedang membungkuk, menumpukan sebagian berat tubuhmu di atas meja itu menghadirkan banyak tanya dalam bisu. Kepalamu yang sedang turut beristirahat di atas meja itu, sudah berapa jam kau gunakan untuk memikirkan pekerjaan? Sepasang dwimanik di balik bulu mata panjangmu itu, sudah berapa malam kau paksa untuk terjaga? Kedua pundak yang sedang naik turun seiring embusan napasmu itu, sudah sekaku apa karena kau terlalu lama duduk di depan komputermu?

Entah sudah tahun keberapa sejak kali terakhir aku melihatmu. Kali terakhir kita bersua, tak satupun dari kita menduga bahwa jaraknya akan sejauh ini. Kita hanya melakukannya seperti biasa; makan bersama, saling berbasa-basi sampai hal-hal yang dirasa cukup jenaka untuk kita menertawainya.

Kau tertidur lagi selepas sahur, seperti yang kau katakan tujuh tahun yang lalu. Hanya saja, kali ini tampaknya kau memiliki segudang pekerjaan untuk diselesaikan—melihat dari laptopmu yang masih kau biarkan menyala di hadapanmu—sedangkan dahulu, kau sudah tenang-tenang saja lantaran sudah diterima di perguruan tinggi favoritmu. Dulu, aku adalah salah satu orang yang menyaksikanmu berhasil mendapatkan kursi di universitas itu. Tapi sekarang, aku bahkan tidak tahu apakah kau sudah berhasil mendapatkan gelar sarjanamu.

Tak menemukan foto wisudamu hanyalah satu-satunya pendukung asumsiku. Namun melihatmu begitu menyukai pekerjaanmu sekarang, aku turut merasakan antusiasme yang meletup-letup di setiap persendianmu.

Melihat punggungmu yang sedang membungkuk, menumpukan sebagian berat tubuhmu di atas meja itu, membuatku ingin menepuknya dan memintamu untuk tidur di tempat yang lebih nyaman.

Namun sayangnya, aku tidak mampu.

Aku tidak mampu, karena aku hanya melihat punggungmu melalui foto yang dibagikan secara publik oleh kekasihmu yang baru. Kekasihmu yang sebentar lagi akan menyandang status baru sebagai istrimu.

Aneh, bagaimana rindu ini tiba-tiba menyerbu. Padahal ini sudah tahun ketiga aku berhasil menahan diri untuk tak lagi mengorek kenangan perihal dirimu. Ah, sulit dipercaya semua ini jadi menyeruak kembali hanya gara-gara punggungmu. []

Fun fact: Kisah nyata beberapa hari lalu.

Special note: I’m sorry for another mainstream plot. I just couldn’t help myself to write it. Otherwise, I will end up scrolling his Twitter.

[Picture © Emile Perron]

Update 2 Juli 2018.

Akhirnya setelah 7 tahun, ia telah menyelesaikan sidang skripsinya dan berhasil meraih gelar Sarjana Komputer (lagi-lagi lihat dari story-nya si Mbak Kekasih). Walaupun kamu nggak akan pernah baca ini, tapi … selamat ya, kamu. Ikut seneng. Semoga lancar semuanya. 🙂

Advertisements

15 thoughts on “Punggungmu

  1. alkimnindya says:

    Woww kek komen komen yang lain ini keren… Indeed, penulis writers secrets tulisannya emang simple simple tapi dalem 👍👍👍👍

    Liked by 1 person

    • alkimnindya says:

      And then I will always waiting and give a lot of love wkwkwk aku suka karya karya disini, tulisannya enteng tapi punya makna yg bagus. Aku jadi kangen indofanfict yg writer dari sini juga banyak nulis di sana, cerita ceritanya bagus banget kreatif tapi simple hehehe. Maafkan aku yang selama ini cuma jadi silent reader hehe karna aku berkali kali lupa pass wordpress 😂😂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s