Perburuan

LDS, 2018

Mawar diburu, kupu-kupu memburu, tetapi keserakahan pihak ketiga meleburkan batasan itu. Kunci menyelamatkan kedua kawanan hanya berjarak setetes nektar—dan sebuah kepercayaan.

.

Bertelanjang kaki, Jin berlari di sela-sela pohon pinus dengan desau anak panah elf yang rapat mengikuti. Gara-gara sayap tipisnya tertembus pucuk senjata berlapis kristal tersebut, ia mesti menapaki tanah untuk menyelamatkan diri. Ironis; ia pemburu handal di udara dan sering mengatai mangsa-mangsanya ‘makhluk darat yang lambat’, tetapi kini, ia bernasib sama mengenaskan karena tak terbiasa menggunakan tungkai untuk bergerak cepat. Yang lebih memalukan, buruan yang hampir ia cecap sarinya sebelum diserang tadi justru melindunginya.

“Jangan menoleh! Teruslah berlari!”

Di balik punggung Jin, melesat sosok yang mirip manusia jantan, tetapi soket mata kanan dan sisi wajah di bawah pelipis kirinya—tempat telinga manusia berada—ditumbuhi masing-masing sekuntum mawar ungu berbenang sari menonjol. Alih-alih sepasang kaki, ia bergerak dengan puluhan akar yang menancapi tanah, membuatnya tampak melata di atas jalinan sulur. Pada dada dan kedua lengannya, melingkar-lingkar batang hijau berdaun jarang yang sesekali memanjang untuk menghalau panah musuh. Lebih unggul soal kecepatan di darat, kaum rosa seperti dia bisa saja mendahului Jin, tetapi ia memilih tetap di belakang demi menamengi si kupu-kupu pembunuh.

Sayang sekali, Jin tidak punya waktu untuk terenyuh.

“Ah! Sialan!”

Telapak kaki kaum lepidra tidak setahan sayapnya dalam menghadapi serangan mendadak, maka tersandung batu sekepalan tangan saja cukup untuk memuntir sendi Jin, menimbulkan sakit yang sangat. Raga ringannya akan terpental jika si rosa tidak segera menangkapnya. Sekarang, ujung jari kaki Jin mengawang, sedangkan pipinya bersentuhan langsung dengan dada sang penolong. Kelembutan kulit satin ini menyelubungi otot yang liat, menyiratkan sebuah kekuatan tersembunyi.

Mengapa para rosa tidak pernah melawan saat akan kami habisi jika mereka sebenarnya sanggup?, heran Jin.

“Merunduk!”

Spontan Jin menekuk kepala. Sang rosa mengeratkan dekapan, melompati bongkah raksasa yang menghadang, lalu keduanya berguling beberapa kali sebelum akar-akar mawar itu berhasil mencengkeram bumi kembali. Mereka melenting ke bawah batu besar yang tak lama kemudian dijejaki kuda si elf, tetapi kaki-kaki itu ternyata terus melaju ke selatan. Hingga pemburu mereka menghilang dari pandangan, mulut Jin dibekap agar tidak berisik.

“Aku tidak bisa bernapas, Bodoh!”

“Terima kasih kembali.” Sang rosa yang tangannya baru saja ditepis tersengal-sengal dengan peluh membanjir. Jin pikir ini kesempatan bagus untuk melanjutkan makan pagi yang tertunda, tetapi denyut nyeri di pergelangan kaki mencegahnya beraksi. Ia mendesis; punggungnya mulai dijalari panas yang serupa. Sepasang sayap merah bergaris hitam pun terbentang lagi, menyibak helai-helai rambut panjang sewarna eboni, dan Jin berpaling ke belakang untuk mengecek seberapa parah lukanya.

“Aish! Aku dan seluruh lepidra akan membalas dendam untuk ini, Rambut Putih Gila!”

“Nona, tolong berhentilah. Kata-katamu luar biasa menyakitkan.” Si rosa menutup cuping telinganya yang hanya sebelah. Meski memuat rasa jengkel, suaranya masih begitu halus layaknya kebanyakan mawar di hutan ini. Mereka memang ditakdirkan demikian: indah, tetapi lemah, bahkan Jin bisa menyentak lengan makhluk itu dengan satu tangan saja setelah mampu menumpulkan ngilu yang menyiksa.

“Baiklah, sampai di mana kita?” seringai Jin, memojokkan mangsanya ke batu. Manik cokelatnya menggelap, nadi dalam genggamannya pun bertambah cepat. “Jangan kira kejar-kejaran tadi membuatku lupa memakanmu.”

“Benar juga. Kau akan mengisap nektarku, bukan? Asal tidak sampai habis, tidak apa-apa, kok.”

Merasa dihina oleh senyum si rosa, Jin membenamkan kuku-kukunya yang tajam ke pergelangan yang ia renggut hingga jantan di hadapannya meringis kesakitan. Dari tusukan itu, mengalir cairan pekat keemasan yang semua kupu-kupu sukai: nektar.

“Ya, harusnya kau merintih begini di depan pemangsamu, bukannya bersikap angkuh.” Lidah Jin terjulur, membersihkan kulit beludru sang mawar dari lengket darahnya yang manis. “Lezat sekali! Mana mungkin aku tak menghabiskanmu, Bunga Liar?”

“Aku bukan ‘Bunga Liar’. Namaku Kun dan kau akan kehilangan kesempatan besar kalau membunuhku sekarang.”

Lepidra tidak perlu tahu nama rosa yang akan mereka isap sampai kering,” kekeh Jin jahat. “Tahukah kau betapa putus asa kau terdengar?”

“Tidak, tetapi kaummu akan sangat putus asa beberapa tahun ke depan setelah memusnahkan para rosa.” Kun berlagak seolah-olah punya posisi tawar tinggi. “Tanpa kami, kaummu tidak punya harapan melawan para elf dan panah-panah kristal berbahaya mereka.”

Mata Jin yang sudah sempit makin sempit lagi seiring kecurigaan yang tahu-tahu mengemuka. Akhir-akhir ini, para lepidra memang terancam oleh elf yang jadi sering masuk hutan dan menyerang mereka tanpa alasan. Baru kemarin, seorang lepidra tewas karena senjata makhluk ‘ubanan dini’ itu—dan Kun mengetahuinya? Mungkinkah para elf juga mengincar kaum rosa?

“Ini benar-benar sakit, Nona. Bisakah kau—“

“Katakan semua soal serangan elf, baru aku akan melepaskanmu.”

Kun mengerang. Lengannya yang ditahan Jin di atas kepala dengan kuku akan sangat nyeri jika bergeser barang sedikit, tetapi ia mulai merasa pegal di bahu akibat mengangkat tangan terus-terusan. Sebaiknya, dia bersegera menjelaskan apa yang Jin ingin ketahui.

Elf berencana merebut kekuatan inti hutan yang dimiliki oleh kaum kita. Nektar rosa akan memberi mereka keabadian, sedangkan lepidra dapat menyerap kekuatan makhluk lain. Untuk mendapatkan dua hal tersebut, mereka mempersenjatai diri dengan panah kristal yang dapat menyedot seluruh kemampuan makhluk selain elf jika menancap ke daging.”

“Mengarang, huh? Mereka bisa menyerap kekuatan lewat kristal itu, lalu mengapa lepidra masih diburu?”

“Karena mereka ingin mencuri kemampuan makhluk-makhluk yang derajatnya lebih rendah menggunakan raga mereka sendiri. Setelah pucuk kristal yang ‘terisi’ disatukan dengan badan elf, mereka hanya tinggal menyentuh untuk memperoleh kekuatan baru. Tidak sepertimu yang terikat dengan nektar kami, mangsa mereka akan lebih beragam dan mereka bisa jadi makhluk terkuat sejagad raya!”

Jin berangsur teryakinkan, tetapi ada satu hal yang harus ia pastikan dulu.

“Dari mana kau mengetahui hal ini?”

“O, itu strategi rahasia yang—argh!”

Likuid kuning berkilau memercik ke permukaan berlumut lantaran Jin memperdalam tusukan. Aliran nektar yang kian deras kini melampaui siku Kun, menggoda siapa pun yang mencium baunya untuk mencicipi. Pandangan sang rosa tidak lagi fokus, pasti efek berkurangnya nektar pada pembuluhnya.

“Kau benar-benar menguji kesabaranku, ya?”

“Baik, baik, aku minta maaf, tetapi soal strategi kami, aku tidak berbohong ….” ujar Kun lirih. “Kita akan mampu melawan elf dengan bekerja sama ….”

Sebagaimana Kun mempermainkannya, Jin menarik kuku-kukunya dengan lambat pula, mengiris apa pun yang dilalui hingga keluar dari kulit yang koyak. Beberapa mahkota mawar ungu mengusam, lantas rontok, dan batang hijau pada raga Kun melayu ketika ia terkulai lemas di atas rumput. Nektar menggenang dekat telapak tangan mangsa Jin, menguarkan aroma memabukkan sampai-sampai si lepidra lupa pada lukanya. Ia mencondongkan badan secara tiba-tiba, mengentak pergelangan kakinya yang bengkak, juga menyebabkan gesekan antara lubang sayap dan udara yang memperparah perihnya.

“Ah!!! Kurang ajar!!!”

Meneteskan air mata di depan korbannya adalah puncak dari serangkai hal memalukan yang menimpa Jin hari ini. Apa boleh buat? Sakit yang hebat dari dua titik menyerbunya di saat bersamaan sehingga setangguh apa juga si pemburu mawar, ia masih menggigil dan menangis meskipun tanpa sengaja. Sekujur tubuhnya menolak untuk digerakkan ke segala arah; ia hanya bisa membeku sembari menunggu rasa nyeri itu lenyap.

Kecipak kecil dekat lutut Jin memaksanya membuka mata, kalau-kalau tangkapannya mencoba kabur, tetapi yang ia temukan justru Kun yang mengangkat tangan dari genangan nektar.

“Minum ini.”

“Kau …” geram Jin, “… mau mencemoohku sejauh ap—“

“Tidak, Nona.” Kun berucap tergesa di sela engahannya. “Teman-temanku akan segera datang …. Mereka rosa berduri yang akan melumpuhkanmu. Sebelum itu terjadi ….”

Duri, ya. Para mangsa ini tidak sebodoh dan sedamai mereka terlihat; mereka bahkan menyiapkan perang lebih awal dibanding lepidra. Kebenaran dari kata-kata Kun belum mutlak, tetapi bertaruh untuk kemungkinan terburuk, Jin harus melakukan pertukaran yang sepadan bila ingin kawanannya selamat dari kepunahan.

Derak akar menyapa rungu Jin dari jauh. Menyadari terbatasnya waktu, sang kupu-kupu menyahut telapak Kun dan mendekatkan bibir kecilnya pada aliran nektar di sana.

“Aku tidak akan segan-segan.”

Tatkala sarinya mulai diisap, Kun memejam rapat dan menggit bagian dalam bibir. Semenyiksa itu memang rasanya bagi rosa saat nektar mereka ditarik keluar secara paksa. Inti nyawa mereka bagai dirobek dari jasmani. Lepidra—dengan sifat dasar mereka yang rakus—lazimnya tak peduli akan hal ini, tetapi selalu ada mereka yang menyimpang, salah satunya Jin. Bila menurutkan nafsu, si sayap merah tak akan berhenti menyesap kenikmatan yang memanjakan dalam nadi Kun, sayangnya laki-laki itu punya penawaran untuk kaumnya dan ia tidak boleh bertindak egois sampai taktik rosa melawan elf terungkap.

Sayap Jin sembuh, bengkak di kakinya telah mengempis, tetapi masih ada sisa nektar yang cukup untuk menjaga Kun tetap hidup biarpun hilang kesadaran. Menyalahi sikap acuh tak acuhnya, gadis itu meletakkan lengan Kun perlahan ke tanah.

“Lepidra!”

Serta-merta Jin mengepakkan sayap; wujud para rosa sudah mulai tampak di ujung lapang pandangnya.

“Doyoung, Jaehyun, tolong Kun. Kami akan menangkap bedebah itu!”

Merasa di atas angin setelah bisa terbang lagi, Jin terbelalak karena batang berduri runcing tiba-tiba menjulang untuk meraihnya. Salah satu rosa—dengan batang berkayu melintangi dada yang tampak lebih keras dari sulur Kun—menggumam kesal usai Jin menghindari semua serangan dan melayang lebih tinggi dari jangkauannya.

Lumayan juga senjata yang si ungu itu bilang. Soul harus tahu ini, batin Jin, satu sudut bibirnya terangkat. Tidak sia-sia aku membebaskanmu, Kun. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Tentu saja, harapan Jin bertemu Kun kembali bukan karena ia tertarik pada senyum main-main itu—atau sekadar berbincang lebih dari apa yang seharusnya kaum mereka rundingkan.

***

“Aku sedang memasuki taman rosa. Hah, sulit dipercaya.”

Jangankan Soul, ratu kupu-kupu yang bersayap kuning hitam, Jin saja tidak percaya. Kun muncul di sarang saat kedatangannya tidak lagi dinanti, berdamping dua rosa berduri tanpa sedikit pun kegentaran. Ia hendak mengantarkan undangan pada pemimpin kawanan pemangsa dan menambahkan ‘aku mengenal Sayap Merah’ sebagai upaya menghapus raut menyelidik para penjaga. Kecurigaan Soul terpatahkan oleh pengakuan Jin soal mawar yang kemarin menyelamatkannya—o, betapa merendahkan—dari serangan elf, maka di sinilah mereka, berjalan di antara Kun si penunjuk jalan dan kawalan sepasang prajurit bunga.

“Aku juga tidak percaya telah menolong Jin.” Nama si empunya surai gelap terdengar lebih merdu bila Kun yang mengucapkan, tetapi itu mungkin sekadar kemampuan para rosa untuk memperindah segala hal. “Pengalaman yang mendebarkan. Syukurlah Jin tidak menghabiskan nektarku.”

“Itu karena mereka,” ibu jari Jin terarah pada dua rosa berduri, “dan dua orang lagi ribut mau menangkapku. Bisa runyam urusannya, aku terlalu lelah untuk itu.”

“Kau menyakiti Kun kami! Mana bisa—“

“Apa pun alasanmu, kupikir itu adalah tanda bahwa lepidra bisa kami pegang kata-katanya,” tukas Kun, menghindarkan Jin dari pertengkaran yang tak perlu dengan rosa bermahkota merah di belakangnya. “Pemimpin kami akan senang bertemu kalian. Mari, lewat sini.”

Meninggalkan lorong yang terbentuk dari pokok-pokok duri dengan puncak bersengkarut, kedua tamu dibimbing menapaki akar sebesar lengan gergasi. Dari jalur yang lebih tinggi ini, Jin dapat melihat kaum Kun beraktivitas seperti biasa di bawahnya; beberapa terkejut akan kehadiran ‘sayap sisik’ di balik benteng mereka. Menyisihkan ketidaknyamanan karena jadi pusat perhatian, ia memasuki lantai dasar istana petinggi rosa: rongga pada batang pohon raksasa yang dalamnya bertingkat-tingkat. Balairung merupakan ruang tertinggi, tidak ada tangga menujunya, jadi berhubung para lepidra tidak diizinkan mengembangkan sayap sebagai prasyarat pertemuan, Jin dan Soul masing-masing dibopong seorang rosa yang merambat menggunakan akar mereka sampai ke atas.

Pada jarak sedekat ini, Jin mencium wangi selain nektar di permukaan kulit Kun. Cemarakah? Atau embun pagi jernih bercampur mint?

“Oke, sampai.” Sial, buat apa aku menebak-nebak bau seorang rosa?, rutuk Jin. Mukanya panas ketika Kun dengan hati-hati menurunkannya di atas tikar daun kering yang diwarna nila. “Taeyong, tamu kita sudah tiba.”

“Terima kasih telah mengantar mereka, Kun, Yuta, Lucas, dan selamat datang di taman kami yang sederhana, para lepidra.”

Pejamu Jin bermahkota hitam, berambut merah lurus mencapai tengkuk, dan sedikit terlalu kurus untuk ukuran seorang ‘raja’. Kendati memiliki garis wajah yang jauh lebih tegas dibanding Kun, senyumnya amat ramah dan binar matanya mirip lepidra-lepidra yang baru menetas. Ia menyuguhkan secawan nektar pada Soul dengan tangannya sendiri—dan cawan kosong diletakkan Kun di hadapan Jin, membuat gadis sayap merah mengerutkan kening.

“Apa yang—“

Terenyak, Jin tak sanggup menuntaskan kalimat ketika Kun menggoreskan belati ke tapak tangannya. Sejumlah cairan keemasan mengisi cawan kosong tadi.

“Untuk awal kerja sama yang baik sekaligus ungkapan terima kasih karena tidak membunuhku seminggu lalu. Selamat menikmati, Jin.” Lengkung bibir Kun tidak bahagia begini saat terluka sebagai mangsa kapan hari, padahal pedihnya pasti sama. “Taeyong, silakan mulai.”

TAMAT

One thought on “Perburuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s