Second Paradise (1/2)

Second Paradise

LDS, 2018

[previous: One Paradise: Twisted // One Paradise: Temptation. warning: religious issues!]

***

Di bawah langit hitam tak berbintang, Sujeong tiba-tiba mendapati diri dengan sepasang tangan dan kaki yang lengkap, mematung di hadapan puing-puing hangus sebuah bangunan. Beberapa bagian rangka dan dinding yang tak dilalap api tampak rapuh; disentuh sedikit saja bisa rontok bagai abu pada puntung cerutu. Atap yang tinggal separuh seolah-olah dapat roboh kapan pun, tetapi Sujeong tetap menginjakkan kaki ke dalam bangkai bangunan tanpa mengacuhkan keselamatannya sendiri.

Lorong kayu panjang menyambut Sujeong pertama kali. Di muka lorong, agak ke kiri, ada rak sepatu yang terisi berpasang-pasang alas kaki mini, membuat hati si gadis mencelus. Penghuni bangunan ini anak-anak?

Apakah masih ada yang bisa kuselamatkan?

Secara berurutan, Sujeong menengok ke kamar-kamar di sepanjang lorong. Kebanyakan ruang itu tidak lagi berpintu. Anyir darah bercampur dengan bau daging terbakar, menguar dari tubuh anak-anak yang terjebak dalam api semasa hidup. Mungkin juga mereka meninggal saat tidur karena tidak mewaspadai bahaya, Sujeong berkesimpulan kala menemukan beberapa badan rusak yang masih terbaring di ranjang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari mereka semua dan Sujeong dirundung duka. Mengapa Tuhan memaksa mereka pulang pada penciptanya demikian dini?

Namun, kamar paling ujung menggemakan satu isak tangis. Sujeong baru menyadarinya setelah cukup dekat dengan kamar tersebut. Sinar bulan yang menyisip sangat sedikit menyulitkannya melihat ke dalam dari ambang pintu, jadi ia melangkah masuk sambil memicingkan mata, berharap netranya bekerja lebih baik. Semakin dekat, si gadis lantas mengenali sebentuk tubuh, meringkuk dekat lemari pakaian. Merasa iba, Sujeong dengan hati-hati menghampiri anak lelaki yang menyembunyikan wajahnya di balik lutut itu.

“Hei.”

Si bocah terkesiap, mendongak, dan jantung Sujeong serasa melompat begitu sepasang manik zamrud yang berkilauan oleh cahaya bulan tipis menatapnya takut. Meski berjelaga dan agak lebih bulat dari yang Sujeong ingat, garis-garis khas dari paras itu tidak akan pernah hilang dari benak sang pelayan.

“J-Jangan mendekat ….”

“Tidak apa-apa.” Sujeong tersenyum walaupun si anak mungkin tidak mampu melihatnya. “Aku ke sini ingin menolongmu.”

“Jangan! Jangan sakiti dia!”

Pandangan anak ini ternyata bukan terarah pada Sujeong, melainkan ke belakangnya, dan ketika gadis itu berbalik, satu cakar besar nan tajam siap mencabik dadanya.

***

“Ah!!!”

Tersentak bangun dengan keringat dingin membasahi tubuh, Sujeong merasa lega lantaran jantungnya masih berdegup dalam dinding dada yang utuh. Alih-alih berada dalam reruntuhan hangus, ia terbangun di kamar pelayan yang telah diakrabinya berbulan-bulan. Walaupun begitu, rupanya masih terlalu cepat untuk merasa aman.

Sebilah pisau akan menembus rusuk Sujeong andai ia tak cepat menghindar.

Agaknya Sujeong berguling terlalu jauh hingga jatuh dari tempat tidur. Menggunakan tangan dan kaki yang masing-masing tersisa satu, sang dara kemudian menyeret tubuhnya menjauhi kaki ranjang. Panik menyerangnya bersamaan dengan derap gelisah yang kian mendekat. Siapa yang mencoba membunuhnya? Tak sempat melihat wajah penjahat ini, Sujeong sekali lagi dipojokkan oleh kilat logam lancip. Raganya selamat, tetapi senjata itu menancapkan lengan gaun tidurnya ke lantai kayu, membatasi pergerakannya secara signifikan. Tenaga pada hunjaman tadi menanamkan belati dalam-dalam ke sisi bahu Sujeong, jadi si penikam butuh waktu lebih panjang untuk melepaskan senjatanya—waktu yang cukup untuknya dikenali.

“Tuan Besar?!”

Pria bermanik zamrud yang menindih Sujeong mengertakkan gigi, mengabaikan pinta calon korbannya. Pisaunya harus lepas!

“Tuan Besar, saya mohon ….”

“Diam, Ryu Sujeong!” bentak si pria parau. Tak pernah Sujeong mendengar majikannya bersuara semengerikan ini padanya meskipun bendera permusuhan telah mereka kibarkan beberapa bulan terakhir. Tidak ada apa-apa pada manik sang pesuruh, kecuali kebencian dan noktah merah yang berkedut-kedut di bola mata kiri. Terakhir noktah merah terlihat adalah ketika tuan Sujeong ini—Jaehyun—memanggil Iblis untuk memangsa jiwa pelayannya; kegagalan upaya itu menjelaskan mengapa Sujeong masih bernyawa sekarang. Kegagalan itu pulakah yang memancing tindakan ekstrem Jaehyun malam ini?

Pisau menggores sedikit pundak Sujeong setelah, akhirnya, berhasil dicabut. Jaehyun terkekeh, wajah masainya membuat tawa itu terkesan begitu haus darah. Belati diayunkan lurus ke jantung Sujeong, tetapi gadis itu menangkap pergelangan Jaehyun dan menahan serangan dengan menakjubkannya. Telapaknya bergetar hingga lengan bawah; ia tak tahu berapa lama lagi pucuk senjata akan mengambang seperti ini. Satu tangannya—yang kecil lagi lemah khas seorang perempuan—tak mungkin menang melawan kekuatan besar Jaehyun.

Ujung pisau mendekat mili demi mili menuju detak di balik iga. Pergelangan Sujeong yang pegal setengah mati mencegah senjata itu memangkas jarak. Berderai air mata, Sujeong lantas merapalkan segala doa pelindung yang ia ingat, percaya Tuhan akan menyelamatkannya dengan cara-Nya.

“Ya, berdoalah terus, hai jiwa yang putus asa!” Tubuh menjulang Jaehyun membayangi Sujeong, sedikit lagi berimpit. Seringainya menyerupai milik Iblis; separuh dirinya memang telah dihuni makhluk pendosa itu. “Panggil Tuhanmu, lalu suruh melawanku!”

“Tuan, mohon ampunlah ….” lirih Sujeong di sela sedu sedan. “Dia yang Mahakuasa tak akan tertandingi oleh Tuan …. “

“Aku akan membungkammu selamanya, jadi mengocehlah sepuasmu selagi masih bisa!”

Sujeong merintih. Tangannya sakit sekali, tak lama lagi pasti akan kebas. Ia tak akan merasakan apa-apa di genggamannya setelah itu, lalu pisau Jaehyun akan menghentikan degupnya seketika.

“Mintalah padaku untuk menghentikan tangan ini, Ryu Sujeong! Aku bisa melakukan apa yang Tuhanmu tidak bisa hanya jika kau meminta!”

Gawat. Telapak tangan Sujeong mati rasa dan berangsur dingin.

“Mintalah!”

Sujeong menggeleng-geleng kuat, paham bahwa ‘pinta’ yang Jaehyun maksud adalah doa kepada Iblis. Cengkeraman gadis itu melonggar. Tidak buang tempo, pisau Jaehyun meluncur ke bawah—

—mengoyak kulit, daging, serta tulang. Gaun putih ternoda oleh merah gelap. Rasa sakit yang luar biasa mengunci jerit Sujeong di tenggorokan. Ada kengerian yang merambati sekujur tubuh dan kebekuan yang mengerutkan roh ketika kesadarannya terus surut. Ia harus melakukan sesuatu, tetapi tak bisa mengingat dengan baik. Otaknya secara bertahap memasuki fase tidur panjang …. Jaehyun tertawa di atasnya …. Jangan, ada nama yang harus ia ucap dulu sebelum mati, menggantung di lidah kelunya; siapa? Siapa?

“… tidak datang … semu … Tuhanmu itu …”

O, syukurlah, suara Jaehyun masih terdengar samar-samar. Ia mengingatkan Sujeong akan eksistensi sang mahadaya di penghujung nyawa.

“Tuhan, tiada penguasa lain ….“

***

Mendengar korbannya menyebut nama Sang Pencipta pada detik penghabisan, Jaehyun terbeliak. Ia merasakan tusukan di tengah dadanya, sedikit ke kiri, merefleksikan titik di mana pisau ia hunjamkan pada tubuh Sujeong. Anyir menyeruak begitu dekat, seolah berasal dari tubuhnya sendiri … dan ia tersengal. Telapak kanannya langsung memegangi segumpal daging yang terasa nyeri itu, tetapi mengapa kemejanya basah?

Alangkah terkejut Jaehyun ketika menemukan warna merah meluas di telapaknya, di kemejanya, mengalir ke lengan bawahnya, menetes di gaun Sujeong, amis, berbau karat, padahal tak ada apa pun yang menusuknya ….

Sebelum memahami apa yang terjadi, sang bangsawan terkapar, tidak menjerit, tidak pula bernapas.

***

Sujeong kembali berdiri dengan anggota tubuh yang lengkap di pelataran bangunan yang menyambangi mimpinya sebelum ini, tetapi bangunan itu masih utuh. Tampaklah bentuk aslinya yang indah, bersih, dan memancarkan kehangatan. Dari bangunan utama yang Sujeong susuri sebelumnya, berlarian bocah-bocah lelaki kecil berusia tujuh sampai sepuluh tahun begitu lonceng dari menara dekat pohon oak berdentang, menandakan pukul enam pagi. Mereka lalu berbaris rapi di depan bangunan yang lebih kecil, berada di kanan bangunan utama dan menyatu dengannya. Seorang guru berkerah tinggi mengabsen para muridnya; bocah-bocah yang dipanggil akan masuk ke bangunan ini—yang rupanya adalah ruang kelas. Nama tuan besar Sujeong disebut pula. Seorang anak berambut cokelat madu dan bermanik zamrud maju, memberi salam pada sang guru dengan sopan, sebelum melangkah terburu-buru ke kelas, mencari tempat duduk paling depan.

Tampan, bersemangat, sinar mata yang menyiratkan kecerdasan … Sujeong dapat memastikan bahwa itu Jaehyun kecil. Sang pelayan secara ajaib mengagumi kembali sosok muda majikannya, sejenak mengesampingkan konflik keyakinan mereka untuk menghayati masa sekarang. Ketika pelajaran dimulai, anak laki-laki yang Sujeong perhatikan dari jendela berkonsentrasi penuh pada penjelasan gurunya mengenai konsep ketuhanan, termasuk bagaimana mengimani Tuhan akan membawa kedamaian di dunia para makhluk ciptaan.

Sebuah tanya tahu-tahu tercetus di benak Sujeong.

Apakah ini sebuah sekolah agama? Kalau begitu, berarti Tuan Besar pernah mempelajari seluk-beluk agamanya dalam waktu yang sangat lama? Lantas, mengapa ia terus menentang keberadaan Tuhan selama bicara denganku?

Sujeong menunggu hingga kelas selesai pada lonceng kedua belas, siang hari. Anak-anak kembali berhamburan dari kelas, masuk ke bangunan utama—asrama mereka—untuk makan siang, sementara guru berjalan kalem ke ruang lain dalam bangunan samping: ruang doa. Ada dua kamar pula di bangunan samping itu, mungkin tempat tinggal para guru. Tidak satu pun dari anak-anak maupun guru menyadari kehadiran Sujeong—yang diam-diam mengikuti mereka ke ruang makan dalam asrama.

Ada beberapa kepala bandel di antara anak-anak patuh, termasuk Jaehyun muda yang susah betul disuruh duduk karena masih mengejar salah satu kawannya sambil tertawa-tawa. Seorang guru wanita meminta mereka duduk manis agar makanan bisa cepat dibagi; barulah Jaehyun kecil mau menempati kursinya. Binar pada matanya begitu kentara saat guru memberikannya sepotong roti, semangkuk sup, dan mengisi gelas aluminumnya. Sujeong mengerti betul binar apa itu sebab matanya seringkali menampakkan perasaan yang sama setiap melewati satu hari dengan baik.

Itu binar kesyukuran.

Jaehyun berdoa dengan khusyuk sebelum makan, lalu bersantap sembari bercanda bersama teman-temannya. Sujeong ingat ekspresi mirip yang ia terima dari sang majikan setiap ia menghidangkan makanan, terutama sup, dan hatinya disirami rasa haru. Jika memang segala hal sebelum kemunculan Iblis adalah kebohongan, entah bagaimana beberapa potongan terlihat jujur ketika direnungkan kembali.

Seusai makan siang, para bocah diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu sendiri. Jaehyun dan beberapa anak memilih bermain bola di lapangan. Sesekali ada pertengkaran kecil di antara mereka, tetapi Jaehyun—di usia semuda itu—telah menggunakan kata-kata yang pas untuk meredam amarah teman-temannya dan mengembalikan keceriaan permainan. Sujeong tidak bisa tidak bangga sekalipun Jaehyun—tentu saja—bukan putranya. Patutlah si surai madu menjadi pribadi yang terpandang di masa depan.

Namun, seiring datangnya senja, sebuah kekhawatiran mengemuka dalam kalbu. Bayang-bayang puing hangus mengusik Sujeong saat para siswa melaksanakan ibadah sore.

Apakah ini hari di mana asrama terbakar?

Matahari terbenam. Anak-anak berkumpul untuk makan malam, tetapi Sujeong tidak tertarik untuk masuk dan menyaksikan mereka lagi. Ada perasaan tak nyaman bergumpal di dada juga perutnya. Mual bercampur nyeri yang terlalu tumpul. Waktu berjalan amat lambat setelahnya dan Sujeong merasa amat letih walau hanya duduk di taman depan sekolah.

Dalam keletihan itu, Sujeong melihat sekelebat bayangan menerobos dari lubang kecil pada dinding bata pembatas yang mengarah pada bangunan samping. Satu, dua, tiga. Sujeong berlari mengejar mereka yang benar-benar tidak menyadari kehadirannya, sayang tiga orang itu menghilang di belakang ruang doa. Masalahnya, tak lama kemudian, bau asap pertama tercium. Kelabu membumbung dari salah satu ruang di bangunan samping; belum satu guru pun terjaga. Sujeong tergopoh, hendak masuk dan memperingatkan, tetapi ia tak punya cara. Api menyalakan satu kamar dan membuat guru yang terlelap di sana bangun dengan panik. Ia berhasil meloloskan diri, tetapi api terlanjur membesar sebelum ia sempat bertindak. Beberapa guru terjebak, beberapa lainnya berusaha memadamkan api dengan sia-sia akibat terbatasnya air.

Api  menjalar ke bangunan utama.

Tuan Besar ada di dalam!

Sedikit terlambat, Sujeong berlari ke asrama, mencoba mengetuk pintu kamar mereka, tetapi kepalannya ternyata menembus perabotan, tidak menimbulkan getaran yang ia mau. Astaga, benar; dirinya tidak nyata di sini. Makhluk yang hidup dalam ‘kini’ seperti Sujeong terlarang mencampuri masa lampau yang dihidupkan kembali atau aliran waktu akan kacau.

Teriakan pertama baru terdengar setelah api melahap beberapa kerangka, merontokkan langit-langit, menutup jalan keluar. Anak-anak berlari ketakutan dari kamar, tetapi ada beberapa yang menjerit minta tolong dari balik pintu; mereka terkunci. Udara panas dan tangis putus asa anak-anak ini mencekik Sujeong, tetapi ia pun tak bisa lari ke mana-mana.

Bunyi kaca pecah nyaring terdengar dari kamar paling ujung.

“Teman-teman! Lewat sini!”

Jaehyun kecil membuka lebar pintunya, mengarahkan anak-anak yang berada di luar kamar untuk bergegas menuju jendela yang baru saja ia pecahkan kacanya. Saat satu demi satu temannya melompat dari jendela itu ke halaman belakang, bocah bersurai madu berlari ke arah lain, mencoba menyelamatkan teman-temannya yang terkunci. Sujeong dapat merasakan betapa besar keinginan si anak untuk mengalahkan malaikat maut. Namun, bahkan setelah mengalahkan malaikat maut, Jaehyun tidak mampu melawan takdir; beberapa jeritan di balik pintu yang tak berhasil dibuka lambat laun menghilang, terganti bau daging gosong.

Gemeretak langit-langit mendadak meningkatkan kewaspadaan Sujeong.

“Awas!”

Secara refleks, Sujeong mendorong tubuh Jaehyun kecil, anehnya kali ini, tubuh itu terpegang sehingga alih-alih si anak, Sujeong-lah yang tertindih rangka kayu menyala. Teriakan nyerinya begitu memilukan, memaku Jaehyun di tempat dengan tubuh gemetar.

Anak itu menatapnya.

Sebelum ini, Sujeong tidak pernah terbakar. Ia selalu berhati-hati setiap memasak atau menyalakan perapian agar kulitnya tidak tersentuh api ataupun logam panas, maka ketika punggungnya digigit api sungguhan, rasa sakitnya sangat melumpuhkan. Ia menggigil; diserang nyeri ketika tidak mampu bergerak adalah mimpi terburuknya. Berat kerangka mencegah paru-paru gadis itu mengembang penuh, sedangkan udara panas seolah mendorong masuk embusan napasnya sampai ia tidak bisa menjerit.

“Lari, Tuan ….”

“Betapa malang, Ryu Sujeong.”

Astaga. Kendati yakin bahwa lelaki mungil yang berdiri tegak di hadapannya adalah Jaehyun, Sujeong juga yakin suara mencemooh ini merupakan milik musuhnya, Iblis yang menumpangi tubuh Jaehyun demi mencari mangsa. Si raja neraka pasti gembira melihatnya dalam keadaan semiris sekarang, tetapi setersudut apa pun sang dara, selama ia masih sadar penuh, ia tak akan meruntuhkan imannya untuk menyambut tangan api itu.

Jaehyun mengulurkan telapak lembutnya yang berjelaga.

“Genggam tangan ini dan lupakan Tuhanmu. Aku akan membebaskanmu dari rasa sakit dan memberimu keabadian sepanjang kau melaksanakan apa yang kuminta.”

Tentu saja Sujeong bergeming. Ia tak akan mengulangi kesalahan yang lalu, ketika ia menyerah pada rasa haus dan minum anggur yang membuat keputusasaannya menguasai. Waktu itu, Tuhan masih berbaik hati menyelamatkan jiwanya dari cengkeraman Iblis, membuatnya dapat meneruskan hidup. Tidak ada jaminan Dia akan melakukan hal itu kembali. Bukan mustahil dia akan meninggal dalam keadaan berlepas diri dari Sang Mahakuasa andai menerima uluran telapak itu.

“Bukankah Tuhan menyuruh hamba-Nya menyelamatkan diri, bagaimanapun caranya? Aku menawarkan pertolongan untukmu, jadi raihlah.”

Licik. Beberapa larangan dapat dilangkahi dalam situasi darurat, tetapi menyembah Iblis mutlak tak boleh dilakukan, bahkan jika nyawa taruhannya. Sujeong sedikit bersyukur Tuhan menjaga kejernihan pikirannya di tengah asap dan jelaga karena pernyataan tadi bisa diterjemahkan salah oleh orang yang benaknya dikacaukan keadaan sekarat.

“Terbakar itu sangat menyakitkan, bukan? Kau akan terbakar nanti jika berjalan bersamaku, tetapi waktu yang kaumiliki di dunia juga memanjang jauh dari orang-orang kebanyakan. Bayangkan kenikmatan yang bakal kauterima jika hidupmu berlanjut, Gadis Muda.”

Kepala Sujeong jatuh menyamping dalam usahanya yang sia-sia untuk meraup lebih banyak udara. Tenggorokannya tersumbat entah oleh apa dan ia mendengkur akibat jalan napas yang hanya terbuka sepersekiannya.

“Ambil tangan bocah laknat ini. Ayo. Kau ingin setidaknya bernapas lebih longgar, kan?”

Lebih baik aku mati!

Sujeong berteriak keras-keras dalam batin, memastikan agar Iblis mendengarnya. Ia lebih memilih  lenyap dalam kebakaran mengenaskan ini ketimbang memercayai bujuk rayu musuhnya. Jaehyun bangkit, menatapnya marah walaupun tak lama. Selanjutnya, dari zamrud itu, kesedihan dan penyesalan mendominasi.

“Mengapa kau bisa bertahan?”

Suara serak nan menyudutkan tergusur oleh suara lirih anak-anak yang pekat kekecewaan—entah pada Sujeong atau pada dirinya sendiri. Anak yang malang itu menangkup tangan pelayannya dalam kedua telapaknya yang memar akibat panas, mengerahkan tenaganya untuk menarik si gadis dari reruntuhan. Setengah sadar, Sujeong menyaksikan kedua telapak mungil itu berubah menjadi lebih besar dari tangannya sendiri. Asrama yang terbakar melebur dalam bayangan yang beriak, bagai fatamorgana, dan sepasang tangan itu melepaskannya. Sujeong merasa napasnya pulih seperti sediakala, rasa sakitnya berangsur menghilang, dan udara panas berbalik beku, berdebu. Sekonyong-konyong, bangunan kayu menjadi dinding bata, membentuk ruang melingkar luas yang mirip penjara kuno. Rantai-rantai menggantung dari langit-langit yang amat tinggi—seakan menghilang dalam kegelapan. Ujung-ujung rantai itu mengikat seseorang yang bersimpuh di pusat ruangan, membentangkan kedua tangannya. Rambut cokelat madu menyembunyikan wajah orang ini, tetapi Sujeong—dilandasi perasaan akrab yang aneh—menyeret tubuhnya mendekat dan menyentuh pipi sang tahanan.

Sang lelaki mendongak. Mata hijaunya yang berkabut mengenali tamu bertangan dan berkaki sebelah dalam penjaranya.

“Nona Ryu?”

[3/3]

part 1 of 2

Advertisements

2 thoughts on “Second Paradise (1/2)

  1. Rijiyo says:

    Assalamualaikum mbak li ( ˘ ³˘)❤

    Untung aku gak begitu lupa sama alur ini, makanya gaperlu baca ulang cerita sbelumnya. Nah karena ini tengah malem dan aku bacanya stengah ngantuk, jadi agak gak mudeng sama bagian akhir yg penjara-penjara itu (yaudah besok pagi habis sarapan tak baca lagi wkwk)

    Jaehyunku cintaku manisku ternyata masih blom berubah di sini. Kamu kalo diliat-liat knapa mirip hyunjae the boyz? atau cuman perasaan saya aja?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s