Second Paradise (2/2)

Second Paradise

LDS, 2018

[previous: One Paradise: Twisted // One Paradise: Temptation. warning: religious issues!]

.

Sang lelaki mendongak. Mata hijaunya yang berkabut mengenali tamu bertangan dan berkaki sebelah dalam penjaranya.

“Nona Ryu?”

Tanya itu seolah dilontarkan dari tenggorokan yang penuh pasir. Dirundung iba, Sujeong menggeleng, meminta majikannya untuk tidak bicara.

“Saya akan membebaskan Tuan Besar.”

“Tidak akan berhasil,” tukas Jaehyun.

“Pasti ada cara, Tuan.”

“Keajaiban Tuhan tidak akan masuk ke dasar nuraniku, maka selamanya, aku akan tersiksa dalam rasa berdosa ini, Nona Ryu.”

“Tolong jangan katakan. Tuhan sungguh pemaaf pada hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri.” Sujeong menelusurkan jarinya pada rantai berkarat yang mengikat Jaehyun. “Saya tahu mengapa Anda terikat dengan Iblis, tetapi Anda sangat muda waktu itu. Anda ingin segera bebas dari rasa sakit dan itu wajar.”

Sekilas, Sujeong menangkap kilat dari genangan kecil pada pelupuk mata Jaehyun.

“Kau bisa bertahan dari rasa sakit yang sama, lalu mengapa aku melepas pertolongan-Nya untuk Iblis?” tanya Jaehyun, terluka. “Apakah karena kedangkalan imanku?”

“Tidak.” Telapak tangan Sujeong menutup telinga kanan Jaehyun, sementara ia berbisik lembut di telinga kiri. “Jika Iblis mengatakan Anda tidak lagi punya kesempatan, jangan memercayainya. Mukjizat yang akan datang kepada Anda di luar kendali makhluk terkutuk itu, jadi berdoalah sekali lagi untuk kebebasan Anda.”

“Aku akan mati dengan menyakitkan jika aku berlepas diri dari Iblis ini, dan Tuhan pasti tak akan menerimaku dalam surga-Nya. Segala pintu ampunan telah tertutup untukku, Nona Ryu.”

“Jika memang Anda tidak memiliki pilihan, lalu mengapa Tuhan menunjukkan masa lalu Anda yang demikian pedih kepada saya hingga saya ikut terluka? Mengapa ia mengizinkan saya masuk dalam tempat di mana jiwa Anda terpenjara? Mengapa Anda merasa terpenjara bila dosa memang jalan yang benar-benar Anda ingini?” Sujeong menyusut air mata Jaehyun yang nyaris meleleh.

“Tidak ada dosa yang lebih besar selain menduakan-Nya, bahkan jika hanya berupa sebutir niat dalam hati anak-anak.” Jaehyun menunduk. “Penjahat-penjahat itu membakar sekolahku karena mereka yakin kami telah menyembah Tuhan yang salah, padahal bukankah hanya ada satu Tuhan untuk seluruh umat? Pernyataan mereka di surat kabar setelah tertangkap membuat Iblis makin kuat melekatiku. Nona Ryu, bila bertuhan membuatmu menjadi seorang pembunuh, bukankah lebih baik—“

“—menyembahku?”

Jaehyun terenyak. Kata terakhir itu bukan dia yang mengucapkan.

“Nona Ryu, pergi!”

Terlambat. Sujeong terempas ke dinding bata, tersengal-sengal lantaran dicekik cakar merah besar yang menjulur dari balik punggung Jaehyun. Mata sebesar jendela menatap Sujeong, sedangkan taring-taring makhluk itu bersilangan dalam seringai.

“Beruntung sekali kau sampai bisa mengalami langsung masa lalu Jaehyun dan memasuki penjara di lubuk terdalam hatinya. Kita lihat apa kau juga cukup beruntung menghindari maut kali ini!”

“Kh!” Calon mangsa Iblis meronta dalam cengkeramannya. “Tuan Besar, kembalilah … pada jalan cahaya yang pernah Anda akrabi ….”

“Bagi Jaehyun, tidak ada lagi jalan cahaya, Nak. Jalan itu sudah kubakar di hari ia mengokohkan kontrak denganku, di hari ia setuju jiwa orang tuanya kumakan untuk memuaskan nafsuku!”

Apa?

“Orang tua yang dicintainya, yang menanamkan padanya konsep ketuhanan pertama kali, ia umpankan agar hidupnya lebih panjang lagi! Sama seperti teman-teman sekaratnya yang terjebak dalam asrama; ia memberikan mereka semua padaku agar dia hidup!”

“Omong kosong, dasar Iblis!!!”

Sujeong menyuarakan kekesalannya dan terbatuk hebat setelah itu. Iblis tertawa saja mendengar keputusasaannya, tetapi Jaehyun tercenung, tak mengerti mengapa sang pelayan rela menderita untuk keselamatan orang yang berulang kali berusaha menjerumuskannya. Jaehyun sudah mati walaupun raganya hidup. Ia tak ubahnya kendaraan Iblis untuk mencari makan; bukankah Iblis akan menyambung nyawa Jaehyun untuk setiap satu jiwa yang disantap? Kini, nyawa yang selama ini ia jaga pun tampak tidak bermakna. Matanya sekali lagi mampu melihat dosa, dan ia menemukan noda tersebut di seluruh bagian usianya.

“Katakan padanya untuk menyerah, Jaehyun!”

Gelengan Sujeong mengisyaratkan pada tuannya untuk tidak menyerah. Kitabnya menyebutkan soal pertaubatan yang bisa dilakukan semua orang selama belum meninggal. Jaehyun masih bernapas, maka ia masih berhak memperoleh ampunan yang paling besar. Sayangnya, Jaehyun terlanjur menganggap dirinya tak termaafkan, dan pikirannya yang terbiasa dengan hal-hal masuk akal membuatnya mengabaikan mukjizat. Bagaimana mematahkan keyakinan ini?

“Ryu Sujeong!” Air mata Jaehyun mengalir satu ketika ia memanggil si pelayan. “Berhentilah menyakiti dirimu dan jangan melawannya!”

Sudah sejauh ini!, Sujeong menggeleng-geleng lagi lebih kuat, masih berusaha melepaskan diri dari Iblis. Aku berdoa setiap malam agar hatimu mau terbuka. Aku melalui satu demi satu godaan atas izin Tuhan agar kau tahu Iblis itu lebih lemah dibanding penciptanya. Aku merasakan langsung sakitnya terbakar seperti yang kaurasakan. Aku melihatmu menangis karena letih terkurung dalam kegelapan …. Kumohon, setelah semua laraku ini, hadapkanlah kalbumu kepada cahaya! Kau menginginkan pengampunan-Nya, maka berdoalah agar Dia mengabulkannya!

“Lepaskan gadis itu!” hardik Jaehyun pada Iblis. “Kau sudah berkali-kali gagal merebut jiwanya. Kau yang harus menyerah!”

“Kalau aku menyerah, kau akan mati, ingat itu!”

Tuan, kau tahu mana yang lebih baik bagimu!, Sujeong berharap suaranya sampai pada Jaehyun. Hidup sebagai pendosa atau meninggal dalam kasih-Nya, mana yang lebih kauinginkan sekarang? Rantai-rantai itu tidak betul-betul mengikat jiwam. Kau bisa melepaskannya!

Dalam suasana yang kalang kabut, Jaehyun justru mampu mendengar permintaan Sujeong dan menjadi bimbang. Ia tidak melihat kebaikan sebiji pun dalam dirinya, lalu apa yang akan membuatnya diampuni? Pembunuh, penipu, dan penyiksa seperti dia lebih pantas hidup abadi dalam rasa sakit atau diguncang keraguan selamanya, tetapi Sujeong bilang ia dapat membebaskan diri. Adilkah itu untuk jiwa-jiwa yang telah ia gunakan untuk membayar nyawanya pada Iblis?

Kendati demikian, jika ia menyerah, maka itu tidak akan adil untuk Sujeong. Benar, gadis itu sudah berusaha sejauh ini untuk menyelamatkannya. Gadis itu menerima seluruh lukanya, tak lelah membujuk dirinya agar merengkuh kembali agamanya, dan mematahkan pendapat-pendapat masuk akal melalui berbagai kejadian di luar nalar yang ia picu. Sujeong mengungkap hal-hal yang ia dan Iblis tak kuasai sehingga ia—diam-diam—merasa iri.

Mengapa Dia melindungi Nona Ryu, bukan melindungiku?

Jaehyun hampir bisa mendengar satu rantai berdencing, meluncur turun dari lengannya ke lantai bata dingin. Sayang, gemerincing itu dibarengi denyut ngilu pada jantungnya.

Tuhan, apa Kau akan mengabulkan doa pendosa ini? Tidak, untuk kembali Kaudengar lagi saja, mungkin aku sudah cukup bahagia.

“Jaehyun, singkirkan pikiran bodoh itu. Kau bagian dari diriku, maka kau hanya akan menerima bagian dari laknat-Nya!”

Sang bangsawan akan lebih mudah percaya andai ia tidak pernah bertemu dengan Sujeong, dara suci yang tak bisa ia dan Iblis sentuh. Sebelum menjadikan Sujeong pelayannya, Jaehyun tidak sedetik jua meragukan kelihaian persuasinya, tetapi Sujeong mengalahkannya tanpa harus menyusun opini rumit berlapis bukti komplet. Bukankah itu berarti Tuhan ingin menampakkan kemahadayaannya? Andai itu benar, ia harus berubah haluan.

“Kau bodoh, Jaehyun! Tuhanmu tidak akan mengampuni makhluk-makhluk sombong seperti kita! Lagi pula, untuk apa kembali menjadi dirimu yang sebelumnya: manusia—dengan segala kelemahan mereka?”

Untuk apa? Iblis hidup untuk menyesatkan manusia, maka ia hanya tahu kelemahan mereka, tetapi Jaehyun tahu kelebihan yang memuliakan manusia ketimbang Iblis.

Manusia berada di antara kepatuhan dan pembangkangan mutlak, seterusnya bakal menjadi abu-abu yang istimewa. Ada perasaan di daerah antara yang tak pernah pasti ini. Kepatuhan dan pembangkangan memiliki kegembiraan dan kesedihannya masing-masing, tetapi Iblis tidak mau tahu ini. Mengira Jaehyun adalah makhluk yang gila kekuatan serupa dirinya, Iblis tidak tahu ada perasaan-perasaan lembut yang kerap menyambangi hati Jaehyun sebelum kontrak Faustian terjalin.

Bahkan sesudahnya.

Perasaan-perasaan Jaehyun itu, yang hadir dalam doa-doa bersama orang tua, guru, dan teman-temannya, kadang menyala redup ketika ia menyaksikan Sujeong mengurut rosario, menghitung butir puja-puji. Ikatan dengan Iblis membuat perasaan itu berubah menghantui, bukannya menenangkan. Rindu terlarang. Dalam mimpi-mimpi buruk yang akhirnya membuat ia hilang kendali dan menusuk Sujeong malam itu, ia selalu melihat si pelayan belia menjauhkan dirinya dari tempat peribadatan, membunuhnya di ruang doa, atau memojokkannya sebagai anak kecil yang durhaka pada Yang Mahakuasa serta kedua orang tua.

Sesungguhnya, aku ingin berdiri di bawah cahaya itu bersamamu, Nona Ryu, tetapi cahaya itu amat terik hingga terasa bagai hukuman bagiku.

Teriakan yang menyayat menggaung dalam penjara bata. Jaehyun serta-merta berpaling ke kirinya. Satu rantai terkulai dekat kakinya—dan Iblis meraung. Sujeong jatuh tersungkur begitu Iblis melepaskannya secara tidak sengaja.

“Kurang ajar!”

Memicing, Jaehyun tak sanggup bernapas lega karena nyeri yang semula tumpul kini makin intens.

Inikah mengapa Iblis melarangku berdoa kepada-Mu? Karena nyeri hebat yang akan datang begitu seluruh kepercayaanku pada-Mu kembali?

“Tuan Besar ….” Sujeong menyeret tubuh, lalu memeluk Jaehyun erat. “Berpeganglah padaku dan sebut nama-Nya untuk meringankan sakitmu.”

Jaehyun menyandarkan kepalanya pada bahu Sujeong.

“Aku ingin pulang meskipun tidak ada rumah lagi bagiku.”

“Ada. Selalu ada. Pengampunan Tuhan tiada batasnya.”

Gemerincing rantai lambat laun meramai, sebuah orkestra kematian yang memilukan. Jaehyun mulai mengerang, sementara Iblis menggelinjang. Rasa sakit yang sang bangsawan rasakan mirip ribuan kail tajam yang menyangkuti jantung, lalu ditarik amat perlahan oleh besi pemberat setiap ia berjalan maju. Punggung Jaehyun memanas—dan ia tiba-tiba panik. Tanpa sadar, Jaehyun mencengkeram lengan atas Sujeong, berpeluh-peluh karena trauma. Menepis perih, si gadis sama sekali tidak mengeluhkan kuku-kuku lelaki itu yang tertanam pada kulitnya.

“Jaehyun! Aku akan membunuhmu, sialan!!!”

Iblis—dengan tubuh yang mulai melebur tak beraturan—menerjang dua manusia yang saling merengkuh di bawah. Sujeong mempererat dekapan, menjadi perisai untuk Jaehyun yang meringkuk. Ia menghela napas singkat-singkat sembari menggigit bibir setiap Iblis menubruk raganya. Sementara itu, Jaehyun menjerit semakin keras. Kulit punggungnya menjadi kisut, juga melepuh di beberapa tempat, tepat di mana Jaehyun tertimpa kerangka yang terbakar saat kecil.

Luka bakarnya membuka lagi!

Segera Sujeong menggeser tangannya ke kepala, menahan Jaehyun pada bahunya. Lelaki itu gemetar. Bau hangus mencabar penciuman. Separuh punggung Jaehyun menggelembung-gelembung dengan kulit paling luar lepas dan lapisan di bawahnya merah menyala. Ia meraung terus-menerus, badannya akhirnya kaku bagai batu, dan denyut jantungnya yang secepat derap kaki kuda bergema di kulit Sujeong.

“Jaehyun, kau tidak akan merasakan luka itu kalau kau mengikatku lagi! Bedebah, ikat aku!!!”

Namun, satu-satunya suara yang dapat menembus tangis ngilu Jaehyun hanya nama-nama Tuhan yang dibisikkan Sujeong dengan kepasrahan yang khidmat. Si gadis sabar menanti Jaehyun mengulang ucapannya; ia percaya ketika Jaehyun menyebut nama Tuhan, rantai terakhir akan runtuh dan mereka berdua akan terbebas.

“Jaehyun!”

Kepala Jaehyun seperti mendidih. Tenggorokannya tidak sanggup meloloskan lebih banyak suara. Ia begitu frustrasi; nama itu hampir terucap dari ujung lidahnya, tetapi tak sanggup ia sebutkan, padahal Sujeong sudah membantunya. Inikah hukuman terpedih, cinta yang terkekang, balasan atas tindakannya menantang Tuhan?

Kumohon, Tuhan, aku ingin menyebut nama-Mu. Sekali saja. Biarkan aku mati dan hanyut dalam samudra pengampunan-Mu. Kumohon, sanggupkan aku memanggil-Mu ….

***

Rantai terakhir yang paling besar jatuh berdebam dari langit-langit penjara. Teriakan Iblis menggelegar, menjalarkan retakan-retakan pada dinding bata. Sujeong merunduk, dengan tubuh mungilnya melindungi Jaehyun yang masih menjerit kesakitan dari reruntuhan. Api menjilat-jilat. Melalui bayangan pada dinding di seberangnya, Sujeong menyaksikan Iblis terlahap api yang menyusun raganya, terus hingga yang tersisa hanya lidah merah-jingga yang meliuk-liuk.

Ketika Jaehyun akhirnya berhenti berteriak, ia meloloskan satu nama yang ia rindukan, lalu merobohkan Sujeong ke sisi agar tubuhnya bisa balik menaungi si gadis.

Selanjutnya gelap. Sujeong hanya tahu satu pertempuran besar telah dia dan Jaehyun menangkan dengan gilang gemilang.

Saatnya beristirahat.

***

Kelopak mata Sujeong membuka, tidak betah diterpa rintik air terus-terusan. Samar-samar, ia melihat warna hijau yang bergerak begitu cepat, merasakan gerak naik-turun di bawah tubuhnya, dan terakhir, mencium aroma tubuh yang akrab dengan hidungnya, bercampur wangi hujan yang melunturkan harum-harum palsu lainnya. Jantan, hangat, dan mendamaikan, seakan pemilik raga ini adalah bagian diri Sujeong yang berlawanan sisi, bagian kanan untuk kirinya, bagian atas untuk bawahnya.

“Sudah bangun, Nona Ryu?”

Jaehyun menatap lurus jalan berbatu yang dipagari pepohonan. Tali kekang kuda yang tengah melaju pelan digenggamnya dalam satu tangan, yang sebelah lagi digunakannya menyangga badan Sujeong. Menyadari kelancangannya, Sujeong merasa malu dan hendak menarik diri, tetapi Jaehyun menahannya.

“Jangan. Jubahnya nanti bergeser. Hujan deras.”

Sujeong baru menyadari sebuah jubah tebal menutup puncak kepala dan bagian belakang tubuh atasnya. Meskipun wajahnya masih sedikit-sedikit disapa hujan, ini sudah merupakan perlindungan yang lumayan.

Jaehyun-kah yang melakukannya?

“Tuan Besar, terima kasih …. Anda juga membutuhkan jubah ini, bukan?”

“Tidak. Aku ingin mendinginkan bekas luka di punggungku.”

Ah, benar. Luka bakar.

“Masihkah terasa sakit?”

Jaehyun dan Sujeong saling memandang, tidak menduga mereka akan mengajukan pertanyaan yang sama.

“Saya rasa saya tidak terluka sebelumnya.”

“Aku menusukmu, Nona Ryu. Bagaimana mungkin kau tak terluka?”

Suara yang sedikit ditinggikan, juga alis yang bertaut, aslinya merupakan kecemasan yang salah diungkapkan menjadi serupa amarah dan kekecewaan. Sujeong tidak perlu dijelaskan mengenai ini. Ia membalas raut Jaehyun yang tak menyenangkan dengan senyuman tulus.

“Syukurlah,” Sujeong menyentuh gaun tidurnya di bagian dada, “sepertinya luka saya telah hilang. Bagaimana dengan Tuan Besar?”

“Tidak penting. Beristirahatlah lagi.”

Nada memerintah ini telah lama tidak didengar Sujeong. Ketakutan, gadis itu mengiyakan lirih sebelum bersandar ke dada Jaehyun. Keheningan sejenak mengepung sebelum Sujeong merasakan gelitikan di ubun-ubunnya. Hidung Jaehyun terbenam di sana, dalam belantara rambut merah ungu yang agak kasar.

“Maafkan aku. Pendosa ini tidak akan bermakna untukmu yang suci, Nona Ryu.”

Sujeong perlahan menengadah. Jaehyun kembali menatap lurus, tetapi ada aliran air selain hujan yang bersaing menuruni pipi tirusnya.

“Aku masih bisa merasakan kehadiran Iblis, begitu pekat di udara. Ia mungkin akan mencari inang baru dan mencederai jiwa lain. Bodoh. Harusnya aku membunuhnya ….”

“Tidak. Iblis ada selama manusia masih diciptakan oleh Tuhan. Mengenai kebebasannya mencari jiwa baru, itu bukan salah Tuan Besar, sungguh.”

“Aku menjadi pembunuh dan penghasut cuma untuk memuaskan nafsunya …. Bagaimana aku dapat memaafkan diriku sendiri? Sekarang, semua pelayanku yang menjadi budaknya telah mendebu, larut bersama hujan dan puing-puing kediamanku, padahal harusnya mereka masih bisa mengabdi untuk Tuhan mereka. Aku telah merenggut hidup mereka, lantas mengapa Yang Mahakuasa membiarkanku hidup?”

“Bagi saya, itulah kekuatan kehendak.” Sujeong mengunci tatapan dengan manik zamrud yang jernih namun sedih di atas kepalanya. “Bukan cuma keinginan Tuhan. Jauh dalam lubuk hati, Tuan Besar pun ingin hidup. Sangat ingin. Saya sudah pernah mengatakan tentunya: Tuhan mengirimkan karunia pada mereka yang benar-benar menginginkannya.”

“Aku tidak layak menginginkan sesuatu.”

“Bahkan jika sesuatu itu penting untuk berbuat kebaikan?”

Jaehyun tercenung. Ia tak sadar kalau ia ingin hidup demi menebus dosa.

“Bumi Tuhan amat luas, Tuan. Kebajikan dapat dikumpulkan dari semua tempat. Mari jadikan hujan layaknya pembersih, lalu kita memulai dari awal lagi. Bolehkah?”

Tidak ada tanggapan. Sujeong yang ditatap lama menunduk sungkan, gugup. Iris hijau itu lagi-lagi memesonanya. Betapa panjang waktu berlalu dalam kehampaan, sampai-sampai degup ini membuat Sujeong kewalahan.

Selagi Sujeong meredam debur dalam dadanya, dunia Jaehyun mendadak mengerucut pada sang dara. Begitu tangguh, begitu cantik, begitu berharga hingga Jaehyun merasa tidak patut. Kehilangan pelayan, harta benda, apalagi kekuatan Iblis tidak sepadan dengan anugerah baru yang ia peroleh dari konflik batinnya sendiri.

“Nona Ryu, kau bersedia menemaniku untuk memulai lagi?”

Sujeong sejenak terdiam sebelum mengangguk, seakan jalan penebusan dosa tidak terjal berkelok. Tangan Jaehyun bergerak naik, dengan hati-hati menenggelamkan kepala Sujeong dalam ceruk lehernya, mengecup puncak kepala itu takzim, dan menggumamkan satu terima kasih serta maaf. Kali ini, dia—untuk pertama kali setelah beberapa tahun—memuji Sang Pemilik Singgasana Langit atas perasaan indah yang akhirnya bisa sungguh-sungguh ia kecap.

Matahari yang menggusur derai hujan hari itu menampakkan surga kedua bagi Jaehyun dan Sujeong. Surga itu, setelah pencarian yang sarat aral dan luka, ternyata mereka temukan pada senyum bahagia satu sama lain.

[3/3]

part 2 of 2


dan … berakhirnya second paradise menandai lulusnya aku dari perkuliahan hehehehe akhirnya setelah 6 tahun gaes. *gak ada hubungannya sih tapi tetep bahagianya itu lho ehe ehe* terima kasih sudah membaca seri ini dan memberikan apresiasi, dan mohon maaf juga kalo ada yg kurang berkenan selama ini krn emang ff begini rentan ‘ga berkenan’ di hati hm. tapi kuharap idenya sampai. sebenernya ff ini kubikin jaman aku cemas bgt nunggu hasil ujian, terus waktu baca ‘The Exorcist’-nya Blatty aku jadi mikir, jgn2 emang kecemasan berlebihan dan gak berdasar itu memang disebabkan oleh Iblis buat ganggu manusia? merasa bersalah dan merasa bodoh itu perlu, tapi merasa bisa diampuni dan optimis juga perlu supaya kita ga putus asa bgt sampe pingin mati. walaupun merasa banyak bgt prosedur yg salah kulakukan waktu ujian TERNYATA baik2 saja teman2 alhamdulillah. 

jadi panjang. ttp semangat semua, yg baca ini juga sukses ya!

Advertisements

4 thoughts on “Second Paradise (2/2)

  1. Rijiyo says:

    Ya ampun, aku capek baca ini ;_; Bukan karena panjang words-nya, tapi capek gara2 ditabok bolak-balik sama ceramahnya sujeong *langsung inget dosa* Seriusan mbak li, ini tuh kayak ‘obat’ loh yg bisa bikin pendosa kayak aku nyadar #Yha
    Tapi aku seneng akhirnya ini happy ending. Trus entah knp aku bayangin iblisnya tuh semacam Azog di lord of the ring (?)

    Eniwei, SELAMAT ATAS KELULUSANNYA 🎉🎇✨🎆 🎁 Buset gak meledak apa ya tuh kepala mikirin kuliah sampe 6 taon wkwk tapi aku salut sih mbak liana masih aktif nulis, kan ada banyak tuh author lain yg hiatus nulis dengan alasan sibuk kuliah

    Keep writing selalu mbak (yang katanya) predator 97line ❤

    Liked by 2 people

    • LDS says:

      ya Allah diampirin shiftaaaaa
      aku semacam tersundul/? pas kamu bilang tertabok ceramah, which is bukan niat awalku tapi pada akhirnya ttp begitu nyahahaa kurasa spiritual memang genre yg agak susah buatku. susah ditulis supaya gampang dimengerti :p
      trs transisi scene penjara itu emg kubikin rada surealis jadi gimana gitu ya. maafkan bikin pusing. intinya adlh habis mbak sujeong reliving masa lalunya jae, dia masuk ke penjara tempat jiwa jae dikurung iblis. ehe
      kalo di foto ini menurutku jaehyun ga mirip hyunjae tapi aslinya iya. soalnya si jae skrg tambah kurus jadi pipinya ga ada dan jadi mirip hyunjae deh… tapi sama2 ganteng jadi gpp lah yaaaa
      makasih udh baca ini shiftaaa

      Like

  2. Fearu says:

    Yaampun ini kayanya aku telat bacanya, tapi aku suka banget sama cerita ini… Tema alur semuanya bagus banget huhu… Apalagi Jahe sama Sujeong itu kapal tersependam (?) aku…

    Makasih ya udah buat ff sebagus ini, aku nunggu karya lainnya di lapak manapun insyaallah aku baca 😊

    Like

    • LDS says:

      halo, terima kasih sdh baca sampai akhir ya ^^ semoga pesannya tersampaikan hehe. sampai jumpa di FF berikutnya ya!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s