Rotten Comedy

LDS, 2018

The Man Who Laughs © Victor Hugo

.

“We’ve gone awry.” (EXO – Stay)

***

Kemiskinan. Tirai kain perca. Lagu yang mengutuk aristokrasi dan memuliakan proletar. Gadis buta. Laki-laki dengan wajah rusak. Elemen pertunjukan Ursus menyuguhkan pelarian singkat dari kenyataan yang kerap disebut humor. Bagi Gwynplaine yang tersenyum sepanjang hayat, lelucon itu menudungi kegetiran dalam hidupnya—dan Dea—secara berlapis-lapis, ganjilnya ia kadang menertawakan tipuan itu pula.

Baru melewati dekade kedua hidupnya, Gwynplaine memiliki pesona fisik yang diharapkan seluruh pria muda. Rambut ikal dan matanya berwarna hitam pekat, sebuah permata di tengah samudra biru-hijau-pirang. Tingginya rata-rata, tetapi posturnya tegap dan serasi disandingkan dengan Dea di atas panggung. Suaranya indah, melarutkan para penonton Ursus dalam suasana apa pun yang dikehendaki syair serta musik. Ia sempurna hingga kain kumal yang menutup bagian bawah wajahnya disingkap.

Gelegar gelak para penikmat pertunjukan setiap kali mereka tampil selamanya tidak akan Dea pahami sebab gadis rapuh itu tidak pernah melihat lebarnya celah bibir Gwynplaine. Dari telinga ke telinga, melengkung seringai menakutkan yang abadi, bizar, dan—secara misterius—kocak. Ya, bahkan kulit pipi yang tampak betul bekas dirobek itu tidak mengurangi kejenakaannya di mata orang-orang lelah dan berkantong kosong. Badut cacat yang didampingi remaja perempuan jelita, menyanyi dan bermain peran, sesekali melontar guyonan kritis sebelum menari sepanjang malam …. Apa lagi yang lebih baik buat menghilangkan penat? Popularitas karavan drama Ursus cepat melejit berkat dua anak angkatnya yang berbakat ini, tetapi kebahagiaan Gwynplaine sendiri baru ia temukan usai tirai diturunkan.

“Hari ini pun, kamu sangat ceria.”

“Karenamu, tentu saja,” ujar Gwynplaine, membiarkan Dea menelusuri wajahnya. Bagi gadis itu, kepekaan jemari menggantikan netra mencerap segala fakta, kecuali yang mengenai senyum sang kakak. Ia tak tahu bagaimana sekelompok bandit menculik Gwynplaine setelah membunuh orang tua bocah itu, juga bagaimana belati mengoyak sudut bibir Gwynplaine sebelum para penjahat meninggalkannya di tengah salju. Tak perlu juga Dea mengetahui, mengingat betapa rentan raga dan hatinya; ia bisa jatuh sakit hanya akibat kesedihan mendalam. Gwynplaine ingin menjaga rona manis pada paras ayu itu, maka ia tidak mencoba membenarkan asumsi Dea tentang kegembiraannya yang permanen.

Bersama Dea, dunia Gwynplaine sejenak syahdu, tanpa kelakar, hanya cinta.

Namun, kutub kontras romansa murni dan komedi suatu hari dipertemukan, lalu Gwynplaine terpingkal sampai gila.

Adalah Duchess Josiana—putri Raja James II dari seorang gundik—yang datang di pertunjukan Gwnplaine atas tuntunan saran-saran untuk mengatasi kebosanannya. Manik cokelat gelapnya membelalak begitu seringai horor di wajah si badut tidak lagi terlindung tabir. Seiring bergulirnya adegan, binar pada mata yang nyaris segelap Gwynplaine itu kian cerah. Jangan lupakan pula kurva sabit akhir bulan yang terkembang mengapresiasi; mimik sang duchess penuh teka-teki. Josiana jelas tidak sedang kegelian. Tatapannya justru menyiratkan ketertarikan akan karisma Gwynplaine, menghargai dengan cara yang tidak lazim.

“Aku melihat diriku di dalammu.”

Oleh pesuruh-pesuruh Josiana, Gwynplaine dibawa ke sebuah kediaman mewah. Apa yang sebelumnya tampak pada mata bangsawan itu sebagai niat samar, kini terwujudkan. Perempuan itu mendudukkan Gwynplaine di sofa kesukaannya, lalu dengan kaitan telunjuk menurunkan syal lusuh yang menyelubungi bibir hancur sang penampil. Ia berpura-pura kaget sebelum tertawa janggal. Dilantunkannya perjalanan usianya sendiri sebagai perempuan terpandang juga tersembunyi. Menyandang status sebagai putri raja menjadi tidak bermakna ketika ia hanyalah keturunan dari seorang wanita simpanan, sama seperti kualitas baik Gwynplaine yang tercoreng oleh mulut tercelanya. Tak berhenti di sana, Josiana menawari Gwynplaine anggur dari pialanya, membelai pemuda itu penasaran, lalu menanggalkan jubah dan selendangnya sebagai isyarat rayuan. Ini merupakan sebuah pengalaman menantang bagi seseorang yang mestinya tidak berdaya pikat seperti si badut. Selain itu, keberanian, keusilan, dan arogansi Josiana yang tidak setitik pun Gwynplaine temukan pada Dea menggodanya untuk membalas perempuan ini. Kendati demikian, manakala sosok serupa monster terpantul pada permukaan kornea sang duchess, sadarlah Gwynplaine bahwa perbuatannya telah melangkahi kesetiaan Dea.

“Saya telah melalui waktu yang menyenangkan bersama Anda. Sungguh, saya berterima kasih, tetapi saya harus pergi.”

Sepulang ‘bertualang’, Gwynplaine disambut girang adiknya di karavan Ursus walau keterlambatannya malam ini sedikit dikeluhkan. Dea menggamit lengannya untuk makan bersama, memperlakukannya begitu lembut bagaikan kekasih, ibu, dan saudara perempuan yang Gwynplaine tak merasa pantas mengharapkan. Amat mulia, rawan, lugu, dan tulus Dea itu hingga sang aktor malu. Mengapa masih serakah menginginkan Josiana bila Dea adalah segalanya? Mencintai si gadis penyayang bukan anugerah yang bisa didapat sembarang pria bermulut sobek.

Kembali ke kamarnya, Gwynplaine menghadap cermin, memandang bayangan menyeramkan yang terefleksi pada permukaan mengilap tersebut, dan tawa meremehkannya meledak. Ia, yang berlumur debu dan kenistaan, yang makan dari hinaan penonton Ursus, bahkan tidak patut mengkhayalkan surga dunia berhias kasih sederhana Dea sekaligus keningratan gemerlap Josiana. Terbahak terus-menerus melemaskan kakinya, jadi ia bersimpuh dan mengutuk di bawah napasnya.

Dibanding skenario murahan Ursus, komedi karya Tuhan merupakan cerita yang benar-benar menghanyutkan Gwynplaine dalam perannya sebagai pemancing gelak bernasib malang. Jangankan bersandiwara, pria itu dan semua angannya yang ketinggian menjadi lawakan busuk dalam kitab umurnya sendiri. []

Advertisements

2 thoughts on “Rotten Comedy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s