28

by Primrose Deen, 2018.

Kang Daniel versi 28 tahun memang tidak jauh berbeda dengan Kang Daniel versi dua puluh tiga tahun.

image © Raychan

“Nanti kita makan malam di dekat Sungai Yarra, ya? Apa itu namanya? Yang menghadap langsung ke sungai?” Daniel bertanya seraya berganti dari sandal rumah ke sepatu ketsnya.

“Arbory Bar and Eatery?” sahutku sambil menunggunya selesai memakai sepatu. Setelah Daniel membenarkan, aku menambahkan, “Setelah itu kita menonton film di Rooftop Cinema, yuk? Aku baru saja mengecek jadwalnya. Hari ini filmnya bagus.”

“Boleh, boleh. Terakhir kali aku ke sini, bioskop itu juga sedang tidak beroperasi.”

Kami mendatangi Arbory Bar and Eatery, sebuah restoran yang terletak persis di samping Sungai Yarra, salah satu ikon Kota Melbourne. Arbory Bar dan Eatery terletak di Flinders Walk, berada di antara Flinders Street Station dan Sungai Yarra. Sesuai dugaan, pengunjung tumpah ruah di sini. Terutama kala jam-jam makan malam seperti ini. Namun Dewi Fortuna nampaknya sedang berpihak padaku dan Daniel, sehingga kala kami datang, saat itu pula ada pelanggan yang akan beranjak pergi. Jadi kami dapat menempati tempat duduknya.

Kami mendapatkan tempat duduk di bangku yang menghadap langsung ke sungai. Memang tak pelak jika tempat duduk di sini adalah yang paling banyak diincar. Selain angin sepoi-sepoi yang berembus mampu sedikit meringankan gerah yang dibawa oleh musim panas, pemandangan menakjubkan yang disuguhkan benar-benar memanjakan mata. Gedung-gedung tinggi di seberang Sungai Yarra serta lampu-lampu kota yang berwarna-warni yang membuat permukaan Sungai Yarra tampak berkilauan membuat kami tak jenuh menikmatinya tanpa kata. Deretan meja yang kami tempati ditata memanjang di bawah pepohonan, sehingga alih-alih berhadapan, kami duduk bersebelahan.

Arbory Bar and Eatery

Cr: Timeout

“Wah, luar biasa,” Daniel menggumam sebelum mengambil kamera dari tas hitam yang sedari tadi menggantung di pundak kanannya. Setelah menemukan titik fokus gambarnya, ia mulai menekan-nekan tombol shutter untuk mendapatkan banyak gambar. “Pantas saja kamu betah hidup di sini.”

Aku memutar tubuh ke arahnya. “Maka dari itu, dua tahun lagi kamu pindah ke sini saja, ya?”

Daniel menurunkan kameranya dan menatapku seraya mengangkat dagu. “Kamu mau memeliharaku? Memberi aku makan? Memberiku tempat tinggal gratis?”

Aku mengerucutkan bibir dan kembali memutar tubuhku ke posisi semula. Daniel benar, semuanya tidak semudah itu. Rasa gamangku yang kerapkali muncul lantaran distansi yang terlalu lebar di antara kami tidak cukup menjadi alasan untuk membuatnya menetap di Melbourne.

“Pekerjaanku ada di sana. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya, bukan? Kamu sepakat akan ikut denganku untuk tinggal di Seoul setelah kita menikah nanti.”

Aku terkekeh pelan, merasa tertangkap basah lantaran tampak tidak konsisten dengan kata-kataku sendiri. Tapi aku memang tidak bisa berbohong jika topik ini acapkali membuatku terjaga pada lewat tengah malam. Aku kerap menemukan diriku terlalu larut dalam berkontemplasi perihal ini. “Tapi Melbourne selalu dan selalu membuatku goyah.”

Daniel menyibakkan poniku yang sudah panjang ke belakang telingaku. “Percayalah padaku. Aku akan membuatmu jatuh cinta pada Seoul seperti kamu jatuh cinta pada Melbourne. Lagi pula, di sana ada aku. Bagaimana bisa kamu tidak bisa lebih menyukainya?”

Gelak tawaku pecah, bersaing dengan gemerisik dedaunan yang dibelai angin. Pernyataan narsistiknya memang menggelikan, tetapi Daniel tidak sepenuhnya salah. Melbourne adalah kota favoritku. Namun, Kang Daniel adalah yang paling kusukai di dunia ini melebihi hal apa pun juga.

Kendati sudah menjadi kekasihnya sedari tiga tahun lalu, aku masih sering menemukan diriku menatap Daniel diam-diam, seperti detik ini. Ia sedang tertawa seraya menatap gedung-gedung tinggi di hadapan kami. Berlapis warna jingga keunguan dari langit senja dan cahaya temaram dari lampu kuning yang melingkar di pohon menimpa wajahnya yang akhir-akhir ini menjadi lebih tirus.

Kang Daniel versi 28 tahun memang tidak jauh berbeda dengan Kang Daniel versi dua puluh tiga tahun. Ia masih memiliki selera humor yang rendah dan menolak dianggap imut—kendati ia masih gandrung berpose seperti anak anjing saat acara jumpa penggemarnya. Beberapa hal yang berubah adalah tubuhnya yang semakin besar dan tingginya bertambah dua sentimeter. Ia sudah bisa menyetir dan memiliki mobil sendiri. Ia juga memiliki apartemen sendiri di Apgujeong. Kecakapannya dalam beretorika dan berkelakar semakin terasah, sehingga ia mendapatkan kesempatan untuk memiliki acara radionya sendiri serta menjadi salah satu pembawa acara tetap di sebuah acara ragam.

“Kapan kamu akan berangkat?”

“Tiga bulan lagi. Sekitar bulan Maret.”

“Sudah siap jika rambutmu nanti tinggal tersisa satu sentimeter?” Kusenggolkan pundakku yang hanya mengenai lengannya. Posturnya tetap tak bisa kusamai bahkan ketika duduk.

Daniel menghela napas panjang. “Yah, harus siap. Aku tidak punya pilihan lain. Ini sudah kewajibanku, ‘kan? Jadi ini adalah kunjunganku yang terakhir sebelum pergi. Bulan depan, aku sudah tidak diperbolehkan bepergian ke luar negeri.”

Kami tiba di Rooftop Cinema yang terletak di Curtin House, Swanston Street. Sesuai namanya, bioskop ini terletak di atap sebuah gedung. Dikelilingi gedung-gedung tinggi dan beratapkan langit malam, Rooftop Cinema dihiasi dengan lampu-lampu berwarna-warni di pagar-pagarnya. Bioskop ini juga memiliki bar kecil yang menjual minuman dan makanan ringan untuk pengunjungnya. Uniknya, bioskop ini hanya beroperasi saat musim panas.

Kami mendapat tempat duduk yang tepat berada di tengah-tengah. Dengan berondong jagung berukuran medium untuk kami berdua dan limun dingin di tangan masing-masing, kami menunggu filmnya dimulai. Daniel menutupi kedua kakiku dengan selimut tipis yang sudah disediakan oleh pihak bioskop untuk semua penontonnya.

Sejemang kemudian, layar lebar di depan kursi penonton yang semula menampilkan tulisan “Rooftop Cinema” kini berubah menjadi layar hitam. Lantas muncul tanggal kala Daniel memperkenalkan dirinya saat kali pertama mengikuti acara survival di salah satu stasiun televisi bernama Produce 101. Video-video selanjutnya menampilkan banyak momen penting dalam perjalanan hidup dan kariernya; saat ia terpilih sebagai juara satu Produce 101 Season 2 sekaligus center Wanna One, saat ia mendapatkan penghargaan pribadi sebagai pendatang baru, saat ia berjalan-jalan bersama ibunya, saat ia bermain-main dengan kucing-kucing peliharaannya, saat kami berkencan, saat hari jadi kami ke-100 hari hingga tahun ketiga, dan masih banyak lagi.

Daniel menatapku dengan penuh tanda tanya, namun bibirnya tak melontarkan apa pun selain mengembangkan sebuah senyum. Dwimaniknya berkaca-kaca, sarat akan rasa haru. Saat itu pula dari belakang, ibunya muncul dengan sebuah kue ulang tahun dan beberapa teman dari Wanna One, grupnya saat debut dahulu. Kami menyanyikan lagu “Happy Birthday” untuknya dan sukses meruntuhkan pertahanan seorang Kang Daniel yang selalu mampu menahan diri untuk tidak menangis di hadapan orang lain.

Happy birthday, bub. Thank you for being born. I will follow you, wherever you go, without thinking twice anymore,” ujarku sambil menekan-nekan telapak tangannya. “Even if that means I should leave Melbourne.”

Ia menarikku ke dalam pelukannya, memenuhi udara sekelilingku dengan aroma tubuhnya yang bercampur dengan wangi parfumnya yang tak pernah diganti sejak bertahun-tahun yang lalu. Spasiku dengannya selalu menjadi musuhku sehari-sehari, sehingga saat kami hanya terpisah beberapa sentimeter saja seperti ini, aku melupakan dunia sekelilingku. Kulitku yang bersinggungan dengan kulit hangatnya, pipiku yang merasakan tekanan lembut jemarinya yang ramping namun kuat, bibirku yang tertimpa embusan napasnya, semuanya adalah favoritku. “Thank you, Sugar. Tunggu aku pulang, ya?”

“Tentu saja. Sebagai warga negara yang baik, lelakiku harus ikut wajib militer untuk mengabdi pada negaranya!”

Tawa kami semua berderai, melebur menjadi satu.

Ini adalah ulang tahun Daniel ke-28. Ini adalah hari terakhirku bertemu dengannya sebelum ia menjalankan wajib militernya. Setelah ini, yang tersisa hanyalah hari-hari menunggu ia pulang dari kerja dan menantikan kejutan-kejutan indah yang lainnya.

Happy birthday, Kang Daniel. May your years are only filled with happiness.

end.

Postnotes:

  • 망했다 ㅠㅠ
  • Ini pertama kali ngepos lagi di WordPress setelah hiatus sejak fokus belajar percepeenesan. The writer’s block is real. Makanya kaku. Jangan hujat aqu.
  • Sebenernya pengin dipos waktu ultah doi kemarin (12 Desember), tapi gagal bc I’m busy. Queen of planning only. Bye.
Advertisements

8 thoughts on “28

  1. fikeey says:

    ARI HALOO! yaampun udah lama banget masa ngga baca cerita kamu. eh tapi itu juga mungkin karena akunya jarang banget blogwalking huhu aku kangen kangen kangen banget blogwalking aslik 😦 anw anw anw di sini suasananya soft hours banget yaaaaa unch walaupun aku masih belum tau pasti karakter kang daniel itu gimana tapi lewat penjabaran kamu di sini udah kebayang lah kalo dia baby bear banget aaaaa! tapi kesel loh masalahnya muka dia itu tidak berbanding lurus dengan perawakannya hiks. imut gitu tapi tinggi tegap kayak kaka kelas nyeremin gitu tapi kalo udah senyum keliatan gigi ADUH. aku waktu itu nonton reality show wannaone itu sekali-kalinya doang dan langsung terbanjiri dengan KOK INI IMUT SIH, TAPI KO TINGGI BANGET DIANYA, HYUNG-NYA PADA KALAH 😦 ah sudahlah nanti yang ada aku malah fangirling hiks. anw anw berharap ari makin sering posting DAN IYA PERSIAPAN CEPEENES YA HAHA. keep making something dear! ❤

    Liked by 1 person

    • Primrose Deen says:

      Engga kak, emang akunya yang udah lama bangeeeet ga nulis. 😦
      Haha sebenernya ini aku nulis yang aman-aman dulu kak, soalnya kan masih kaku gitu kan. Makanya mau lemesin dulu shayyy pake cerita2 klise cem gini haha

      I-iya kak fik, bener. Dia tuh muka disney badan marvel. 😦
      The duality is real dia itu mah. Haha. Makasih Kak Fikkkkk! Semoga aku makin rajin nulis. Kak Fika juga ditunggu tulisannya ya ♥️

      Pssst, aku udah gagal tahap pertama hahaha 😹

      Like

  2. LDS says:

    oooooooo
    aku bbrp kali baca fic wanna one tapi aku merasa elit baca ini ariiiii
    latar belakangnya juga unik, di luar korea maksudkum biasanya latar ff beginian di seoul dan sungai han ajah.
    terus ngambil settingnya pas mau wamil hmmm buat wannable jelas akan baper baca ini
    welcome back ari! keep writing dan sukses cpns nya yaa

    Liked by 1 person

    • Primrose Deen says:

      Apaan coba elit. Klise gini 😦
      Soalnya masih membiasakan diri buat nulis lagi, Li. Aku kaku banget dah lama ga nulis. 😦
      Makasih Lianaaa!

      Aku udah gagal tahap 1 😹

      Like

  3. S. Sher says:

    Kak ariii how are you? I hope you are doing fine ❤️❤️

    Ini manis banget, manis yang gak overload tapi, aku seneng bacanya kayak adem gitu. AND THE DETAIL IS AMAZING. Interaksi mereka berdua itu terkesan dewasa tapi yang fluffy, terus endingnya pas dikasih film + didatengin keluarga dan teman rasanya hangaaaat. Ah i miss you and your writing so much :”)

    Keep making something amazing and have a nice day kak ❤️❤️

    Liked by 1 person

    • Primrose Deen says:

      Tariiiiiiiiiii 😭
      Hahaha so-so?
      How are you? I really miss reading your writing so much agsgshsh pls write about Song Mino or Hera x Dominic again plssss ;-;

      Ah, you’re being too nice, Tar. It’s a mess tbh haha udah lama ga nulis. Kakuuuuuu. Jadi mau yang gini-gini aja buat mulai lagi. :”(

      Yep yep! You too, Sugar! ♥️

      Like

  4. Dhamala Shobita says:

    Ariiii, hi, how are you? Aku udah jarang banget muncul di grup, apalagi blogwalking dan hari ini aku akhirnya blogwalking wow! Baca ini tuh sesuatu, apalagi ini aku bacanya memasuki zona waktu bagian soft and chill gitu. Hehe.
    Kang Daniel berani-beraninya kamuuuuu….
    Duh itu beneran deh suasana restorannya enak banget gitu. Cozy. Romantis
    Cerita ini manis, tapi manisnya pas, nggak kebanyakan gula. Terus aku suka penjabaran setting dan suasananya. So detail… keep making something, ari! yeheeey~ ❤

    Liked by 1 person

    • Primrose Deen says:

      Kak Malaaa! As usual, I’m always so-so hahaha
      Hahaha agak kzl sih kak waktu habis publish ini. Soalnya ceritanya gini lagi gini lagi. Tapi udah lama ga nulis, jadi mau ngelemesin dulu aja daaah, sedapetnya. Haha.

      Thank you for stopping by, Kak Mala! Enjoy your blogwalking!! 💙

      Liked by 1 person

Leave a Reply to LDS Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s