On My Funeral

by dhamalashobita

Maybe that’s okay even if I just live a day with the people I loved.

image © Jarl Schmidt

*

Tanah basah. Aroma hujan bercampur tanah menguar di udara, menyesakkan paru-paruku. Kata orang aromanya enak, tetapi aku tidak pernah menyukainya. Mengapa hari ini langit terlihat begitu murung, bahkan masih murung setelah ia selesai menurunkan rintik hujan. Dari jauh, aku melihat orang-orang perlahan datang. Di depan barisan, seorang anak laki-laki memikul fotoku yang telah diberi pigura hitam. Foto itu diambil ketika aku berlibur ke negara tetangga beberapa tahun lalu bersama keluargaku. Kali pertama aku melangkahkan kaki di negara lain. Senyumku terlihat bahagia, setidaknya begitu yang orang-orang katakan di kolom media sosialku beberapa tahun lalu setelah aku mengunggah foto tersebut. Senyum yang tidak bertahan lama, batinku.

Di belakang anak laki-laki itu, seorang wanita paruh baya sibuk menyeka air mata di pipinya. Mengapa semua orang menangis ketika hari hujan? Tidakkah hari lain menyenangkan juga untuk sebuah tangisan? Dari tempatku duduk di dahan sebuah pohon, aku melompat, mengikuti rombongan yang paling-paling berisi lima sampai sepuluh orang itu berjalan. Aku berusaha menghitungnya. Satu, dua, tiga, lima, sembilan, tujuh, empat, kemudian berhenti. Sepertinya aku salah menghitung. Tetapi ketika mengulangnya, semua semakin terasa janggal. Mana yang lebih dulu, satu atau dua, aku tidak bisa lagi membedakannya lagi. Apa di tempat setelah kematian, otak kita berhenti bekerja dan kita otomatis menjadi dungu? Ah, peduli apa aku.

Aku memutuskan berjalan beriringan dengan rombongan, masuk ke dalam sebuah kubah megah. Lantai marmer dingin, isak tangis dan ratapan tak henti-hentinya terdengar, membuat telingaku sakit. Mereka memanggil namaku berkali-kali, Lori, Lori. Aku tidak suka namaku dipanggil dalam tangisan seperti itu! Mereka membuatku muak. Aku berjalan, menyeruak ke tengah keramaian. Dingin, ada sensasi geli tiap kali aku bersentuhan dengan mereka.

Aku menatap fotoku dan nama yang terpatri di guci keramik berwarna hijau muda mint. Lori, mengapa namaku ada di sana, apa yang kulakukan? Semakin lama kutatap guci keramik di depanku, ingatan-ingatan yang menjelma seperti cahaya saling memaksa masuk ke dalam kepalaku. Oh, itu Mom! Adik laki-lakiku membawa pigura foto dan beberapa orang datang dengan pakaian serba hitam dalam hari hujan. Tak banyak memang, tapi cukup untuk membuat hatiku terenyuh.

Tunggu, hatiku. Tadi aku tidak merasakan apa pun, tapi mengapa sekarang aku bertingkah seperti seseorang yang sedang dipengaruhi oleh hatinya sendiri?

*

“Lori, kau selalu terlihat seperti anak normal. Jangan takut. Apa yang menjadi kekuranganmu tidak akan membuatmu terlihat janggal. Kau tetap anak Mom yang cantik.”

Aku memanggilnya Mom. Wanita terhebat yang pernah kumiliki. Karena beliau tidak pernah peduli apa yang terjadi padaku. Well, tidak peduli dalam arti yang baik. Mom akan membiarkanku bermain di luar bersama Molly—anjing jenis Corgi yang kudapat dari Aunt May—dan juga Ed, adik laki-lakiku. Mom akan membiarkanku berlari selama tiga puluh menit di halaman sebelum menyuruhku kembali ke dalam rumah dan membiarkan Molly bermain berdua dengan Ed.

Aku tetap terlalu lemah untuk sebuah kehidupan normal. Berlari terlalu banyak akan membuatku lebih cepat mati. Tidur terlalu banyak membuat ototku kaku dan lumpuh lebih cepat. Jantungku tidak bisa diajak berolahraga padahal aku ingin sekali mencoba permainan-permainan ekstrem seperti yang sering dilakukan Aunt May ketika berpetualang. Tapi aku harusnya sadar, aku bukan seperti kebanyakan Lori di dunia ini.

Aku adalah Lori yang tinggal di dalam kastil kaca. Bukan, bukan arti secara harafiah. Hanya kiasan. Aku punya segalanya, rumah, kamar besar yang berisi semua hal yang aku inginkan. Rumah Barbie serta bonekanya yang lengkap, tablet dengan teknologi terbaru, game terbaru yang Ed relakan untukku, gitar listrik yang kuinginkan saat aku berusia dua belas tahun, piano milik Dad yang sengaja diletakkan di kamarku, dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa kusebutkan satu per satu.

Bukan tidak bisa sebenarnya. Aku hanya tidak mau. Menyebutkan barang-barang yang memenuhi kamarku tidak akan membuat keadaan apa pun berubah.

“Maafkan Mom yang hanya memberimu waktu setengah jam untuk bermain, kau tahu kau…”

“Aku bisa saja terkena serangan jantung kapan pun, bahkan ketika aku tengah berguling di rumput bersama Ed dan Molly. Aku tahu, Mom.”

“Maaf, Mom hanya…”

“Mom, sudah kubilang, berhenti meminta maaf.”

Sungguh, aku sudah mengatakannya jutaan kali. Kataku, siapa yang harus disalahkan jika kau memiliki penyakit yang akan membuatmu mati kapan pun itu? Bukan salah Mom jika aku terlahir seperti ini, begitu kubuat diriku percaya. Aku percaya Mom, aku lebih percaya Mom sebagai seseorang yang menyembuhkanku daripada seseorang yang membuatku seperti ini.

“Tapi jika aku mati, aku ingin abuku ditabur di gunung. Jadi setiap Mom merindukanku, Mom bisa pergi hiking untuk menjengukku,” pintaku.

“Aku lebih suka pantai, Lori, bolehkah jika ditabur di laut saja?” Ed berubah manis jika aku dan Mom sedang membicarakan ini. Dia akan memeluk lenganku dan bersandar manja di bahu atau punggungku. Sumpah, dia adalah adik paling manis yang pernah kudapat—oh, meskipun aku hanya punya adik satu, aku membayangkan punya adik lainnya dan pasti tidak ada yang semanis Ed.

“Bagaimana kalau abuku dibagi dua, separuh di gunung, separuh di laut?”

“Dad akan butuh banyak uang untuk liburan,” gumam Ed.

Aku mengangguk pelan, kata-katanya masuk akal. Mereka akan membutuhkan lebih banyak uang jika berlibur ke dua tempat sekaligus, dan tentunya aku tidak akan senang jika sudah merepotkan Dad seperti itu.

“Tidak akan ditabur ke mana-mana harusnya. Kami ingin bisa melihatmu setiap hari.”

“Tiap hari akan sangat merepotkan, Mom. Kau tahu, dari tempatku kelak, aku akan lebih sering melihat kalian. Maka kita bisa buat pertemuan kita menjadi lebih menyenangkan. Bukan begitu, Ed?”

Memikirkan tubuhku akan menyatu dengan awan atau ombak membuatku tenang. Mungkin aku akan ditakdirkan pergi lebih cepat untuk bersenang-senang di antara awan atau berenang dengan ombak dan buih-buih.

*

Mom bilang, ketika aku mati akan ada banyak orang yang datang untuk mengantarku. Mungkin itu adalah kebohongan paling baik yang pernah kudengar, dan aku tahu Mom hanya ingin membuat perasaanku bahagia. Karena kini aku hanya melihat beberapa orang di depanku.

Adikku dan Mom menundukkan kepala dan berdoa sementara Dad berdiri sangat jauh. Ada Aunt May dengan selera fashionnya yang tetap menyegarkan ketika dilihat—sekali pun ia mengenakan setelan serba hitam. Beberapa tetangga yang suka menyapaku ketika aku bermain di halaman selama tiga puluh menit dan seorang guru homeschool-ku yang matanya mulai bengkak.

Ingatanku sudah berhasil masuk ke dalam kepala. Ternyata hari ini waktuku habis.

Aku memeluk Mom, inginnya erat-erat, tapi ternyata bersentuhan saja aku tidak bisa. Maka anggap saja aku memeluk mereka. Menyeka air mata Mom yang menetes perlahan. Mom selalu menangis tanpa suara, berpura-pura kuat, kebalikan dari Dad yang dengan gamblang melakukannya. Ed juga terisak, sekarang sambil memeluk Molly. Sebelumnya sudah meletakkan pigura fotoku di dalam kolom yang digunakan untuk menyimpan abu.

“Mom pernah bilang, ini agar kami bisa melihatmu setiap hari, Lori. Tidak apa-apa jika kami tidak pergi liburan dan malah hanya ke sini untuk mengunjungimu. Di mana pun kami berada, kami akan selalu mengingatmu kok.”

Jika aku bisa, aku akan mengatakannya pada Mom. Tidak masalah jika abuku ditabur di gunung atau di laut. Tidak masalah berapa orang yang datang di hari persemayamanku asalkan orang-orang yang kusayangi berada di sana. Menangislah sepuasnya, setelah itu hapus air mata dan lanjutkan hidup. Aku akan berkata demikian. Karena senyuman dan rasa sayang kalian yang akan mengantarku ke tempat yang lebih baik.

Ketika yang lainnya beranjak pulang dan menyisakan keluargaku, aku tersenyum sambil berbisik pada Ed, “Hiduplah dengan baik. Gantikan aku menjaga Mom dan juga Dad. Aku menyayangi kalian, Ed.”

Seketika Ed tersenyum dan aku tahu dia dapat mendengarku.

end.

postnotes:

  • I’m back! dan aku tahu ini bukan fiksi yang baik. tapi setidaknya aku memulai kembali. huhu TT
  • i’m thinking of making some fanfiction again. woohoo!
Advertisements

8 thoughts on “On My Funeral

    • fikeey says:

      MALA YAAMPUN KAMU KEMBALI! ih sumpah lah ya aku selalu suka orificnya mala, daaaaaan aku mau sembah sujud juga karena ini enak banget dibaca walaupun dari sudut pandang orang pertama. aku agak-agak gimana gitu mal kalo baca cerita dari sudut pandang orang pertama, soalnya keseringan pas baca kayak “hmmmmmmmmm” gitu tapi ini enggaaaa! sumpah sesuka itu, apalagi pas ngomongin soal abu lori yang mau ditaruh gunung atau ditabur di laut dan gimana kamu nutup fiksi ini dengan topik yang sama . HUHU mana dad-nya berdiri jauh banget duh 😦 kasian molly juga. terus aunt may yang di bayanganku dia pasti keren gitu di mata lori sama ed. TAPI MASIH SEDIH HUHU. mala congrats comebacknya! dan ditunggu fanfictionnya! hehehehe. keep making something beatiful maaal 😀

      Liked by 1 person

    • Dhamala Shobita says:

      Akhirnya aku berkunjung lagi buat balas-balas ini. Yeay~ Aku nggak nyangka juga bisa balik lagi nih, Fika. Sebenarnya buat bikin orific, lebih enak pakai sudut pandang orang pertama, tapi aku juga kadang belum terbiasa. Aaak~
      Soal percakapan masalah abu Lori itu pernah terjadi in real life dengan seorang kawan dan ya… Aku terinspirasi masukin itu ke fiksi ini. haha.
      Thank you udah mampir, Fika. :*

      Like

  1. S. Sher says:

    KAK MALA HALOOO. Apa kabar? Aku kangeeen banget ❤️❤️❤️

    This is my cup of tea banget, bittersweet terus bau-baunya gloomy, dan dengan kak mala yang eksekusi paket lengkap sudah ❤️ aku ngerasa ini manis, percakapannya ringan gak banyak tapi pas, love. Apalagi endingnya si ed bisa denger tuh best!!!

    Keep making something nice and have a nice day kak mala ❤️❤️

    Liked by 1 person

    • Dhamala Shobita says:

      Hi, Sher! Thank you for coming. Hehe.
      Maaf banget baru sempat balas-balas komen di sini huhuhu
      Yes, aku sekarang juga sering baca tulisan yang bittersweet gloomy begini.
      Thanks a lot ya, Sher. 🙂
      Keep making something nice too ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s