Look at Our Life; Tattered and Torn

Look at Our Life; Tattered and Torn © Fantasy Giver
Black Mirror: Bandersnatch © Netflix

I have a picture pinned to my wall. An image of you and of me and we’re laughing and loving it all.

Warning:
Black Mirror: Bandersnatch spoilers.

Peter hanya ingin yang terbaik untuk putranya.

Stefan adalah anak yang baik. Mungkin banyak orang salah paham terhadap sikapnya yang tertutup—pun terkadang Peter melakukan hal yang sama. Namun setelah menjadi seorang ayah selama sembilan belas tahun, dia paham bahwa Stefan memiliki jiwa manis di balik segala lukanya.

Dia pintar. Dia berdedikasi. Dia tak takut untuk mengejar mimpi.

Jujur, terkadang Peter berpikir ialah yang membuat Stefan menarik diri dari kehidupan remaja normal; menorehkan trauma atas kematian sang ibu. Tapi Peter percaya bahwa ada hal-hal yang tak bisa diubah, termasuk masa lalu. Tak ada yang bisa dilakukan selain mencoba merelakan dan selalu berusaha menjadi sosok yang bisa diandalkan. Maka, itulah yang dia lakukan.

Sudah pukul setengah dua pagi dan lampu kamar Stefan masih menyala.

Dua ketukan di daun pintu. “Stefan?” Peter memanggil kecil. “Sudah malam ‘Nak, kau butuh istirahat. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu besok.”

Tak ada sahutan yang menanggapi. Khawatir Stefan terlalu larut dalam pikirannya seperti dua minggu terakhir, Peter pelan-pelan membuka birai. Dia mengira akan ada seruan tak setuju dari putranya, namun yang dilihat adalah bahwa si programer telah tertidur di ranjangnya. Foto keluarga tergeletak di lantai.

Sang ayah mengambil foto itu dan merasakan sebuah pukulan nyeri dalam dadanya.

Kapan terakhir kali Stefan tersenyum sungguhan?

Atensinya berganti pada wajah sang buah hati; sekali ini terlihat lebih damai daripada ketika ia terbangun. Dadanya naik turun, meraup dan membuang napas secara teratur. Peter menyingkirkan beberapa helai rambut ikal yang menutupi wajahnya sementara angannya melayang ke seluruh penjuru. Dia tak menyangka bocah kecil dalam bingkai, yang dulu terobsesi pada sebuah boneka kelinci, akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang begitu menjaga jarak pada dunia.

Rasa bersalah menggelantunginya lagi.

Peter meraih selimut dan membentangkannya di atas tubuh Stefan, lalu memberikan sebuah ciuman di keningnya seperti dulu ketika anaknya masih minta dibacakan buku cerita sebelum tidur.

Demi Tuhan, Peter hanya ingin yang terbaik untuk putranya.

A/N:

  • hello, happy new year everyone meskipun hampir sebulan sudah lewat. ah, feels good to be back here.
  • had anyone heard about bandersnatch cus i also wrote something about it here. it literally blew my mind and snatched my wigs!!!! saya tau tulisan ini terasa berantakan dan agak rushing karena well, writer’s block, tapi stefan kadang-kadang harus diperhatikan :”)
  • dan ya, saya tidak percaya konspirasi pacs.
Advertisements

3 thoughts on “Look at Our Life; Tattered and Torn

  1. Cake Alleb says:

    wah … vin, aku belum tahu filmnya tapi aku selalu suka tema yang fokusnya keluarga. rasanya terlalu sedih bayangin perasaannya peter. dari stefan anaknya ceria berubah jadi … aduh my heart. :((( apalagi ternyata stefan ngeliatin foto keluarga itu sampai ketiduran, bener-bener berjiwa manis di balik lukanya.:(

    masa kecilnya stefan yang terobsesi sama boneka kelinci mengingatkanku pada seungjae kesayangan aku di the return of superman. yah jadi kangen 😦

    yeokshii terima kasih sudah menulis ini, viiin, tapi maaf aku engga paham bagian mana yang kamu maksud berantakan. semangat terus baik real life dan menulisnyaa! ❤ ❤ ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s