Kepindahan yang Menggelisahkan

by aminocte

Namun, apakah dia sudah cukup pantas? Disandingkan bagaimanapun dengan seniornya itu, tetap saja Dika merasa tak sepadan.

Sayounara. Semangat di tempat baru yang lebih baik.

 

Dika memperbaharui status WhatsApp-nya lima menit yang lalu. Tadi siang adalah hari terakhirnya bekerja di sebuah institut ilmu kesehatan swasta di kota tempatnya tinggal. Beberapa rekan kerjanya merangkulnya erat seakan perpisahan telah demikian kejam merenggut kebersamaan mereka. Sebagian lagi masih saja mempertanyakan keputusannya untuk mengundurkan diri. Ada juga satu-dua yang memasang senyum manis, seakan menunggu momen seperti ini sejak lama. Dengan demikian, tidak ada lagi ancaman bagi mereka untuk menggapai jabatan dan kekuasaan. Orang jenius dan idealis seperti Dika telah pergi, dan itu berarti satu lagi kenyamanan buat mereka.

Namun, Dika tak mempedulikan orang-orang itu. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah satu hal. Ia berharap seseorang akan melihat statusnya dan menimpalinya. Tak perlu panjang, cukup satu pertanyaan mengenai kabarnya, dan semuanya akan selesai.

Sekarang sudah pukul 20.00. Sudah telanjur larut di Bukittinggi. Yang ditunggunya sejak tadi belum juga datang. Dika mulai menimbang-nimbang. Besok, ia harus berangkat pagi-pagi sekali ke Padang untuk bertemu dengan pimpinan fakultas di Universitas Teguh Berdikari, kampus baru tempatnya bekerja. Rektornya masih muda dan progresif, serta terkenal dengan kebijakannya menggaet dosen-dosen muda lulusan luar negeri. Dika beruntung termasuk dari puluhan orang yang direkrut itu. Kabar baiknya lagi, di kampus tersebut, Dika dan rekan-rekannya punya kesempatan bagus untuk riset kolaboratif, pengabdian kepada masyarakat yang integratif, hingga studi lanjut ke luar negeri. Katakan selamat tinggal kepada kebijakan kolot yang kerap menindas pada junior seperti yang dirasakannya dulu.

Dika masih tersenyum-senyum sendiri membayangkan tempat kerjanya yang baru saat ponselnya berdering pelan. Seseorang membalas statusnya. Senyum Dika makin mengembang saat membaca nama pengirim pesan itu.

 

Hai, Bu Dosen. Apa kabar?

Itu Rasyid, kakak kelasnya saat kuliah dulu. Sempat tak berkomunikasi setelah sekian lama, Dika berinisiatif mengontak Rasyid tahun lalu, saat ia mulai merencanakan studi lanjutnya. Inggris adalah negara tujuan studinya waktu itu, dan Rasyid adalah orang yang sangat tepat untuk dijadikan tempat bertanya karena seniornya itu pun menyelesaikan studi doktoralnya di University College London tiga tahun yang lalu dengan beasiswa penuh dari pemerintah Indonesia. Tidak hanya itu, Rasyid lulus dengan sederet prestasi mengagumkan. Lima paper-nya terbit di beberapa jurnal bereputasi, mendapat hibah untuk presentasi penelitian di dua konferensi internasional serta berhasil pula menerbitkan buku self-help di bawah salah satu penerbit mayor di Indonesia. Awalnya, komunikasi mereka terbilang kaku, tetapi semakin lama semakin akrab. Dari Rasyid, Dika banyak belajar mengenai manajemen prioritas, cara presentasi, serta metode pembelajaran yang kreatif. Dika yang dasarnya memang punya keingintahuan besar pun seakan bersambut gayung dengan Rasyid yang selalu sabar menjawab pertanyaan Dika.

Halo, Pak Dosen. Kabar baik. Alhamdulillah tadi sudah farewell party sama teman-teman di kampus lama. Yosh, UTB I’m comiing!! Mohon bimbingannya ya, Pak.

 

Cie, senang nih, akhirnya resign. Sudah kubilang kan dari dulu, kampusmu itu nggak sehat. Tapi kamunya malah keras kepala.

 

Dika tergelak. Memang benar. Sejak setengah tahun yang lalu, Rasyid menyarankan Dika untuk pindah kampus saja. Alasannya, Rasyid mendengar kabar tak sedap mengenai pengelolaan kampus yang sarat nepotisme. Belum lagi budaya korupsi yang merajalela. Dana hibah penelitian dari Kementerian saja musti disisihkan sekian persen sebagai ‘sesajen’ buat petinggi institut dan petinggi yayasan. Jika tidak, ya, siap-siap saja karier akan ditamatkan. Namun, Dika tak lantas mengikuti saran itu. Alasannya, belum ada kampus lain yang buka lowongan lah, masih muda lah, masih cukup sabar lah, dan sederet alasan lainnya. Dika akhirnya menyerah setelah Rasyid membagikan lowongan dosen di UTB bulan lalu, lengkap dengan serangkaian alasan mengapa UTB sangat layak untuk dijadikan tempat membina karier. Dika yang sudah jengah dengan atmosfer kampus lamanya pun akhirnya tertarik.

Iya, iya. Berkat nasihat dan saran dari Bang Rasyid, Dika akhirnya keterima di sana. Thanks a lot!!

Tapi, kok jadi deg-degan ya?

 

Dika meraba dadanya yang bertalu-talu. Mendadak ia mencemaskan pertemuan lusa. Apakah pimpinan fakultasnya nanti adalah orang yang baik? Apakah ia harus berbasa-basi? Atau haruskah ia berlatih wawancara dalam bahasa Inggris seperti yang dilakukannya menjelang seleksi?

Udah, santai aja. No worries. Pak Dekan orangnya baik, kok. Lagian, kamu tuh ya, lulusan luar negeri tapi masih aja minderan. Aku jadi penasaran sama kampusmu dulu. Bisa-bisanya merusak mental orang kayak gini. Jangan didebat lho ya. Aku tahu masalahmu sama Wadek I di tempatmu yang lama.

 

Gadis itu terdiam lama. Ia tak tahu hendak membalas apa. Pelupuk matanya tahu-tahu basah. Rasyid selalu tahu cara menenangkan dirinya. Jika ia runut-runut lagi sejak awal mereka berkomunikasi jarak jauh seperti ini, sudah entah berapa kali ia menceritakan persoalannya kepada Rasyid, dan tak pernah sekalipun lelaki itu memberikan respons yang sekadarnya. Ia selalu bisa memberikan jawaban yang tenang sekaligus rasional, bahkan untuk persoalan sepelik apapun.

Btw, selamat istirahat ya. Jangan lupa kabari aku di hari H. In case you need my help, I’ll be there.

Rasyid, Rasyid. Lelaki ini selalu membuat Dika merasa malu. Apalah dia yang cuma biasa-biasa saja, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen. Bisa meraih gelar Master di Thailand saja sudah merupakan keberuntungan besar baginya. Sementara Rasyid? Dengan segala kualifikasi dan pencapaian yang dimilikinya, Rasyid bisa saja mengabaikan Dika, bahkan sejak awal mereka berkomunikasi. Sekarang sudah kepalang basah. Rasyid memberikan kesan baik bagi Dika, bahkan sejak mereka pertama kali bertemu di orientasi mahasiswa. Kini, sebagai sesama dosen, Dika seakan berkesempatan mengenal Rasyid lebih jauh, berkat komunikasi antara mereka yang nyaris tak pernah putus sejak satu tahun terakhir. Lambat laun, Dika pun semakin mengagumi Rasyid sebagai senior, juga sebagai lelaki. Barangkali akan sempurna jika Dika bisa menjadi pasangan hidup Rasyid. Namun, apakah dia sudah cukup pantas? Disandingkan bagaimanapun dengan seniornya itu, tetap saja Dika merasa tak sepadan.

Dienyahkannya khayalan itu jauh-jauh. Dika menarik napas dalam tiga kali, mengusir kabut dari pikirannya. Fokus, Dika. Fokus. Jauhi angan-angan kosong. Dilihatnya pesan terakhir Rasyid. Kalimat terakhir itu sungguh menenangkannya, sekaligus membuat jantungnya berdegup kencang lagi. Kenapa harus kepadanya, sih, pesan itu disampaikan? Kalau kupu-kupu berakrobat di perutnya malam ini, ia harus menyalahkan siapa?

fin.

  • Akhirnya kembali.
  • Kangen pakai banget!!!
  • Semoga hari kalian menyenangkan!

 

 

 

2 thoughts on “Kepindahan yang Menggelisahkan

  1. Special Ray says:

    Endingnya nggantung. Apakah ada lanjutannya? Tpi ini keren kok. Aku suka gaya bahasanya. Simple dan gk kaku, ngalir aja. Pengen deh, bisa nulis kek gini.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s