Let Me Love You

Xiaojun WayV x Ran Wei SNH48 (Team X)

LDS. 2019

***

Saat angin musim semi berembus lembut bersama helai bebungaan ke dalam kelas dari jendela, tirai dan lembar-lembar buku paket akan ikut tertiup. Seiring pergerakannya, angin juga akan memainkan kuncir, menggulirkan pensil, dan mencolek ujung-ujung rok para siswi, tetapi bahkan setelah semua itu, ada satu orang yang masih sekaku patung batu. Dari tempatnya mengobrol dengan para gadis, Ran Wei sesekali mencuri pandang ke arah sosok tersebut: seorang pemuda yang seluruh badannya beku di bangku, kecuali tangannya yang terus menggerakkan pena, mengisi halaman buku catatannya. Pemuda itu sama sekali tidak terusik walaupun musim semi mencoba menyapa rambut ikal lebatnya.

Kehadiran Xiao Dejun merupakan enigma sekaligus paradoks.

Sebagaimana dara belia lainnya, Wei lebih tertarik pada lelaki yang terkesan mudah didekati ketimbang sebuah arca macam Dejun. Bibir pemuda itu disebut sebagai yang paling efisien di kelas karena bicara hanya untuk merespons pertanyaan penting terkait dirinya. Dengan mulut yang hampir selalu terkatup tanpa senyum, menggali hal-hal personal tentangnya semakin sulit, maka berubahlah ia menjadi teka-teki bagi teman sekelas. Sikap tertutup ini memang melelahkan, tetapi ganjilnya juga memerangkap. Wei termasuk yang merasa terusir dan tersedot bersamaan oleh keberadaan Dejun; selama ini, gadis imut itu tak membicarakannya karena sebagian besar cewek membenci Dejun yang demikian.

Mengapa sebagian besar dan bukan seluruhnya? Tentu saja paras rupawan Dejun menahan beberapa gadis agar tetap tertarik padanya. Wei pun semula mengira pesona fisik Dejun satu-satunya sumber gravitasi, tetapi ternyata, ada hal lain lagi. Tidak cuma satu, melainkan beberapa. Pemuda yang ‘auranya tipis’ itu akan jadi mencolok di kelas seni, terutama musik, lantaran lihai memetik gitar dan memiliki suara selembut beludru. Dalam kelompok pun, meski lebih banyak diam, ia akan menyelesaikan porsinya dengan sempurna, tidak seperti cowok-cowok omong besar yang kadang mendidihkan darah. Selain itu, buku catatan misterius Dejun sepertinya memuat sesuatu selain pelajaran yang benar-benar ia minati. Sumpah demi koleksi pita rambut Wei, muka topeng Dejun berubah antusias selama menulisi buku itu.

Fuh. Ujungnya, Wei sadar perhatiannya pada Dejun tidak wajar, bahkan ketika sudah berusaha berhenti. Rasa penasarannya terus menuntut jawaban, tetapi ia takut mendekat. Dejun lambat laun menjelma semacam objek sakral di mata Wei: unik, penuh rahasia, dan berharga.

Apa baru saja Wei bilang Dejun berharga?

Tidak. Gadis berpita rambut merah hati itu menggeleng, menyangkal pemikirannya sendiri sampai mukanya merona, sore itu pada jadwal piketnya seusai kelas. Perasaanku ke Dejun hanya kagum dan ingin tahu. Tidak lebih.

Mengalihkan benaknya, Wei menyapu lebih cepat, menjangkau gegabah sisi-sisi sulit kolong bangku hingga salah satu kaki meja tersenggol keras. Saat itulah, sebuah buku bersampul kulit jatuh dari laci meja ke dekat sepatunya. Wei yang terkejut refleks memungut buku itu dan tertegun ketika menemukan inisial si pemilik di sana.

XDJ …. I-Ini punya Dejun?!

Tapi, Dejun pasti sudah tiba di rumah. Mustahil buku tersebut dikembalikan hari ini, jadi Wei meletakkkannya balik ke laci, lalu lanjut menyapu. Masalahnya, tak lama berselang, Wei berhenti dan menengok ke laci Dejun lagi. Dipandanginya catatan di dalam sana lamat-lamat sebelum berjalan mundur.

Di buku ini, ada sisi tersembunyi seorang Xiao Dejun. Jemari Wei tanpa sadar mengerat ke sampul buku yang baru ia ambil. Bodoh sekali kalau kulewatkan kesempatan mengorek rahasianya begitu saja!

Setelah memastikan tidak ada saksi, perlahan Wei membuka buku itu. Halaman-halamannya dipenuhi frasa-frasa yang tak disangka ditorehkan oleh seseorang ‘berhati dingin’. Puisi-puisi romantis tanpa kata cinta—kebanyakan mengenai yang tak berbalas atau luka bekas berpisah—diramu apik melalui kiasan-kiasan kaya kosakata. Setiap tiba di akhir bait, sengatan listrik merambati sekujur tubuh Wei, efek menggetarkan dari ketakjuban yang bikin ketagihan. Satu, dua halaman saja tidak cukup, maka sapu pun tersandar miris ke bangku, terlupakan. Mata Wei berkaca-kaca terharu, tenggelam dalam larik-larik karya Dejun. Ia seolah-olah menghadapi pemuda alis tebal itu secara langsung, tetapi yang lebih melankolis, lembut, dan mudah disayang.

Bunyi pintu kelas yang tiba-tiba dibuka menyentak Wei dari keasyikannya membaca. Si petugas piket kontan menoleh, lalu membelalak ngeri tatkala mendapati sosok ikal ber-badge seragam sama dengannya. Orang yang baru datang ini juga terkejut, lebih-lebih barang pribadinya tersentuh tangan yang tak berwenang.

“Dejun, a-anu ….” Wei buru-buru menutup buku Dejun sebelum mengangsurkannya pada si pemilik. “M-Maaf membukanya sembarangan. Aku pulang dulu!”

Menyambar tas dan lari sekencangnya keluar rupanya bukan pemecahan yang tepat untuk masalah ini. Tidak seberapa jauh dari kelas, suara berat Dejun menarik paksa Wei kembali.

“Hei, kau belum selesai menyapu!”

Tungkai Wei mengerem mendadak. Ia betul-betul lupa soal tugas piketnya gara-gara gugup! Menutup separuh wajah yang panas seraya balik arah ke kelas, sebisa mungkin Wei menghindari kontak mata dengan Dejun. Ia raih sapunya usai meletakkan tas dan bergegas bersih-bersih lagi. Ia tahu Dejun masih di sana biarpun sekeliling sangat hening, tetapi justru itu yang membuatnya ingin cepat menuntaskan kewajiban. Jangan-jangan, Dejun sengaja menunggu Wei selesai buat mengadili kelancangannya? Ngeri!

“Tolong rahasiakan ini.”

Debu dan kotoran telah masuk pengki ketika Dejun angkat bicara. Wei urung membuang isi pengki dan jadi memerhatikan penghuni bangku pojok belakang kelasnya.

“Rahasiakan apa?”

“Tentang lirik-lirik lagu di bukuku.” O, itu lirik lagu? “Lupakanlah kata-kata cengeng dan jelek yang tadi kamu baca.”

Mengapa Dejun begitu merendahkan karya yang sebenarnya bagus? Tulisan Dejun tidak ‘secengeng’ dan ‘sejelek’ itu. Wei pernah, kok, dibikin merinding oleh kisah cinta yang memang super menjijikkan. Isi buku sampul kulit lebih pahit-manis dan sederhana dibanding tembang-tembang asmara populer, tetapi masih sukses membuat terenyuh, jadi karya-karya itu tidak patut dicemooh, termasuk oleh penciptanya sendiri.

Sesudah membuang debu ke tempat sampah, Wei takut-takut menghampiri Dejun.

“Aku menyukai lirik-lirik itu. Kalau benar-benar sudah jadi lagu, aku pasti akan mendengarkannya sepanjang hari.”

Pujianku tidak berlebihan, kan?, cemas Wei; habis Dejun masih diam. Bisa saja pemuda itu malah menganggap kata-kata manis Wei sebagai sindiran tajam, padahal pengucapnya tulus mengapresiasi.

Beruntung, kesunyian terpecah oleh tanya Dejun yang terbata.

“Sungguh?”

Jantung Wei melompati satu degup. Mau bagaimana lagi, Dejun sehari-harinya tidak pernah tampak sepolos, sepenuh harap, dan semanis ini.

“Sungguhan.” Akibat ekspresi kekanakan Dejun, Wei terpicu untuk mengunggulkan karya sang penulis lebih jauh. “Emosi di dalamnya tersampaikan dengan baik tanpa perlu drama berlebih. Ah, aku bingung bagaimana mengatakannya, pokoknya pas saja.”

Mendengar hal-hal bagus tentang tulisannya membuat Dejun malu. Ia mengusap tengkuk canggung dan mengalihkan pandang, lalu tersenyum.

Tersenyum?!

Sepanjang Wei menduduki bangku kelas sebelas, baru kali ini ia menyaksikan seorang Xiao Dejun begini ceria!

“Terima kasih. Rasanya aneh mendengar pujian untuk karya-karya ini—Wei? Kau baik-baik saja?”

Wei mengerjap-ngerjap begitu cepat seperti kelilipan, padahal gadis itu hanya sedang dalam proses meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi, juga berupaya mengontrol kebahagiaannya agar tidak terungkapkan berlebihan. Raut cerah Dejun menular, tetapi Wei kemudian menangkap makna yang terselip dalam kalimat sang teman sekelas.

“Mengapa aneh kalau karyamu dipuji? Kupikir semua yang membacanya juga akan suka.”

Senyum Dejun menipis.

“Itu tidak benar. Aku sudah sering bertemu mereka yang tidak menyukai tulisanku.”

“Benarkah?”

Telunjuk Dejun menggeser sudut buku secara asal hingga bukunya berputar. “Ya. Laki-laki kan memang tidak seharusnya sentimental. Jika bersikap begitu, mereka pasti akan terlihat menggelikan.”

Masuk akal jika ini menjadi alasan mengapa Dejun yang biasa dan yang di depan Wei sekarang kontras sekali. Sungguh sayang. Menurut Wei, menggubah lagu bukan ‘sikap sentimental’, melainkan sebuah bakat seni. Terbatasnya ruang mencipta untuk Dejun membuat Wei frustrasi.

“Siapa sih yang bilang kamu menggelikan?”

“Mestinya aku yang cemberut jengkel begitu,” kekeh Dejun dan pipi Wei kembali merona. “Kalau kamu tanya siapa, tak bisa kusebut satu-satu saking banyaknya. Teman-temanku di SMP, tetangga-tetanggaku, bahkan orang yang sejenak lewat di depanku dan tak sengaja melihat tulisanku pasti akan langsung memandangku sebelah mata. Itu yang paling mending. Buku lirikku pernah dibakar dan dibuang ke kolam ikan gara-gara ‘menjijikkan’.”

“Hah? Kejamnya!”

Berkat pernyataan Dejun, Wei jadi mengerti bahwa teman sekelasnya bukan cuma menghadapi masalah stereotipi gender. Perundung tidak bakal peduli isi buku Dejun; mereka mungkin membakar dan membuang catatan Dejun semata untuk menegaskan siapa yang terkuat. Betapa hina!

“Aku mau dengar lagu-lagumu,” sembur Wei, terbawa kekesalan pada orang-orang yang merendahkan talenta Dejun. “Apa pun yang mereka katakan padamu, cuek saja. Nyanyianmu amat memukau, jadi aku ingin lebih sering menikmatinya!”

Dejun tercenung. Reaksi gadis yang kehabisan napas ini tidak dinyana, bingung juga bagaimana menghadapinya. Rasa jengah yang menggantung sebentar di antara mereka lantas disudahi Dejun dengan tersenyum untuk kesekian kali. Hobi betul. Gawat kan untuk jantung Wei.

“Kalau begitu, waktu istirahat, sering-seringlah datang ke ruang musik. Akan menyenangkan bernyanyi untuk penonton meski cuma seorang.”

Apa? ‘Cuma seorang’? Kedengarannya seperti sebuah undangan eksklusif …. Kencan?!

Bukan!!! Wei menggeleng-geleng ganas dan menepuk pipinya sendiri. Dejun mau kau mendengarnya menyanyi dan kau adalah teman yang akan selalu mendukungnya, Ran Wei!

Hendak bicara lagi, Dejun dicegah penjaga sekolah yang bilang kelas akan segera dikunci, maka ia dan Wei pun beranjak pulang.

“Kamu harus janji untuk datang ke ruang musik besok,” mohon Dejun di depan gerbang sekolah. “Kalau kamu datang, aku akan membawakan sebuah lagu yang kugubah khusus untukmu.”

“Tidak mau, ah. Lagunya pasti tentang putus cinta,” canda Wei, merasa jauh lebih akrab dengan si patung batu yang ternyata adalah segumpal besar permen kapas. “Aku belum pernah jatuh cinta, sudah kaubuat patah hati saja.”

“Tentu saja tidak. Aku akan menulis lirik yang manis dan penuh terima kasih, makanya kamu harus datang untuk mendengarnya. Nah, sampai jumpa besok!”

Biasanya, di punggung Dejun, Wei seakan bisa menemukan peringatan ‘jangan mendekat atau mati’. Mengapa peringatan itu berubah menjadi perintah ‘peluk aku’? Setengah mati Wei memaku dirinya agar tidak berlari dan merangkul Dejun secara impulsif. Apa sanggup ia bertahan di ruang musik berdua saja dengan si alis tebal kalau sekarang saja, ia sudah berantakan?

Apa aku menyukai Dejun? Memangnya boleh?

Mengapa tidak? Dengan bersikap manis begitu, Dejun baru saja meminta Wei mencintainya, kan? Jadi, biarkan Wei menyiraminya dengan kasih sayang mulai besok! []

5 thoughts on “Let Me Love You

  1. Via's says:

    Saya suka sekali alur cerita dan pemilihan katanya, hangat dan membuat saya seperti ikut berada di kelas dan memperhatikan gerak gerik Wei dan Dejun yang sedang ngobrol.
    Terima kasih untuk cerita hangatnya 😊

    Like

  2. Fafa Sasazaki says:

    Neng Wei baper oiy..!
    Ajun tanggung jawan ya kalo ntar ada hati yang ambyar denger kamu nyanyi,,

    Baru baca Li, sisus ini warmheart sekali ceritanya,
    Hendery dong besok2, khekhe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s